
Flashback on
Beberapa jam sebelumnya,
Siang itu Edward datang untuk mengunjungi Septi dengan membawakan berbagai macam makanan dan vitamin serta susu khusus ibu hamil. Edward memang sangat memperhatikan segala kebutuhan Septi, tanpa terkecuali. Hal itulah yang membuat Septi sangat mencintai Edward. Ia pikir, Edward melakukan itu karena ia begitu mencintai dirinya, tanpa ia tahu, Edward melakukan itu karena satu tujuan, yaitu menginginkan bayi yang Septi kandung.
Tanpa Septi ketahui, sebenarnya Edward telah memiliki seorang istri. Istri yang sangat ia cintai tentunya. Ia sudah menikah hampir 5 tahun lamanya, tapi hingga kini istrinya tak kunjung mengandung buah hati mereka. Tentu saja sang istri merasa khawatir. Apalagi baik orang tua maupun mertuanya kerap menanyakan kapan mereka akan memberikan seorang cucu. Keduanya sama-sama anak tunggal, tentu mereka berharap pasangan itu bisa memberikan mereka seorang cucu sebagai penerus.
Hingga akhirnya, Edward dan istrinya pun melakukan test kesuburan. Harapan mereka, mereka hanya mengalami gangguan saja sehingga mereka masih bisa mengikuti program kehamilan. Tapi semua tak sesuai harapan. Menurut hasil test tersebut ternyata isteri Edward mengalami infertilitas.
Infertilitas pada wanita paling sering disebabkan oleh gangguan pada ovulasi. Ovulasi merupakan proses pelepasan sel telur dari ovarium atau indung telur. Bila tidak ada proses ovulasi, berarti tidak ada sel telur yang bisa dibuahi oleh ******. Akibatnya, kehamilan pun tidak akan terjadi.
Dunia Edward dan istrinya seakan runtuh. Impian mereka mendadak sirna. Bagaimana mereka memiliki keturunan, sedangkan salah satu dari mereka saja dinyatakan infertilitas alias mandul.
__ADS_1
Tak ingin membuat dua keluarga kecewa, akhirnya istri Edward menyarankan Edward mencari rahim pengganti. Ia mengizinkan Edward mencari perempuan yang layak untuk mengandung anaknya.
Oleh karena itu, Edward mencari perempuan yang dapat ia manfaatkan untuk mengandung anaknya tanpa perlu terikat tali pernikahan sebab yang ia butuhkan hanyalah anaknya, bukan ibunya. Setelah melihat Septi saat melayani ia dan teman-temannya minum di sebuah club' malam, Edward pun segera menyelidiki latar belakang Septi. Ia tahu, saat itu Septi belum terjamah, ia juga perempuan materialistis, dengan mengetahui semua itu, Edward pun segera melancarkan aksinya mendekati Septi. Tidak sulit mendapatkan Septi, apalagi dengan iming-iming kemewahan. Alhasil, dalam hitungan hari saja, Septi telah jatuh ke dalam pelukannya.
Namun serapat-rapatnya Edward menyembunyikan kebohongan, kelak pasti akan ketahuan juga dan itu benar-benar terjadi. Semalam, setelah bergulat semalaman, Septi pun jatuh tertidur akibat kelelahan. Bahkan ia pun bangun kesiangan. Setelah bangun, Septi segera mencuci muka dan menggosok gigi. Diliriknya, jarum jam sudah menunjukkan angka 11. Septi pun segera beranjak mencari keberadaan Edward. Septi menyunggingkan senyuman saat melihat punggung lebar Edward yang tak tertutup pakaian. Ia tampaknya sedang menelpon di balkon kamar sebelah. Tanpa sepengetahuan Edward, Septi pun mendekat. Tapi, saat jarak kurang dari 5 meter lagi, ia melihat ternyata Edward bukannya menelpon, tapi. sedang melakukan video call.
Septi menelan ludah kasar saat menangkap wajah cantik di layar segi empat tersebut. Perempuan itu sepertinya berkebangsaan Indonesia sama seperti dirinya. Suaranya lembut dan terdengar manja membuat jantung Septi terasa bergemuruh.
Sekuat tenaga Septi menahan gejolak itu. Namun, dunianya seketika runtuh saat mendengar percakapan Edward dengan perempuan itu yang baru Septi ketahui merupakan istri Edward. Dadanya seketika sesak saat sebuah fakta terkuak dari mulut keduanya. Dunia Septi seketika hancur tak bersisa.
"Ya, honey. Tapi ... aku tetap saja takut. Aku takut kau justru jatuh cinta padanya dan meninggalkan diriku. Yah, walaupun aku memang sangat menantikan kelahiran bayi itu, tapi aku lebih takut kehilanganmu."
"Kau tahu bukan, itu takkan pernah terjadi. Sampai kapanpun aku hanya mencintai dirimu. Aku memperlakukannya dengan baik semata-mata agar ia bergantung padaku dan tetap mempertahankan bayi itu. Setelah bayi itu lahir, aku janji akan segera meninggalkannya dan kembali padamu. Kau percaya padaku kan, honey?"
__ADS_1
Deg ...
Jantung Septi seketika bagai ditikam belati. Hatinya hancur lebur tak bersisa. Ia tak menyangka, Edward selama ini hanya memanfaatkannya saja. Padahal ia sudah sangat mencintai dirinya. Bahkan ia rela menyerahkan dirinya karena rasa cintanya yang begitu besar. Ia kira Edward benar-benar mencintai dirinya. Ia kira Edward tulus mencintai dirinya. Tapi semua ternyata palsu. Semua bohong. Edward mendekatinya hanya untuk mendapatkan seorang keturunan. Edward hanya memanfaatkannya agar ia mau hamil anaknya saja dan akan segera pergi setelah bayi ini lahir dan jatuh ke tangannya.
Dengan tubuh bergetar, ia melangkahkan kakinya yang lemas keluar dari kamar itu. Setelah itu ia melangkah keluar dari apartemen yang menyimpan sejuta kenangan indahnya dengan Edward. Matanya kabur, kaca-kaca bening memenuhi bola matanya. Hatinya sakit, hatinya hancur. Yang Septi pikir sekarang adalah segera pergi dari sana, dari laki-laki yang hanya memanfaatkan kebodohannya.
Tiba di depan lift, Septi segera masuk ke dalamnya dan menekan angka lantai dasar. Setibanya di lantai dasar, ia segera berlari keluar dari gedung apartemen tempat ia tinggal beberapa Minggu ini. Ia ingin naik taksi, tapi ia tidak memegang uang sama sekali. Hanya ada handphone di dalam genggamannya. Takut Edward mengetahui kepergiannya, Septi pun segera berlari secepat mungkin. Tak dipedulikannya perutnya yang terguncang dan kini terasa sakit mencengkram. Yang ingin ia lakukan sekarang hanyalah pergi sejauh-jauhnya dari Edward.
Septi berlari tak tentu arah. Karena perutnya yang kian terasa nyeri pun kaki yang kian terasa lelah dan bergetar, Septi sampai jatuh berkali-kali. Namun ia terus berusaha untuk bangkit, rasa sakit di hatinya ternyata lebih besar dari rasa sakit di tubuhnya. Kaki tangan Septi kini telah dipenuhi luka-luka. Tubuhnya kian melemas, apalagi ia belum makan maupun minum sama sekali siang itu. Septi benar-benar kebingungan. Ia hanya berjalan dan terus berjalan dengan pikiran kosong. Saat lelah ia akan duduk dan saat rasa lelah mulai berkurang, ia melanjutkan langkahnya hingga akhirnya ia melihat sebuah bangunan, yaitu kontrakan tempat teman kuliahnya tinggal. Ia pun segera ke sana berharap bisa bersembunyi dari Edward. Namun karena kelelahan, apalagi ia belum makan sama sekali padahal hari sudah menjelang sore, ia sampai berkali-kali terjatuh. Hingga tepat saat pintu dibuka setelah ia ketuk berulang kali, penglihatannya mengabur, tubuhnya kehilangan tenaga, kakinya lemas seakan tak lagi menginjak bumi, semuanya terasa gelap, dan perlahan semuanya menghilang seiring kesadarannya yang menghilang.
"Septi ... " pekik seseorang yang baru saja membuka pintu dengan mata terbelalak.
"To-long a-ku ... " lirih Septi sebelum kesadarannya benar-benar hilang.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...