Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
SEMBILAN PULUH SATU


__ADS_3

Presentasi berjalan sangat lancar. Jervario dapat melakukan presentasinya dengan sangat baik dan lancar. Beruntung Tuan Malik mengerti bahasa Inggris, meskipun hanya secara pasif. Apalagi ia didampingi sang putri yang merangkap sekretarisnya, dengan bantuan Raniah, tuan Malik bisa memahami presentasi yang disampaikan oleh Jervario.


Presentasi tidak sampai di situ saja, besok masih ada beberapa hal yang akan mereka bahas dan sampaikan hingga beberapa hari ke depan. Setelah meeting selesai, tuan Malik pun menawarkan makan siang bersama di sebuah restoran mewah yang ternyata milik sang istri. Ingin meninggalkan kesan baik dan juga menjalin silaturahmi, Gathan dan Jervario pun menyambut baik niat tersebut.


Makan siang itu diisi dengan perbincangan hangat dengan berbagai hal, mulai dari seputar dunia bisnis, topik terhangat yang sedang viral di dunia, hingga tentang permasalahan ekonomi. Raniah pun tampak ikut menimpali perbincangan itu dengan ramah dan Gathan serta Jervario akui, ia memiliki wawasan cukup luas mengenai berbagai hal.


"Jadi Anda sampai berminat berinvestasi di beberapa perusahaan di Indonesia ini karena putri Anda?" tanya Gathan yang tampak antusias mendengarkan cerita Tuan Malik. Tuan Malik yang tak mengerti apa yang Gathan tanyakan pun menoleh ke arah putrinya, kemudian Putrinya pun menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Setelah itu, Tuan Malik menimpali dan diterjemahkan balik oleh karyawan Gathan.


"Iya. Putri saya, Raniah pernah beberapa kali pergi ke Indonesia untuk berlibur. Tapi karena di otaknya hanya ada kerja, kerja, dan kerja, ia justru sibuk mensurvei perusahaan-perusahaan yang menarik minatnya untuk berinvestasi," tutur tuan Malik yang telah diterjemahkan karyawan Gathan.


"Putri Anda memang hebat dan memiliki insting yang kuat dalam dunia bisnis. Saya kagum dengan kemampuan putri Anda yang mampu menangkap prospek bisnis di saat dia yang seharusnya menikmati liburannya," puji Gathan membuat Raniah tersipu.


"Pujian tuan terlalu berlebihan. Saya tidak sehebat itu. Saya hanya bisa mencermati, tidak sebanding dengan putra Anda yang memang memiliki kemampuan mengembangkan ide-idenya dan menuangkannya dalam bentuk proposal yang sungguh luar biasa itu." Balas Raniah dengan binar kagum di mata cantiknya. Saat tersenyum, Raniah tampak sangat cantik sekali. Kecantikan khas wanita timur tengah dengan hidung mancung, bola mata agak besar, bulu mata tebal dan lentik, serta bibir berisi namun seksi. Tapi bedanya Raniah tidak memakai hijab seperti wanita keturunan Arab biasanya. Namun, penampilan Raniah tetap sopan dan terlihat anggun.


"Aku pun tidak sehebat itu. Aku bisa semua tak lepas dari peran papa. Aku bisa karena bimbingan Beliau. Papa adalah panutanku," tukas Jervario seraya tersenyum tipis, menatap tuan Malik. Ia bahkan tak mau menatap Raniah membuat Raniah kian kagum karena sikap Jervario yang begitu menjaga pandangannya.


Sontak saja jawabnya Jervario mengundang tawa mereka sebab baik Raniah maupun Jervario sama-sama merendah.


Kemudian mereka pun terlibat dalam obrolan santai. Setelah selesai, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


...***...


[Sayang, aku baru selesai meeting. Kamu udah pulang kerja?]


Sebuah pesan masuk ke ponsel Mentari. Mentari yang baru saja tiba di rumah pun segera membuka pesan masuk tersebut. Ia gegas duduk di sofa single yang ada di kamarnya kemudian ia pun melakukan panggilan yang langsung diangkat Jervario yang memang telah menanti balasan pesan textnya.


"Assalamu'alaikum, sayang," ujar Mentari saat panggilan itu diangkat.


"Wa'alaikum salam, istriku tercinta," sahut Jervario membuat Mentari tersipu.


"Abang lagi ngapain?"


"Lagi mikirin kamu."


Blush ...

__ADS_1


Lagi, pipi Mentari kian memerah. Mungkin kalau pipi Mentari adalah tomat, pasti tomat itu sudah kematangan.


"Emangnya mikirin aku kenapa?"


"Mikirin kapan bisa main sama Sofia kamu lagi." Ujarnya membuat Mentari mencebikkan bibirnya.


"Dasar, mesyum."


"Mesyum sama istri sendiri nggak dilarang kan. Malah itu bagus, untuk meningkatkan keharmonisan rumah tangga," ujarnya sambil menahan tawa. Dapat ia pastikan, muka Mentari sudah merah dengan bibir maju 5 senti seakan bersiap minta terkam.


"Bisa nggak sih sehari aja nggak nyebelin."


"Nggak bisa soalnya ngusilin kamu itu kebahagiaan tersendiri buat aku. Kamu jadi makin gemesin tau kalo lagi ngambek atau sebel gitu." Jervario tak mampu lagi menahan kekehannya. Yang ia katakan memang benar adanya. Mengusili istrinya itu seolah mood booster yang mampu menghilangkan kelelahannya.


"Abang ... ih ... nyebelin deh." Rengek Mentari membuat Jervario kian menggila karena rindu.


"Ya ampun, dengar suara rengekan kamu aja nyenengin banget tau nggak. Jadi kangen, kangen banget."


"Ujung-ujung kangen Sofia."


"Tuh tahu. Hehehe ... Nggak kok sayang, walau itu salah satunya, tapi yang utama ya kangen kamu, liat kamu, peluk kamu, cium kamu, yah meskipun ujung-ujungnya berakhir dengan main sama Sofia," selorohnya yang kemudian membuatnya tergelak sendiri. Ternyata berjauhan tak selalu buruk, buktinya ia malah makin merindu dan makin membuat kadar cintanya kian menggebu.


"Sayang, gimana kabar anak-anak papi? Mereka nakal nggak?"


"Alhamdulillah, anak-anak papi baik semua. Si kakak tadi bilang disuruh nyanyi gitu terus dapat hadiah buku mewarnai. Terus kalau adek-adeknya, alhamdulillah, nggak ada nakal. Cuma usil aja soalnya tadi minta bebek bakar madu tapi maunya Om Dario yang beliin." Mentari bercerita seraya terkekeh geli.


"Itu di dalam perut pasti adek-adeknya ngomel, mi, enak aja mami nyalahin kita, mami yang mau makan, kok kami yang dibilangin usil padahal mami yang pingin." Sontak saja perkataan Jervario membuat Mentari tergelak.


"Udah dulu ya bang, entar malam kita lanjut lagi. Mami mau mandi dulu terus temenin Asha. Mami nggak mau dia merasa tersisihkan dan kurang perhatian karena kesibukan kita."


"Iya sayang, makasih ya udah jadi istri dan ibu terbaik buat kami. Love you mi."


"Papi ih. Love you too, Pi."


Setelah keduanya saling mengucapkan salam, panggilan pun segera ditutup. Mentari segera menyimpan hp nya di atas meja sambil mengisi dayanya. Setelahnya ia gegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.

__ADS_1


Begitu pula Jervario, setelah panggilan itu ditutup, Jervario pun segera meletakkan ponselnya di atas meja yang ada di kamar hotelnya. Baru saja ia hendak melangkah ke kamar mandi, sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenalnya. Ia pun segera membuka pesan itu dan mengerutkan keningnya setelah membacanya.


[Assalamu'alaikum. Maaf mengganggu, bisakah kita makan malam bersama malam ini? Raniah.]


...***...


"Kamu. Kamu lagi ngapain?" cecar Belinda saat melihat keberadaan Dario di ruang rawat ibunya.


"Lin, nggak boleh ketus gitu. Nak Dario cuma menjenguk ibu, apa salahnya sih?" sergah ibu Belinda lemah.


"Bukan gitu, bu. Linda merasa aneh aja, teman bukan, rekan kerja bukan, tapi kok makin hari makin SKSD aja nih orang." Ketus Belinda dengan wajah sebalnya.


Hari sudah cukup malam, Belinda baru saja datang setelah pulang dulu ke rumah sepulang kerja seperti biasa. Namun saat masuk ke ruang rawat ibunya, ia terkejut melihat keberadaan Dario di sana.


"Astaga, jadi setelah pertemuan kita yang entah keberapa kali ini, aku masih kamu anggap orang asing gitu? Ya ampun, nih tembok beton, pake semen apa sih? Kok kokoh banget temboknya?" seloroh Dario membuat Belinda memicingkan matanya.


Bukannya menanggapi, Belinda justru melengos dan meletakkan barang bawaannya, yaitu buah-buahan dan camilan serat minuman botol.


"Udah, ngobrol sama nak Dario sana. Ibu mau tidur dulu. Mata ibu rasanya udah berat banget," ujar Ibu Belinda.


"Ibu udah minum obat?"


"Udah. Tadi nak Dario yang bantuin karena itu ibu udah ngantuk. Makanya, jangan ketus-ketus gitu sama nak Dario karena nak Dario itu baik." (Bukan karena Reyhan baik ya! 🤪😂)


Belinda melirik Dario yang tersenyum lebar seperti sedang syuting iklan pasta gigi, "makasih." Ucapnya datar membuat Dario menghela nafasnya.


Setelah melihat ibu Belinda memejamkan matanya, Dario pun duduk di samping Belinda. Belinda yang melihat Dario duduk di sampingnya, lantas bergeser menjauh.


"Ngapain menjauh gitu? Udah kayak didekatin kuman aja?" ketus Dario tapi diabaikan oleh Belinda. Lalu Dario meraih kantong yang tadi Belinda bawa dan mengernyitkan dahinya, "kamu udah makan malam?" tanyanya, Belinda pun menggeleng. Kemudian mengambil satu buah roti dan membuka bungkusnya. Bukan roti mahal. Hanya roti murahan yang kerap ada di warung-warung. Dario menggelengkan kepalanya melihat Belinda yang hanya makan malam dengan roti dan buah pisang. "Kamu itu udah kurus, nggak perlu diet lagi. Entar badan kamu makin kayak triplek. Udah muka datar kayak triplek saking nggak pernah senyum, eh badan juga mau dikurusin. Bisa-bisa kamu dapat julukan manusia triplek," ujar Dario tak habis pikir dengan kelakuan Belinda.


"Kamu kenapa sih suka banget ikut campur urusan orang?" tanya Belinda sambil menatap lekat wajah Dario yang juga menatapnya.


"Aku bukannya mau ikut campur, Belinda. Tapi aku cuma ... cuma ... Ck ... udahlah, kita makan di kantin bawah aja yuk. Ibu juga udah tidur. Jangan karena sibuk mengurus ibu, kamu jadi lalai dengan kesehatan kamu," ucap Dario yang langsung berdiri dan meraih tangan Belinda kemudian menariknya keluar. Belinda melotot melihat Dario mencengkram tangannya dan menariknya seenaknya. Tapi anehnya ia justru tak melepaskan tangan itu. Ia justru mengikuti kemana Dario membawanya. Mungkin karena ia tahu, percuma menolak kemauan pria itu sebab dia pasti akan tetap memaksa. Sedikit-sedikit, ia mulai mengenal sifat Dario yang seenaknya itu.


'Mungkin karena dia kerja sama bos yang seenaknya, jadi dia pun ikut ketularan seenaknya.' batin Belinda yang mulai menyamakan sifat Dario dan Jervario. Tapi bedanya Dario ini sedikit bawel dan banyak bicara, berbeda dengan Jervario yang datar dan irit bicara. Tapi Belinda lupa, Jervario hanya bawel dan banyak bicara pada orang yang ia sayangi. Kalau sifat Dario sama seperti atasannya, bukankah sifat satu itu juga sama dan Belinda telah menjadi salah satu orang yang Dario sayangi. Mungkinkah?

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2