Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
LIMA PULUH ENAM


__ADS_3

Seorang wanita cantik tampak terkekeh sumbang di dalam mobilnya. Menertawakan sesuatu yang belum lama didengarnya. Sesuatu yang cukup mengejutkannya.


Dia adalah Erna. Wanita itu kini sedang berada di basement rumah sakit. Ia sebenarnya ingin menjenguk sang mertua yang masuk rumah sakit, tapi setibanya di depan kamar serba putih itu, ia justru mendengar hal tak terduga. Ia mendengar dengan jelas niat dari Rohani yang ingin mengambil anaknya setelah ia melahirkan, kemudian meminta putranya untuk menceraikannya.


"Kalian pikir rencana kalian akan berhasil, hm? Apa? Kalian ingin mengambil anakku? Hahaha ... Dasar, keluarga sampah!" umpatnya sambil terkekeh.


...***...


"Duh, kok perut aku nggak enak ya! Apa karena sebentar lagi aku haid? Tapi nggak biasanya sakit banget kayak gini," lirih Septi sambil mengusap-usap perutnya.


"Kamu kenapa, Sep?" tanya Shandi yang baru saja datang lagi setelah tadi ia pulang untuk berganti pakaian.


"Nggak papa kak, cuma efek mau datang bulan aja kayaknya," jawab Septi sambil meringis perih.


"Kamu oles perut kamu pakai minyak angin atau minyak kayu putih sana. Mbak Tari kamu kalau perutnya sakit karena Mai datang bulan, biasanya gitu," ujar Shandi yang sangat mengingat kebiasaan sang mantan istri.


Septi mendengkus sambil memutar bola matanya, "kayaknya kakak inget banget kebiasaan dia," sahut Septi jengah.


Shandi melirik Septi dengan wajah datarnya, "itu karena kakak benar-benar mencintai dia. Seandainya kalian tidak mendorong kakak dengan Erna, sampai sekarang kakak pasti masih bersama Tari. Demi ego kalian, hidup kakak hancur. Sekarang kalian puas!" desis Shandi dengan mata berkaca-kaca.


Begitulah Shandi, dia terlalu lemah di hadapan orang tuanya, khususnya sang ibu sehingga ia selalu kalah dan tak mampu berbuat apa-apa. Selalu menuruti kemauan orang tuanya. Ia tahu, apa yang dilakukan ibunya itu salah, tapi ia terlalu lemah, tak mampu menolak hingga akhirnya hidupnya lah yang kian menderita.

__ADS_1


Dada Shandi terlalu sesak membayangkan Mentari akan bersanding dengan laki-laki lain. Tanpa terasa, air matanya meluncur begitu saja membasahi pipi. Septi sampai tertegun melihat ekspresi kesedihan, kehancuran, dan kekecewaan kakaknya itu.


"Sebenarnya apa salah Tari pada kalian sehingga kalian begitu membencinya? Tidakkah kalian ingat pengorbanan Tari untuk keluarga kita? Bahkan Tari sudah sering membantu kita sejak kakak belum menikah dengannya. Saat rumah kita tergadai karena hutang mendiang papa, siapa yang menolong kita coba? Saat kuliah kakak terancam putus karena tak ada biaya, siapa yang membantu coba? Saat sekolah kau dan Tian hampir putus karena mama tidak bisa membayar iuran sekolah, siapa yang membantu coba? Dan masih banyak lagi pengorbanan yang Tari lakukan untuk kita. Semua Tari, Tari yang bantu kita. Tapi ... tapi mengapa ini yang dia dapatkan? Mengapa kalian membalas kebaikannya dengan kesakitan seperti ini? Mengapa kalian membalasnya sekejam ini? Apa salah Tari pada kalian?" lirih Shandi dengan punggung bergetar. Tangisnya pecah.


Septi terdiam. Dadanya pun merasa sakit melihat saudara kandungnya itu bersedih.


'Apakah perbuatan kami selama ini salah? Tapi kan kami melakukan ini untuk kebaikan dia. Kalau terus-terusan mempertahankan wanita itu, entah kapan kakak akan memiliki anak, sedangkan mama sudah sangat ingin menimang cucu darinya. Sudahlah. Aku yakin ini hanya sementara saja. Nanti bila anaknya sudah lahir, dia juga akan sadar kalau apa yang kami lakukan ini yang terbaik untuk diri kakak,' gumamnya dalam hati.


...***...


"Riri, loe kebangetan ya, terima lamaran Jerva tapi nggak bilang-bilang gue!" teriak Jeanara tepat saat Mentari baru saja menempelkan handphonenya di telinga.


"Woy, kuping gue bisa-bisa budek gara-gara loe, Jena!" balas Mentari ikut memekik kesal kemudian ia pun tergelak.


"Loe sih, nyebelin banget. Orang itu kalau nelepon, ucapin salam, bukannya tiba-tiba teriak kayak gitu," ujar Mentari memberikan nasihat.


"Ya udah, teleponnya gue tutup dulu, biar gue ulang dari awal lagi," tukas Jeanara dari seberang telepon. Baru saja Mentari ingin bicara, ternyata panggilan itu telah ditutup. Kemudian dalam hitungan detik, Jeanara kembali menghubunginya membuat Mentari geleng-geleng kepala.


"Assalamu'alaikum calon ipar," ucap Jeanara dari seberang telepon membuat Mentari terkekeh geli.


"Wa'alaikum salam, calon iparku sahabatku," sahut Mentari membuat Jeanara ikutan terkekeh.

__ADS_1


"Jadi ... ayo buruan, jawab pertanyaan gue tadi! Kenapa loe nggak ngabarin gue kalau loe udah terima lamaran Jerva?"


Mentari lantas menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang dan menghembuskan nafas pelan, "aku aja belum percaya dengan jawaban gue tadi, Je," ucapnya sambil memandang cincin yang terbuat dari emas putih bermata biru safir yang ia yakini itu merupakan berlian asli. "Gue kok ngerasa ini kayak mimpi ya, Je. Belum yakin aja, ini gue beneran dilamar saudara kembar loe, apa gue cuma halu aja ya?"


Sontak saja Jeanara tergelak begitu kencang.


"Astaga, Riri, loe aneh banget sih! Kok bisa-bisanya loe ngira loe cuma halu," decak Jeanara masih dengan tawanya. "Asal loe tau Ri, Jerva itu benar-benar serius. Malah dia udah bilang sama keluarga besar gue tentang keinginannya nikahin loe. Jadi ... loe siap-siap aja ya!" imbuh Jeanara sedikit ambigu.


"Maksudnya?" tanya Mentari bingung.


"Maksudnya ... selamat datang di keluarga besar Tjokroaminoto," ujarnya enggan menjelaskan. Jeanara tersenyum tipis. Saudara kembarnya itu memang mengatakan belum mencintai Mentari, tapi dari sikapnya Jeanara yakin kalau sebenarnya Jervario sudah benar-benar jatuh cinta pada janda muda sahabatnya itu. Jervario masih denial.


Namun berbanding terbalik dengan Mentari yang memang masih belum benar-benar membuka hatinya. Bukankah hal wajar bagi seorang wanita yang belum lama disakiti dan dikhianati merasa takut dan ragu untuk membuka hati pada lelaki lain. Merasa terlalu takut kejadian yang sama terulang kembali. Jeanara harap, saudara kembarnya itu mampu menyembuhkan luka hati yang dialami Mentari sehingga ia mampu kembali mencintai.


"Ck ... emangnya keluarga kamu mau nerima aku? Kekurangan aku?"


"Semua anggota keluargaku setuju kok. Tapi ya ... Jerva memang belum menceritakan penyebab perceraianmu. Ri, kenapa loe nggak periksa lagi aja sih biar benar-benar yakin kondisi loe sebenarnya. Kalau perlu kita periksa ke beberapa rumah sakit, gimana? Loe mau? Kalau mau, gue bersedia kok temenin loe," ujar Jeanara memberikan saran. Tentu ia ingin sahabatnya ini hidup bahagia dengan saudara kembarnya kelak. Ia harap hasil test tempo hari benar, tidak tertukar. Besar harapannya, Mentari sehat dan subur sehingga ia bisa hamil kelak. Untuk masalah Jervario, ia tak perlu khawatir, sudah ada Asha sebagai bukti kalau benih saudara kembarnya itu top cer.


"Nggak perlu, Je. Kini aku sudah pasrah. Aku hanya akan menyerahkan segalanya pada yang kuasa. Aku akan mencoba percaya pada Jerva. Semoga apa yang Jerva katakan itu bukan sekedar bualan belaka. Sebab bila ternyata dia hanya mempermainkan ku, mungkin itu merupakan terakhir kalinya aku akan memberikan kepercayaanku pada seorang laki-laki."


"Tenang saja Ri, kamu nggak sendiri. Kalau Jerva sampai macam-macam, aku sendiri yang akan langsung turun tangan untuk memberinya pelajaran," ucap Jeanara penuh kesungguhan membuat Mentari tersenyum kecil

__ADS_1


Jeanara memang bisa dipercaya, tapi entah dengan saudara kembarnya. Karena itu Mentari Belum berani membuka hatinya untuk laki-laki tersebut. Namun, ia akan memberikan Jervario kesempatan. Selain itu, ia akan memanfaatkan momen ini untuk membungkam mulut Rohani cs yang telah menghina dan mencemoohnya selama ini.


__ADS_2