Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
TUJUH PULUH TIGA


__ADS_3

Tok tok tok ...


"Permisi pak, ada Bu Milea dan pak Andrian ingin bertemu dengan Anda," ujar Dario pada sang atasan saat ia telah dipersilahkan masuk.


Jervario mengerutkan keningnya, ia tidak merasa memiliki janji dengan kedua orang itu jadi apa tujuan kedatangan dua orang itu sebenarnya.


"Persilahkan mereka masuk," ujar Jervario sambil melepaskan kacamatanya.


Tak lama kemudian Milea dan Andrian pun masuk ke dalam ruangan yang didominasi warna hitam, putih, dan abu-abu itu.


"Silahkan duduk!" ujar Jervario sambil melangkahkan kakinya menuju sofa single di ruangan itu.


"Jadi katakan, ada tujuan apa kalian datang ke mari?" tanya Jervario.


"Kau ternyata masih saja to the point seperti dulu. Nggak ada basa-basi sama sekali," decak Milea sebal sambil geleng-geleng kepala.


"Aku masih banyak pekerjaan yang harus segera aku selesaikan jadi katakan saja tujuan kalian kemari, jangan banyak basa-basi lagi," tukas Jervario datar. Tidak ada lagi keramahan apalagi tatapan penuh cinta dari Jervario untuk mantan istrinya itu. Hanya ada tatapan datar dan dingin. Rasa cinta yang pernah ada itu kini benar-benar lenyap setelah Milea dengan tanpa perasaan meninggalkan dirinya dan Asha yang saat itu baru berusia 1 tahun demi kembali pada mantan kekasihnya, yaitu Andrian.


Milea menghela nafasnya. Ia sadar, perbuatannya di masa lalu telah membuat Jervario kembali ke sifat aslinya yang datar, cuek, dan dingin pada orang yang tidak dekat dengannya.


"Aku ingin mengajak Asha liburan. 3 hari saja. Mama dan papa ingin sekali bertemu dengan cucu mereka. Tadi aku sudah bilang pada istrimu itu tapi dia justru tidak mengizinkan. Emangnya dia siapa, dia itu hanya seorang ibu sambung. Akulah ibu kandung Asha jadi aku yang lebih berhak. Jadi mas, bilang sama istrimu itu, jangan sok jadi orang,"ketus Milea kesal.


Ya, tadi saat bertemu dengan Mentari di sekolah Asha, Milea memang menyatakan keinginannya mengajak Asha liburan ke rumah orang tuanya. Tapi Mentari justru menolak secara halus hal tersebut. Bukan tanpa alasan, pertama Asha masih sekolah. Musim liburan belum tiba. Kedua, mereka belum meminta izin pada Jervario selaku ayah kandung. Jadi Mentari menyarankan untuk berbicara dahulu dengan Jervario sebab ia tidak memiliki hak penuh untuk mengatur perihal segala sesuatu yang menyangkut Asha. Ia memang saat ini telah menjadi ibu sambung Asha, tapi tetap saja, kuasa penuh dipegang oleh ayah kandungnya. Bahkan Mentari pun tidak berani melakukan apapun tanpa persetujuan suaminya itu.


Namun Milea justru berpikir negatif dengan penolakan Mentari tersebut. Meskipun Mentari telah menjelaskan, Milea tetap tak terima penolakan tersebut. Ia justru menganggap Mentari sok berkuasa. Bahkan Milea mendebat Mentari dengan suara cukup lantang sehingga memancing perhatian ibu-ibu yang lain. Alhasil, Mentari dinilai ibu sambung yang jahat karena telah dengan tega memisahkan seorang anak dengan ibu kandungnya. Milea juga menuduh Mentari memengaruhi Asha sehingga tidak mau dekat dengannya. Padahal sebulan telah berlalu, tapi tak ada perkembangan yang signifikan pada hubungan ibu dan anak itu. Asha justru kian dekat dengan Mentari yang hanya seorang ibu sambung. Hal itulah yang membuat Milea kesal dan menudingnya telah memengaruhi Asha agar tidak mau berdekatan dengannya. Padahal, sekalipun Mentari tak pernah melakukan hal tersebut.


"Apa yang dilakukan istriku itu sudah benar. Dia hanya melakukan apa yangs seharusnya ia lakukan," tegas Jervario dengan tatapan dingin dan mengintimidasi membuat Mile tertegun. Tapi ia tak mau menyerah dengan keinginannya.

__ADS_1


"Tapi mas, aku pun ibunya. Aku ibu kandung Asha. Aku pun berhak atas dirinya. Begitu pula orang tuaku, mereka pun berhak untuk bertemu dengan cucunya," ujar Milea kekeh dengan keinginannya.


"Kenapa tidak mereka saja yang datang ke mari?" Mata Jervario menyipit membuat Milea gelagapan.


"Bukan tanpa alasan, mas, orang tua Milea kini sakit-sakitan. Mereka tidak bisa melakukan perjalanan jauh. Karena itu kami berniat mengajak Asha kesana. Hanya 3 hari kok, mas. Bagaimana pun, mama dan papa Milea pernah menjadi mertua mas Jerva, apakah tidak terlalu kejam membiarkan mereka datang kemari jauh-jauh untuk bertemu cucu mereka?" tutur Andrian yang akhirnya membuka suaranya. Berharap Jervario dapat mengerti keadaan mertuanya yang tak memungkinkan saat ini untuk diajak ke sana.


Jervario menghela nafasnya, "kapan kalian akan berangkat?" tanya Jervario datar.


Sejujurnya ia merasa berat untuk membiarkan Asha jauh darinya. Meskipun ia sering meninggalkan Asha, tapi ia selalu dalam penjagaan keluarganya dan kali ini Asha ingin diajak pergi oleh ibu kandung untuk pertama kali. Jervario tentu tidak bisa bersikap egois. Bagaimana pun, Milea adalah ibu kandung putrinya. Pun orang tua Milea merupakan kakek dan nenek dari Asha, tentu mereka pun memiliki hak untuk bertemu setelah sekian tahun mereka tidak pernah bertemu.


Milea dan Andrian tersenyum lebar, "besok pagi," jawab Milea sumringah.


Jervario lantas mengangguk, "baiklah. Kalian bisa menjemputnya di rumah. Tapi ingat, hanya 3 hari dan jaga Asha baik-baik. Aku tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada putriku," tegas Jervario.


"Dia juga putriku, Mas."


...***...


Cuaca sore itu tiba-tiba saja mendung. Shandi yang baru saja keluar dari kantor dan masih separuh perjalanan tampak kebingungan sebab jelas sekali terlihat kalau langit sebentar lagi akan menurunkan hujan. Ia tampak kebingungan sebab ia tidak memiliki jas hujan. Tiba-tiba saja, hujan turun begitu derasnya. Sejauh mata memandang, ia tidak menemukan tempat yang aman untuk berteduh. Hingga beberapa menit kemudian, ia melihat sebuah halte yang tak jauh dari posisinya. Shandi pun segera memacu motornya dengan cepat untuk segera berteduh.


Setibanya di sana, Shandi pun segera berteduh. Bajunya sudah hampir basah semua karena hujan yang begitu deras. Untung saja ia memakai jaket jadi air hujan itu tidak membasahi kemeja yang ia pakai. Ia menyeka air di wajahnya kemudian mendudukkan bokongnya di bangku panjang yang ada di sana. Saat sedang duduk, ia mendengar isak tangis seorang anak kecil. Shandi pun menoleh, ternyata ada seorang perempuan berjilbab dengan anaknya yang masih berusia sekitar 3 tahunan sedang duduk di sana. Wajah perempuan itu tampak kuyu. Ada sebuah tas cukup besar tergeletak di bawah kakinya. Sepertinya ia sedang ingin pergi ke suatu tempat tapi justru terjebak hujan.


"Bu, dingin," cicit anak itu yang memang tampak pucat dan menggigil.


"Sabar ya, sayang. Nanti setelah hujan reda, kita cari tempat tinggal. Sementara kita di sini dulu, ya. Hujannya masih deras, nanti Rafi malah sakit karena kehujanan," tukas perempuan itu lembut membuat Shandi iba. Sepertinya perempuan dan anaknya itu tidak memiliki tempat tinggal.


Tiba-tiba Shandi teringat kalau ia belum sempat mencari art untuk menjaga ibu dan merawat rumahnya. Shandi pun lantas menyapa perempuan itu dan menawarkannya pekerjaan sebagai art.

__ADS_1


"Maaf, apa kalian tidak memiliki tempat tinggal?" tanya Shandi membuat perempuan itu menoleh. Penampilan perempuan itu tampak sangat sederhana. Tatapannya sendu. Kelopak matanya tampak menghitam dan bengkak seperti kurang tidur, kelelahan, dan banyak menangis.


"Emmm ... maaf, Anda ... "


Perempuan itu tampak sedikit ketakutan saat Shandi menegurnya.


"Kamu tidak perlu takut. Bila memang kalian tidak memiliki tempat tinggal, bagaimana kalau kalian ikut saya. Kebetulan saya memerlukan seseorang untuk merawat ibu saya yang sedang sakit stroke sekaligus merawat rumah saya. Maksudnya kalau kamu bersedia, kamu bisa bekerja sebagai art di rumah saya. Kalian juga bisa tinggal di rumah saya, bagaimana? Kalau kalian bersedia, setelah hujan reda, kalian bisa langsung ikut saya. Kasihan juga anakmu, dia sudah sangat kedinginan," ujar Shandi yang merasa kasihan melihat putra perempuan itu yang sudah tampak menggigil. Bibirnya sudah benar-benar pucat dan bergetar. Shandi lantas melepaskan jaket yang ia kenakan dan menyerahkannya pada perempuan itu agar segera dipakaikan pada anak kecil itu.


"Pakaikan ini supaya dia tidak terlalu kedinginan," ujarnya seraya menyodorkan jaket miliknya yang cukup tebal.


Perempuan itu sebenarnya sedikit ragu menerima jaket itu, tapi ia tak kuasa melihat putranya yang kian menggigil kedinginan jadi ia pun menerima jaket itu dan segera memasangkannya pada tubuh kecil putranya.


"Terima kasih," ujar perempuan itu.


"Hmmm ... jadi bagaimana? Kau mau bekerja di rumahku?" tanya Shandi lagi.


Perempuan itu tampak menimbang, karena tak memiliki pilihan lain sebab mereka pun tidak memiliki tempat tinggal maupun tujuan yang jelas, ia pun akhirnya mengangguk setuju membuat Shandi bernafas dengan lega.


"Oh ya, perkenalkan namaku Shandi," ujar Shandi sambil mengulurkan tangannya.


"Aku ... Fatma," cicit Fatma sambil menyambut uluran tangan tersebut kemudian segera ia tarik kembali secepat mungkin.


Dapat Shandi rasakan, tangan Fatma terasa begitu dingin. Mungin ia sudah cukup lama kehujanan. Saat hujan sudah sedikit reda, hanya menyisakan rintik-rintik, Shandi pun segera mengajak Fatma dan anaknya naik ke atas motornya untuk ia bawa ke rumah.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2