
Hari ini merupakan jadwal Gathan dan tim mengunjungi perusahaan investasi milik Tuan Malik. Perusahaan yang bernama Longlife Investment itu merupakan satu dari 5 perusahaan investasi terbesar di Dubai dan juga masuk dalam 50 jajaran perusahaan investasi terbesar dunia. Saat Gathan, Jervario, dan tim menginjakkan kakinya di perusahaan berlantai 77 itu, mereka langsung disambut kemewahan dan kemegahan yang luar biasa. Gathan dan Jervario mengagumi arsitektur bangunan yang bukan hanya terkesan mewah dan megah, tapi kecanggihan teknologi masa kini pun bisa dilihat di dalamnya.
Sebuah layar datar super besar terpampang di tengah-tengah lobby yang super luas. Di sana orang-orang bisa melihat pergerakan pasar saham baik nasional maupun dunia sehingga mereka tak pernah ketinggalan informasi mengenai pergerakan harga saham.
Para karyawan pun tampak lalu lalang bergerak begitu sigap dan gesit. Sesuai prinsip, time ia money. Mereka akan melakukan pekerjaan mereka dengan penuh kesungguhan. Apalagi hal ini berhubungan dengan uang, tentu mereka harus benar-benar hati-hati dan cermat untuk mengurangi dampak kerugian akibat fluktuasi harga saham.
"Perusahaan tuan Malik sungguh sangat mengagumkan." Puji Gathan membuat tuan Malik dan Raniah sumringah.
"Terima kasih atas pujiannya. Mari kita menuju ruang meeting untuk pembahasan selanjutnya." Tukas tuan Malik dengan bahasa Arab yang langsung diterjemahkan Raniah ke dalam bahasa Inggris.
Setelah itu, mereka pun segera menuju ruang meeting dan melakukan pembahasan lanjutan. Sesekali Raniah melirik ke arah Jervario yang memasang wajah datar, tapi Jervario justru masa bodoh. Sama seperti matahari yang merupakan pusat dari tata Surya, begitu pula Mentari yang merupakan pusat dari dirinya, pusat hidupnya, pusat kebahagiaannya. Dan ia takkan membuka sedikit pun peluang bagi wanita lain untuk merusak pusat kehidupannya itu.
...***...
"Ap-apa dok? Anda ... Anda sedang tidak bercanda kan? Aku-aku nggak mungkin mengidap kanker serviks. Jangan bercanda, dok! Jangan mempermainkan ku! Ini nggak lucu. Aku nggak mungkin mengidap penyakit mengerikan itu," sentak Septi tak terima saat dokter membacakan hasil pemeriksaannya beberapa waktu yang lalu.
Ya, beberapa hari yang lalu karena Septi terus-menerus merasa nyeri di perutnya membuat Septi memaksa Edward agar mau mengantarkannya memeriksakan kandungan lebih awal. Sebelum-sebelumnya memang ia kerap merasakan kesakitan itu. Tapi makin kesini, rasa sakit itu kian menjadi. Apalagi setiap kali sesudah ia berhubungan dengan Edward, ia kerap mengeluarkan darah membuatnya kian khawatir dengan kandungannya. Edward yang saat itu tengah berada di luar kota pun segera kembali dan menemukan Septi telah tak sadarkan diri seorang diri di apartemen miliknya.
Edward pun gegas membawa Septi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Dokter menduga kehamilan Septi bermasalah jadi harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Alhasil, Septi dirawat di rumah sakit tersebut untuk menjalani serangkaian pemeriksaan dan hari inilah hasil test akan keluar.
__ADS_1
Dokter yang memeriksa keadaan Septi tampak tidak terkejut. Dilihat dari gejala yang Septi alami ia sudah menarik kesimpulan mengenai penyakit yang Septi derita. Namun karena untuk menjaga kondisi psikis pasien, apalagi pasien tengah hamil, dokter pun belum mengutarakan dugaannya dan baru akan mengungkapkannya setelah hasil test keluar.
Oleh karena itu, hari ini Septi dan Edward sedang menunggu dengan perasaan was-was mengenai apa yang Septi derita sehingga ia kerap merasakan kesakitan di area perutnya. Awalnya ia menduga kehamilannya lah yang bermasalah, tapi kenyataan lebih besarlah yang memukul hancur dirinya. Dokter menyatakan ia mengidap kanker serviks tingkat 2. Dan untuk mencegah penyebarannya, ia bukan hanya harus mengangkat janinnya, tapi juga rahimnya.
Septi seakan dipukul dengan palu godam tepat di kepala dan jantungnya, bagaimana ia bisa mengidap penyakit mengerikan itu. Ia bukan hanya harus kehilangan janin, tapi juga rahim. Suatu yang kerap ia bangga-banggakan harus diangkat, tentu membuatnya seakan kehilangan dunianya.
Ingatan demi ingatan cacian yang ia lontarkan pada mantan kakak iparnya berputar di benaknya, 'mungkinkah ini balasanku atas segala perbuatan burukku pada mbak Tari? Tapi ... mengapa hukumannya seburuk ini? Bila aku kehilangan rahimku artinya aku kehilangan kesempatan untuk hamil dan menjadi seorang ibu. Setelah kak Shandi dinyatakan mandul, lalu aku ... aku harus kehilangan calon anakku berikut rahimku? Nggak ... aku nggak mau. Aku nggak mau.' batin Septi berkecamuk hebat karena memikirkan penyakit yang diidapnya.
"Saya tidak bercanda nyonya. Ini ... ini laporan hasil test laboratorium Anda. Silahkan Anda baca sendiri." Tukas dokter itu dengan wajah iba. Ia tak marah pada sikap Septi yang menolak percaya pada pernyataannya. Setiap orang yang mendapati kenyataan pahit tersebut tentu akan bereaksi sama, menolak kenyataan. Mereka shock, panik, terkejut, takut, khawatir. Kehilangan rahim sama saja dengan kehilangan kesempurnaan diri sebagai seorang wanita. Dan yang lebih menyakitkan, Septi telah diberikan kesempatan untuk hamil, tapi karena keadaan, ia harus segera menjalani operasi pengangkatan janin dan juga rahim. Belum sempat janin itu dilahirkan menjadi seorang bayi, tapi ternyata ia harus segera disingkirkan demi keselamatan sang ibu. Dokter bernama Aida itu merasa pilu melihat pasiennya yang tampak masih begitu muda tapi sudah harus menghadapi kenyataan pahit seperti ini.
"Dokter, apakah tak ada jalan lain selain menggugurkan kandungannya dan mengangkat rahimnya?" Tanya Edward dengan raut wajah yang tak terbaca.
"Kanker yang diderita nona Septi, sudah stadium 2. Pada tingkat ini, kanker sudah menyebar ke luar serviks , tepatnya ke jaringan di sekitarnya. Bila tidak segera diangkat, dikhawatirkan kanker akan makin menyebar ke seluruh organ penting lainnya salah satunya kelenjar getah bening. Pada keadaan ini, peluang hidup tentu akan kian menipis. Jadi untuk mencegah hal tersebut, sangat disarankan untuk dilakukan operasi pengangkatan rahim. Operasi pada penderita kanker serviks stadium 2 dilakukan dengan mengangkat seluruh rahim dan serviks (histerektomi radikal). Dokter juga akan menghilangkan kelenjar getah bening di sekitar serviks dan rahim Anda. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko kanker menyebar dari leher rahim ke kelenjar getah bening di sekitarnya. Tapi keputusan tetap kami berikan pada Anda. Kami sebagai dokter hanya bisa menyarankan yang terbaik." Tukas dokter Aida mencoba menerangkan dengan tenang.
Sepulang ke apartemen, Septi langsung terduduk lemas di sofa yang ada di ruang tamu. Pikirannya berkecamuk, antara mempertahankan kehamilannya atau memperpanjang peluang usianya? Tentu Septi belum mau mati. Ia masih ingin hidup dan menikmatinya. Tapi tiba-tiba Edward mengatakan sesuatu yang membuatnya seketika terhenyak.
"Aku tidak mau tahu-menahu, pokoknya kamu harus pertahanan anak itu. Lahirkan anak itu untukku dan jangan pernah berbuat macam-macam di belakangku. Bila sampai kau menggugurkannya, aku akan membuat perhitungan denganmu, kau dengar!" Sentak Edward memberikan peringatan pada Septi.
Sorot mata Edward begitu tajam dan menghujam. Ia tak pernah melihat Edward seperti ini sebelumnya. Edward selalu bersikap lembut dan penuh perhatian dengannya. Namun, semua tiba-tiba berubah setelah Edward mendapati kenyataan ia mengidap penyakit mengerikan bernama kanker serviks. Dunia Septi seketika runtuh. Bukannya mendapatkan dukungan ataupun support, ia justru mendapatkan peringatan sekaligus ancaman.
__ADS_1
"Tapi sayang, bagaimana kalau ... "
"Bila kau masih ingin aku ada di sampingmu, turuti segala ucapanku. Pertahankan anak itu dan aku akan ada di sisimu. Bila kau sampai menggugurkan anak itu, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan membalasmu, berikut keluargamu," desis Edward membuat tubuh Septi seketika menegang dengan air mata yang mulai bercucuran.
Setelah mengatakan itu, Edward pun segera berlalu dari sana, meninggalkan Septi dan kemalangannya seorang diri.
...***...
Huaaa ... bocil othor lagi demam jadi minta gendong terus dari tadi. Untung aja sempat ngetik nih. Tapi nggak tahu deh entar malam bisa nggak. 😥
Jangan lupa like, komen, vote, nonton iklan, dan kasih hadiahnya ya, biar othor tetap semangat ngetik apalagi udah menuju ending nih!
Othor juga udah persiapkan cerita baru nih. Cuma masih galau, antara dua judul, mau yang mana dulu. 😄
...sama...
__ADS_1
...Yang mana ya kira-kira???...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...