Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
EMPAT PULUH


__ADS_3

"Honey, bagaimana dengan kabar anak kita? Dia sehat-sehat saja kan di dalam sini?" tanya seorang lelaki berperawakan sedikit berisi dengan beberapa helai rambut yang mulai memutih. Namun sisa-sisa ketampanannya di masa muda masih terlihat walaupun tersamarkan dengan garis-garis halus di sekitar mata dan dahi.


"Dia sehat Daddy. Tapi dia sangat merindukan Daddy nya. Daddy sibuk sama mommy yang lain melulu, sampai lupa sama dia. Baby kita ngambek tahu," ucap seorang perempuan dengan nada manja sambil memainkan jari-jarinya di atas dada sang laki-laki.


"Oh ya! Oh, my baby, maafkan Daddy, sayang. Tapi karena Daddy di sini, kamu bisa puas-puasin ketemu Daddy, kamu senang kan?"


"Yes Daddy, aku senang. Senaaaang sekali," seru perempuan itu yang kini dengan suara anak kecil membuat laki-laki itu terkekeh kemudian melu*mat bibir perempuan itu dengan bergairah.


Setelah itu, laki-laki itu beranjak dan memposisikan dirinya tepat di atas perempuan itu yang kini telah merebahkan tubuhnya. Kemudian mereka membuka satu persatu benang yang melekat di tubuh mereka seperti yang biasa mereka lakukan.


Kini keduanya telah dalam keadaan polos. Kegiatan pun makin panas dan menggebu, hingga terjadilah apa yang memang biasa mereka lakukan.


...***...


"Septian, kamu kemana aja sih? Kenapa jarang pulang? Kamu tinggal di mana sebenarnya?" cecar Rohani saat melihat Septian baru pulang setelah seminggu tidak pulang ke rumah.


"Tak usah pedulikan aku. Aku bisa jaga diriku sendiri," tukas Septian datar.


Semenjak kakaknya menikah lagi dengan perempuan lain dan menceraikan Mentari, Septian sudah jarang pulang ke rumah. Tak ada yang tahu dia tinggal di mana, bahkan tak ada yang mempedulikan dirinya masih sekolah atau tidak dan pulang kemana? Kedua kakaknya apalagi, tak pernah peduli sama sekali.


"Tian, yang sopan ngomong sama mama!" bentak Rohani kesal. "Kamu itu ya makin besar, makin kurang ajar."


"Oke, aku jawab pertanyaan mama tadi, pertama aku kemana? Aku nggak kemana-mana, aku masih di kota yang sama. Kenapa jarang pulang? Karena aku muak melihat wajah-wajah orang munafik yang tak tahu diri di rumah ini. Apalagi kini ditambah perempuan tak tahu diri lainnya, sudah merusak rumah tangga orang, tapi masih bersikap pongah, tunggu aja dia karmanya. Saat itu kalian pasti akan menyesal menjadikan dia bagian dari keluarga ini," ucap Septian sinis. "Lalu mama tadi tanya aku tinggal di mana, tenang aja, aku ngekost. Aku nggak mau tinggal di rumah ini lagi," lanjutnya yang kemudian segera berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Kesal dengan jawaban Septian, Rohani pun menyusul Septian ke kamarnya. Mata Rohani terbelalak sempurna saat melihat Septian sedang sibuk mengepak pakaiannya ke dalam sebuah tas ransel yang cukup besar. Ia juga memasukkan beberapa barang-barang miliknya termasuk berbagai barang yang dihadiahkan oleh Mentari dari jam tangan, topi, hingga mainan kunci pun tak lupa dimasukkannya.


"Tian, kau mau kemana? Kau benar-benar ingin pergi dari rumah ini? Jangan gila kau Tian! Kamu itu masih sekolah, memangnya kau bisa apa di luar? Emangnya kau bisa hidup tanpa uang? Hidup di luar itu butuh uang, Tian. Kau pikir, kau bisa hidup dan bayar sekolah dengan modal omong doang?" sergah Rohani.


"Mama tenang aja, aku nggak sebodoh itu. Aku bukan benalu yang suka memanfaatkan orang lain. Aku bekerja, aku bisa menghasilkan uang sendiri. Tidak usah memikirkan masalah biaya sekolahku, sedangkan kalian sendiri saja berapa bulan ini tidak pernah memikirkannya. Justru orang yang kalian buanglah yang masih mempedulikanku. Tanpa aku minta, tanpa aku beritahu, biaya sekolahku sudah dibayarkan mbak Tari lebih dahulu."


"Heh, nggak usah songong kamu, Tian! Baru gitu aja kayak bangga banget sama perempuan mandul itu." Tiba-tiba saja terdengar suara Septi ikut menimpali perdebatan antara Rohani dan Septian.


"Berhenti menghina mbak Tari! Ingat mbak, kamu itu perempuan, apa kamu mau kata-kata buruk kamu itu balik ke kamu? Jangan sampai kamu menyesal karena mulutmu yang nggak bisa dijaga itu! Ingat, apa yang kau tabur, itu yang kau tuai." Peringat Septian dengan menahan kekesalannya.

__ADS_1


"Yang saudara kamu itu kami atau si mandul itu sih Tian sampai kamu segitu membela dia? Sebenarnya apa yang udah dikasikan dia ke kamu sampai kamu berani melawan kami, keluarga kamu sendiri?" bentak Septi tidak terima melihat Septian terus membela Mentari. "Dan kamu itu cuma anak kecil jadi jangan sok menceramahiku. Oh satu lagi, aku sangat subur dan aku yakin aku dapat memberikan suamiku anak yang sangat banyak nanti." Septi berbicara dengan jumawa.


Septian tersenyum miring, "silahkan membanggakan dirimu sendiri, mbak. Yang penting aku sebagai adik sudah memperingatkanmu."


Setelah mengucapkan itu, tangan Septian meraih tangan Rohani dan menciumnya. Kemudian ia segera berlalu dari rumah itu setelah mengucapkan salam meskipun tak ada yang menjawabnya sama sekali.


...***...


Malam menjelang, saat Mentari baru saja menyeduh mie instan cup miliknya, terdengar suara bel berbunyi. Mentari pun bergegas melihat dari interkom dan membulatkan matanya saat melihat siapa yang telah berdiri di depan apartemennya.


"Kamu ... "


"Assalamu'alaikum," ucap seseorang itu sambil masuk begitu saja ke dalam apartemen Mentari membuat Mentari mencak-mencak.


Mata Mentari kian melotot saat melihat seseorang itu membuang mie instan cup yang baru saja dibuatnya ke dalam kitchen sink.


"Jerva, kamu apa-apaan sih main buang gitu aja? Aku baru aja nyeduhnya udah kamu buang, mubazir tau!" hardik Mentari bersungut-sungut.


"Lebih baik mubazir daripada bikin kamu sakit. Kamu itu ada riwayat magh, Ri, percuma punya banyak duit kalau ujung-ujungnya balik ke selera asal alias mie instan," ucap Jervario santai.


"Kan bisa delivery order, gitu aja repot."


"Emang repot kok."Jervario geleng-geleng kepala, "duduk sini! l" perintah Jervario yang telah menarik kursi untuk Mentari.


Mentari menghela nafasnya kemudian mengikuti perintah Jervario untuk segera duduk. Ia dapat mencium aroma yang sangat harum dari paper bag yang dibawa Jervario. Ia pun melongokkan kepalanya mengintip apa yang Jervario bawakan untuknya.


"Wah, kayaknya enak nih!" lirih Mentari dengan mata berbinar saat ia melihat Jervario mengeluarkan bebek bakar utuh dari dalam paper bag itu. Tak lupa ada sambal, sayur asam, dan lalapannya membuat perutnya seketika menjerit-jerit.


Jervario tersenyum tipis melihat binar antusias di mata Mentari.


"Kamu ada nasi kan?" tanya Jervario.


"Ada kok. Ini ... "

__ADS_1


"Kamu mau kan temenin aku makan?" tanya Jervario lalu tanpa ragu Mentari mengangguk cepat.


"Ya udah, aku ambil nasi dulu ya!"


Mentari pun bergegas mengambil nasi 2 piring untuk dirinya dan Jervario dan menghidangkannya.


"Jer, kamu mau minum apa temennya?"


"Kayaknya teh hangat enak "


"Siap," seru Mentari seraya terkekeh membuat Jervario tersenyum manis. Mentari sampai terpaku saat melihat senyum itu. Jervario yang menyadari dia baru saja tersenyum, langsung mengubah ekspresinya menjadi datar kembali.


"Ck ... pelit banget sih! Cuma mau liat senyum aja nggak boleh," omel Mentari membuat Jervario membuang muka sambil mengulum senyum.


"Kan udah aku bilang senyum aku itu nggak gratis," ucap Jervario setelah kembali mengubah ekspresinya kembali datar.


Mentari menekuk wajahnya masam.


"Emang bayarannya apa sih? Coba kasi tau, kamu minta apa sebenarnya sebagai bayaran?" tanya Mentari penasaran sebab saat ia mengira bayarannya berupa uang, tapi Jervario mengatakan bukan.


"Ekhem ... Kita makan dulu ya, baru aku kasih tau," ucap Jervario membuat Mentari mendelik sebal. "Nggak usah melotot, entar biji matanya keluar, repot," celetuknya lagi membuat Mentari reflek mengangkat sendok di tangannya dan mengayunkannya ke atas kepala Jervario. Tapi belum sempat sendok itu mendarat di kepala Jervario, laki-laki itu sudah lebih dahulu mendongakkan kepalanya dan menatapnya tajam membuat sendok itu berhenti di udara seketika.


Jervario lantas mencondongkan wajahnya ke depan mendekati wajah Mentari yang membuat perempuan itu reflek mundur ke belakang sambil menelan ludah.


Glekkk ...


"Ka-kamu mau apa?" cicit Mentari gugup saat wajah itu kian mendekat.


".... "


...***...


...**Hayo, si pak duda mau ngapain tuh? 🙄😄...

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰**...


__ADS_2