Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
ENAM PULUH


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Mentari dan Jervario sudah bersiap sebab mereka akan mengikuti penerbangan pagi-pagi sekali menuju Italia. Tidak seperti pengantin baru lainnya yang langsung menikmati malam pertama mereka setelah menikah, mereka justru menundanya. Selain alasannya karena Mentari yang sudah terlalu kelelahan, mereka juga ingin melakukan malam pertama mereka di negara yang terkenal dengan menara Pisa-nya itu.


Meskipun Mentari belum mencintai Jervario, tapi ia sudah meniatkan dirinya untuk menjadi sebaik-baiknya seorang istri. Ia akan melakukan kewajibannya sebaik mungkin. Besar harapannya pernikahannya kali ini akan langgeng till Jannah. Mentari rasa, tidaklah sulit untuk mencintai seorang Jervario sebab ia selain tampan dan mapan, ia juga hangat dan penuh perhatian. Jervario bahkan tak sungkan-sungkan memijit kakinya di hadapan orang banyak. Ia juga tak menuntut malam pertama sebab sadar kalau istrinya tengah kelelahan. Bukankah malam pertama tak selalu harus dilakukan di malam pernikahan?


"Papi sama Mami pergi dulu ya, sayang. Asha, jangan nakal, nurut sama Oma, oke?" ujar Jervario berpesan pada sang Putri. Senyum Mentari merekah melihat interaksi Jervario dengan putrinya. Di balik sifat dingin dan datarnya, sebenarnya Jervario memiliki sifat hangat pada orang-orang terdekatnya.l, khususnya pada sang Putri tercinta.


"Baik Papi. Tapi papi jangan lama-lama ya bawa mami kan Asha juga pingin kayak temen-temen, dianterin ke sekolah sama mami dan papi, jalan-jalan sama mami dan papi, disuapin sama mami, dibacain dongeng sama mami, dibuatin bekal sama mami, bobok sama mami, apa lagi ya ???" Ashadiva tampak sedang berpikir membuat Jervario, Mentari, dan yang lainnya terkekeh geli melihatnya.


"Iya, iya, sayang," ujar Jervario sambil mengusap kepala Asha.


"Asha mau minta oleh-oleh apa sama mami?" tanya Mentari yang kini telah berjongkok di hadapan Putri sambungnya.


Ashadiva tersenyum lebar, kemudian ia menyebutkan permintaannya. Sebuah permintaan yang sebenarnya biasa saja, tapi luar biasa sulit bagi Mentari. Seketika dada Mentari terasa sesak.


"Asha cuma mau mami bawain Asha adek. Asha pingin punya adek bayi kayak temen-temen Asha, mi. Boleh kan?" cetus Asha dengan memasang wajah polos dan menggemaskan. Namun hal tersebut justru membuat senyum yang tadi merekah seketika surut.


Jervario yang mengerti kegelisahan sang istri pun segera menggenggam erat tangan Mentari.


"Asha doain mami ya! Katanya doa anak yang Sholeh/Sholehah itu pasti dikabulkan Allah," ujar Mentari akhirnya setelah menarik nafas panjang terlebih dahulu.


Asha pun segera berhambur ke pelukan Mentari yang kini telah resmi menjadi ibu sambungnya.


"Nanti Asha akan lebih rajin sholat dan ngaji, mami, terus Asha akan berdoa supaya mami bisa kasih Asha adek," ujarnya masih dengan wajah polos nan menggemaskan.


Setitik air mata luruh dari sudut matanya, Mentari pun mengaamiinkan doa dan harapan anak sambungnya itu.


"Aamiin ... Semoga doa dan harapan Asha dikabulkan Allah SWT ya."


"Aamiin ya rabbal alamin," koor semua anggota keluarga yang turut mengantar Jervario dan Mentari ke bandara.

__ADS_1


Tak lama kemudian boarding time telah diumumkan. Mentari dan Jervario pun bergegas masuk ke dalam pesawat sebab dalam 20 menit ke depan, pesawat akan segera melakukan take off.


Sebelum benar-benar masuk ke pesawat, Mentari dan Jervario melambaikan tangan terlebih dahulu pada Asha dan yang lainnya.


"Kira-kira perjalanan kita berapa lama, bang?" tanya Mentari membuat Jervario sontak menoleh dengan penuh tanda tanya. Ia harap ia tak salah mendengar barusan.


"A-apa? Bisa kamu ulangi?" tanya Jervario sedikit gelagapan.


Mentari berdecak tapi ia segera mengulangi pertanyaannya.


"Ck ... Kira-kira perjalanan kita berapa lama?"


"Nggak. Nggak kayak gitu tadi. Coba ulangi lagi!" pinta Jervario membuat Mentari mendelik kesal.


"Kuping kamu sehat kan? Atau Abang butuh linggis buat bersihinnya?" ketus Mentari membuat senyum di bibir Jervario merekah


"Lagi, lagi, ulangi lagi!"


"Bang," pekik Mentari rendah membuat Jervario terkekeh.


"Jadi panggilanku Abang, hm?" goda Jervario sambil mencolek hidung Mentari.


Mentari sampai melongo melihat ulah sang suami yang tampak begitu bahagia hanya karena sebuah panggilan.


"Ih, dasar, baru panggilan kayak gitu aja udah salting, apa lagi kalau dipanggil Ayang Beb, bisa-bisa pingsan," seloroh Mentari sambil terkekeh.


"Bukan hanya pingsan, tapi mimisan," sahutnya seraya terkekeh. "Kok bisa sih berpikir manggil Abang?"


"Ya kan usia Abang tua'an Abang 33 hari jadi wajar kan dipanggil Abang?"

__ADS_1


"Hmmm ... ya juga sih. Tapi jujur, aku senang banget dengan panggilan itu. Padahal biasa aja ya, tapi kok kalau kamu yang manggil aku kayak gitu terdengar manis banget," ucapnya jujur.


"Lebay," ejek Mentari.


"Abang nggak lebay, sayang."


Mereka pun mengisi perjalanan mereka dengan bercanda tawa dan berbagi cerita untuk saling mendekatkan diri masing-masing.


Sementara itu, di kota yang baru saja Mentari tinggalkan, tampak seorang perempuan muda dengan wajah berbinar masuk ke sebuah apartemen milik kekasihnya. Ia ingin memberikan kabar bahagia pada sang kekasih yang mana pernah menjanjikan akan menikahinya bila ia berhasil hamil.


Oleh karena itu, perempuan itu tampak begitu bahagia ingin memberikan kabar gembira itu sesegera mungkin pada sang kekasih. Berharap kekasihnya akan segera menikahinya agar ia bisa menunjukkan pada Mentari bahwa ia pun mampu mendapatkan lelaki kaya sebagai pendamping hidupnya. Bahkan kini ia menang banyak sebab ia berhasil hamil padahal ia baru menjalin hubungan dengan Edward selama 1 bulan. Sepanjang perjalanan tadi, ia tersenyum sinis. Ia mengingat kata-kata adiknya yang intinya mengatakan bahwa ia akan menuai karma bila terus-terusan menghina Mentari. Tapi lihat kini, hidupnya justru kian bahagia. Ia berhasil hamil dan ayah calon dari anaknya merupakan pria bule kaya raya, tentu ia merasa bahagia.


"Sayang," pekik Septi pada sang kekasih yang ternyata sedang menelpon seseorang di balkon kamar apartemennya.


Melihat kedatangan Septi yang tiba-tiba, membuat laki-laki itu gugup seketika dan segera mematikan panggilan telepon itu dan menyimpan ponselnya.


"Eh, kenapa datang tidak bilang-bilang, honey? Apa kau sungguh merindukanku sampai rela datang sepagi ini? Bukannya kau pagi ini ada kelas, hm?" cecar Edward penuh perhatian. Ia harap, Septi tidak mendengar pembicaraannya di telepon tadi.


"Hmmm ... i'm really miss you. Iya sih, ada kelas. Tapi ada sesuatu yang lebih penting yang ingin aku sampaikan padamu. Sebuah kejutan," ujarnya sambil tersenyum lebar.


"Apa itu, honey? Aku sudah tidak sabar menantikannya?"


Dengan senyum merekahnya, Septi lalu menyerahkan sebuah benda pipih bergaris 2 merah ke tangan Edward. Edward yang melihat itu lantas tersenyum lebar dan segera memeluk tubuh Septi.


"Ah, akhirnya! I'm so happy, darling. Terima kasih. Ini benar-benar kejutan luar biasa untukku," seru Edward sambil mengecupi seluruh bagian wajah Septi.


"Jadi ... kapan kita menikah?"


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2