
[Assalamu'alaikum. Maaf mengganggu, bisakah kita makan malam bersama malam ini? Raniah.]
Jervario belum juga merespon pesan itu meskipun telah satu jam berlalu. Ia masih menimbang, perlukah ia merespon pesan tersebut. Tapi jujur, ia sebenarnya merasa enggan. Apalagi ini merupakan ajakan dari seorang perempuan. Meskipun ia dapat melihat Raniah merupakan perempuan baik-baik, apalagi ia merupakan putri dari salah seorang pengusaha terkemuka di Dubai, namun tak lantas membuatnya menyetujui begitu saja ajakan tersebut.
Setelah menimbang sejenak, Jervario pun membalas pesan tersebut setelah terlebih dahulu menangkap layar kesan tersebut dan menanyakan pendapat istrinya. Menurut Mentari, kita jangan langsung menilai negatif ajakan tersebut. Bisa saja itu bukan sekedar ajakan untuk Jervario seorang, tetapi seluruh tim yang hari itu mengikuti meeting di sana. Jervario pun menuruti perkataan istrinya dan mengetikkan pesan balasan.
[Wa'alaikum salam. Maaf, ini ajakan untuk semua kah?] Tulisnya dalam bahasa Inggris sebab Raniah mengirimkan pesan tersebut dalam bahasa Inggris.
Tring ...
Hanya dalam hitungan detik, pesan tersebut telah dibalas oleh si pengirim pesan, siapa lagi kalau bukan Raniah.
[Bukan. Hanya kamu. Bisa?]
Setelah membaca pesan tersebut, tak perlu pikir panjang, menimbang-nimbang, apalagi meminta pendapat orang lain terlebih istrinya, Jervario pun langsung mengetikkan balasan yang Jervario harap dapat Raniah mengerti dengan baik.
[Maaf, saya tidak bisa. Tidak pantas bagi saya pria yang telah beristri menemui seorang perempuan yang tidak memiliki hubungan apa-apa.]
[Bukankah kita ada hubungan, yah walaupun hanya sebatas tekan kerja?]
[Maaf, aku pria beristri dan meskipun istriku tak ada di sini, aku harus tetap menjaga kepercayaannya, dimana pun aku berada.]
__ADS_1
Setelah mengirimkan pesan tersebut, Jervario langsung mengirim pesan penutup berharap Raniah tak lagi mengiriminya pesan.
[Wassalamu'alaikum.]
Bukan tanpa alasan, terkadang berkirim pesan dengan lawan jenis pun bisa menjadi sumber malapetaka dalam rumah tangga. Apalagi bila berkirim pesan tersebut diteruskan dengan percakapan ataupun obrolan yang meskipun sifatnya remeh-temeh, tetap saja itu berbahaya. Tanpa sadar, perlahan kita akan terjebak dalam perselingkuhan tipis-tipis. Awalnya hanya sekedar bercengkrama yang kemudian lama-kelamaan menimbulkan rasa nyaman satu sama lain lalu ujung-ujungnya berakhir dengan perselingkuhan. Banyak sudah kejadian seperti ini. Karena itu, sebagai seorang yang telah memiliki pasangan, ada baiknya kita menjaga jarak aman dengan lawan jenis, meskipun itu dengan sahabat kita sendiri.
Oleh sebab itu, Jervario begitu membatasi dirinya dengan lawan jenis. Biarlah ia dinilai angkuh, asalkan ia bisa menjaga hati sang istri. Belum menjadi pasangan saja alias saat masih single, Jervario begitu menjaga jarak dengan lawan jenis, apalagi saat ia telah memiliki pawangnya, tentu ia akan jaga sebaik mungkin. Seorang wanita rela meninggalkan segalanya, memberikan segalanya, membaktikan dirinya, rela menahan sakit, susah, sedih, terluka, bahkan berdarah-darah saat melahirkan zuriat dari suaminya, jadi sudah sepantasnya laki-laki menghargai keberadaan istrinya dengan menjaga kelakuan dan kesetiaannya dimana pun berada. Baginya kepercayaan dan kesetiaan adalah fondasi utama dalam membangun rumah tangga, diikuti sikap saling pengertian, saling menghormati, saling peduli, tanpa memandang rendah kekurangan pasangan dan justru menjadikannya sebuah kelebihan yang pantas dihormati. Ingat, istri adalah tulang rusuk suami. Tulang rusuk itu bengkok. Bila kau paksakan lurus, maka tulang rusuk itu akan patah. Dari pengalaman berumah tangganya yang pertama, Jervario kini benar-benar menjaga keutuhan rumah tangganya, termasuk menjaga dirinya agar tidak pernah terjebak dalam suatu peristiwa yang akan menggoyahkan fondasi yang susah payah ia bangun.
Setelah mengirimkan pesan itu, Jervario pun menonaktifkan ponsel yang memang ia gunakan khusus orang luar termasuk urusan pekerjaan. Sedangkan untuk keluarga, Jervario memiliki ponsel lainnya dan yang memiliki nomornya itupun hanya orang-orang terdekatnya saja dan ia larang untuk berikan pada siapapun juga tanpa seizinnya.
Untung saja Raniah bukan menghubungi nomor khusus orang-orang terdekatnya. Bila sampai Raniah menghubunginya di nomor khusus tersebut, bisa ia pastikan, ia akan cari sampai dapat siapa yang memberikan nomor tersebut dan menghukumnya.
Ah, mengingat ia akan langsung dikaruniai sepasang bayi kembar, membuat buncahan bahagia di dada Jervario kian meletup-letup. Ia tak menyangka, wanita yang pesimis dirinya tak mampu memberikannya keturunan justru tengah mengandung sepasang bayi kembar. Langsung memberikan dua bayi di saat hamil pertamanya, bagaimana Jervario tak merasa bahagia coba? Sungguh, kehamilan Mentari ini adalah anugerah luar biasa dari yang maha Kuasa untuk mereka. Berkat ini, kebahagiaan keluarga mereka kasi berkali-kali lipat. Berkat kehamilan ini juga, Mentari akhirnya yakin kalau hasil test kesuburannya waktu itu benar. Ia subur dan tidak mandul seperti yang orang-orang tuduhkan padanya.
Sementara itu, masih di hotel yang sama, namun kamar dan lantai berbeda, ada seorang wanita yang tersenyum lebar dengan binar kagum terpancar jelas di netranya.
Dia adalah Raniah. Meskipun Jervario telah menolak ajakannya, tapi hal itu tidak membuatnya marah apalagi kecewa. Ia justru kian mengagumi sosok Jervario yang memang sungguh sangat suamiable. Perempuan mana yang tidak mengagumi pria yang begitu menjaga perasaan istrinya seperti Jervario. Sangat jarang ada laki-laki yang seperti ini. Bahkan di negaranya saja, bila ada ajakan seperti yang ia lakukan, lelaki akan langsung merasa bangga dan jumawa. Tak peduli mereka telah memiliki pasangan sebab bagi mereka poligami adalah hal biasa. Tapi Jervario berbeda, ini yang membuatnya kian tertarik. Bila sebelum-sebelumnya ia pernah ditawarkan pernikahan poligami oleh beberapa pengusaha dan Raniah menolaknya keras, tapi kali ini sepertinya berbeda. Sepertinya ia akan ikhlas menerima dijadikan yang kedua bila laki-laki seperti Jervario lah yang menjadi suaminya.
...Raniah Jamilah....
__ADS_1
...***...
"Fatma, Rafi mana?" tanya Shandi yang baru saja pulang bekerja.
"Rafi sedang menggambar di kamarnya, tuan. Ada apa ya tuan mencari Rafi?"
"Bisa tolong panggilkan?" Ini bukan perintah, tapi lebih ke seperti sebuah permintaan. Tapi yang membuat Fatma heran, kenapa majikannya justru meminta tolong? Seakan majikannya itu minta dipanggilkan anaknya saja. Tapi tak pelak ia menuruti perintah atasannya tersebut.
"Baik, tuan." Jawab Fatma yang segera berlalu mencari putranya.
Fatma akui, Shandi memang sangat baik, terlebih dengan putranya. Putranya merupakan anak yatim. Ayahnya belum lama meninggal dan mereka terusir dari kontrakan karena belum dibayar selama 3 bulan. Semenjak suaminya kecelakaan beberapa bulan yang lalu, suaminya memang tidak bekerja sehingga mereka tidak bisa membayar kontrakan. Hingga suatu pagi, tanpa Fatma sadari ternyata suaminya telah menghembuskan nafas terakhirnya tanpa sepengetahuannya. Fatma sedih, hancur, terpukul sebab suaminya meninggalkannya begitu saja tanpa pesan walau sepatah katapun. Tapi ia tetap harus kuat sebab anaknya yang masih begitu kecil. Ia bersyukur ia masih memiliki sisa simpanan sehingga ia bisa memakamkan suaminya dengan layak. Tapi beberapa hari setelahnya, pemilik kontrakan tiba-tiba memintanya membereskan barang-barangnya karena mereka telah menunggak pembayaran beberapa bulan. Dengan terpaksa, Fatma dan Rafi pun pergi dari kontrakan tersebut tanpa tujuan sama sekali.
Baik Fatma maupun mendiang suaminya tidak memiliki keluarga satupun sebab mereka dulu merupakan penghuni panti. Karena mereka besar bersama dan telah lama saling menyukai, akhirnya mereka memutuskan menikah. Karena itu, sepeninggal mendiang suaminya, Fatma begitu kebingungan. Mereka tidak memiliki tempat bernaung selain satu sama lain. Beruntung mereka dipertemukan dengan laki-laki berhati baik seperti Shandi sehingga akhirnya mereka bukan hanya mendapatkan tempat tinggal yang nyaman, tapi juga bisa makan tanpa takut kelaparan sekaligus uang. Bahkan Shandi juga sangat perhatian dengan putranya. Hanya saja sayang, Fatma sering memergoki majikannya itu murung sambil memandangi selembar foto yang entah itu siapa, Fatma tak tahu. Fatma hanya bisa berdoa, semoga majikannya itu bisa mendapatkan kebahagiaan karena majikannya itu baik. (Awas, ini bukan Reyhan ya yang baik! 😂)
...***...
...Setuju nggak Shandi dikasi kebahagiaan? 😄...
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1