
"Mas, kenapa kamu bawa Asha? Tolong mas, jangan bawa Asha dulu! Biarkan operasinya berjalan lancar dahulu," mohon Milea dengan wajah memelas.
Dada Jervario rasa terbakar, ia lantas menyerahkan Asha yang sepertinya dalam pengaruh obat bius ke Revin. Revin pun mengambil alih Asha dan menggendongnya.
"Apa kau gila, hah?" bentak Jervario murka. "Dimana otakmu mengorbankan Asha yang masih sangat kecil untuk kesembuhan putramu, hah? Aku tak habis pikir, kau itu ibunya, ibu kandungnya, tapi kau begitu tega menumbalkan anakmu untuk anak lainnya. Mungkin kalau Asha sudah dewasa, masih bisa dipahami, tapi Asha masih kecil. Bahkan usianya pun baru menginjak 5 tahun. Masa depannya masih panjang. Bagaimana kehidupan kedepannya bila ia hanya memiliki satu ginjal saja? Di mana hati kamu, hah? Di mana akal pikiran kamu?" cecar Jervario menggebu-gebu.
Amarahnya benar-benar membuncah. Seandainya membunuh tidak berdosa dan diizinkan, akan ia habisi sekarang juga manusia seperti Milea itu dengan tangannya sendiri.
"Asha masih bisa hidup meskipun hanya ada satu ginjal, tapi Affan akan mati bila tidak segera mendapatkan pendonor, mas," jawab Milea seolah tak masalah Asha kehilangan satu ginjalnya. Ia masih bisa hidup. Pikiran Milea terlalu egois.
Jervario menggeleng tak habis pikir dengan pola pikir Milea.
Plakkk ...
Plakkk ...
"Arrghhh ... "
Bukan Jervario yang menampar Milea, tapi Mentari. Hatinya sakit saat mendengar penuturan penuh keegoisan dari Milea itu.
"Kau tak pantas menjadi seorang ibu. Kau jahat, kau kejam. Kau monster. Bisa-bisanya kau berkata sesantai itu. Kau pasti tahu kan dampak mendonorkan ginjal itu bagaimana? Apalagi bila yang melakukannya anak kecil. Ia tidak bisa lelah. Tidak bisa beraktivitas seperti anak-anak lainnya. Bila tidak hati-hati ia bisa mengalami gagal ginjal akut dan ... Apa itu yang kau mau, hah? Dasar manusia iblis. Tak memiliki perasaan," desis Mentari dengan menggebu-gebu.
Mentari heran, padahal Asha putri kandung Milea sendiri, tapi Milea tanpa hati ingin mengorbankan gadis sekecil itu demi mengobati anaknya yang lain. Ia tahu, perasaan seorang ibu pasti sangat-sangat sedih melihat anaknya terkapar tak berdaya karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Tapi haruskah Asha yang dikorbankan? Tidakkah ada cara lain? Asha masih sangat-sangat kecil. Bahkan untuk menjaga diri saja belum bisa, bagaimana bila ia lalai menjaga dirinya, bagaimana bila ...
Mentari tak sanggup membayangkan kehidupan Asha kelak dengan satu ginjal. Ia yang hanya seorang ibu sambung saja tak sanggup membayangkannya, lalu bagaimana bisa Milea yang notabene ibu kandung Asha sendiri bisa menumbalkan putrinya seperti itu?
__ADS_1
"Kau itu hanya orang luar, tak pantas untuk ikut campur!" sentak Milea marah karena Mentari ikut campur urusannya.
"Siapa bilang dia orang luar, hah? Dia ibu Asha. Meskipun Mentari hanya ibu sambung, tapi ia lebih layak menjadi seorang ibu karena ia menyayangi Asha dengan tulus, tidak seperti kau yang ku kira tulus ternyata memiliki rencana busuk. Kau benar-benar menjijikkan," sergah Jervario.
"Nak, mama mohon, izinkan Asha menjadi pendonor untuk Affan! Kasihan dia. Bila segera mendapatkan pendonor, Affan bisa ... hiks ... hiks ... " Ibu Milea memohon seraya terisak. Tapi Jervario tidak iba sedikit pun.
"Mama pun seorang ibu. Apa mama juga lupa, Asha itu cucu mama juga, bagaimana bisa mama begitu tega dengan cucu mama sendiri? Apakah mama tidak memikirkan konsekuensinya bagi Asha di masa depan kelak?"
"Mas, kami tidak akan meminta tolong pada Asha bila salah satu dari kami cocok jadi pendonor, tapi kenyataannya kami tak ada yang cocok. Lagipula, kasihanilah aku, mas. Kamu sudah memiliki Asha. Kau pun sudah memiliki istri lagi. Dia bisa memberikanmu banyak anak semau kamu, tapi aku ... aku hanya punya Affan. Aku tidak bisa hamil lagi. Setelah melahirkan Affan, rahimku diangkat karena miom yang sudah sangat parah. Beruntung Affan bisa aku lahirkan dengan selamat. Bila tidak ... aku pasti akan menjadi wanita yang paling menyedihkan. Tidak memiliki anak sama sekali. Karena itu, aku mohon maaf, izinkan Asha menjadi pendonor bagi Affan!" Milea sampai menangkupkan kedua telapak tangannya di hadapan Jervario seraya memohon.
"Benar mas Jerva, kami tidak memiliki pilihan lain. Masa depan Affan pun masih panjang. Ia baru berusia 2 tahun, tapi sudah harus menanggung kesakitan seperti ini. Tolonglah kami, mas! Atau ... mas mau minta apa, pasti akan aku wujudkan! Kami mohon, mas!" ucap Andrian yang kini turut bersuara.
Jervario berdecih mendengar permohonan orang-orang itu.
"Tidak ada yang cocok? Begitu?" desis Jervario tersenyum sinis. Melihat senyum Jervario mendadak membuat bulu kuduk Milea merinding. Tubuhnya menegang. Jantungnya berdegup dengan kencang.
"Sudah tentu sampai mati pun aku takkan pernah mengorbankan putri kecilku. Apalagi saat tahu sebenarnya ada yang bisa menjadi pendonor tapi dengan teganya berbohong hanya karena takut tidak bisa hidup bebas seperti sebelumnya," desis Jervario mengejutkan semua orang yang ada di sana.
"Apa maksud kamu, mas? Siapa yang kamu maksud? Jangan mengada-ada kamu, mas!" sergah Milea dengan peluh yang mulai membanjiri pelipisnya. Tubuhnya sudah panas dingin, khawatir rahasianya terbongkar.
"Iya, mas. Apa maksudmu? Apa kau pikir kami berbohong?" tukas Andrian dengan nada meninggi. Ia tak terima dengan apa yang barusan Jervario tuduhkan pada mereka.
Kemudian Jervario terkekeh, "kau masih ingin terus berbohong Milea? Atau aku perlu mendatangkan dokter yang sudah kau bayar untuk membuat laporan palsu itu? Cih, kau benar-benar perempuan iblis. Monster berwajah malaikat. Ya, malaikat pencabut nyawa tepatnya. Hanya karena takut tidak bisa bersenang-senang seperti biasa. Khawatir tidak bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan secara bebas, kau sampai berbohong sedemikian rupa dan lebih memilih mengorbankan putrimu yang masih kecil? Beruntung aku bisa segera menggagalkan rencana busukmu. Kalau tidak, aku bersumpah pasti akan membunuhmu dengan tanganku sendiri," desis Jervario dengan sorot mata tajam seakan tengah bersiap untuk menguliti Milea yang tubuhnya sudah bergetar.
Andrian yang mendengar penuturan tersebut sontak saja terhenyak. Darahnya seketika mendidih.
__ADS_1
"Apa benar yang dikatakan mas Jerva barusan?" desis Andrian murka.
"Itu ... itu tidak benar, sayang. Mas Jerva hanya ingin mengadu domba kita. Dia ... dia ... "
Tiba-tiba saja mereka semua mendengar sebuah rekaman pengakuan dari dokter yang melakukan pemalsuan laporan hasil pengecekan kecocokan ginjal. Dalam rekaman itu, dokter itu mengaku kalau ia dibayar dengan uang yang cukup besar untuk mengubah hasil laporan pengecekan kecocokan ginjal Milea yang sebenarnya cocok menjadi tidak cocok.
Plakkk ...
"Kau benar-benar keterlaluan, Milea. Aku tak menyangka, kau bisa sekejam ini. Hanya demi keegoisanmu, kau sampai tega berbohong dan mengorbankan anakmu sendiri," sentak Andrian murka.
"Sayang, aku ... aku hanya ... "
"Aku hanya apa, hah? Ku beri kau 2 pilihan, donorkan salah satu ginjal atau ... kita bercerai?" ancam Andrian.
Milea membelalakkan matanya mendengar pilihan yang keduanya sama-sama sulit untuknya.
"Sayang, tolong jangan berikan aku pilihan seperti itu, aku ... "
"Hanya ada 2 pilihan itu. Terserah kau mau pilih yang mana. Segera ambil keputusan. Aku akan bicara dengan dokter!" tegas Andrian seakan lupa pada apa yang barusan mereka lakukan pada Asha.
"Kalian pikir kalian akan bebas begitu saja, hah? Setelah apa yang kalian rencanakan pada Asha, kalian pikir aku akan membebaskan kalian begitu saja? Tidak. Aku takkan pernah memaafkan perbuatan kalian semua. Tunggu saja, aku pastikan kalian semua akan mendekam di balik jeruji besi," desis Jervario penuh ancaman membuat keempat orang itu terhenyak tak menyangka kalau Jervario akan membawa masalah ini ke ranah hukum.
Setelah mengatakan itu, ia mengambil alih Asha ke dalam gendongannya dan mengajak Mentari serta Revin segera berlalu dari sana.
Milea hendak meminta Jervario tidak melaksanakan ancamannya, tapi Jervario justru tak acuh saja dan mengabaikan permohonan Milea juga kedua orangtuanya.
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...