Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
ENAM PULUH TUJUH


__ADS_3

Tak terasa 2 Minggu telah berlalu dan hari ini merupakan hari kepulangan pasangan pengantin itu ke Indonesia.


"Bang, beneran kita nggak usah kasih kabar ke Asha dulu kalau kita pulang?" tanya Mentari sembari menyusun pakaian mereka di dalam koper.


"Iya, sayang. Kan biar surprise," sahut Jervario yang sudah ikut berselonjor di lantai, tepat di samping Mentari.


"Bang, makasih ya!"


"Makasih? Untuk?"


"Emmm ... apa ya?" Mentari tersenyum geli melihat ekspresi Jervario yang menanti penjelasannya.


"Apa sih? Ayo, ngomong makasih untuk apa?"


"Makasih mau menikahi aku, wanita yang penuh kekurangan ini. Dapat bonus anak juga, aku .... bahagia." Ungkap Mentari dengan mata berkaca-kaca.


"Setiap manusia itu memiliki kekurangan. Dan satu-satunya yang Maha Sempurna itu ya hanya Allah semata, jadi tak usah terlalu over thinking."


"Tapi serius deh bang, sebenarnya apa alasan Abang mau menikahiku? Secara nih ya, Abang itu nyaris sempurna. Udah tampan, mapan, dari keluarga sempurna, kaya raya, nyaris nggak ada kekurangan lah, nggak seperti Riri yang ... yah meskipun sekarang Riri udah kaya, ada usaha yang cukup gede walaupun masih kalah sama punya bang Jerva nih, tapi Riri ini nggak punya keluarga, hanya punya kak Galih aja itupun hanya kakak angkat, terus Riri juga ... kemungkinan besar nggak bisa kasih Abang anak, tapi kok ... Abang mau nikahin Riri? Padahal kalau mau, bang Jerva bisa dapetin cewek mana aja, yang masih gadis lagi, yang lebih segalanya dari Riri. Karena itu sampai sekarang, Riri masih penasaran, apa alasan Abang mau nikahin Riri?" Mentari akhirnya mengeluarkan semua uneg-unegnya yang sempat mengganjal dalam benaknya.


Sesuatu yang membuatnya benar-benar penasaran. Apa yang melatarbelakangi Jervario ingin menikahinya, apa karena cinta?


Ah, rasanya itu tak mungkin, pikirnya sebab selama ia mencoba mendekatinya hingga 2 Minggu setelah mereka menikah, Jervario belum sekalipun mengungkapkan perasaannya.


Karena napsu kah? Sebab Jervario memiliki napsu yang cukup besar. Selama bulan madu saja, hampir setiap hari tak pernah mereka lewati tanpa bergelut dengan nikmat, berpacu dengan peluh, bergulat dengan hasrat, dan bersatu dengan desa*han juga era*ngan. Sebesar dan seliar itulah napsu seorang Jervario, Hot Daddy-nya Mentari.


Atau karena kasihan?


Ini mungkin saja jawabnya yang tepat. Bisa jadi Jervario merasa iba dengan nasibnya yang dikhianati karena kekurangannya yang tak bisa memberikan keturunan. Sering mendengar cerita tentangnya dari adik kembarnya membuat jiwa simpati Jervario meronta-ronta dan ingin menjadi pelindung dirinya.


Mentari bingung, mana jawaban yang tepat.


Karena itulah, di kesempatan ini, Mentari memberanikan diri bertanya untuk mendapatkan jawaban yang tepat dan jelas, tanpa menduga-duga lagi tentunya.


"Apa hal tersebut masih perlu dipertanyakan?" tanya Jervario dengan alis berkerut dalam.


"Ya iyalah, bang. Dimana-mana namanya perempuan itu butuh penjelasan dan kepastian. Tau sendiri yang namanya perempuan itu lebih menggunakan perasaan daripada logika. Karena nggak adanya kepastian, kami para perempuan jadi sering menduga-duga. Mending dugaannya benar, kalau salah, kan bisa memicu kesalahpahaman," terang Mentari memberikan pengertian pada sang suami. Jervario tampak mengangguk-angguk mendengar penuturan Mentari.


"Kalau menurut kamu, Abang nikahin kamu karena apa?" tanya Jervario balik. Ia ingin tahu apa yang ada di otak kecil istrinya itu mengenai alasan ia menikahinya.

__ADS_1


"Mau jujur atau bohong?" goda Mentari membuat Jervario memicing tajam.


"Harus jujur."


"Tapi nanti Abang marah," cicit Mentari sambil menunduk, tapi ekor matanya melirik.


"Nggak marah kok."


"Janji?"


"Abang janji."


"Kalau melanggar, Abang puasa sebulan penuh ya!"


"Eh, emang dikira puasa bulan Ramadhan, pake sebulan penuh!" Jervario melotot tak terima saat mendengar ancaman itu.


"Tuh kan, berarti entar Abang mau marah."


Jervario menghela nafasnya, "iya deh, iya, Anang janji nggak marah."


"Deal!" Mentari mengulurkan jari kelingkingnya membuat Jervario berdecak, tapi tak menolak. Ia ikut mengulurkan jari kelingkingnya kemudian mereka saling mengaitkannya satu sama lain.


"Udah kan, sekarang cerita, menurut kamu apa alasan Abang nikahin kamu?" tanya Jervario lagi.


"Sebenarnya Riri memikirkan tiga alasan, pertama karena cinta, tapi Riri merasa itu nggak mungkin karena Abang nggak pernah menyatakan cinta. Kedua, karena napsu soalnya napsu Abang itu gede banget. Terus yang ketiga karena iba atau kasihan. Jadi Riri di benak Riri alasan kedua dan ketiga lah yang lebih tepat. Karena itu, daripada menduga-duga, Riri memberanikan diri bertanya. Riri mohon Abang jujur. Riri akan terima apapun alasan Abang sebab Riri pun sebenarnya berterima kasih karena Abang mau menerima Riri apa adanya, walaupun ya mungkin alasannya akan sedikit menyakitkan hati nantinya."


Mentari akhirnya mengungkapkan apa yang ada dipikirannya mengenai dugaannya selama ini.


Mendengar penuturan itu, jelas saja Jervario sampai terperangah dengan mulut menganga. Ia lantas menjentik dahi Mentari dengan jarinya membuat Mentari mengaduh sakit.


"Abang kok jentik jidad aku sih? Sakit tahu!" Mentari mendelik sebal sambil mengusap dahinya yang memang sedikit memerah.


Merasa bersalah, Jervario lantas mengecup dahi Mentari membuat Mentari merasa bingung.


"Nggak sakit lagi kan?" tanya Jervario yang entah tanpa sadar Mentari mengangguk.


"Kamu kok bisa mikir kayak gitu. Wanita oh wanita, selalu saja menduga-duga. Tapi ya salah Abang juga sih nggak jujur dari awal," ujarnya seraya terkekeh. Lalu Jervario segera berjongkok di hadapan Mentari dan dalam sekali gerakan Mentari telah berada dalam gendongannya.


"Bang, kok malah gendong Riri sih bukannya jawab pertanyaan," sergah Mentari yang sudah menyalakan alarm tanda skidipluplup di otaknya. Bukannya tanpa alasan, ini merupakan hari terakhir mereka di negara sepatu boots tersebut dan bila Jervario menggendongnya seperti ini menuju ranjang, sudah bisa dipastikan mereka akan segera mengarungi surga kenikmatan alias skidipluplup.

__ADS_1


"Ini mau jawab pertanyaan," jawab Jervario santai membuat Mentari memberengut.


"Mau jawab pertanyaan apa? Ini pasti ujung-ujungnya skidipluplup, iya kan!" ketus Mentari membuat Jervario tergelak kencang.


"Astaga, istriku otaknya udah mulai mesyum ternyata!" ejek Jervario.


"Ck ... enak aja. Riri nggak mesyum ya. Yang mesyum itu bang Jerva. Ngapain coba gendong-gendong ke ranjang segala kalau nggak mau ... Hhhhmmmmph ... "


Belum sempat Mentari menyelesaikan kata-katanya, Jervario sudah lebih dahulu membungkam mulutnya dengan sebuah luma*tan yang cukup liar membuat wanita itu mendesah karena ciuman panas tersebut.


"Bang Jerva ih ... "


"Abang emang mau ajak skidipluplup, tapi itu nanti, setelah Abang jelaskan dulu alasan Abang." Jervario menatap lurus wajah Mentari. Mentari pun terdiam, menantikan penjelasan sang suami. "Apakah selama kita menikah, kamu nggak bisa merasakan besarnya cinta Abang ke kamu, hm?" tanya Jervario. Sontak saja Mentari membelalakkan matanya saat mendengar pertanyaan itu. "Padahal Abang udah berusaha semampu Abang untuk menunjukkan kalau Abang itu cinta sama kamu. Abang pikir karena kamu udah menikah sebelumnya, pasti kamu udah ngerti. Eh ternyata belum. Kamu kurang peka juga ternyata ya, sayang. "


"Sejak kapan?" tanya Mentari tiba-tiba.


"Sejak kapan apa? Sejak kapan Abang jatuh cinta sama kamu atau sejak kapan Abang kembali jatuh cinta sama kamu?"


Dua pertanyaan yang memiliki kesamaan, tapi mempunyai jawaban berbeda. Mentari bingung. Benar-benar bingung.


"Ma-maksudnya gimana? Riri ... Riri nggak ngerti," cicit Mentari membuat Jervario tersenyum kemudian menarik Mentari ke dalam pelukannya.


"Pertanyaan pertama, sejak kapan Abang jatuh cinta sama kamu, percaya nggak kalau Abang jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali ketemu kamu di Malaysia, saat Abang mengunjungi Jea."


"Hah? Mana mungkin. Saat itu aja Abang ketus banget sama Riri. Abang juga kelihatan nggak suka lihat aku dekat-dekat Jea."


Ya, mereka pertama kali bertemu memang saat Jervario mengunjungi Jeanara di Malaysia. Saat itulah Jea pertama kali memperkenalkan Mentari sebagai sahabatnya. Saat itu Jervario sangat ketus padanya. Bahkan melirik saja seperti enggan. Sorot matanya menyiratkan ketidaksukaan Jervario padanya.


Jervario terkekeh, "maaf, sebenarnya saat itu Abang benar-benar gugup ketemu kamu. Abang nggak mau kamu tahu kalau Abang gugup jadi yang ketus jutek gitu," kekehnya sambil mencium pipi Mentari. "Abang pernah mau coba dekati kamu pas datang lagi ke sana, tapi Abang mendapatkan kenyataan pahit. Ternyata kamu udah jadian sama mantan sialan kamu itu. Akhirnya Abang mengubur perasaan Abang dan mencoba membuka hati dengan perempuan lain."


"Apa perempuan itu adalah ibunya Asha?" tanya Mentari dan Jervario mengangguk.


"Tapi tenang aja, Abang udah nggak ada rasa lagi sama dia kok soalnya abang udah jatuh cinta kembali sama seseorang dari masa lalu Abang," tukasnya membuat Mentari mendongak, menunggu penjelasan selanjutnya. "Ya, Abang udah jatuh cinta lagi sama orang yang pernah membuat Abang patah hati. Ingat saat di cafe, perjumpaan kita pertama kali setelah sekian tahun lamanya nggak ketemu?" tanya Jervario dan Mentari mengangguk. "Sumpah, Abang saat itu gugup banget. Abang udah kayak ABG yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Awalnya Abang mencoba biasa aja apalagi saat itu kan kamu masih istri orang. Tapi setelah Abang tahu perbuatan mantan suami sialan kamu itu, Abang bertekad ingin merebutmu dari sialan itu dan menjadikan kamu jadi milik Abang seutuhnya. Abang bertekad takkan melepaskan kamu lagi dan akan mengikatmu jadi pendamping hidup Abang selamanya. Nggak peduli kamu nggak cinta, yang penting kamu jadi milik Abang. Dan Abang pun berjanji akan membahagiakan kamu terlepas dari masa lalu maupun kekurangan kamu karena Abang ... sangat mencintai kamu, Mentari-ku," tutur Jervario dengan menekankan kalimat yang terakhir.


Mata Mentari berkaca-kaca. Bibirnya kelu, tak tahu harus mengatakan apa. Ia tak pernah menyangka kalau saudara kembar sahabatnya itu ternyata mencintainya. Mentari memang belum yakin dengan perasaannya, tapi sebisa mungkin ia akan berusaha mempercayakan cintanya pada laki-laki yang sedang menatapnya lekat ini.


Perlahan Jervario memajukan wajahnya dengan posisi sedikit miring, Mentari lantas memejamkan matanya, seolah sudah khatam apa yang selanjutnya akan terjadi karena memang itulah yang akan terjadi, apalagi kalau bukan skidipluplup. Hahaha ...


...***...

__ADS_1


...Follow Ig othor dong, @dwie.author. 😁...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2