
Dario baru saja pulang dari cafe tempat tongkrongannya dengan teman-temannya. Saat sedang melajukan mobilnya membelah jalanan malam tiba-tiba matanya menangkap sosok yang tengah bertarung melawan sekumpulan preman. Dario lantas menepikan mobilnya sekedar untuk melihat sosok yang sedang menghajar para preman itu dengan begitu lihai. Aksinya bagai seorang petarung tangguh di sebuah film. Dario sampai melongo di mobilnya. Apalagi dapat Dario tebak sosok itu merupakan seorang perempuan, terlihat dari pakaian dan rambutnya yang terurai karena ikatannya yang terlepas.
Dario tampak begitu terpana saat melihat bagaimana cara perempuan itu menghindari pukulan dan melakukan serangan balik bertubi-tubi pada lawannya yang keempatnya merupakan laki-laki yang tampak begitu garang.
"Ya, terus, hajar, bagus, wow, keren. Awas, di belakang! Good. Awas di samping! Wooow, rasain kalian jadi samsak hidup!" Seru Dario cengengesan dari dalam mobilnya. Tampaknya ia begitu menikmati pemandangan itu yang sudah seperti menonton aksi laga secara live.
Tiba-tiba datang lagi dua motor yang menepi di sana. Dari masing-masing motor dikendarai dua orang. Dario pikir mereka ingin membantu perempuan itu, tapi nyatanya mereka adalah rekan dari para preman itu membuat Dario tiba-tiba mengkhawatirkan perempuan itu. Apalagi saat perempuan itu sempat menoleh ke arahnya, membuat jantung Dario seakan berhenti berdetak.
"Be-Belinda? Ja-jadi ... astaga ... Ternyata dia Belinda," gumam Dario panik.
Dario memang mantan bad boy. Tapi dia tidak begitu menguasai bela diri. Bahkan ia dulu bisa berkenalan dan berteman dengan Jervario karena ditolong Jervario saat ia dikeroyok musuh-musuhnya.
"Duh, gimana ya! Ah, ya ... " Tiba-tiba ia teringat temannya dan Jervario yang bekerja di kepolisian. Beruntung saat itu temannya masih berada di kantor nya jadi setelah mendengar penjelasan Dario, ia pun berjanji akan segera menyusul ke sana.
Setelah menutup panggilan, mata Dario memicing. Salah satu teman para preman itu tampaknya ingin menyerang Belinda dengan sebilah pisau yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya.
Dario menjadi kian khawatir. Ia pun bergegas turun menyusul gadis itu.
Brakkk ...
Bukkk ...
Bugh ...
Krakkk ...
Bruakkk ...
"Perempuan sialan, mati kau!" pekik laki-laki yang memegang pisau hendak menusukkan pisau itu ke punggung Belinda.
Setttt ...
"Aaargh ... Dasar ban*ci, beraninya menyerang perempuan dan keroyokan!" desis Dario sambil meringis menahan sakit sebab pisau tersebut ada dalam genggaman tangannya sehingga tangannya seketika terluka dan berdarah.
Mendengar suara yang agak familiar di telinganya ditambah desisan kesakitan dari belakang tubuhnya, Belinda pun segera menoleh dan membulatkan matanya saat melihat sosok di belakangnya yang sedang menahan pisau agar tidak menusuk punggungnya dengan telapak tangannya.
Melihat hal tersebut, tanpa banyak kata Belinda segera menghujam ******** preman yang memegang pisau itu sekuat tenaga hingga ia menjerit kesakitan melepaskan pisau itu.
__ADS_1
"Aaarghhhh ... " pekik laki-laki tersebut bersamaan dengan terdengarnya sirine polisi yang menggelegar .
Para preman itu seketika panik dan berusaha melarikan diri. Tak mau tinggal diam, Belinda menendang para preman yang hendak beranjak itu satu persatu. Tapi karena jumlah mereka terlalu banyak, ada yang sempat melarikan diri.
Para preman yang bersisa akhirnya berhasil dibekuk para polisi, sedangkan Belinda mendadak panik melihat tangan Dario yang berdarah.
"Pak Dario, tangan Anda?" Belinda meringis melihat darah mengalir cukup deras dari telapak tangan Dario.
"Ini nggak papa kok, kamu nggak usah khawatir. Sssthhh ... " Dario mencoba menenangkan Belinda, tapi ia sendiri tak mampu menutupi kalau ia tengah kesakitan saat ini.
"Kita ke rumah sakit ya, pak. Saya takut, pendarahannya makin menjadi kalau tidak segera diobati."
"Dario ... " panggil seorang petugas polisi. "Tanganmu ... "
"Aku nggak papa."
"Nggak papa apanya. Ayo, kita ke rumah sakit. Naik motor saya saja, biar cepat sampai," tukas Belinda mengambil keputusan.
Dario hendak menolak sebab ia pun membawa mobil. Tapi ia pun bingung bagaimana caranya menyetir bila telapak tangan kanannya saja terluka seperti itu. Petugas polisi yang juga teman Dario pun lantas menawarkan anak buahnya untuk membawakan mobilnya ke rumah sakit yang akan Belinda datangi untuk mengobati tangan Dario. Akhirnya laki-laki itupun setuju. Alhasil, Belinda tidak jadi pulang ke rumah, ia justru kembali lagi ke rumah sakit untuk meminta dokter segera mengobati tangan Dario.
'Gila nih cewek. Gue yang mantan bad boy aja nggak pernah ngebut kayak gini. Benar-benar wanita perkasa,' gumam Dario dalam hati sambil cekikikan.
Sementara itu, di rumah orang tua Milea, Asha tak henti-hentinya merengek sebab ia tidak bisa tidur. Ia terus-menerus meminta video call dengan Mentari dan Jervario, tapi Milea menolaknya.
"Asha, mommy ini mommy kamu lho, kenapa kamu justru lebih sayang sama ibu tiri kamu itu sih?" omel Milea gemas karena Asha yang terus-terusan merengek ingin video call dengan Mentari dan Jervario.
"Mami bukan ibu tiri tapi ibu Asha. Asha sayang sama mami sebab mami sayang Asha," jawab Asha lantang sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"Sayang? Kamu yakin mama tiri kamu itu beneran sayang? Mommy yakin, ini hanya saat ini aja, kalau mami tiri kamu itu udah punya anak sendiri, dia pasti lupa sama kamu dan nggak sayang lagi sama kamu. Beda sama mommy yang akan terus sayang Asha meskipun mommy sudah punya Affan," ujar Milea membuat Asha tercengang.
"Affan? Affan itu siapa, mom?" tanya Asha penasaran karena tidak mengenal siapa itu Affan.
Milea menggigit bibirnya karena keceplosan menyebutkan nama Affan di depan Asha. Kemudian ia berpikir, tidak ada salahnya menceritakan tentang Affan, siapa tahu Asha bisa luluh dan menurut padanya.
"Affan itu adik kamu," ujar Milea membuat Asha membulatkan matanya.
"Adik?" beo Asha dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Iya, kamu ... punya adik. Namanya Affan, besok mommy akan ajak Asha ketemu Affan, Asha mau?"
"Mau," seru Asha girang.
"Tapi dengan satu syarat."
Asha bingung apa yang dimaksud Milea dengan syarat. Milea yang paham pun lantas segera menjelaskan.
"Kalau Asha beneran mau ketemu adik Asha, Asha harus nurut sama mommy dan jangan kasi tau siapapun tentang hal ini. Termasuk papi dan mami Asha. Bagaimana, Asha mau?"
"Baik mom, Asha mau."
"Janji?"
"Janji," jawab Asha dengan sorot mata berbinar cerah.
Sementara itu, di kediaman Jervario, Mentari tampak gelisah. Kebersamaannya dengan Asha sebulan terakhir sungguh membuatnya begitu menyayangi gadis kecil itu. Sampai-sampai ia enggan berjauhan. Bahkan saat ini ia begitu gelisah karena merasa rindu dengan putri sambungnya itu.
"Kamu kenapa sih, sayang? Kok dari tadi kayaknya gelisah gitu." Jervario yang baru saja berganti pakaian setelah menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja miliknya segera menghampiri Mentari yang tampak gelisah di tempat tidurnya.
"Nggak papa, bang. Cuma ... cuma kangen sama Asha aja," ujar Mentari seraya merebahkan kepalanya di dada Jervario.
Jervario terkekeh sambil mengusap kepala Mentari.
"Kamu kayaknya udah sayang banget sama Asha ya!"
"Ya iyalah, bang. Masa' sama anak sendiri nggak sayang. Aneh," omel Mentari sambil mencebikkan bibirnya.
"Sabar ya. Hanya 3 hari kok."
"Hmmm ... semoga Milea bisa jaga Asha dengan baik ya, bang."
Jervario sedikit mengerutkan keningnya mendengar penuturan itu. Jervario dapat merasakan sebuah kekhawatiran dari istrinya itu terhadap putrinya. Terdengar sedikit berlebihan memang, tapi Jervario tidak menampiknya kalau itu bukti betapa besar rasa cinta dan sayang istrinya untuk putrinya itu.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1