Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
DELAPAN PULUH SATU


__ADS_3

Karena khawatir terjadi apa-apa dengan Asha tanpa sepengetahuannya, Jervario pun gegas meminta Revin mendaftarkan Asha untuk melakukan pemeriksaan. Setelahnya, Asha pun dibawa ke ruang pemeriksaan. Jervario bersyukur tidak ada bekas luka atau apapun di tubuh putrinya. Hanya ada bekas jarum infus yang dilepas saja jadi Asha hanya akan dirawat di sana sampai ia sadar dari pengaruh obat bius.


Kepala yang kian sakit mendera, perut pun rasa terguncang hebat hingga membuat tubuh Mentari panas dingin, belum lagi rasa ingin buang a ir kecil yang seakan sulit ditahan, membuat Mentari melenggang begitu saja hendak masuk ke kamar mandi. Jervario yang masih fokus dengan Asha, tampak mengusap pelan pipinya sambil menggumamkan rasa syukur karena ia sempat menyelamatkan putrinya.


Baru saja Mentari selesai buang a ir kecil, kepala Mentari kian berdentam sakit. Bahkan untuk berdiri pun ia harus berpegangan di dinding. Sorot matanya tampak sayu, penglihatannya tampak berkunang-kunang. Rasa nyeri di perutnya kian mencengkram. Dengan tertatih, Mentari membuka pintu kamar mandi. Tapi baru saja satu kakinya yang melangkah ke luar dari kamar mandi, pandangannya justru mengabur, bahkan untuk memanggil suaminya pun suaranya sulit untuk keluar, perlahan ... semua menggelap. Hingga hanya ada sayup-sayup suara yang memanggil-manggil dirinya saja terdengar samar, tapi suara itu perlahan menghilang menyisakan kesunyian karena kesadarannya yang telah menghilang.


Brakkk ...


Mendengar suara sesuatu yang terjatuh, Jervario pun lantas menoleh ke sumber suara. Matanya membulat saat menangkap sosok istrinya telah terkapar tak berdaya di lantai ubin yang dingin.


"Riri ... Riri ... kamu kenapa, sayang?" panggil Jervario panik. Ia gegas mendekati Mentari dan membawa kepalanya ke atas pangkuannya. Jervario berusaha menyadarkan Mentari dengan menepuk-nepuk pelan pipinya, namun Mentari tak kunjung sadar. "Riri sayang, kamu kenapa? Bangun sayang! Jangan buat Abang panik, Yang?" Jervario terus-menerus memanggil nama Mentari, namun Mentari tak kunjung membuka mata. Diambilnya telapak tangan Mentari yang terasa begitu dingin. Jervario pun baru sadar kalau wajah istrinya sudah pucat pasi. Jantung Jervario seakan berhenti berdetak. kecemasan kini melanda dirinya. Jervario menyesal karena terlalu fokus pada Asha, ia sampai mengabaikan istrinya. Apalagi ini sudah lewat jam makan siang, mungkin Mentari sudah kelewat lelah bercampur lapar sehingga tubuhnya tiba-tiba drop, pikirnya.


Jervario lantas menyelipkan lengannya di lipatan kaki dan pundak kemudian dengan sekali sentakan ia mengangkat Mentari dan membaringkannya di sofa. Tapi membuat matanya terbelalak lebar. Jervario baru menyadari bahwa bagian bawah sudah basah akibat aliran darah. Melihat Revin yang baru saja kembali dari bagian administrasi, ia pun segera meminta Revin memanggilkan tenaga medis untuk memeriksakan keadaan Mentari.


"Bisa bicara dengan suami pasien?" tanya dokter yang memeriksa keadaan Mentari. Mentari ditempatkan di kamar lainnya tapi masih satu lantai dengan kamar Asha.


"Ya, dok. Saya suami pasien. Bagaimana dengan keadaan istri saya, dok?* tanya Jervario yang sudah benar-benar mengkhawatirkan keadaan Mentari.


"Begini pak, untuk sementara istri bapak harus menjalani perawatan intensif karena kondisi kandungnya yang sangat lemah. Beruntung janin dalam kandungan istri Anda berhasil diselamatkan, bila terlambat sedikit saja mungkin istri Anda akan mengalami keguguran," tukas dokter tersebut yang sudah seperti dengungan lebah di telinga Jervario. Laki-laki itu hanya terfokus pada kalimat kandungan istri Anda.


"Maaf dok, apa kata Anda tadi? Kan-kandungan istri saya? Apa ... apa maksudnya istri saya ... hamil?" tanya Jervario untuk memastikan ia tidak salah dengar ataupun menduga.

__ADS_1


"Hah, apa Anda belum tahu kalau istri Anda tengah mengandung?" tanya dokter itu dam Jervario mengangguk.


Dokter tersebut kemudian tersenyum, "selamat ya pak istri Anda hamil. Tapi ... untuk Anda ketahui, kandungan istri Anda lemah. Cenderung rentan mengalami keguguran. Bila tidak hati-hati bisa berakibat fatal. Seperti yang istri Anda alami saat ini, sepertinya ia mengalami kelelahan berlebih ditambah tekanan atau beban pikiran atau terlalu stress membuat goncangan hebat dan berimbas pada kandungannya. Karena itu, bapak harus sebisa mungkin menjaga suasana hati istri Anda agar tetap bahagia, tidak terlalu kelelahan, dan tidak terlalu dibebani oleh sesuatu yang bisa memicu stres," tukas dokter tersebut membuat pikiran Jervario berkecamuk.


Perasaan bersalah menyelimuti benak Jervario. Ia teringat masalah Asha tadi pasti benar-benar membuatnya tertekan. Belum lagi, sikapnya yang seenaknya yang menarik tangan Mentari agar mengikuti langkahnya kesana kemari tanpa memikirkan dirinya kelelahan dan butuh istirahat. Jervario mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bila ia terlambat sedikit saja, mungkin mereka akan kehilangan buah hati mereka. Buah hati yang begitu dinanti-nantikan kehadirannya oleh Mentari. Mentari pasti akan benar-benar terpukul bila hal itu sampai terjadi.


"Terima kasih dok atas bantuan dan sarannya," ujar Jervario sumringah. Ia yakin, Mentari takkan mempercayai berita ini. Ia yakin, Mentari akan merasa sangat bahagia dengan berita tak terduga ini.


"Itu sudah kewajibanku," ucap dokter tersebut setelahnya ia pun memberikan resep yang harus segera ia tebus sekaligus cara minumnya. Setelah itu, Jervario pun segera kembali ke ruangan Mentari yang kini telah disatukan dengan kamar Asha. Disaat yang sama, Jervario melihat Mentari mengerjapkan matanya.


"Sayang, kamu nggak papa?" tanya Jervario setelah dokter yang barusan memeriksa keadaan Mentari kembali, keluar ruangan.


Mentari mengangguk, "aku kenapa bang?" tanyanya bingung mengapa bisa berada di atas brankar rumah sakit.


"Riri nggak papa kok, bang. Maaf, sudah buat repot Abang."


"Ck ... repot dari mana sih, sayang. Abang mana pernah merasa direpotkan oleh kamu. Justru Abang mau berterima kasih sama kamu," ujar Jervario ambigu membuat Mentari mengerutkan keningnya.


Kemudian Jervario mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat Mentari membulatkan matanya dengan perasaan haru yang membuncah.


"Terima kasih sayang atas kado terindahnya. Selamat baby, you are pregnant," bisiknya.

__ADS_1


Mata Mentari sampai berkaca-kaca mendengarnya. Takut salah dengar, Mentari minta Jervario mengulangi ucapannya barusan.


"Ap-apa kata Abang? Bisa tolong ucapin sekali lagi?" mohon Mentari dengan terbata.


Jervario tersenyum lebar kemudian mengecupi seluruh wajah Mentari, "selamat sayang, kamu hamil. Kamu akhirnya akan menjadi seorang ibu sesungguhnya sebab di dalam sini, sudah tumbuh buah hati kita," tutur Jervario membuat Mentari meneteskan air mata haru. Ia pun langsung memeluk tubuh Jervario dan menangis di dalam dekapannya.


Sungguh, tak ada kalimat yang mampu menggambarkan betapa ia sungguh merasa bahagia. Akhirnya, ia bisa mematahkan anggapan dan tuduhan orang-orang yang mengatakannya mandul. Mentari merasa begitu bahagia, akhirnya ia bisa menjadi wanita seutuhnya. Ini sebuah anugerah luar biasa yang sangat Mentari syukuri. Akhirnya, sehabis badai, terbitlah pelangi. Kini, Mentari merasa hidupnya kian sempurna dengan hadirnya calon buah hatinya di rahimnya sendiri.


Setelah tangisnya mereda, Mentari pun melepaskan pelukannya kemudian menatap Jervario dalam.


"Bang, terima kasih atas segala keindahan yang kau hadirkan dalam hidupku. Sungguh, Riri merasa amat sangat beruntung dipertemukan dengan laki-laki seperti Abang. Di hari yang membahagiakan ini, Riri ingin mengungkapkan sesuatu yang belum sempat Riri sampaikan. Bang, terima kasih telah memilihku jadi istrimu. Bang, i love you. Aku ... mencintaimu," ucapnya membuat Jervario membulatkan matanya. Tak menyangka akhirnya Mentari membalas cintanya dan menyatakan cintanya. Hari itu, ia merasa sangat bahagia sebab selain mendapatkan kabar bahagia tentang kehamilan istrinya, ia juga mendapatkan pernyataan cinta yang sudah lama ia nantikan.


"Terima kasih, sayang. Abang pun sangat mencintaimu."


Setelah mengucapkan itu, entah siapa yang memulai, yang pasti kini mereka tengah menikmati penyatuan bibir. Karena terlalu terhanyut euforia kebahagiaan, mereka sampai lupa sekarang tengah berada di mana hingga suara seruan seseorang membuat mereka cepat-cepat melepaskan pagutan mereka.


"Papi, mami," pekik Asha disertai dehaman dari Revin membuat Mentari merona karena malu.


"Ekhem ... Maaf bang, ganggu, ada anak kecil soalnya," ucap Revin sambil memalingkan wajah. Ternyata tangannya kini sedang menutup kedua mata Asha yang hampir saja melihat sesuatu yang tak boleh ia lihat.


"Om Revin,lepas, Asha nggak bisa lihat. Gelap." rengek Asha membuat Jervario mengusap tengkuknya salah tingkah.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2