
Wanita paruh baya itu mulai berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di samping pak Anto.
"Bisakah kita tidak membicarakan hal ini di ruangan saya? Bukannya kenapa-napa, hanya saja saya takut kalau setiap teriakanmu bisa mengganggu kenyamanan karyawan saya. "
Hatiku melengos. Ada rasa malu yang tiba-tiba datang, membuat nyali ini sedikit menciut.
"Maaf kalau perkataanku barusan menyinggung perasaanmu. "
Kutatap wajah wanita itu yang juga menatap lurus kepadaku. Ada rasa yang sulit untuk kugambarkan perasaanku saat ini ketika kami bersitatap. Orang-orang yang bermartabat tinggi tidak akan pernah mau memandang orang susah, apalagi untuk meladeninya bicara. Namun, penilaianku itu salah. Cara wanita ini dalam menghadapiku sungguh penuh dengan kelembutan, padahal sejak aku menapakkan kaki dalam ruangan ini Suara teriakankulah yang selalu menggema. Bagai wanita yang tidak memiliki etika dan sopan santun.
"Tapi hari ini kami sedang kedatangan tamu di rumah. Namun, perkaramu juga tidak dapat di sepelekan. Hmmm ... untuk itu, dengan rasa hormat kami mengundang kamu untuk makan siang di tempat kediaman kami. Yah kan Pa. "
Pak Anto mengangguk semangat, menyetujui ucapan wanita itu. Pikiran mulai bekerja dalam mencerna setiap kata yang terlontar.
"Bagaimana, nak? Apa suami marah? "
"Tidak. Dia pasti sedang sibuk dengan putrimu, sejak kedatangannya aku tidak lagi ada dalam pikirannya. "
Kulihat raut rasa bersalah yang begitu kentara pada wajah mereka.
"Apa kalian tahu bagaimana rasanya? Rasanya begitu sakit, bagai belati yang menusuk hati. Aku pernah beranggapan kalau orang yang sudah menanggung susah sedari kecil, tidak akan merasakan penderitaan yang sebegitu dalam dimasa dewasanya. Ternyata segala pemikiranku keliru, dan berakibat seperti ini. "
"Saat penderitaan itu datang tanpa aba aba, dan tiada persiapan bagi hati untuk memperluas kesabaran. Saat itulah aku merasa linglung, kehilangan arah. Bagai berjalan dalam kegelapan. Tidak tahu mau membagi beban ini kepada siapa, sebab aku hanya seorang diri. "
***
"Markus... "
Begitu kami memasuki pekarangan rumah mewah ini yang adalah tempat tinggal Pak Anto, sebuah mobil mewah sudah terparkir di halaman. Pak Anto langsung keluar, dan di susul dengan istrinya. Tak lupa mereka mengajakku juga.
Kami berjalan berdampingan. Jika di perhatikan, kami bagai anggota keluarga yang harmonis.
"Anto. "
Yang di panggil dengan sebutan 'Markus' itu, berjalan mendekat dan langsung bersalaman dengan Pak Anto dan istrinya.
"Siapa nona ini, Anto? Apa menantumu? "
"Bukan. Dia putri kami. "
Aku terkejut bukan main. Jantung berdetak tak karuan, ada rasa hangat yang tiba tiba menyapa hati. Terharu.
tiba-tiba tangan laki laki paru bayah itu terukur kearahku, dan langsung kusambut dengan sedikit senyuman.
__ADS_1
"Mari kita masuk. Apa kita ngobrolnya di halaman ini aja? Biar aku menyuruh asisten rumah tangga menggerai tikar di sini. "
Pak Anto berlelucon, membuat kami tertawa renyah. Tangan Istri pak Anto meraih jemariku, lalu membawaku berjalan memasuki rumahnya. Ah, ternyata beguni rasanya memiliki seorang ibu.
***
"Ayo, silahkan di nikmati. Kalau hanya di pelototi, itu ngak akan membuat kita kenyang. "
Kami mulai makan sambil Pak Anto dan Pak Markus mengeluarkan bahasan soal kantor yang sama sekali tidak kumengerti. Namun, ada yang salah dengan hatiku saat tatapan mata Pak Anto tanpa sengaja tertuju kearahku. Perasaanku sulit untuk di jabarkan, dan rumit untuk di jelaskan. Sepanjang acara makan siang ini, aku hanya diam menunduk sambil menghabiskan makanan.
***
Pak Markus sudah pulang, dan yang tersisah hanya ada aku dan sepasang suami istri itu.
"Bisa kita mulai? "
Saat ini kami tidak lagi ruang makan, melainkan di sebuah ruang keluarga yang begitu tampak mewahnya. Banyak cemilan yang di suguhkan, padahal hanya ada aku, tamu yang tak di undang yang berada di antara mereka.
"Lalu mau kamu apa, nak? "
Wanita itu mulai angkat bicara. Nadanya masih tetap sama. Lembut dan pelan.
"Aku ngak tahu, tante. "
"Apa ini juga bagian dari rencana kalian untuk menyingkirkanku? Mulai membuat pertahananku jebol supaya pada akhirnya kalian dengan mudahnya bisa menghancurkanku? "
"Apa maksudmu? "
"Sama seperti putrimu. Tampang lemah lembut tidak menjamin hatinya juga bersih. "
"Apa yang sebenarnya terjadi hingga membuatmu kehilangan kendali? "
Aku tidak dapat menebak apa yang sedang mereka pikirkan. Tidak mengetahui apa yang sedang terjadi atau hanya ingin mempermainkan keadaan?
"Apa yang akan kalian lakukan jika kalian berada dalam posisiku? Menangiskah? Atau langsung memilih mati, di saat satu satunya orang yang kalian punya perlahan di ambil dan bisa saja di kemudian hari sudah hilang tanpa meninggalkan setitik saja akan cinta yang selama ini bersemi indah? "
"Kami tidak terlalu tahu bagaimana keadaan rumah tanggamu saat ini, itu karena kami tidak ingin ikut campur dalam setiap problem keluarga anak kami. "
Setetes demi setetes air mata mulai keluar saat mengingat apa yang telah terjadi.
"Desi... "
"Dia mengambil suamiku. Merebutnya, hingga Mas Dani tak lagi memiliki sedikit waktu pun untukku. Mulai dari mentari menyapa hingga gelapnya malam tiba, putrimu begitu tidak memiliki hati dengan cara membawa suamiku pergi. Tidak ada lagi malam yang dapat kami habiskan untuk waktu berdua. Mereka tidur dalam satu ruangan. Hilang! Aku benar benar kehilangannya. "
__ADS_1
Kulihat raut terkejut pada wajah itu, lalu di iringi dengan wajah kaku dan memerah yang mungkin saja sedang menahan amarah. aku mulai terisak, membiarkan air mata kian lama kian deras mengalir.
"Aku memang bodoh dalam mengambil keputusan, tapi perlu kalian ketahui, aku terluka. Sungguh. "
Hening.
Mereka menikmati emosi dalam kesunyian. Hanya isakkulah yang masih terdengar. Entah apa yang berada dalam pikiran Pak Anto, tatapannya begitu tajam kearah dinding. Rahangnya mengeras di sertai dengan kepalan tangan yang tanpa sengaja terlihat olehku.
"Maaf. "
Wanita itu berjalan dan duduk di sebelahku. Tangannya menggenggam lembut tangan ini. Aku menoleh kepadanya, menatap mata yang sedikit keriput itu dengan rasa terluka, lalu menggeleng lemah.
"Ini salahku. Aku yang bersalah dalam hal ini. Tidak semestinya memberikan suami untuk di bagi. "
"Yah, benar. Itu memang mutlak kesalahanmu. Seharusnya kamu harus siap dengan segala konsekuensinya. Bukannya malah menangis dan mengemis pembelaan dari kami. "
Napasku tercekat. Setiap sendi terasa melemas. Aku diam mematung, memastikan apakah pendengaranku tidak bermasalah.
"Papa, ngomong apa sih? Kita sebagai orang tua itu seharusnya mencari solusi, dan bukannya malah memperkeruh suasana. "
"Tante, Om. Aku ngakpapa kalau harus disuruh menanggung semua beban ini, tapi ... "
"Tapi kenapa? "
Tanganku bergerak kearah perut, lalu mengusapnya penuh rasa bersalah.
"Bagaimana dengan anakku? "
Wanita itu tampak terkejut, lalu sedetik kemudian dia langsung membawaku dalam pelukannya. Entah mereka orang jahat atau orang baik, aku tetap menikmati kehangatan pelukan ini.
"Yang sabar. Sabar yah, sayang. "
Kulirik Pak Anto yang duduk di hadapanku. Dia juga sepertinya merasa ibah akan keadaan yang menimpaku.
"Kalau begitu, kamu tidak lagi sendiri. Ada kami yang akan membantumu. "
Tangan wanita itu mulai terulur kearahku, lalu menghapus air mta dengan lembut.
"Sebagai orang tua seharusnya kalian membela anaknya, bukan malah orang lain. "
Pak Anto mulai bangkit berdiri lalu mengucapkan perkataan yang membuatku semakin di landa kebingungan.
"Karna Desi bukan anak kandung kami. "
__ADS_1
Bersambung...