Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
DELAPAN PULUH TIGA


__ADS_3

Hari-hari bahagia Mentari kini makin berwarna. Setelah mengetahui kabar kehamilan dirinya, tiada hati tanpa senyum mengambang di bibir merahnya. Meski tampak pucat, tapi binar bahagia itu begitu kentara. Tak dapat dipungkiri, kehamilan memberikannya energi baru, semangat baru, harapan baru. Harapan yang pernah pupus seiring runtuhnya mahligai cinta dan pernikahannya dengan Shandi, kini bukan hanya tumbuh, tapi telah bersemi begitu indah.


Tak ada yang tahu, alasan lain Mentari memilih bercerai bukan hanya karena perselingkuhan Shandi. Tapi ia memiliki alasan lain yang membuatnya kian insecure dengan dirinya sendiri. Apalagi kalau bukan fakta buah hati yang tak kunjung hadir di rahimnya. Ia merasa rendah diri. Ia merasa kalah. Oleh sebab itu, ia memilih mundur.


5 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk bersabar. Dipupuknya rasa sabar itu, hingga kadang ia merasa lelah sendiri. Hingga akhirnya, rasa sabar itu benar-benar kandas saat fakta wanita lain berhasil hamil buah hati suaminya. Sedangkan dirinya, penantiannya selama 5 tahun seperti tak ada artinya. Luluh lantak perasaan Mentari kala itu. Sudahlah dikhianati, impiannya pun direnggut oleh perempuan lain.


Namun kini, semuanya berbalik. Ia tak menyangka, harapannya yang telah ia kubur justru tumbuh dengan sendirinya. Ia benar-benar tak menyangka, akhirnya di rahimnya telah tumbuh buah hatinya. Meskipun dari lelaki yang berbeda, tapi ia tetap bersyukur. Sebab laki-laki yang menitipkan zuriatnya merupakan laki-laki yang bukan hanya baik, perhatian, pengertian, penuh kasih sayang, tapi juga Insha Allah Sholeh dan setia. Meskipun masih belajar, tapi suaminya terus berupaya menjadi suami yang baik dan mampu membimbingnya menuju surga-Nya Allah.


Saat ini Jervario sedang mengantar orang tua dan adik serta iparnya ke lantai bawah untuk mencari taksi yang akan mengantarkan mereka ke hotel. Mereka menginap di hotel yang tak terlalu jauh dari Mounth Elisabeth Hospital. Saat keadaan sudah sepi, ia melirik cetak hitam yang merupakan hasil USG calon buah hatinya. Meskipun baru berbentuk titik kecil, tapi ia sangat menyukainya. Mungkin itu akan menjadi foto favoritnya.


Mentari yang sedang begitu bahagia lantas mengambil ponselnya dan mengambil gambar cetak hitam bertitik itu kemudian mengunggahnya di story' akun medsos miliknya dengan caption, 'sehat-sehat buah hatiku. ❤️❤️❤️'.


Terang saja, satu persatu followernya pun memberikan ucapan selamat dan doa-doa agar ibu dan calon buah hatinya selalu sehat. Mentari tersenyum melihat begitu banyak yang mendoakan kebaikannya. Namun ada satu followernya yang hanya bisa menatap nanar postingan tersebut.


Perlahan, air matanya menetes. Dari setetes demi setetes, kini makin deras dan tak terbendung. Ia tergugu sambil memandangi foto hasil USG Mentari itu dengan perasaan yang luluh lantak.


Orang itu adalah Shandi. Dengan menggunakan akun palsunya, ia selalu memantau postingan Mentari. Ia sudah seperti stalker yang terus mengawasi pergerakan Mentari meskipun hanya melalui media sosial. Karena hari ini ia tidak bekerja, ia duduk di kamar sang ibu, menemani ibunya yang hanya bisa terbaring tanpa daya. Hanya bola matanya saja yang sesekali bergerak dan kini bola mata itu menatap bingung pada Shandi yang sudah terisak hebat di kursi samping ranjangnya.


"Han-di, ha-myu he-na-fha?* cicitnya lirih membuat Shandi mengangkat wajahnya. Wajah tampan itu tampak begitu kacau. Rahangnya telah ditumbuhi bulu tak beraturan, pipinya basah, matanya merah, dan bibirnya pun bergetar dengan hidung kembang kempis karena mampet.

__ADS_1


"Tari ma, Tari ... Tari, dia ... hamil. Shandi yakin hal ini pasti terjadi sebab ternyata bukan Tari yang selama ini mandul, tapi Shandi, ma. Shandi yang infertil. Shandi yang mandul, bukan ... bukan Tari. Mama lihat, dia belum lama menikah, tapi kini dia sudah hamil. Dulu Shandi pernah memimpikan Tari hamil anak Shandi, tapi yang terjadi justru Tari hamil anak laki-laki lain. Mungkinkan ini kutukan kita ma karena sudah berlaku kejam dan tidak adil pada Tari jadi Allah menghukum kita seperti ini," ungkap Shandi tergugu.


Rohani tampak terpaku dengan netra melebar. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang barusan Shandi katakan.


'Mandul? Shandi mandul? Putraku mandul? Ini tidak mungkin. Tidak mungkin putraku mandul. Apakah ini ... '


"Ini semua karena mama. Kalau mama tidak terus mendesakju, mendorongku untuk menikah lagi dengan Erna, semua pasti takkan menjadi seperti ini. Aku pasti akan tetap berbahagia dengan Tari meskipun tanpa seorang anak di tengah-tengah kami. Aku yakin, dia akan menerima segala kekuranganku dengan tulus. Dan ini semua salah mama. Mama yang terus-menerus menghina dan mencaci maki Tari dengan menyematkan kata mandul. Dan kini lihat, ucapan mama itu justru menimpaku. Kata-kata mama justru berbalik kepadaku. Semua karena mama," teriak Shandi.


Mendadak air wajah Shandi berubah. Raut sedih, marah, kecewa, dan patah hati bercampur aduk menjadi satu. Ia menatap nyalang Rohani yang matanya telah berembun. Sorot mata penuh penyesalan itu terlihat jelas di manik mata Rohani. Tak ingin makin menyakiti Rohani dengan kata-katanya, Shandi pun segera keluar dari ruangan itu.


Shandi menghempaskan bokongnya di sofa ruang tamu. Kedua tangannya meraup frustrasi wajahnya. Ia sebenarnya senang melihat Mentari bahagia. Tapi ia hanyalah manusia biasa yang tak bisa menutupi kalau ia benar-benar terluka karena cintanya yang telah kandas akibat ulahnya dan orang tuanya sendiri.


"Om nanis?" tanya bocah berusia 4 tahun itu.


"Nggak. Om nggak nangis kok," kilah Shandi.


"Tapi mata Om bacah."


"Oh ini ... ini Om habis nguap terus keluar ini deh. Hoaaam ... kayak gitu. Nah, keluar air mata kan?"

__ADS_1


Bocah laki-laki itu kembali menggeleng.


"Om nanis. Lapi tau. Om ndak ucah bo'ong nanti Tu'an malah."


Ekspresi lucu bocah bernama Rafi itu sukses membuat mendung di wajah Shandi perlahan menghilang.


Shandi lantas mengangkat Rafi ke atas pangkuannya. Bocah kecil yang bicaranya masih cadel ini selalu saja menghibur hatinya yang lara. Celotehan khas anak kecil membuat rumah yang sering sepi mencekam itu terasa lebih hidup.


"Iya, iya, Om ngaku deh Om tadi emang nangis."


"Tuh tan. Lapi benel," ucap Rafi membuat Shandi tak bisa menyembunyikan senyumannya.


"Rafi, kamu ngapain di situ? Turun, nak?" Fatma terkejut saat melihat sang putra sudah ada di pangkuan Shandi. "Maafkan Rafi tuan karena sudah ... "


"Tidak apa-apa," potong Shandi. "Dia sedang menghiburku dan aku sendiri yang membawa Rafi ke pangkuanku," jawab Shandi seraya tersenyum lembut membuat Fatma tertegun di tempatnya.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2