
"Bisa. Kalian masih bisa menikah kembali," ucap Rohani membuat Mentari mengerutkan keningnya. "Kalau kalian ingin menikah kembali, mama akan mencarikan kamu muhalil."
"Muhalil?" beo Mentari yang tidak mengerti apa yang dimaksud dengan muhalil.
"Iya, muhalil itu adalah laki-laki yang akan menikahi kamu untuk menggugurkan talak tiga Shandi. Maksudnya kamu nanti menikah dengan laki-laki pilihan mama itu alias muhalil untuk sementara. Setelah dia menggaulimu, maka dia akan segera menceraikanmu, nah setelah kalian bercerai, kamu dan Shandi pun bisa kembali menikah, bagaimana? Kau setuju?" tanya Rohani sesuka hati seakan Mentari tak memiliki hati untuk dihargai sama sekali. Hanya keegoisan dan keserakahan yang mendominasi di hati dan jiwanya. Benar-benar seorang ibu yang egois dan hanya memikirkan diri sendiri dan anaknya, tapi tak peduli akan hati dan perasaan orang lain yang kemungkinan besar pasti sakit hati dan terluka akan sikap semena-mena dirinya.
Sontak saja, setelah mendengar penuturan sang mantan ibu mertuanya itu, Mentari pun tergelak begitu kencang. Beberapa pasang mata sampai mengarahkan pandangannya pada Mentari. Mentari yang sadar akan hal tersebut segera membekap mulutnya dengan telapak tangan, namun tawanya belum juga surut. Bahkan perutnya sampai berguncang dan sudut matanya mengeluarkan bulir bening nan hangat akibat kata-kata tak masuk akal dari mantan ibu mertuanya tersebut.
"Astaghfirullah ya Allah, apa Nyonya sudah cek mental Anda ke dokter kejiwaan? Sepertinya otak Anda ada yang sedikit geser, Nyonya Rohani yang terhormat," hina Mentari dengan sorot mata yang sudah berganti setajam silet.
"Kenapa kamu mengatakan itu pada mama, Tari? Mama hanya ingin membantumu," ucap Rohani dengan memasang mimik wajah sedih dan kecewa.
"Membantu? Membantu apa, hah? Apa kau pikir pernikahan adalah sebuah permainan yang bisa kau atur kawin cerai kawin lagi cerai lagi sesuka hatimu? Kau pikir aku mau memungut sampah yang telah aku buang, hah? Najis. Maaf saja, aku tidak sebodoh itu untuk masuk lagi ke dalam keluarga benalu seperti kalian. Kalian hanyalah sekumpulan benalu. Bahkan selama 5 tahun lalu, kalian tak pernah sekalipun memperlakukan aku dengan baik dan tulus, sebaik apapun aku memperlakukan kalian, tapi kalian tetap membenciku, mencemoohku, merendahkanku. Kau pikir aku masih mau menjadi anggota keluarga kalian? NO. TIDAK AKAN PERNAH."
__ADS_1
"Maafkan mama Tari, mama akui mama salah. Tapi sejujurnya, mama itu sangat sayang padamu. Karena itu, mama bela-belain nungguin kamu selama satu jam di sini dan memberanikan diri meminta maaf karena mama sayang sama kamu dan mama menyesal telah memperlakukan mu dengan tidak baik selama ini. Mama berjanji, bila kau bersedia kembali dengan Shandi, mama akan memperlakukanmu dengan baik, menyayangi dan memperhatikanmu. Ayolah Tari, maafkan mama dan Shandi. Terimalah Shandi menjadi suamimu."
Pantang menyerah, Rohani terus berusaha membujuk Mentari agar bersedia kembali pada sang Putra. Angan-angannya tiba-tiba melayang, membayangkan bagaimana bila ia berhasil menjadikan Mentari sebagai menantunya lagi. Ia pasti akan hidup bergelimang harta. Ia juga akan membujuk Mentari agar menjadi ibu rumah tangga saja dan menyerahkan perusahaan kursi kepemimpinan perusahaan pada Shandi. Membayangkannya saja sudah bisa membuat Rohani begitu bahagia, apalagi bila ia berhasil dalam misinya itu.
"Apa Anda pikir semudah itu memaafkan segala perbuatan Anda dulu padaku? Tidak. 5 tahun ... 5 tahun aku hidup dalam tekanan yang kalian lakukan. 5 tahun aku mencoba bersabar dan menekan rasa kecewa dan sakit hatiku, lalu kalian pikir satu kata maaf kalian dapat membuatku melupakan semua? Memaafkan segala kesalahan kalian padaku? Kalian pikir satu kata maaf bisa menghapus segala kenangan buruk ku tentang kalian? Tidak. Bila dulu mungkin aku masih akan memaafkan kalian, tapi kini tidak. Perbuatanmu yang menyodorkan wanita lain untuk Shandi lalu menikahkan mereka setelah mereka melakukan zina hingga menghadirkan janin di rahim perempuan itu di belakangku, sudah membuatku amat sangat jijik dan benci pada kalian. Tidak ada maaf apalagi kata kembali karena baik itu pintu maaf maupun pintu untuk kembali merajut asa sudah Mentari tutup rapat-rapat.
Bukannya merasa bersalah atau bersimpati atas apa yang terjadi pada Mentari akibat ulahnya dan anak-anaknya, Rohani justru terkekeh sinis kemudian menghardik Mentari sombong dan tak tahu diri.
Setiap kata yang diucapkan Rohani benar-benar seperti racun yang berusaha memukul mental Mentari hingga terperosok jatuh ke titik terendahnya. Mentari menunduk dengan rahang mengeras. Apa perempuan sepertinya tidak berhak hidup bahagia, pikirnya? Apakah perempuan sepertinya tidak berhak mencintai dan dicintai? Apakah bodoh bila ia menolak tawaran yang terdengar menggiurkan namun menyakitkan itu?
"Jangan coba meracuni pikiran calon istriku nenek tua!" hardik seseorang.
Suara bariton nan tegas itu terdengar jelas dan begitu familiar dari belakangnya. Mentari ingin menoleh, tapi ia takut salah duga karena berharap pada sesuatu yang tak mungkin. Mentari memejamkan matanya kembali dengan tangan yang makin mengepal erat, bahkan buku-bukunya tampak memutih.
__ADS_1
"Siapa kau, hah, tiba-tiba saja datang dan menghinaku?" balas Rohani sengit.
"Perkenalkan, aku JERVARIO TJOCROAMINOTO, calon suami dari Mentari," ucap Jervario datar dan dingin. Dan jangan lupakan tatapannya yang setajam elang serta mengintimidasi membuat Rohani menegang kaku di tempatnya.
Mentari yang mendengar kata-kata tersebut pun mendongakkan kepalanya. Matanya seketika berkaca-kaca, "Jerva ... "
"Sayang," ucap Jervario yang langsung meraih pundak Mentari dan menariknya ke dekapannya. Dipeluknya erat tubuh mungil Mentari sambil mengusap punggungnya yang bergetar. Untung saja ia datang di waktu yang tepat, tak tahu bagaimana dengan mental Mentari bila ia datang terlambat sedikit saja, mungkin mental Mentari akan benar-benar jatuh hingga menimbulkan trauma yang mendalam.
...***...
Ah, Abang Je, kau selalu saja datang tepat waktu! Othor padamu Abang Je. 😍😍😍😘😘😘
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1