Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
ENAM PULUH TIGA


__ADS_3

"Sayang, bangun yuk!" panggil Jervario pekan agar tidak mengejutkan istrinya yang masih terlelap. Mentari pun mengerjapkan matanya sambil mengucek matanya untuk menarik kesadarannya dari dunia mimpi yang barusan ia singgahi. Aroma harum dan segar menyeruak hingga terhidu ke rongga hidungnya. Aroma segar dan harum menyeruak memenuhi rongga hidungnya. Sungguh menenangkan dan terasa nyaman.


"Bang," cicit Mentari. "Emang ini udah jam berapa?" tanya Mentari sambil berusaha untuk duduk.


"Jam 4 kurang. Bangun yuk, mandi, shalat ashar, terus kita jalan-jalan di tepi danau Como," tutur Jervario membuat Mentari tersenyum lebar. Tidak disangkanya, pria yang awalnya kaku bak triplek dilaminating, kemudian sempat bertingkah menyebalkan, kini bisa bersikap manis dan menyenangkan. Apalagi Jervario sangat senang mengingatkannya untuk menghadap sang pencipta, sesuatu yang tak pernah Shandi lakukan, justru semua ia dapatkan dari laki-laki yang kini bergelar sebagai suaminya itu.


"Baik, bang," jawabnya lembut. Jervario lantas mengusap pipi Mentari dengan sayang. Mungkin apa yang pernah saudara itu katakan benar kalau ia telah jatuh cinta kembali pada Mentari.


Kembali???


...~~~...


Mentari dan Jervario tampak sedang berjalan-jalan di pinggir danau Como sambil berangkulan atau lebih tepatnya Jervario merangkul pundak Mentari sambil melihat keindahan danau Como. Di sore hari, danau itu terlihat cukup ramai. Mereka tampaknya wisatawan yang datang ke sana untuk berlibur ataupun untuk berbulan madu seperti mereka.


Sesekali Mentari mengambil foto-foto pemandangan di sekitar sana dengan ponselnya. Sedangkan Jervario diam-diam justru mengambil foto Mentari secara candid.


"Abang, fotoin aku ya?" Mentari memicing tajam saat melihat Jervario mengarahkan ponselnya ke arahnya.


"Mana ada. Ck ... pedean," kilah Jervario yang segera mengantongi ponselnya di saku celana.


"Ayo, ngaku! Nggak usah bohong. Aku lihat kok tadi Abang ngarahin handphone Abang ke aku."


"GR banget sih. Sok cantik banget."


"Emang aku cantik," sahut Mentari percaya diri.


"Narsis."


"Emang bener kan. Kalau aku nggak cantik, mana mungkin Abang tiba-tiba mau nikahin aku."


Jervario melengos saat Mentari mengatakan itu.


"Emangnya aku nikahin kamu karena kamu cantik?"


"Kalau bukan karena apa?"


"Karena ... kamu mau es krim?" Jervario mengalihkan perhatian Mentari dengan menawarinya es krim yang dijual tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Ck ... mau mengalihkan perhatian. Emang aku anak kecil." Mentari berdecak tapi kakinya justru sudah lebih dahulu berjalan ke arah kedai es krim membuat Jervario tersenyum geli. Lalu Jervario segera beranjak mensejajarkan tubuhnya dengan Mentari dan melingkarkan tangannya di pundak Mentari.

__ADS_1


"Iya, iya, istri abang emang cantik banget. Sampai-sampai pingin Abang musiumin biar nggak sembarang orang bisa melihatmu," seloroh Jervario.


"Emangnya aku benda peninggalan prasejarah," gemas Mentari yang langsung memberikan cubitan kecil di pinggang Jervario membuat laki-laki itu memekik kaget kemudian terkekeh. Lalu tanpa rasa canggung apalagi malu, Jervario mengecup pipi Mentari membuat Mentari terperangah dengan aksi sang suami.


Sementara di belahan dunia lain Mentari sedang berbahagia dengan suami barunya, maka di belahan dunia lainnya ada sebuah keluarga yang tampak begitu shock dengan pemberitaan yang baru saja mereka saksikan di layar televisi.


Hari ini publik digemparkan dengan mencuatnya berita perselingkuhan pejabat negara yang merupakan suami dari seorang artis sinetron yang kerap tampil di layar kaca.


Berita dengan Headline 'SUAMI ARTIS CANTIK LISTYA MORINKA TERPERGOK BERSAMA SEORANG WANITA DI SEBUAH HOTEL' itu membuat mata Rohani terbelalak seketika.


Rohani yang memang gemar menonton televisi khususnya tayangan infotainment untuk bekalnya bergosip ria saat masih aktif dengan teman-teman arisannya tentu saja nyaris tak pernah melewatkan pemberitaan tentang kalangan artis yang memang hidup mereka tak jauh dari terpaan rumor.


Tapi yang membuatnya seketika terbelalak dengan jantung yang bertalu-talu adalah sosok perempuan yang sedang berdiri di samping seorang pria. Sosok itu merupakan sosok yang sangat Rohani kenali. Sosok yang telah ia jadikan orang ketiga dalam rumah tangga putranya dahulu. Foto-foto mesra itu menunjukkan pasangan itu mulai dari masuk hingga keluar dari kamar hotel sambil tersenyum mesra.


Tubuh Rohani bergetar hebat apalagi saat makin banyaknya pemberitaan yang muncul menyertai berita viral tersebut. Di pemberitaan, pasangan tersebut ternyata telah lama menjalin hubungan, membuat dada Rohani sesak seketika.


Pemberitaan itu bak bola pijar yang terus bergulir dan makin membesar. Dan berita terbarunya adalah bagaimana sosok Listya yang murka memergoki suami dan selingkuhannya itu sedang bermesraan di sebuah apartemen.


...***...


"Erna ... " desis Shandi dengan mata memerah.


Hati Shandi hancur dan luluh lantak seketika. Anak yang kehadirannya sungguh dinanti-nantikan dirinya dan keluarganya ternyata bukanlah anaknya. Bukan darah dagingnya.


Dengan emosi yang membuncah, Shandi meraih ponselnya dan menghubungi Erna hingga berkali-kali, tapi diabaikan oleh perempuan itu. Barulah pada panggilan ke-lima, perempuan itu mengangkat panggilannya.


"Apa sih? Aku lagi sibuk," ketus Erna saat panggilan itu terhubung.


"Sibuk? Ya, sibuk dengan suami orang, begitu maksud kamu?" sarkas Shandi dengan emosi bergejolak membuat Erna yang berada di seberang sana terdiam.


"Berita tentang kamu dan selingkuhanmu kini sudah tersebar kemana-mana. Aku nggak habis pikir, kamu ternyata semurahan itu. Lekas pulang sekarang juga. Ada yang ingin aku bicarakan," titah Shandi, kemudian tanpa menunggu jawaban Erna, ia langsung menutup panggilan itu sepihak.


Dada Shandi naik-turun, emosinya menggebu-gebu. Shandi merasa benar-benar terhina kali ini. Tak pernah terbayangkan olehnya ia bisa ditipu mentah-mentah oleh seorang perempuan seperti ini. Bahkan gara-gara perempuan itu, ia sampai menceraikan wanita yang sangat ia cintai. Rasa sakit dan kecewa itu benar-benar menyiksa batinnya. Matanya memerah, emosinya bergejolak. Ia benar-benar menyesali, mengapa ia harus mengikuti kemauan ibunya. Hanya karena ingin jadi anak berbakti dan tidak durhaka, ia sampai mengkhianati wanita yang ia cintai. Penyesalan itu kini benar-benar merajam batin dan jiwanya. Shandi merasa benar-benar bodoh karena ditipu oleh seorang perempuan yang tak lebih dari jalaaang.


Shandi yang masih berada di basement kantor, gegas menyalakan mobilnya secepat mungkin untuk segera tiba di rumah. Setibanya di rumah, tamoak sang ibu duduk di kursi rodanya sambil menatap nanar kepulangannya. Di sampingnya ada Septi yang juga menatap sendu. Entah itu merupakan tatapan kesedihan atas apa yang menimpa Shandi atau karena rasa penyesalan sebab mereka berdualah yang menjerumuskan Shandi ke dalam semua kepelikan hidup ini.


Tak lama kemudian, mobil Erna masuk ke halaman rumah itu. Erna turun dengan wajah tegang bercampur takut. Di ruang tamu, Shandi telah berdiri sambil berkacak pinggang.


Tatapannya tiba-tiba menjadi nyalang saat melihat Erna telah masuk ke dalam rumah. Tanpa basa-basi busuk lagi, Shandi pun segera mencecar Erna dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Katakan, anak siapa yang ada di dalam kandunganmu!" titah Shandi dengan sorot mata tajam dan mengintimidasi.


"Ini ... ini tentu anakmu, mas. Anak siapa lagi," dusta Erna gugup.


"Aku tanya sekali lagi, katakan dengan jujur, anak siapa yang ada di dalam kandunganmu itu!" bentak Shandi dengan suara menggelegar. Rohani dan Septi yang berdiri di ambang pintu sampai menelan ludahnya susah payah karena terkejut. Begitu pula Erna yang sudah terperanjat karena bentakan itu.


"Ini anakmu, mas. Kenapa kau bertanya seperti itu?" jawab Erna yang sudah memucat.


Shandi tergelak kencang, sudut matanya basah. Tanpa dapat dicegah, bulir-bulir bening itu meluncur bebas membasahi pipinya.


"Oh! Sepertinya kau belum mau jujur. Baiklah, bagaimana kalau kita melakukan test DNA sekarang. Bukankah usia kandunganmu sudah di atas 12 Minggu, tentu sudah aman untuk melakukan test DNA. Ayo, kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Shandi, yang dijawab Erna dengan sebuah gelengan kepala.


Melihat Erna yang masih tak bergeming, Shandi pun segera menarik kasar tangan Erna menuju mobil. Erna tentu saja memberontak, tapi tak bisa sebab tenaganya masih kalah kuat dari Shandi hingga sebuah kalimat meluncur begitu saja membuat Shandi benar-benar terpukul.


"Lepaskan! Ya, benar, anak ini bukan anakmu, mas. Lepaskan aku!"


Sretttt ....


Brakkk ...


Plakkk ...


Shandi menghempaskan tangan Erna hingga ia nyaris terjatuh kemudian Shandi menamparnya dengan begitu kencang hingga sudut bibir Erna pun mengeluarkan darah seketika.


"Dasar jalaaang, murahaan. Tega sekali kau, Erna. Gara-gara kau dan anak sialanmu itu aku jadi menceraikan istriku. Gara-gara anak itu, aku kehilangan wanita yang paling aku cintai. Apa salahku Erna, katakan, apa salahku sehingga kau tega menjebakku seperti ini? Katakan!!!" hardik Shandi sambil berteriak.


Erna tercekat di tempatnya. Ia hanya bisa menundukkan wajahnya. Ia tak mampu menjawab apapun.


"Dengarkan aku Erna, mulai hari ini kau bukan lagi istriku. Aku menalakmu saat ini juga. Aku menalakmu, menalakmu. Segera bereskan barang-barangmu dan pergi dari sini segera!" ucap Shandi dengan suara menggelegar dan nafas menderu.


"Tapi mas."


"PERGI SEKARANG JUGA JALAAANG!" teriak Shandi tak mau dibantah apalagi dicegah. Erna pun bergegas melakukan apa yang Shandi perintahkan. Ia tak ingin, laki-laki itu kian murka dan berbuat nekat padanya.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


^^^***^^^

__ADS_1


__ADS_2