
Setelah olahraga skidipluplup berakhir, mereka pun gegas bersiap menuju bandara. Energi telah recharge. Dayanya tentu saja sedang full-fullnya membuat pasangan pengantin itu kian bersemangat. Seperti tak merasa lelah setelah berolahraga hampir 2 jam lamanya.
Setibanya di bandara, mereka pun segera melakukan serangkaian proses barulah setelah tiba waktunya, mereka pun segera terbang menuju ke negara tujuan mereka, apalagi kalau bukan Indonesia tercinta.
Sepanjang perjalanan mereka isi dengan menceritakan berbagai hal.
"Kamu ngantuk?" tanya Jervario saat melihat sang istri menguap.
"Nggak. Cuma mau tidur aja," seloroh Mentari seraya mendelik. Sudah lihat istri menguap, masih ditanya kamu mengantuk atau tidak.
Jervario tersenyum simpul, lalu menarik kepala Mentari dan merebahkannya di pundaknya dengan sebelah tangannya melingkari pinggang hingga ke perut.
"Tidurlah kalau udah ngantuk. Abang juga kayaknya udah mulai ngantuk nih. Yuk, tidur. Perjalanan kita juga masih lama," tukas Jervario sambil merebahkan kepalanya di kepala Mentari.
Waktu begitu cepat berlalu, tanpa terasa akhirnya pesawat yang mereka tumpangi telah mendarat sempurna di bandara internasional Soekarno-Hatta. Setibanya mereka di sana, Jervario segera memesankan taksi. Ia tidak ingin menghubungi siapa pun, sengaja, ia ingin memberikan kejutan pada keluarganya khususnya sang putri tercinta. Selama 2 hari ini mereka bahkan sengaja tidak menghubungi. Jervario tersenyum geli, penasaran dengan reaksi putrinya saat melihat kepulangannya dan mami sambungnya.
Tak sampai satu jam kemudian, akhirnya taksi yang Jervario dan Mentari tumpangi pun telah tiba di rumah besar kediaman kedua orang tua Jervario.
"Assalamu'alaikum," ucap Mentari dan Jervario bersamaan.
__ADS_1
Nanda dan Asha yang sedang duduk di ruang tamu pun terlonjak dan langsung menyambut salam tersebut dengan perasaan bahagia. Bahkan Asha Aisha berlarian berhambur ke pelukan Mentari.
"Mamiiii ... " teriak Asha kegirangan saat melihat sang mama telah berdiri di depan pintu depan senyum merekah di bibirnya.
"Asha, hati-hati sayang," ucap Mentari saat melihat Asha berlarian tanpa melihat undakan lantai. Mentari pun segera berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Asha.
"Mami, Asha kangen. Mami kemana aja sih kok nggak bisa Asha telepon. Emangnya mami nggak kangen Asha?" protes Asha yang sudah mencebikkan bibirnya tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Mentari.
Mentari terkekeh, "maaf, ya cantik. Mungkin pas Asha telepon, mami sama papi udah di pesawat. Kan di pesawat nggak boleh nyalain handphone," kilah Mentari sambil melirik Jervario yang tampak cemberut.
"Asha kayaknya udah nggak sayang papi lagi deh! Kok yang dikangenin cuma mami, papi nya nggak," protes Jervario dengan kedua tangan bersedekap di depan dada.
"I'm so sorry, Pi. Asha juga kangen kok sama papi," sahutnya yang sudah beralih memeluk kaki panjang Jervario sambil mengedip-ngedipkan kelopak matanya. Bulu mata Asha yang panjang dan matanya yang bulat sungguh sangatlah menggemaskan membuat siapapun tak bisa menahan diri untuk tersenyum. Jervario pun lantas segera mengangkat tubuh mungil itu ke dalam pelukannya dan menggendongnya sambil menciumi seluruh bagian wajahnya.
"Papi, geli tau!" protes Asha membuat Mentari terkekeh sebelum sebuah seruan membuat Jervario dan Mentari mengalihkan pandangan mereka pada dua orang yang sedang berjalan ke arah mereka dengan senyum merekah.
"Hai, mas Jev! Apa kabar?" seru seorang perempuan cantik yang sedang dirangkul seorang pria perawakan Indo-Belanda di sampingnya.
Jervario mengerutkan keningnya menatap kedua orang itu dengan tatapan yang sukar diartikan. Sedangkan Mentari memandang penasaran sebab ia tidak mengenal kedua orang itu.
__ADS_1
...***...
Setelah dirawat selama 2 Minggu di rumah sakit, akhirnya Rohani diizinkan melakukan perawatan di rumah. Keadaan Rohani saat ini masih sama. Tak ada perkembangan yang signifikan. Ia masih tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya. Pun berbicara, hanya ada suara samar-samar yang terkadang sulit untuk orang-orang mengerti.
Akibatnya Rohani hanya bisa berbaring lemah di atas ranjang. Hanya bola matanya saja yang bisa bergerak memerhatikan sekitarnya. Sungguh dalam hati, ia tak henti-hentinya menyesali telah membuat Shandi menikahi Erna. Ia tak menyangka, menantu kesayangannya, wanita yang ia percayai dapat memberikannya seorang cucu ternyata hanyalah seorang jalaaang. Ya, seharusnya Rohani sadari ini sejak awal. Mana ada wanita baik-baik mau merusak rumah tangga orang lain. Mana ada wanita baik-baik yang mau saja diajak bekerja sama untuk menjebak seorang laki-laki agar tidur dengannya sehingga laki-laki itu bisa ditekan untuk bertanggung jawab dan menikahinya. Kini penyesalan tinggallah penyesalan. Tak ada yang bisa Rohani lakukan selain meratapi dengan tubuh yang tak mampu digerakkan sama sekali.
'Mungkin ini karmaku karena telah menyakiti Tari. Padahal selama menjadi menantuku, Tari sudah begitu baik. Ia selalu bersikap sopan, lembut, dan berbakti padanya. Ia juga mengurus Shandi dengan sangat baik. Seluruh kebutuhan mereka pun dapat terpenuhi dengan baik, tapi kenapa aku justru membuatnya begitu tertekan. Padahal ia tak pernah melakukan kesalahan tapi aku selalu mencaci dan mencemoohnya. Aku juga menghancurkan rumah tangganya, menyakiti hatinya, aku ... aku sungguh seorang ibu mertua yang jahat dan kejam. Ini mungkin hukuman yang tepat untukku. Tari, maafkan mama. Maaf ... '
Rohani hanya bisa menangis dalam kesendirian. Matanya menatap kosong pada langit-langit kamarnya. Ingin sekali rasanya ia bertemu dengan Mentari dan memohon maaf padanya atas segala perbuatan jahatnya selama ini. Tapi apakah Mentari bersedia bertemu dengannya setelah apa yang ia lakukan dan torehkan selama ini. Rohani sungguh-sungguh menyesali perbuatannya.
Sementara Rohani sibuk berkutat dengan penyesalannya, di luar Septi sedang menghubungi kekasihnya untuk menuntut pertanggungjawaban sesuai yang pria itu katakan. Ia pernah berjanji akan menikahinya bila ia hamil, tapi hingga sekarang janji tinggallah janji. Edward selalu saja mencari alasan membuat Septi panik sendiri.
"Honey, jadi kapan kau akan menikahiku? Kita harus segera menikah sebelum perutku makin membesar. Aku tidak ingin orang-orang tahu kalau aku telah hamil sebelum menikah." Septi terus membujuk kekasihnya agar segera menikahinya.
"Sabar, honey, ini bukanlah perkara kecil. Kau tahu bukan, kewarganegaraan kita berbeda, keyakinan kita juga berbeda. Jadi tidak semudah itu untuk kita menikah. Banyak yang harus dilakukan dan diurus. Lagipula aku belum menceritakan perihal ini dengan orang tuaku. Sabarlah honey. Yang penting, kau harus selalu menjaga kandunganmu dengan baik. Oh ya, jangan lupa minum susumu, oke! Usahakan untuk selalu makan. Aku sudah mentransfer uang untuk kebutuhanmu dan calon anak kita. Beli apapun yang kau butuhkan dan inginkan. Aku mencintaimu," tukas Edwar penuh perhatian.
Selalu, apa yang dilakukan Edwar mampu membuat Septi meleleh. Septi yang awalnya kesal karena belum juga mendapatkan kepastian tentang kapan ia akan dinikahi, sontak berubah menjadi maklum begitu saja. Ia memang menyadari, tidak semudah itu untuk mereka menikah sebab mereka memiliki perbedaan status kewarganegaraan dan juga keyakinan. Septi hanya bisa bersabar dan menunggu kapan Edward akan benar-benar menikahinya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...