
Setelah beberapa kali mangkir dari panggilan, kini Milea, Andrian, dan kedua orang tua Milea telah hadir di kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan. Karena terbukti bersalah, keempat orang itu pun akhirnya resmi ditahan satu bulan kemudian. Untuk Milea karena berlaku sebagai dalang, masa tahanannya jauh lebih lama, yaitu 2 tahun penjara. Untuk Andrian, awalnya mendapatkan masa tahanan selama 1 tahun 2 bulan, tapi setelah mengajukan banding, masa tahanannya berkurang menjadi hanya 8 bulan saja. Berbeda dengan kedua orang tua Milea karena tidak terlibat secara langsung, hanya mendukung, mereka pun hanya mendapatkan masa tahanan selama 2 tahun.
Setelah mereka berempat resmi ditahan, Andrian pun meminta pengacaranya untuk dipertemukan dengan Jervario dan Mentari. Di kesempatan itu, ia meminta maaf karena telah hampir saja mencelakai putri tirinya itu. Setelah merenung cukup lama, ia sadar, perbuatannya itu salah. Bila dipikir-pikir lagi, seperti yang Jervario katakan, bagaimana bila hal tersebut menimpa putranya? Apa ia akan menerima begitu saja? Tentu tidak. Masa depan putranya masih panjang. Ia tentu ingin melihat putranya tumbuh sehat sama seperti anak-anak lainnya. Ia ingin melihat anaknya tumbuh besar secara normal, tanpa harus selalu merasa was-was.
Oleh sebab itu, di kesempatan itu, ia benar-benar meminta maaf pada kedua orang itu. Ia meminta maaf secara tulus. Tak ada niatan dirinya untuk meminta tuntutannya dicabut. Lagipula baginya sidha cukup masa tahanannya dikurangi setelah melakukan banding. Tapi ia tak mau membantu Milea. Biar dia sendiri yang meminta maaf. Lagipula ia telah menjatuhkan talak 1 padanya. Rasa kecewa yang begitu besar karena merasa ditipu membuatnya mengambil keputusan sulit itu. Andrian akui, ia mencintai Milea, tapi perbuatan Milea baginya sulit untuk dimaafkan. Biarkan saja waktu yang menyadarkan Milea.
"Saya ucapkan terima kasih pada Mas Jerva dan mbak Mentari karena sudah mau memaafkan kesalahan saya. Saya benar-benar bodoh, tidak berpikir pada nasib Asha ke depannya. Syukurnya, mas Jerva bertindak cepat. Kalau tidak mungkin aku akan selalu dihantui rasa bersalah dan penyesalan seumur hidup," tukas Andrian.
Ia pun sebenarnya tak serta merta sadar sendiri. Berkat sang ibulah yang menasihatinya sehingga ia sadar akan kesalahannya. Karena itu, setelah resmi ditahan seminggu yang lalu, ia pun memberanikan diri minta dipertemukan dengan Jervario dan Mentari selaku orang tua Asha.
"Yang penting kau sudah menyadarinya. Sebenarnya aku tidak terlalu menyalahkanmu sebab terkadang orang tua memang bisa menjadi sangat egois demi anak. Tapi yang membuatku kecewa, kalian seperti melupakan fakta kami ini adalah orang tua Asha. Selain itu, kalian pun melupakan, Asha masih terlalu kecil. Kita tidak tahu, bagaimana ke depannya bila ia hanya bertahan dengan satu ginjal. Saya sebagai seorang orang tua, tentu ingin anakku tumbuh dengan baik, normal seperti anak-anak lainnya. Tanpa merasa menjadi beda karena keterbatasan yang dialaminya," ungkap Jervario yang memang hal tersebutlah yang menjadi puncak kekhawatirannya.
Andrian diam tertunduk. Ia merasa malu sendiri di hadapan Andrian dan Mentari.
"Oh ya, bagaimana keadaan anakmu? Asha kerap menanyakannya. Sepertinya Asha sudah sangat menyayangi adiknya itu," ujar Mentari ingin memecah keheningan di sana.
Andrian tersenyum, "Affan sudah lebih baik. Semoga dia bisa segera sehat agar bisa bermain dengan kakaknya. Asha memang anak yang baik. Baru bertemu saja, dia sudah begitu menyayangi Affan. Entah apa jadinya bila tranplantasi kemarin benar-benar terjadi. Khawatirnya, saat Asha tahu apa yang terjadi dengannya di masa lalu membuatnya membenci Affan. Sekali lagi, keputusan mas Jerva sudah tepat. Dengan begitu, meskipun mereka saudara beda ayah, aku harap mereka bisa saling menyayangi," ucap Andrian tulus yang diaamiinkan oleh Mentari dan Jervario.
...***...
"Bang, bangun, udah siang. Abang lupa ya planning hari ini?" Mentari menggoyang-goyangkan pundak Jervario. Tapi laki-laki itu justru menarik tangan Mentari hingga posisinya setengah merebahkan diri, kemudian Jervario menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Mentari tanpa membuka matanya. Dengan mata terpejam, ia menghidu aroma khas tubuh Mentari yang sudah bercampur parfum sebab istrinya tersebut sudah bersiap sejak beberapa menit yang lalu.
"5 menit lagi, sayang. Abang masih ngantuk. Nggak tahu kenapa, Abang rasanya males banget buat gerak. Pinginnya peluk-peluk kamu aja," jawab Jervario serak khas suara bangun tidur.
"Bang, ini udah jam setengah tujuh lho. Abang kok akhir -akhir ini jadi pemalas sih? Biasanya juga abis subuhan, nggak tidur lagi, tapi sekarang bukan hanya tidur, tapi susah bangun. Abang lupa atau gimana sih kita kan hari ini mau ... "
"Papiiiii ... " Teriak Asha tiba-tiba yang langsung melompat begitu saja ke atas kasur super empuk membuat Jervario terlonjak kaget.
"Astaghfirullah, Asha ... Papi kaget tahu," tukas Jervario dengan jantung dag dig dug membuat Mentari dan Asha tergelak.
__ADS_1
"Papi sih masih bobok aja. Papi lupa ya, kan hari ini Asha ada senam ceria di sekolah. Mami dan Papi harus ikutan sama kayak mama papa temen-temen Asha. Semuanya disuruh datang. Kita senam sama-sama," seru Asha dengan bibir mencebik membuat Jervario menepuk dahinya karena terlupa.
"Ya Allah, maafin papi, sayang. Papi benar-benar lupa. Ya udah, 10 menit lagi papi turun. Kalian sarapan aja duluan gih!" serunya seraya melompat dari tempat tidur sampai-sampai nyaris tersungkur membuat Mentari geleng-geleng kepala, sedangkan Asha sudah terpingkal-pingkal.
"Hush, papi hampir jatoh malah diketawain," sergah Mentari sambil mengulum senyum.
"Abisnya papi lucu, Mi," sahut Asha yang masih saja tertawa memamerkan deretan giginya yang kecil-kecil dan putih.
"Asha, jangan ketawa terus, nanti papi nggak mau ikutan senam, mau!" pekik Jervario dari dalam kamar mandi.
"Tuh Papi ngmbek," bisik Mentari yang sudah terkekeh. Tak pernah terbayangkan dalam benaknya selama ini, bisa memiliki keluarga sempurna seperti ini. Ia benar-benar menikmati kebahagiaan ini. Semoga semua kebahagiaan ini bukan hanya kebahagiaan semu, batinnya.
"Kabur ah, papi ngambek!" pekik Asha sambil tertawa lebar. Dari dalam kamar mandi, Jervario menuntaskan bersih-bersihnya secepat mungkin.
"Is, Abang mandi bebek!" ejek Mentari sambil meletakkan setelan olahraga milik suaminya. Warnanya senada dengan pakaian miliknya. Mentari memang sengaja membeli yang senada dengan warna pakaian olahraga milik Asha, biar kompak pikirnya.
"Biarin. Yang penting masih ganteng dan wangi. Dan yang lebih penting lagi, udah sold out," sahutnya seraya terkekeh membuat Mentari memutar bola matanya jengah.
"Itu namanya bukan narsis, istriku, tapi fakta. Coba deh perhatiin baik-baik, suamimu ini memang ganteng kan? Terus cium deh, wangi kan! Terus bener kan udah sold out, miliknya Mentari yang comel," ujarnya seraya mendekatkan wajahnya pada Mentari m Setelah mengatakan itu, ia mencuri satu ciuman dari bibir Mentari. "Morning kiss," godanya sambil mengerlingkan mata.
Blush ...
Wajah Mentari kini sudah bak kepiting saos asam pedas. Bagaimana Mentari tidak tersipu coba? Sebab sikap Jervario kian hari kian membuatnya kelabakan sendiri. Bahkan terkadang nyaris tak tahu tempat dan waktu. Pernah sekali, saat Mentari datang ke showroomnya untuk mengantarkan makan siang, lalu Jervario menyambutnya dengan menciumnya di depan semua karyawannya. Mentari sampai malu sendiri di hadapan semua karyawan showroom suaminya itu.
"Aaargh ... Bang Jerva ... " pekik Mentari saat tubuhnya sudah melayang di udara sebab Jervario sudah membawanya ke dalam gendongannya.
"Apa?" jawabannya acuh.
"Turunin nggak!" ketus Mentari.
__ADS_1
"Nggak. Lama. Salah siapa malah ngelamun. Katanya mau cepat. Mending gendong aja. Sarapannya dibawa aja, kita makan di dalam mobil, gimana? Abang mau manasin mobil dulu."
"Ya udah." Pasrah. Mentari bisa apa kalau yang mulia sudah bertitah. Jervario hanya bisa mengulum senyum melihat tingkah istrinya itu yang kadang memberontak tapi ujung-ujungnya menurut juga. Memang, istrinya ini sangatlah patuh.
...***...
Di sekolah Asha, pasangan Mentari dan Jervario jadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, orang tua siswa yang hadir didominasi para emak-emak. Jervario merasa wajar, pasti para ayah sulit untuk meluangkan waktu. Apalagi yang kerjanya terikat dengan orang lain, tidak semudah itu untuk mendapatkan izin. Selain itu, dari segelintir bapak-bapak, bukannya narsis ataupun sombong, tapi Jervario sadari, hanya dirinya saja yang paling tampan.
Narsis kata Mentari. Tapi dalam hati Mentari pun membenarkan. Lain di mulut, lain di hati emang.
"Wah, ini papanya Asha ya! Salam kenal, saya Mita, mamanya Nabil," seru seorang ibu mendekati Jervario. Ibu itu mengenakan setelan senam yang seksi dan super ketat. Jangan lupakan dandanannya yang cetar membahana dengan bulu mata extension berkibar-kibar dan sulam alis yang hitam pekat dan tebal persis alis tokoh kartun Shinchan. Mentari mengerutkan keningnya, melihat tingkah ganjen ibu-ibu itu.
"Hmmm ... " Hanya dehaman yang Jervario berikan tanpa mau menoleh sedikit pun. Mentari mengulum senyum, triplek dilaminating didekatin. Pawangnya cuma Mentari doang gitu lho. Karena itu Mentari tak khawatir bila ada yang mau flirting dengan suaminya yang super kaku, datar, cuek, dan dingin.
"Ini ibu tirinya Asha ya! Kamu kayaknya belum punya anak. Mendidik dan mengurus anak itu nggak mudah lho. Apa kamu bisa urus Asha? Lha, kamu aja nggak punya pengalaman," ujarnya pada Mentari membuat alis Mentari sampai berkerut. "Papanya Asha kok mau aja nikah sama perempuan yang nggak berpengalaman urus anak? Hati-hati lho, entar dia ngelakuin hal yang aneh-aneh sama Asha. Seharusnya Anda cari yang berpengalaman urus anak. Yang berpengalaman tentu tahu bagaimana caranya mengurus anak, apa yang boleh dan tidak boleh, bagaimana melakukan ini dan itu, termasuk mengurus papanya," ujarnya sambil tersenyum-senyum membuat perut Mentari rasanya bergolak karena muak.
"Perempuan mana yang berpengalaman?" tanya Jervario datar. Mentari bersungut-sungut kesal mendengar Jervario menanggapi bualan ibu-ibu itu.
"Yang kayak saya ini lho pak. Saya udah pengalaman. Saya janda anak 2 dan semuanya saya urus sendiri. Dan lihat, saya berhasil. Di bawah didikan saya, anak saya tumbuh jadi anak yang baik, sehat, pintar, dan mandiri. Kalau papanya Asha mau ... "
"Mama ... " pekik seorang anak laki-laki. Ia mendekat sambil bercucuran air mata.
Humppphhh ...
Tiba-tiba tercium aroma yang tak sedap entah dari mana hingga anak laki-laki itu mengucapkan sesuatu membuat semua orang yang berdiri di dekat ibu itu segera menjauh.
"Mama, Ihsan eek di celana," ujarnya sambil menangis kencang membuat Mentari menahan tawanya setengah hati. Itu yang namanya mandiri. Sudah 5 tahun, masih bab di celana? Hah, Mentari tak mau berkomentar. Entah si anak sedang diare atau ada alasan lainnya. Wajah ibu itu seketika merah padam karena malu.
"Pengalaman mengurus anak bukan hanya didapat karena ia sudah memiliki anak, tapi dari ketulusan hati dan saya tahu mana yang terbaik untukku dan anak-anakku," Ucap Jervario datar, dingin, dan jangan lupakan tatapan mengintimidasinya membuat ibu itu tertunduk malu.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Jervario merangkul pundak Mentari dan mengajaknya untuk mendekati posisi Asha berada sekarang.
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...