Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
EMPAT PULUH SATU


__ADS_3

"Ka-kamu mau apa?" cicit Mentari gugup saat wajah itu kian mendekat.


Sorot mata Jervario yang tampak menelisik wajahnya kian membuat Mentari terdiam kaku. Ia sudah tak mampu menggerakkan tubuhnya lagi karena punggungnya telah mentok menubruk sandaran kursi.


Jervario memiringkan sedikit kepalanya. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Mentari dapat merasakan deru nafas Jervario yang hangat menerpa wajahnya membuat Mentari kian kesulitan menelan salivanya.


Mentari reflek menutup matanya. Entah apa yang ada di pikiran perempuan cantik itu, nalurinya justru menuntun dirinya untuk memejamkan matanya.


Namun, tak ada pergerakan apa-apa setelah beberapa menit berlalu membuat Mentari perlahan membuka sedikit matanya. Namun ternyata wajah itu masih berada di depan wajahnya, hanya jaraknya saja yang tidak sedekat tadi. Selain itu, ada satu hal yang membuatnya membeku, Jervario menyeringai tepat di depan wajahnya.


"Ternyata perempuan cantik juga ada upilnya ya?"


Wajah Mentari mendadak cengo.


"A-apa? U-upil? Maksud kamu?" cicitnya gelagapan.


Mendadak Mentari berdiri sampai-sampai kursi yang ia duduki mundur ke belakang, menimbulkan decitan yang begitu nyaring.


Mentari segera berlari menuju wastafel di kamar mandi dapur untuk melihat apa benar di lubang hidungnya ada upil.


"JERVARIO ... AWAS KAU!!!" teriak Mentari dari dalam kamar mandi dengan wajah yang merah padam menahan malu.


(Gimana nggak malu genkz, udah merem, dikira mau dicium, taunya ... Hahaha... Cie ... ada yang ngarep dicium pak duda. 🤣😂)


Di luar, Jervario tergelak dengan begitu kencang. Ia merasa puas sekali karena berhasil mengerjai Mentari.


Setelah membasuh wajahnya hingga bersih, Mentari keluar kemudian gegas mendekati Jervario dan mencubiti perutnya.


Jervario menjerit kecil sambil tergelak karena Mentari yang makin gencar membalas keusilannya dengan capitan jari telunjuk dan ibu jarinya.


Jervario hendak menghindar, tapi Mentari yang kekesalannya telah mencapai ubun-ubun lantas berusaha mengejar. Namun, tiba-tiba kakinya terantuk kaki meja sehingga tubuhnya limbung dan nyaris jatuh. Jervario pun segera beranjak menangkap tubuh Mentari yang hampir jatuh sehingga posisi mereka kini seakan sedang saling berpelukan.


Keduanya membeku seketika dengan tubuh Mentari menempel pada tubuh Jervario. Kedua tangan Mentari ada di dada Jervario, sedangkan kedua tangan Jervario mendekap pinggang Mentari.


Bola mata mereka berdua saling beradu, seakan sedang mendalami perasaan masing-masing. Jantung keduanya berpacu kian cepat, berlawanan dengan perputaran waktu yang seolah melambat, memberi jeda bagi keduanya untuk saling menyelami hati dan pikiran masing-masing.


Pipi Mentari bersemu merah, entah karena apa. Pernah menikah, pasti pengalaman percintaan mereka sudah di level tertinggi. Pun kinerja otak, sampai-sampai tak mampu mendeskripsikan keinginan hati. Yang ada hanyalah naluri.


Jakun Jervario naik turun, pemandangan di depannya ini sungguh luar biasa. Darah muda mereka bergejolak, seakan menuntut mereka untuk melakukan hal lebih.


Kemudian Jervario pun mendekatkan wajahnya, namun tidak seperti tadi, Mentari tak mau memejamkan matanya. Hingga mereka sudah nyaris tanpa jarak, bahkan hidung saja sudah saling menempel, nafas keduanya saling menerpa wajah masing-masing, kemudian Jervario pun membisikkan sesuatu yang tiba-tiba saja membuat kinerja otak Mentari seketika membeku.


"May i kiss you?"


Tidak mendapatkan jawaban, Jervario pun hanya mengecup dahi Mentari membuat perasaan hangat mengalir di setiap sendi-sendi dan syaraf Mentari.


Hanya beberapa detik, tapi mampu mengobrak-abrik pertahanan diri seorang Mentari. Kecupan itu hanya beberapa detik, namun sanggup membuat getaran tak biasa dalam rongga dadanya.

__ADS_1


"Aku sebenarnya ingin sekali mengecup dan melu*mat ini, tapi ... " tunjuknya pada bibir Mentari. Dipandanginya wajah Mentari yang masih membeku dalam dekapannya.


"Aku takut kau cubit kembali," ujarnya sambil tersenyum lebar membuat Mentari tersenyum dan reflek menepuk dada Jervario.


Jervario yang gemas lantas menarik tubuh Mentari ke dalam pelukannya. Namun dengan sigap Mentari dorong seraya mendelik.


"Peluk-peluk terus, kebiasaan," sergah Mentari yang disahuti dengan kekehan Jervario.


Ia sangat menyukai melihat ekspresi dan tingkah Mentari. Tidak seperti perempuan lain yang suka bersikap pura-pura kalem, lemah lembut, dan sok bersahaja, padahal aslinya sangat berbanding terbalik. Tidak seperti Mentari yang apa adanya. Ia juga tidak suka cari-cari perhatian dan terkadang bersikap cenderung polos serta menggemaskan.


"Sepertinya ke depannya akan menjadi sebuah kebiasaan yang sangat dirindukan," celetuk Jervario santai membuat Mentari memutar bola matanya.


"Enak aja, emang kamu siapa bisa peluk-peluk aku seenaknya," sewot Mentari dengan wajah garangnya.


"Hah!" seru Mentari membulatkan matanya membuat Jervario terkikik geli.


...***...


Sinar matahari telah menyinari bumi dengan sempurna saat Mentari membuka mata. Sinarnya yang hangat menerobos celah tirai tipis di kamarnya dan hal itulah yang membuat Mentari terbangun dari tidur lelapnya.


Hal yang pertama Mentari ingat saat membuka mata adalah sikap Jervario malam tadi. Bingung, wajar saja bukan Mentari bingung dengan sikap Jervario padanya. Jervario kini makin intens menghubungi dan menemuinya. Ia juga jadi lebih perhatian bahkan beberapa kali melakukan sesuatu yang membuat jantungnya bergejolak hebat.


Tiba-tiba pipinya memanas, mengingat bagaimana interaksi mereka yang terkesan cukup intim bagi mereka yang tidak memiliki hubungan spesial. Hingga tiba-tiba ingatannya terlempar ke percakapan mereka semalam.


"Sepertinya ke depannya akan menjadi sebuah kebiasaan yang sangat dirindukan," celetuk Jervario santai membuat Mentari memutar bola matanya.


"Enak aja, emang kamu siapa bisa peluk-peluk aku seenaknya," sewot Mentari dengan wajah garangnya.


"Hah!" seru Mentari membulatkan matanya membuat Jervario terkikik geli.


"Calon suami dari HongKong," delik Mentari sebal sambil mencomot paha bebek dan menggigit dagingnya dengan begitu lahap. Tak lupa ia mengambil nasi yang telah dia aduk dengan sambal dengan tangannya dan menyuapkannya ke dalam mulutnya tanpa rasa gengsi ataupun sok jaim karena ia makan dengan tangan, tanpa sendok seperti Jervario. Mentari bahkan mengecupi jemarinya yang berlumuran sambal dengan santainya membuat Jervario makin mengagumi sosok Mentari yang memang benar-benar apa adanya.


"Memangnya kamu nggak mau jadi calon istriku?"


"Ya nggak lah. Siapa kamu tiba-tiba ngaku jadi calon suami. Pacar bukan, tunangan juga bukan."


"Ya udah, kamu jadi pacar aku aja atau kita perlu mengadakan pesta pertunangan sekarang? Kalau mau, aku akan segera menyiapkannya."


Sontak saja, Mentari yang baru saja menenggak tehnya segera menyemburkannya tepat di wajah Jervario. Dia tersedak gaes. Siapa yang nggak syok sih tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mengatakan ingin menjadikannya pacar dan kalau perlu segera mengadakan pesta pertunangan.


"Dasar duda gila!" umpat Mentari dengan mata melotot ke arah Jervario yang sedang mengelap wajahnya dengan tisu. Ia tidak marah sama sekali dengan apa yang barusan terjadi.


"Dasar janda kesayangan," balas Jervario membuat hati Mentari meleyot-leyot.


"Aaargh ... dia sebenarnya kenapa sih? Kok tingkahnya makin aneh? Nggak mungkin kan dia serius?" gumam Mentari yang telah terduduk sambil menepuk-nepuk pipinya.


Hingga terdengar sebuah pesan masuk di handphone Mentari yang sedang ia isi daya di atas nakas. Mentari pun segera melepas kabel charger dan membuka pesan itu. Lagi-lagi pipi Mentari menghangat saat membaca pesan yang sarat perhatian itu.

__ADS_1


[Morning janda kesayangan. Jangan lupa sarapan dan hati-hati di jalan ya! See you next time.]


...***...


Sementara itu di kediaman Rohani, Shandi masih tampak bersemangat ingin merebut perhatian dari Mentari. Ia telah bersiap dengan pakaian terbaiknya. Rambutnya ia tata rapi membuat Erna menatap Shandi masam.


"Mas, kamu itu mau kerja atau cari gebetan sih?" delik Erna.


"Udah tahu kerja, pake nanya. Mandi sana. Bangun siang melulu, siapin baju suami nggak pernah, sarapan juga nggak. Pemalas," ucap Shandi tanpa peduli wajah Erna yang sudah merah padam.


"Apa katamu tadi, mas? Pemalas? Kau ... "


Belum sempat Erna menumpahkan kemarahannya, Shandi justru telah keluar terlebih dahulu dari kamar itu.


"Ma, Septi sama Tian nggak pulang?" tanya Shandi seraya mendudukkan bokongnya di kursi meja makan.


Rohani mengangguk seraya memakan roti isi selai miliknya, "Septi ikut kerja bareng temennya. Kalau Tian dia milih ngekost biar hemat bensin katanya," dusta Rohani. Ia tak mau mengatakan kalau adiknya enggan pulang semenjak kakaknya bercerai dengan Mentari dan menikah dengan perempuan lain.


"Oh. Tapi motor Tian ada kan, ma?"


"Kenapa?" tanya Rohani heran karena Shandi justru menanyakan motor sang adik.


"Nggak, cuma mau tanya aja masih nggak. Atau jangan-jangan udah ditarik dealer juga kayak mobil mama. Syukurlah nggak."


"Ya, tapi tetap aja kita mesti siap-siap. Mobil kamu juga tuh, hati-hati. Kita nggak tahu, mobil itu dibayar cash atau kredit kayak mobil mama. Mulai bulan depan kamu harus bantu bayar listrik dan air, Shan. Cicilan rumah ini juga udah menunggu. Bilang sama istri kamu biar bisa saling bantu. Nggak mungkin kan kamu mau andalin adik kamu untuk bayar rumah kasihan dia," ucap Rohani membuat Shandi menghela nafasnya.


"Iya ma, aku usahakan."


"Gimana progres kamu deketin Tari lagi?" tanya Rohani pelan sambil sesekali netranya menatap ke arah pintu kamar Shandi.


Lagi-lagi Shandi menghela nafasnya, "sulit, ma."


"Laki kok loyo, semangat dong," cibir Rohani.


"Ini udah usaha, ma. Tapi saingan Shandi tuh benar-benar jauh di atas Shandi."


"Kamu jangan nyerah. Memangnya laki-laki mana yang mau sama perempuan mandul kayak dia. Kalaupun ada, pasti keluarganya nggak akan setuju. Mau sekaya apapun Tari saat ini, kekurangan dia itu fatal. Kamu yakinkan dia, kalau hanya kamu yang bersedia menerima dia apa adanya. Kalau dia masih sok jual mahal juga, biar mama yang turun tangan," pungkas Rohani hati-hati, khawatir pembicaraannya dengan Shandi didengar Erna. Bagaimana pun, Erna saat ini tengah mengandung calon cucunya. Ia tak mau Erna marah lalu pergi membawa calon cucunya itu.


"Baik, ma," sahut Shandi sambil menyeka sisa kopi di bibirnya.


...***...


Yang kemarin nebak Jerva mau kiss Tari siapa hayooolooo!


Eh, taunya tengik si upil ngintip! 🤣😂🤪


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2