
Hari ini merupakan meeting terakhir yang dilakukan Jervario dan tim dengan pihak tuan Malik. Meeting kali ini diisi dengan sejumlah agenda, mulai dari pembacaan perjanjian kerja sama hingga penandatanganan kontrak kerja sama kedua belah pihak.
Meeting kali ini seperti biasa dilakukan di siang hari setelah makan siang. Kemudian malam harinya, pihak Longlife Investment yang dipimpin Tuan Malik Assegaf mengundang pihak TJ Group untuk makan malam bersama sebagai ungkapan kebahagiaan atas terjalinnya kerjasama antar dua buah perusahaan antar negara tersebut. Gathan sebagai pemimpin TJ Group pun menyambut baik undangan tersebut sebab hal tersebut memang kerap dilakukan sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama yang terjalin antar dua buah perusahaan ataupun perorangan.
Kesepakatan telah diraih, draft kerja sama telah disetujui kedua belah pihak juga ditandatangani. Mereka pun mengesahkan kerja sama tersebut dengan saling berjabat tangan dan seorang fotografer pun mengabadikannya untuk dokumentasi. Setelahnya mereka pun berpamitan satu sama lain untuk kembali hotel tempat mereka menginap sebab mereka mereka melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama di gedung Longlife Investment.
"Sayang, gimana meeting hari ini?" tanya Mentari melalui sambungan telepon.
"Alhamdulillah, semua lancar. Proposal kita diterima dengan baik," ujar Jervario.
"Syukurlah."
"Bagaimana our baby twins? Mereka nggak buat keusilan lagi kan?"
"Nggak, bang. Eh bang, aspri kita kayaknya lagi pdkt lho," ujar Mentari membuat Jervario mengerutkan keningnya.
"Oh ya? Bagaimana kamu tahu?"
Mentari lantas terkekeh mengingat pagi-pagi ia melihat Belinda yang mendapatkan buket bunga mawar merah berukuran sedang dan sebuah coklat dengan pita berwarna merah muda melingkarinya.
Awalnya Belinda kebingungan saat ada karyawannya yang mengantarkan buket bunga dan coklat tersebut ke mejanya. Mereka awalnya berpikir buket tersebut untuk Mentari. Tanpa membaca sang pengirim buket, Belinda langsung saja menyerahkan buket tersebut kepada Mentari yang kebetulan keluar dari ruang kerjanya. Mentari yang penasaran pun segera membuka kertas yang terselip di dalam bunga tersebut kemudian tersenyum geli.
'Ini buket bunga sama coklat buat kamu, Bel, bukan saya ," tukas Mentari membuat Belinda mengerutkan keningnya.
'Saya, Bu?' tanya Belinda kebingungan. 'Ah, nggak mungkin. Siapa juga yang mau ngasi saya hal-hal kayak gini, ibu jangan bercanda deh!'
'Saya serius, Bel. Nggak percaya, nih baca!' Mentari lantas menyodorkan kertas berwarna putih tersebut ke tangan Belinda. Ia pun segera membacanya dan membelalakkan matanya.
For my sunshine, Belinda
Ukirlah senyum manis untuk mengawali harimu!
Semoga harimu menyenangkan.
__ADS_1
Dario S.
*Sontak saja Belinda membelalakkan matanya saat membaca untuk siapa buket bunga dan coklat tersebut. Belinda mendengkus setelah mengetahui siapa pengirimnya. Entah apa tujuannya, Belinda pun tidak mengerti sama sekali. Lagi pula, pagi-pagi diberi bunga dan coklat, emangnya dia sarapannya bunga? Dia bukan Suzanna ya! Lalu coklat? Belinda memang menyukai coklat apalagi yang ada kacang medenya, tapi masa' iya dia pagi-pagi makan coklat, meskipun tak masalah sih sebenarnya. Tapi ... tetap saja Belinda bingung. Apalagi setelah membaca pesan di dalamnya yang seperti kalimat untuk seorang kekasih. Memangnya Belinda kekasih Dario apa?
Kekasih?
Belinda tak pernah sama sekali memikirkan perihal memiliki seorang kekasih apalagi menjalin kasih. Baginya, tak ada kasih yang abadi seperti kasih ibunya pada dirinya.
Mentari terkekeh geli melihat ekspresi bingung Belinda.
'Ekhem, sepertinya ada yang sedang pdkt, hm? Wah, kalian ya ternyata diam-diam ... ' Mentari menggoda Belinda. Bukannya tersenyum malu dengan pipi bersemu merah, Belinda justru menggaruk pelipisnya dengan raut tak terbaca. Mentari sampai gemas sendiri melihat ekspresi asprinya itu yang ia sangat berbeda dari ekspresi gadis-gadis lainnya saat mendapatkan perhatian dan hadiah romantis*.
Jervario tak mampu menahan gelaknya saat mendengar cerita dari istrinya itu.
"Abang jadi ingat kata-katamu pada Dario saat pernikahan kita, sayang. Dan kini, semua terbukti, dia ketulah ucapannya sendiri. hahaha ... Abang tak sabar ingin menggodanya," ujar Jervario sambil mengusap perutnya yang terasa sakit karena terlalu banyak tertawa.
"Kira-kira Dario bisa naklukin Belinda nggak ya, bang?"
"Entahlah, Abang pun penasaran. Tapi sebagai sahabat, Abang sangat mendukung. Dario itu laki-laki yang baik meskipun mulutnya lebih bawel dari mulut perempuan. Dia juga jodi, jomblo abadi. Dario memang tampan, tapi mulut bawelnya membuat para gadis segan mendekat. Dia juga terlalu pemilih, begini dikit salah, begitu dikit salah. Abang justru salut sama Belinda, kok bisa dia naklukin Dario tanpa berbuat apapun."
Pasangan suami istri itupun melanjutkan kegiatan mengghibahi asisten pribadi mereka hingga mereka benar-benar puas.
Malam harinya, Jervario tampak bercermin memperhatikan penampilannya sambil melakukan panggilan video. Ia menanyakan bagaimana penampilannya malam itu. Setelah mendapatkan jempol dari sang istri, ia pun menutup panggilan dan bergegas keluar dari kamarnya menemui sang ayah untuk datang bersama ke restoran hotel tempat diadakannya jamuan makan malam dengan tuan Malik.
Setibanya mereka di restoran hotel, tampak asisten pribadi tuan Malik mempersilahkan tamu-tamu tuannya memasuki salah satu ruangan private di restoran itu. Mereka lantas melakukan makan malam sambil bercengkrama.
Baru saja Gathan hendak undur diri, tiba-tiba tuan Malik menghentikannya membuat Gathan dan Jervario bingung.
Ternyata tuan Malik ingin berbicara secara pribadi dengan Gathan dan Jervario hingga kini disana hanya tersisa Gathan, Jervario, Tio (Aspri Gathan),Tuan Malik, Raniah, dan Amir (Aspri Tuan Malik).
Gathan dan Jervario mengiyakan permintaan tersebut. Mereka pun duduk kembali ke tempat semula setelah karyawan lainnya telah beranjak dari sana.
"Apa yang tuan Malik ingin bicarakan? Apakah ini menyangkut kerja sama kita?" tanya Gathan to the point. Bila biasanya Raniah yang menerjemahkan kata-kata Gathan ke ayahnya, maka kali ini Amir lah yang menjadi perantara.
__ADS_1
"Tidak. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan urusan kerja sama. Tapi ini merupakan urusan pribadi yang mana mungkin dapat mengeratkan hubungan kita."
"Maksudnya?" tanya Gathan kebingungan.
Lantas Tuan Malik melirik Raniah yang tersenyum penuh percaya diri, kemudian beralih kepada Jervario yang tampak memasang wajah datar.
"Saya ingin menjalin hubungan kekeluargaan dengan Anda. Maksudnya, putri saya merasa tertarik dengan putra Anda, jadi apakah Anda bersedia berbesan dengan saya dengan menjadikan putri saya sebagai menantu Anda?" ujar Tuan Malik yang telah diterjemahkan oleh Amir.
Sontak saja Gathan dan Jervario membelalakkan mata mereka. Mereka tak menyangka di malam terakhir mereka di Dubai, mereka akan mendapatkan lamaran dadakan seperti ini. Tak salahkan mereka menganggap ini sebuah lamaran sebab apa yang disampaikan tuan Malik sama saja seperti melamar putranya untuk putrinya.
Sebelum Gathan memberikan jawaban, Jervario terlebih dahulu mengangkat suaranya.
"Maaf, saya tidak bisa karena saya sudah memiliki istri." Ucap Jervario penuh ketegasan tapi ditanggapi Tuan Malik dengan tersenyum.
"Sudah memiliki istri bukan berarti tidak bisa menikah lagi, bukan? Bukankah dalam Islam laki-laki diperbolehkan memiliki sampai empat istri, jadi apa masalahnya? Untuk adil, saya yakin orang seperti Anda bisa berlaku adil. Untuk harta, Anda tak perlu memusingkan sebab putri saya pun memiliki saham di perusahaan saya meskipun nantinya ia harus ikut Anda ke negara asal Anda, jadi saya jamin, Raniah takkan mempermasalahkan urusan keuangan." Jawab Tuan Malik.
Jervario menghela nafasnya, "dalam Islam memang diperbolehkan memiliki empat istri, tapi apakah ada jaminan hati istri-istri itu akan tentram melihat suaminya menikah lagi? Tidak. Di mulut dia bisa mengatakan iya, boleh, tapi dalam hati siapa yang tahu? Dan saya tidak ingin membuat hati istri saya sedih apalagi sampai terluka dan kecewa. Saya mencintainya tulus dari dasar hati saya. Kebahagiaannya adalah yang utama bagi saya. Saya bahagia bila istri saya bahagia, jadi sekali lagi saya tegaskan, sampai kapanpun saya takkan pernah menduakan istri saya apapun alasannya." Tukas Jervario tegas. Sorot matanya tenang, tanpa getar ragu sedikitpun. Tuan Malik sampai tercengang mendengar setiap kata-kata yang terlontar dari bibir Jervario. Ia kini makin memahami alasan sang Putri sampai tertarik dengan Jervario, bukan hanya karena kecerdasannya, tapi juga kesetiaannya pada pasangan. Bila laki-laki lain mungkin akan segera menerima tawaran menggiurkan darinya, tapi Jervario berbeda.
"Meskipun taruhannya kerja sama kita?" Ucap Tuan Malik yang serupa ancaman. Jervario sampai menegang karenanya. Ia tak menduga tuan Malik bisa menggunakan kerja sama mereka sebagai ancaman. Perjuangan timnya kini sedang dipertaruhkan, ia bingung harus menjawab apa.
Tak ingin putranya diintimidasi, Gathan pun angkat bicara.
"Tentu saja. Kami tak masalah. Bagi kami, kebahagiaan pasangan kami adalah yang utama. Biar kami menanggung kerugian, yang terpenting keberadaan pasangan kami tetap utuh di sisi kami." Tegas Gathan dengan wajah dinginnya.
Gathan dan Jervario benar-benar tak menyangka, sifat tuan Malik egois dan pemaksa. Demi kepentingan pribadi putrinya, bahkan mereka tega mengorbankan kerja sama yang baru saja mereka jalin. Tapi Gathan tak masalah, baginya kebahagiaan dan keutuhan rumah tangga anak-anaknya adalah yang utama. Uang bisa dicari, tapi kebahagiaan dan pasangan yang nyaris sempurna seperti istri dan menantunya tidak semudah itu didapatkan dan Gathan tak mau mengorbankan anak menantunya demi kepentingan perusahaan.
Melihat rekan bisnisnya beranjak hendak pergi dari sana sontak saja membuat tuan Malik segera berdiri dan menghentikannya kemudian meminta maaf atas kelancangannya. Dengan wajah merah menahan malu, Raniah pun meminta maaf telah membuat Gathan dan Jervario merasa terganggu dengan keinginan gilanya itu. Ia pikir, hal itu hanya sekedar penolakan basa-basi saja. Tapi ternyata Jervario sungguh-sungguh dengan ucapannya.
'Sungguh beruntung wanita yang berhasil menjadi istrimu. Ku pikir, kau akan dengan mudah ku raih, tapi nyatanya, semuanya tak sesuai ekspektasiku,' batin Raniah yang merasa miris. Padahal biasanya dirinya lah yang mendapatkan tawaran pernikahan dari orang lain dan selalu berakhir dengan penolakannya, tapi kini dirinya lah yang ditolak mentah-mentah oleh pria pertama yang berhasil membuat debaran di dadanya.
...***...
Baru sempat ngetik, bocil othor masih demam, eh sekarang abangnya yang berusia 4 tahun ikutan demam. 😔 Tapi syukurnya nggak sepanas semalam. Terima kasih atas doa-doanya kak. Maaf tak sempat membalas satu-satu komennya.
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...