
Pagi-pagi sekali kediaman orang tua Jervario tampak riuh dengan suara Asha yang merajuk karena tak ingin ikut pergi dengan mamanya. Milea dan Andrian sudah mencoba berbagai cara untuk membujuk, tapi Asha seperti tembok kokoh yang sukar dirobohkan pendiriannya.
Dalam hati Milea sampai berdecak kesal sendiri, mengapa anak yang ia lahirkan bisa sekeras kepala itu. Yang lebih menyakitkan, putri kandungnya justru lebih dekat dan lebih menyayangi ibu sambungnya dibandingkan dirinya.
'Memang apa kelebihan perempuan itu sih?' Kesal Milea tapi hanya berani ia gumamkan dalam hati.
Milea sampai melirik Mentari sinis. Entah mengapa, ia berpikir ini semua karena kehadiran Mentari. Seharusnya Mentari tak pernah muncul dan menjadi ibu sambung putrinya, pikirnya. Ia benar-benar egois. Seolah ia boleh berbahagia, tapi putrinya tidak. Salahkah Putrinya menemukan kebahagiaan dan kasih sayang seorang ibu dari Mentari? Tidak bukan. Padahal Milea adalah ibu kandung, tapi sikapnya justru melebihi ibu tiri bagi putrinya. Bahkan banyak ibu tiri yang sangat menyayangi anak sambungnya seperti Mentari yang menyayangi Asha.
Tak ingin terjadi kegaduhan, akhirnya Mentari pun turun tangan sendiri. Dengan lembut lembut Mentari menasihati Asha hingga akhirnya bocah kecil itu pun menurut membuat semua orang terperangah penuh kekaguman. Tapi berbanding terbalik dengan Milea yang kian kesal dengan Mentari.
"Asha nggak boleh gitu, sayang. Mami pernah cerita kan kalau seorang anak itu diperintahkan Allah untuk berbakti kepada orang tuanya. Khusus kepada seorang ibu, perintah itu keluar sebanyak 3 kali, artinya kita harus patuh, hormat, berbakti, dan menyayangi ibu kita. Apalagi mommy Asha kan mau ajak Asha ketemu kakek dan nenek Asha. Mereka udah kangen banget sama Asha. Asha mau ya ikut mommy temuin kakek dan nenek?" bujuk Mentari dengan lembut.
Asha tampak berpikir sambil menatap lekat wajah Mentari. Mentari mengangguk memberi isyarat agar Asha bersedia, akhirnya Asha pun ikut mengangguk. Kemudian Asha mengalungkan lengannya di leher Mentari dan memeluknya erat.
"Nanti mami telepon Asha ya."
"Iya. Nanti Asha juga kalau udah sampai Surabaya, telepon mami ya? Mami dan papi pasti kangen banget sama Putri kecil mami dan papi yang cantik ini," tukas Mentari sambil mencubit ujung hidung Asha gemas.
"Siap, bos!" seru Asha menirukan Dario yang suka menyahuti perintah Jervario.
Seperginya Ashadiva, Milea, dan Andrian, Mentari, Jervario, dan yang lainnya pun kembali masuk ke dalam rumah. Wajah Mentari tampak begitu murung padahal baru saja tadi terlihat cerah secerah matahari yang tengah bersinar cerah.
"Kamu kenapa, sayang? Kok cemberut gitu sih? Ada yang kamu pikirkan?" cecar Jervario yang sudah duduk di samping Mentari yang sedang duduk di sofa kamar mereka.
Terdengar helaan nafas panjang dari bibir seksi Mentari membuat Jervario kian penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan istrinya itu.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, sayang? Kalau ada masalah cerita sama aku, jangan dipendam-pendam sendiri, nggak bagus untuk kesehatan." Jervario menarik kepala Mentari dan menyandarkannya di pundaknya.
"Itu ... Riri lagi dapet," cicit Mentari sangat pelan nyaris tak terdengar.
"Lagi dapet? Dapet apa? Apa maksudnya kamu lagi halangan alias datang bulan?" terka Jervario.
Mentari mengangguk lesu membuat Jervario menghela nafas lega.
"Aku kira kenapa. Jadi kamu lesu karena bawaan datang bulan? Begitu?" goda Jervario terkekeh. Ia tidak paham alasan utamanya. Apalagi kalau bukan berarti ia belum juga hamil padahal mereka telah menikah selama 1 bulan lamanya.
"Nggak usah sedih, sayang. Kalau kamu nggak bisa memberdayakan si anu, kan bisa memberdayakan yang lainnya untuk itu."
Tiba-tiba dahi Mentari berkerut-kerut dalam. Pikirannya mendadak buntu, ia tak paham apa yang dimaksud suaminya itu. Jaringannya tidak terkoneksi dengan baik sehingga otaknya benar-benar tak mampu mencerna kata-kata sang suami.
"Maksud Abang apa sih? Riri kok ngeblank sih. Benar-benar nggak paham maksudnya," ujar Mentari sambil menggaruk kepalanya bingung.
"Maksudnya kan kita nggak bisa skidipluplup karena kamu datang bulan, sayang. Tapi kan kita bisa memberdayakan yang lainnya, dengan tangan misalnya alias blo*w job," ujarnya sambil tersenyum menyeringai membuat Mentari melotot dengan mulut menganga tak percaya kalau otak suaminya justru mengarah ke sana.
"Bang Jerva ... astaga ... otaknya tolong kondisikan dulu ya!" teriak Mentari yang langsung menarik hidung mancung Jervario gemas. "Mesyum aja pikirannya. Ya ampuuuun ... "
Sontak saja Jervario tergelak melihat wajah Mentari yang sudah memerah karena telah paham apa yang ia maksudkan. Kemudian Jervario meraih pundak Mentari dan mendekapnya erat seraya melayangkan kecupan-kecupan cinta di seluruh wajah istrinya.
"Huh, coba aja kamu nggak sedang datang bulan, sayang, kan kita bisa ikut liburan juga. Anggap aja honeymoon kedua." Jervario berujar sambil tersenyum menggoda pada istrinya.
"Huh, dasar, ngajak liburan cuma buat skidipluplup. Kalau mau ngajak liburan, ya liburan aja, nggak usah ada embel-embel. Nyebelin," ujar Mentari seraya mendelik tajam yang lagi-lagi berhasil membuat Jervario tergelak.
__ADS_1
...***...
Hari sudah cukup larut, tapi karena pakaian ganti Belinda di rumah sakit habis, is pun terpaksa pulang dahulu ke rumah. Ibu Belinda kini sedang di rawat di rumah sakit karena sakit jantung kronis. Setelah melihat sang ibu telah benar-benar terlelap, ia pun bersiap pulang ke rumah untuk membersihkan diri sekaligus mengambil pakaian ganti menggunakan motornya. Sebenarnya Belinda bisa saja menggunakan fasilitas kantor berupa mobil tapi ia tak mau sebab ia pikir biaya untuk bahan bakar mobil jauh lebih besar, sedangkan dirinya dituntut untuk berhemat demi membiayai pengobatan sang ibu.
Karena hari sudah cukup larut, tentu saja jalanan tampak cukup lengang. Namun saat Belinda memacu motornya melewati sebuah jalanan yang cukup sepi, tiba-tiba ada beberapa motor yang mengejarnya. Alhasil terjadilah aksi kejar-kejaran di jalan raya itu.
Bermenit waktu telah berlalu tapi orang-orang yang mengejarnya tak kunjung menghentikan pengejarannya. Kesal karena terus dikejar, akhirnya Belinda menghentikan motornya di tepi jalan diikuti 4 pengendara lainnya yang sejak tadi mengejarnya.
"Wow, ternyata cewek, man! Sepertinya kita dapat rejeki nomplok malam ini," seru salah seorang laki-laki sambil mengusap dagunya. Ia memandangi Belinda dari atas ke bawah dengan tatapan mesyum.
"Loe bener, bro. Pas banget cuaca dingin-dingin, ada yang angetin. Yuk neng, ikutan Abang! Tenang aja, Abang nggak akan nyakitin kok kalau Eneng nurut, ya nggak bro!"
"Pasti. Wih, tatapannya bikin gue hor*ny aje!" gelak yang lainnya membuat Belinda mengepalkan tangannya. Ia sangat benci dengan tatapan mesyum laki-laki.
"Ingat ya, gue yang pertama. Kan gue duluan yang ngajakin nguberin nih cewek. Ayo sayang, ikut kita yuk!" ujar seseorang yang berperawakan sedikit seram karena ada sebuah bekas luka yang cukup besar di pipinya. Belum lagi bibirnya tampak sangat hitam, mungkin ia merupakan pecandu rokok.
Melihat Belinda diam tak bergeming seolah sebuah undangan bagi para laki-laki brengsekkk itu. Mereka pun segera mendekat untuk meraih tangan Belinda.
Happp ...
Bruakkkk ...
"Aaaargh ... "
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...