Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
LIMA PULUH SATU


__ADS_3

Saat keduanya tengah terdiam, terdengar suara pintu yang diketuk. Ternyata itu adalah Belinda.


"Ada apa Bel?" tanya Mentari.


"Itu Bu, ada ... ada mantan ibu mertua Anda. Dia bilang, dia ingin bicara pada Anda. Bagaimana Bu? Dipersilahkan masuk atau saya usir saja?"


Mentari dan Jeanara saling pandang untuk sesaat. Mentari menghela nafasnya, untuk apalagi coba mantan mertuanya itu menemuinya, pikirnya.


"Bagaimana Bu?" tanya Belinda lagi.


Mentari berpikir sejenak, kemudian ia melirik jarum jam di pergelangan tangannya yang sudah mendekati jam makan siang.


"Kamu mau makan siang dimana, Ke?" tanya Mentari pada Jeanara, membuat Belinda mengerutkan keningnya heran, bukannya menjawab pertanyaannya, bosnya itu justru bertanya tentang makan siang sahabatnya.


"Gue ada janji sama mas Abdi, Ri, kenapa? Mau makan bareng?"


Mentari menggeleng, kemudian ia memalingkan wajahnya pada Belinda yang masih berdiri di depan pintu.


"Katakan saja, sekarang saya ada tamu. Kalau dia mau menunggu, tunggu saya di cafe seberang kantor kita saja. Katakan, aku akan makan siang di sana nanti," tukas Mentari yang diangguki Belinda. Setelah itu, Belinda pun pamit undur diri untuk menyampaikan pesan atasannya barusan.


"Yakin loe mau temuin dia, Ri? Kalau loe mau minta temenin, gue bisa bilang ke mas Abdi kalau siang ini aku mau makan siang bareng kamu," tutur Jeanara yang khawatir bila Mentari pergi menemui mantan mertuanya yang menyebalkan seorang diri.


"Nggak usah, Jea. Tenang aja, gue bisa sendiri kok. Loe tahu bukan, gue bukanlah perempuan bodoh yang mudah ditindas. Dulu gue hanya bersabar karena dia mertua gue, tapi sekarang beda. Dia bukanlah siapa-siapa gue lagi. Jafibgue nggak akan berkemah lembut seperti dulu. Dia sopan, gue segan. Dia kurang ajar, gue melawan. Lagian, gue tahu kok tujuannya," ucap Mentari dengan seringai di bibirnya.


"Loe tau? Emangnya apa tujuannya?" tanya Jeanara yang penasaran.

__ADS_1


Mentari tersenyum lebar, "dia mau gue jadi menantunya lagi, gila nggak? Gue yakin, dia bergerak karena anaknya nggak berhasil deketin gue lagi, dasar keluarga benalu nggak tahu malu," umpat Mentari sambil terkekeh sinis membuat Jeanara membelalakkan matanya.


"Bener kata loe, Ri, mereka keluarga benalu nggak tahu malu plus gila. Mereka kayaknya butuh psikiater untuk menterapi otaknya yang udah sengklek itu," balas Jeanara yang sudah tergelak.


Setelah berbincang beberapa lama, Mentari pun bergegas bersiap untuk ke cafe yang ada di seberang kantornya. Menurut Belinda, Rohani memang bersedia menunggu di cafe tersebut. Padahal tadi baru jam 11 siang, artinya sudah hampir 1 jam Rohani menunggu di sana. Mentari masa bodoh, ia tak ingin bergegas ke sana, toh itu kemauan dia kan untuk menunggu, jadi nikmatilah indahnya menunggu.


Mentari masuk ke cafe tersebut dengan langkah anggun. Beberapa pasang mata tampak menjatuhkan pandangan mereka pada sosok cantik Mentari. Mentari melangkahkan kakinya masuk dengan sorot mata ceria, seolah ia sedang begitu bahagia.


Mentari mengedarkan pandangannya, saat ia menangkap keberadaan sang mantan ibu mertua, ia pun segera melangkahkan kakinya menuju mejanya kemudian duduk tanpa menunggu dipersilahkan.


"Kamu ... kamu pasti sengaja kan nyuruh saya nunggu lama-lama di sini!" desis Rohani menggeram kesal. Mentari mengangkat sebelah alisnya, merasa geli sendiri.


"Memangnya saya yang ingin bertemu dengan Anda?" sahut Mentari acuh tak acuh.


Rohani mendengkus. Ia berusaha mengontrol emosinya agar tidak sampai meledak. Bagaimana pun, tujuannya adalah membujuk Mentari agar mau kembali dengan sang putra.


"Silahkan pesan, mama juga belum pesan. Sengaja nungguin kamu," ujarnya lembut. Bahkan sejak tadi ia menyebutkan dirinya mama, seolah mereka tak pernah ada masalah sebelumnya.


Mentari pun segera mengambil buku menu yang disodorkan pramusaji. Setelah mencatat semua pesanan, pramusaji itupun undur diri. Tak butuh waktu lama, pramusaji itu kembali lagi dan menghidangkan pesanan kedua orang itu.


Mentari menyantap makanannya dengan santai. Berbeda dengan Rohani yang tak berhenti melirik mantan menantunya yang kian cantik dan elegan serta anggun. Semua yang dikenakan Mentari tak ada barang murahan, semuanya serba barang berkelas dan mewah. Rohani tak henti-hentinya menyesali kebodohannya meminta Shani cepat-cepat menceraikan Mentari. Ia juga merutuki dirinya sendiri yang tidak menyadari kalau mantan menantunya itu sebenarnya kaya raya.


"Jadi apa tujuan Anda bertemu denganku, nyonya?" tanya Mentari to the point. Tanpa ada basa-basi busuk sama sekali.


"Tari, kenapa kau bicara dengan mama seperti itu? Seperti berbicara dengan orang asing saja," cetus Rohani mengeluhkan cara Mentari berbicara padanya.

__ADS_1


Mentari menghela nafasnya, sambil menatap jengah pada mantan mertuanya itu


"Bukankah kita memang orang asing nyonya? Bahkan selama 5 tahun saya menjadi menantu Anda saja, kita tak pernah dekat satu kali pun. Jadi, tak perlu sok tersakiti dengan kata-kataku seperti itu karena itu sangatlah memuakkan," tegas Mentari membuat Rohani diam-diam mengepalkan tangannya.


"Maafkan mama," ucap Rohani dengan wajah tertunduk lesu. Pura-pura tentunya. "Maafkan mama karena sudah menyakiti mu. Terus terang mama menyesal. Mama baru sadar kalau hanya kaulah menantu mama yang terbaik. Mama menyesal Tari, mama minta maaf. Begitu pula Shandi, dia sangat menyesal Tari. Maafkanlah Shandi. Sebenarnya ia tidak bermaksud mengkhianati pernikahan kalian, tapi ... tapi perempuan itulah yang menjebak Shandi. Hingga suatu hari, perempuan itu mengaku hamil. Jadi mama tidak punya cara lain selain menikahkan mereka. Sungguh, sampai sekarang Shandi masih mencintaimu, Tari. Kembalilah pada Shandi, Tari. Mama yakin, kalian pasti masih sangat mencintai, bukan. Kalau kau memang tak mau menerima keberadaan Erna, kau tenang saja, setelah dia melahirkan nanti, mama akan meminta Shandi menceraikan Erna. Lalu kalian akan menikah kembali. Kalian juga bisa mengambil anak itu dan menjadikannya anak kalian, bagaimana? Kamu pasti mau kan kembali pada Shandi, nak? Shandi benar-benar frustasi setelah perceraian kalian," tutur Rohani panjang kali lebar membuat Mentari terkekeh sinis dengan apa yang barusan Rohani sampaikan.


"Nyonya Rohani yang terhormat, apa Anda sudah kehilangan kewarasan Anda? Setelah membuangku, kini kau ingin memungutku kembali? Eh, salah, Anda pikir setelah aku membuang anakmu, aku akan memungutnya kembali? Aku pantang menjilat ludahku sendiri," desis Mentari dengan sorot mata tajam dan penuh intimidasi.


"Tapi Tari, Shandi masih sangat mencintaimu, kau juga kan?"


"Oh, sayangnya ... TIDAK," ucap Mentari dengan menekankan kata tidak. "Dan ... kalaupun masih cinta, memangnya kami bisa menikah kembali? Tentu tidak karena Shandi telah mentalak tiga diriku," imbuhnya membuat Rohani melototkan matanya. Ia baru tahu kalau Shandi telah mengucapkan talak 3 pada Mentari.


'Dasar anak tolol!' umpat Rohani dalam hati.


"Bisa. Kalian masih bisa menikah kembali," ucap Rohani membuat Mentari mengerutkan keningnya. "Kalau kalian ingin menikah kembali, mama akan mencarikan kamu muhalil."


"Muhalil?" beo Mentari yang tidak mengerti apa yang dimaksud dengan muhalil.


"Iya, muhalil itu adalah laki-laki yang akan menikahi kamu untuk menggugurkan talak tiga Shandi. Maksudnya kamu nanti menikah dengan laki-laki pilihan mama itu alias muhalil untuk sementara. Setelah dia menggaulimu, maka dia akan segera menceraikanmu, nah setelah kalian bercerai, kamu dan Shandi pun bisa kembali menikah, bagaimana? Kau setuju?" tanya Rohani sesuka hati seakan Mentari tak memiliki hati untuk dihargai sama sekali. Hanya keegoisan dan keserakahan yang mendominasi di hati dan jiwanya. Benar-benar seorang ibu yang egois dan hanya memikirkan diri sendiri dan anaknya, tapi tak peduli akan hati dan perasaan orang lain yang kemungkinan besar pasti sakit hati dan terluka akan sikap semena-mena dirinya.


...***...


Pen santet online rasanya si bu Rohalus. 🤣😂


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2