Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
SERATUS DELAPAN


__ADS_3

Salah satu ruang perawatan khusus pasien VVIP yang dihuni Mentari kini tampak ramai dikunjungi para tamu yang ingin menjenguk Mentari maupun melihat bayi-bayi mungil yang baru kemarin Mentari lahirkan.


Sepasang bayi mungil berjenis laki-laki dan perempuan itu tampak begitu menggemaskan. Wajah keduanya merupakan perpaduan antara wajah Mentari dan Jervario, meskipun wajah Jervario lah yang lebih dominan, tapi tetap tak mengurangi kadar ketampanan dan kecantikan kedua bayi mungil itu membuat siapapun yang melihatnya seketika jatuh hati.


Para tamu datang silih berganti dan kini giliran perwakilan karyawan dari MTR Furniture yang datang, termasuk Shandi.


Awalnya Shandi tidaklah diajak, tapi setelah memohon dan memelas, Shandi seakan mengabaikan harga dirinya, akhirnya perwakilan MTR Furniture pun mengizinkannya turut serta pergi ke rumah sakit.


Dengan mata berkaca-kaca, Shandi memandang kedua bayi mungil yang diletakkan di dalam box khusus bayi. Karena berat badan keduanya normal, kedua bayi kembar itu pun tidak perlu dimasukkan ke dalam inkubator.


Tangan Shandi bergetar, ingin rasanya ia menggendong bayi mungil tersebut, tapi ... ia malu, ia takut, dan ia tidak berani meminta izin menggendong kedua bayi mungil tersebut. Batinnya bergejolak dan nelangsa, membayangkan ia takkan mungkin memiliki kesempatan untuk memiliki bayi mungil seperti bayi mantan istrinya itu.


"Pak Shandi pingin gendong dedek bayinya?" tanya salah satu staf wanita pada Shandi. Staf wanita itu dapat melihat keinginan besar Shandi yang berharap bisa menggendong bayi mungil yang kini sedang berada dalam gendongannya.


Shandi mengangkat wajahnya, ia mengangguk, kemudian menggigit bibir, "apa ... boleh?" tanyanya ragu.


Staf wanita itupun segera menghampiri Mentari dan memberitahukan keinginan Shandi tersebut. Mentari mengalihkan pandangannya pada Shandi yang tertunduk lesu. Ia dapat melihat seberkas luka dan kesedihan dari netra mantan suaminya. Mentari dapat merasakan, betapa Shandi menginginkan memiliki seorang bayi, tapi sayang, keinginan itu takkan mungkin terwujud. Kondisinya tidak memungkinkan baginya untuk memiliki seorang bayi yang berasal dari benihnya sendiri. Kata-kata yang sering dilontarkan mendiang ibunya pada Mentari bagai kutukan untuk dirinya sendiri. Shandi hanya bisa meratapi takdirnya yang sampai kapanpun takkan pernah memiliki seorang anak, darah dagingnya sendiri.


Mentari tidak sejahat dan setega itu untuk membalas semua rasa sakit yang pernah ia terima, jadi ia pun mengangguk sebagai jawaban persetujuan. Staf wanita itupun tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.


"Ini pak, silahkan digendong. Bu Mentari sudah mengizinkan," ujar staf wanita itu membuat Shandi terperangah. Bola-bola kaca kini telah menyelimuti matanya, bahkan kini telah menggenang di pelupuk matanya.


Diterimanya bayi kecil berjenis kelamin perempuan itu ke dalam gendongannya. Ditatapnya bayi perempuan itu dengan perasaan haru. Ia tak menyangka, Mentari masih bisa sebaik itu dengan dirinya. Mengingat segala sakit yang pernah ia torehkan pada sang mantan istri, ia pikir, Mentari akan membalasnya dengan siksaan batin tak terperi, termasuk tidak mengizinkannya menggendong bayinya, tapi tidak. Mentari memang bukanlah wanita yang jahat. Ia tak mau membalas dendam atas segala rasa sakitnya pada dirinya. Mentari justru tetap berbuat baik padanya.


Rasa haru kian membuncah, bola-bola bening bak kaca itu akhirnya pecah membentuk aliran sungai di pipi Shandi. Diciumnya bayi kecil itu dengan penuh cinta. Didoakannya bayi mungil itu agar jadi anak sholehah dan berbakti pada orang tua serta bisa menjadi anak yang baik dan membanggakan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Beberapa staf yang melihat bagaimana Shandi tergugu pun menatapnya heran. Beberapa staf wanita yang melihat Shandi terisak justru ikut meneteskan air matanya. Entah mengapa, mereka seperti bisa merasakan kesedihan yang Shandi rasakan. Begitu pula Mentari, hatinya yang memang lembut tak urung ikut merasakan kesedihan sang mantan. Dalam hati ia berdoa, semoga mantan suaminya itu bisa menjemput bahagia meskipun bukan dengan dirinya.


'Jadi anak yang baik ya, sayang. Jadilah anak sholehah, pintar, berbakti, dan membanggakan mama dan papa. Om sayang sama kalian. Semoga, kita bisa berjumpa lagi di lain waktu,' batin Shandi.


...***...


"Mamiiii ... " pekik Asha saat melihat sang ibu pulang ke rumah.


Ya, tepat 3 hari setelah hari persalinannya, Mentari pun telah diizinkan pulang ke rumah. Karena Mentari melahirkan secara normal, membuat fisiknya lebih cepat pulih. Namun tetap, ia harus menjaga kesehatannya agar kondisi fisiknya benar-benar pulih seperti sedia kala.


Mentari tersenyum melihat putri sulungnya berlarian ke arahnya.


"Asha kangen mami. Adek bayi mana, mi? Asha mau lihat?" seru Ashadiva dengan bola mata berbinar ceria.


Asha pun mengangguk penuh semangat, lalu ia memegang tangan Mentari untuk membantunya masuk ke dalam rumah. Mentari tersenyum lebar mendapatkan perhatian dari Putri sulungnya itu.


Mentari melangkahkan kakinya sedikit lebih lambat dari biasanya sebab bagian intinya masih merasakan sakit. Mentari tak pernah tahu, sehabis melahirkan, intinya akan dijahit. Awalnya ia terkejut saat melihat benda seperti kail yang dipegang sang dokter. Ia pun lantas bertanya dan dalam sekejap matanya terbelalak saat tahu, intinya akan dijahit. Tujuannya agar ukurannya kembali seperti semula setelah sempat dirobek untuk mempermudah bayi keluar dari dalam sana.


"Bang, emangnya mesti dijahit? Kan sakit, bang?" bisik Mentari saat itu.


"Ya iyalah sayang, kalau nggak dijahit, entar nggak sempit dan menggigit kayak biasanya. Kan nggak enak. Kamu tenang aja, sakitnya cuma sementara kok. Itu kan untuk kenikmatan kita bersama," jawab Jervario santai membuat Mentari mencubit pinggang suaminya itu gemas. Sayang, ia tidak bisa mencubit kuat-kuat karena tenaganya yang benar-benar terkuras.


"Cuma sementara? Emang kamu udah pernah merasakan dijahit anunya?" balas Mentari mendelik masih dengan bisik-bisik.


"Udah dong," jawab Jervario benar-benar santai membuat mata Mentari melotot. "Nggak percaya?" tanyanya dengan alis terangkat ke atas.

__ADS_1


"Ya iyalah, emangnya Abang pernah melahirkan sampai bisa tahu rasanya?"


"Dijahit anu itu nggak mesti saat melahirkan aja, sayang. Tapi juga bisa pas kita sunat. Abang dulu kan sunat masih dengan metode tradisional, mana ada sunat laser kayak sekarang. Jadi abang pun udah pernah merasa dijahit di daerah anu alias golok naga Abang," jawab Jervario membuat mata Mentari melotot kemudian kembali melayangkan cubitannya. Ia mengulum senyum, ada-ada saja jawaban suaminya itu, pikirnya. Masa' jahitan pasca melahirkan disamakan dengan jahitan setelah sunat.


"Abang nyebelin."


"Tapi ngangenin kan!"


"Ck ... mana ada."


Jervario terkekeh melihat ekspresi sebal dari sang istri.


"Jahitnya udah selesai, Bu," ucap dokter yang baru saja menjahit area intinya membuat Mentari membelalakkan matanya karena tidak sadar proses menjahit area intinya telah selesai sebab ia tidak merasakan rasa sakit itu sama sekali.


Jervario tersenyum, sebenarnya ia tadi sengaja terus mengajak Mentari berbincang. Tujuannya tentu saja untuk mengalihkan perhatian istrinya agar tidak terlalu tegang apalagi ketakutan yang justru bisa memicu kesakitan. Sebab bila kita terlalu tegang, justru proses menjahit akan lebih terasa menyakitkan.


Mentari menoleh ke arah Jervario, meraih tangannya, kemudian mencium punggung tangannya.


"Makasih ya bang udah selalu ada untuk Riri," ucapnya penuh ketulusan.


"Apapun akan Abang lakukan untukmu dan kebahagiaanmu, sayang. Love you."


"Love you, too," balas Mentari yang mendapatkan balasan balik dari Jervario dengan sebuah kecupan di dahinya.


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2