Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
TIGA PULUH ENAM


__ADS_3

Air mata hampir saja jatuh dari sudut mata Mentari, tapi Mentari segera menyekanya. Ia tak .aku terlihat rapuh di hadapan orang lain meskipun itu adalah Galih.


"Kamu jangan putus asa. Jangan juga insecure. Kakak yakin, kamu pasti akan bertemu orang yang benar-benar mencintai dan menerima segala kekuranganmu. Dan kakak yakin, kamu pun akan memiliki seorang bayi yang lahir dari rahimmu sendiri. Kakak selalu mendoakanmu," ucap Galih sambil mengusap puncak kepala Mentari.


Mentari pun tersenyum lebar. Ia beruntung dipertemukan orang-orang yang menyayanginya dengan tulus seperti Galih dan Jeanara.


"Ya udah, kita segera ke kantin sekarang. Perut Riri udah keroncongan banget, cacing-cacingnya udah demo minta dikasi makan," seloroh Mentari membuat Galih terkekeh kemudian merangkul pundak Mentari keluar dari ruangannya.


"Nggak usah pake rangkul-rangkulan deh kak. Entar aku dikirain selingkuhan kakak kan bisa berabe," sergah Mentari sambil menurunkan tangan Galih dari pundaknya membuat Galih tergelak, pun Belinda yang berjalan di belakangnya ikut mengulum senyum.


"Ck ... malah ngetawain." Protes Mentari.


"Kenapa? Takut kehilangan fansnya di kantor ini ya!" goda Galih.


"Ih, apaan coba! Fans dari mana? Emang Riri artis? "


"Eh, dia nggak tahu kalau sekarang sedang jadi idola orang kantor, ya nggak Bel? Kamu tahu kan?" celetuk Galih sambil menoleh ke arah Belinda.


"Saya dengar-dengar sih begitu, pak," sahut Belinda diplomatis.


Mentari hanya terkekeh. Ia hanya menganggap ucapan Galih dan Belinda sebagai gurauan.


Setibanya Mentari, Galih, dan Belinda di kantin kantor, suara riuh pun mulai terdengar. Para karyawan mulai berbisik-bisik melihat bos besar mereka memesan makanan di kantin kantor dan makan di salah satu meja dengan santai. Mereka pikir yang namanya bos apalagi bos besar pasti takkan mau makan di tempat seperti itu. Tapi ternyata, bos besar mereka berbeda. Bahkan Mentari makan di sana dengan santainya.


Sontak saja, kantin kantor yang biasanya tidak begitu ramai karena karyawannya lebih suka makan di luar apalagi di sekitar kantor mereka banyak cafe maupun restoran, kini justru dipenuhi karyawan. Bahkan para staf tinggi perusahaan dari kepala divisi dan branch manager memilih makan di kantin perusahaan. Tentu mereka melakukan itu dengan berbagai alasan. Ada yang ingin melihat bos besar mereka dari dekat, ada yang karena memang mengagumi, dan ada juga yang mencoba mendekati alias pdkt.


"Ssst ... lihat tuh, kayaknya pak Arga makin gencar deketin Bu bos ya!"


"Iya, tadi pagi aja pas Bu bos baru sampai langsung disambut sama dia. Bisa romantis juga tuh si galak."


"Ssst ... ngomongnya jangan kenceng-kenceng, tau sendiri kalo dia lagi marah."


"Wah, pak Bisma nimbrung juga cuy, si duren nggak mau kalah kayaknya."


"Noh, liat tuh, pak Genta, baru nongol dari lift, kira-kira dia mau ikut nimbrung juga nggak ya?"


"Waw, pesona Bu bos emang top banget! Semua yang single kayaknya pada gercep deketin. Jadi penasaran sama mantan laki Bu bos ya kok bodoh banget cerein Bu bos yang duileh."

__ADS_1


"Jangan-jangan mereka cerai karena ada pelakor! Aku yakin, Bu bos nggak terima terus milih cerai, ya pasti gitu."


"Sama, aku juga mikir gitu. Pasti dia nyesel tuh lepasin berlian demi pecahan batu koral."


Sontak saja selorohan karyawan MTR Furniture itu membuat semua karyawan lainnya yang ikut bergosip ria tertawa terbahak-bahak. Hanya satu orang yang tidak, orang itu tidak lain adalah Shandi.


Wajah Shandi tampak kecut. Bahkan ia jadi tak berselera makan karena menjadi bahan bully-an tanpa sadar rekan-rekan kerjanya.


"Untung saja nggak ada yang tahu kalau akulah mantan suami Mentari. Kalau mereka tahu, pasti aku bakal jadi bahan bully-an orang satu kantor tak henti-henti."


Tentu saja kalimat itu hanya berani Shandi ucapkan dalam hati.


Sesekali ekor mata Shandi melirik ke arah meja panjang dimana Mentari berada. Padahal di kantin itu masih banyak meja lain, tapi para pria lajang berjabatan tinggi justru memilih duduk di satu meja dengan Mentari semua. Shandi memang tak bisa memungkiri, pesona mantan istrinya itu memang sejak dulu luar biasa. Tapi kini, semua makin luar biasa apalagi setelah bercerai dengannya.


Dengusan kasar terdengar dari bibir Shandi membuat semua rekan kerja yang satu meja dengannya menoleh.


"Kenapa loe? Nggak selera makan?" celetuk salah seorang rekan kerja Shandi.


"Apaan sih loe?" sengit Shandi menoleh ke arah rekan kerjanya itu.


"Apa? Loe serius?"


"Pak Shandi, beneran itu?"


"Huahahahh ... "


"Aduh, aduh, kasihaaaan! Cemburumu salah tempat, pak!" koor beberapa rekan kerja Shandi.


Wajah Shandi merah padam karena menjadi bahan olok-olok rekan kerjanya. Karena kesal, ia gegas berdiri. Terdengar bunyi decit kaki kursi yang beradu dengan lantai saat Shandi berdiri membuat berapa pasang mata termasuk Mentari menoleh ke arahnya. Dengan perasaan yang bergemuruh, Shandi berlalu begitu saja bahkan ia meninggalkan makanannya yang belum tersentuh sama sekali. Tak ada yang begitu mempedulikan Shandi yang sedang kesal. Setelah kepergian Shandi, mereka pun kembali melanjutkan kegiatan mereka sambil sesekali menertawakan kebodohan Shandi yang menaruh hati pada bos besar mereka, sungguh tak setara pikir mereka. Tanpa mereka ketahui, hal tersebut menambah daftar penyesalan Shandi yang telah menyia-nyiakan dan melepaskan Mentari.


...***...


Pulang bekerja, Shandi masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan keberadaan sang mama yang tengah menonton televisi. Shandi langsung saja menghempaskan bokongnya di atas sofa kemudian memejamkan matanya membuat Rohani yang wajahnya tak secerah biasanya itu pun menoleh dengan dahi berkerut.


"Kamu kenapa, Shan?"


Tapi Shandi justru tak bergeming, mengabaikan pertanyaan sang ibu.

__ADS_1


"Shandi, kamu tuh kenapa? Orang tua nanya kok nggak dijawab. Kamu bisu apa tuli sih!" hardik Rohani kesal melihat wajah masam sang putera.


"Mama bisa diam nggak sih? Aku pusing, ma," ketus Shandi dengan suara meninggi.


"Kamu berani membentak mama?"


"Salah mama sendiri, udah aku bilang diam, masih aja nanya. Udah aku bilang aku lagi pusing." Kesal Shandi. Ia sampai mendengkus. Berharap di rumah dapat ketenangan, justru kekesalannya kian menjadi.


"Mama itu nanya karena khawatir sama kamu, kok kamu malah marah sih!" sentak Rohani kesal.


"Mama khawatir? Sejak kapan mama khawatir sama aku? Mama itu nggak pernah peduli sama aku, kebahagiaan aku."


"Apa maksud kamu? Kapan mama nggak peduli, hah? Kapan?" Suara Rohani makin meninggi tidak terima dengan ucapan Putra sulungnya tersebut.


"Mama tanya kapan? Mama selalu mengusik rumah tanggaku dan Tari itu apa namanya? Gara-gara mama selalu memojokkan Tari, gara-gara mama memaksaku menduakan Tari, gara-gara mama memaksaku menceraikan Tari, kini kehidupanku kacau, ma. Kebahagiaanku hilang. Aku itu hancur ma," sentak Shandi dengan wajah merah padam membuat Rohani tertegun.


"Kalau kamu memang masih mencintainya, kejar lagi saja, bujuk dia biar mau kembali sama kamu. Mama yakin dia pasti mau. Kalau perlu, janjiin dia kalau kamu akan menceraikan Erna saat ia melahirkan. Mama janji nggak akan usik kalian lagi nanti," ucap Rohani enteng. Seolah perasaan Mentari itu tidaklah penting. Seakan Mentari itu cinta mati dengan Shandi sehingga bisa dengan mudahnya diraih lagi hanya dengan kata-kata cinta.


"Tapi apa itu mungkin, ma?"


"Kenapa nggak mungkin? Mama yakin, dia pasti masih mencintaimu."


"Tapi saingan Shandi kali ini banyak, ma, dan mereka jauh di atas Shandi. Bukan hanya dari segi pekerjaan, tapi juga wajah dan kecerdasan. Shandi di kantor saja jadi bahan olok-olokan karena menduga Shandi jatuh cinta sama bos sendiri."


"Hah? Kamu serius?"


Shandi mengangguk lemah.


"Jangan putus asa dong! Usaha dulu. Nanti setelah kamu berhasil, pecat semua orang yang sudah mengolok-olokmu itu biar tahu rasa!" ucap Rohani dengan jumawa seolah yakin rencana mereka akan berhasil.


Shandi ragu, tapi ia hanya mengangguk saja. Tak ada salahnya mencoba, bukan, pikirnya.


...***...


Oh Bu Rohalus, tingkat percaya dirimu ternyata tinggi sekali. 😂🤣😝


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2