
Hari ini Mentari sedang merasa benar-benar lelah sebab hari ini ia harus menyambangi beberapa tempat, mulai dari tempat meeting dengan klien, gudang produksi, dan gudang bahan baku produksi. Alhasil, tubuhnya terasa remuk redam. Bahkan untuk memasak maupun menyiapkan makanan saja ia merasa enggan.
"Hufth ... " Mentari menghembuskan nafas lelah. Ia tinggal seorang diri, mau tak mau ia harus memaksakan diri untuk makan walau sedikit. Beruntung Mentari tak neko-neko dalam urusan makanan, hanya dengan sambal terasi saschetan dan kerupuk saja ia sudah bisa makan dengan cukup lahap.
Baru saja separuh nasi yang ia makan, terdengar suara bel yang ditekan hingga berkali-kali, membuat Mentari mendengkus dan segera mencuci tangannya untuk melihat siapa yang datang.
Sebelum membuka pintu, Mentari melihat ke layar interkom di samping pintu dan ingin rasanya Mentari mengumpati seseorang yang tengah berdiri dengan wajah lempengnya di depan pintu unitnya.
Mentari pun gegas membuka pintu dengan wajah ditekuk masam dan baru saja mulutnya terbuka hendak menyembur laki-laki menyebalkan itu, tapi setelah melihat beberapa orang yang ada di sampingnya membuat mata Mentari terbelalak dengan mulut menganga. Rahangnya serasa jatuh karena terlalu terkejut melihat kedatangan beberapa orang yang tak terduga itu.
"Assalamu'alaikum calon istri," ucap Jervario sambil diam-diam mengerling nakal membuat Mentari melotot seolah meminta penjelasan mengapa ia datang bersama keluarganya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sebelumnya.
"Assalamu'alaikum calon ipar," ucap Jeanara sambil tersenyum mengejek membuat Mentari rasanya ingin menangis saja.
'Dasar temen sama sodaranya sama-sama nggak ada akhlak. Masa' datang ke sini sama orang tua mereka tanpa ngabarin lagi sih." Geram Mentari dalam hati sambil melirik ke penampilannya yang benar-benar kacau. Ia tengah memakai piyama bermotif abstrak warna biru, rambut dicepol asal, dan wajah pucat tanpa olesan sama sekali. Emangnya kue nastar perlu dioles kuning telur biar glowing. 😝
"Assalamu'alaikum, nak," ucap Nanda yang langsung berhambur memeluk tubuh Mentari yang sama tingginya dengan mama Jervario itu.
"Wa-wa'alaikum salam. Si-silahkan masuk Om, Tante, mas Abdi, Jea," ucap Mentari mengabaikan keberadaan Jervario yang sudah melotot tak percaya sebab Mentari tak menyebutkan namanya untuk mempersilakan masuk.
Jeanara terkikik geli melihat ekspresi sang saudara kembar yang tampak kesal.
"Jangan marah, entar lamarannya ditolak, tahu rasa loe!" bisik Jeanara membuat Jervario mendengkus.
'Awas saja, setelah menikah, aku pasti akan menghukummu berteriak hingga sepanjang malam,' gumam Jervario dalam hati sambil menyeringai yang disaat bersamaan Mentari menoleh ke arahnya. Melihat Jervario menyeringai, tiba-tiba membuat Mentari bergidik ngeri.
'Dia kenapa senyum-senyum kayak gitu? Apa yang dia pikirkan? Atau jangan-jangan dia berpikir mau balas dendam karena aku cuekin dia? Duh, gawat kalau benar! Aku harus baik-baikin dia daripada entar dia berbuat yang aneh-aneh,' gumam Mentari sambil mengusap tengkuknya yang merasa merinding.
Setelah mempersilahkan tamunya duduk, Mentari hendak beranjak membuatkan minuman untuk para tamunya. Tanpa ia sadar, Jeanara mengekorinya dari belakang. Melihat makan malam Mentari yang masih terkapar di meja, sontak saja membuat Jeanara memekik kaget.
"Astaga Ririiiii, kamu itu kaya, pemilik perusahaan, tapi makanan loe ampuuun ngalah-ngalahin kang panggul. Mereka aja minimal ada tempe atau tahu, lah loe cuma sama ini ... "Jeanara mengangkat sambal terasi sachetan dan kerupuk yang tinggal separuh.
Karena ruangan yang tidak begitu besar, suara Jeanara terdengar begitu nyaring. Nanda dan Gathan tersenyum sambil geleng-geleng kepala mendengar suara sang putri yang sudah seperti pakai toa. Sedangkan Abdi yang memang telah terbiasa, hanya menghela nafasnya. Untung saja ini bukan tempat umum pikirnya.
"Heh, Jer, loe ini gimana sih? Loe mau Riri jadi bini loe, tapi loe nggak ada perhatian-perhatiannya sama calon bini!" omel Jeanara. "Nih lihat, mana ada gizinya kalau makan kayak gini. Cuma ada karbo aja," imbuh Jeanara membuat mata Jervario memicing.
"Kenapa cuma makan pakai ini aja?"
__ADS_1
"Aku lagi males masak. Lagi capek banget. Jadi cari yang gampang dan tinggal hap ya cuma itu, kenapa?" jawab Mentari tak acuh sambil memasak air untuk membuat minum membuat Jervario gemas dan mencubit pipinya.
"Ri, mau gimana pun seharusnya kamu utamakan kesehatan kamu. Kalau kamu lagi males masak kan bisa delivery order atau hubungi aku kalau kamu pingin sesuatu, jangan kayak gini," ujar Jervario lembut sarat perhatian membuat perasaan Mentari menghangat. Tapi ia tak mau menunjukkan ekspresi senangnya diperhatikan. Ia justru memasang wajah ditekuk.
"Kalian kok nggak bilang sih mau datang ke sini? Aku kaget tahu. Mana penampilan berantakan gini. Aku juga nggak punya apa-apa buat dihidangin," omel Mentari seraya mencebikkan bibirnya.
"Astaga, Je, ambil kue-kue yang mama buat tadi. Hampir kelupaan kan," tukas Jervario memerintah. Saat Jeanara pergi, Jervario langsung memepet tubuh Mentari yang sedang menyusun cangkir.
"Namanya juga surprise, sayang. Udah, nggak perlu terlalu repot, tujuan kami ke sini bukan buat merepotkan kamu."
"Tapi nggak enaklah Jer, ada ortu kamu tapi aku nggak ada apa-apa."
"Nggak usah khawatir, tuh Jea datang lagi. Mama siang tadi udah buat kue jadi pakai kue itu aja."
"Duh, nggak enak banget. Masa' hidangin kue yang Tante bawa sih. Tapi emang sih, nggak ada alternatif lain. Andai kalian ngabarin terlebih dahulu, pasti aku sempetin cari sesuatu dulu."
"Kami nggak mau repotin kamu sayang. Ya udah, yuk ... Je, kamu bisa kan bawa kue nya sendiri ke depan?"
"Siap!! Kalian ke depan aja, kasian mama papa dikacangin. Hehe ..."
"Nak Mentari, pasti sudah tahu kan tujuan Om dan Tante datang ke mari?" Gathan membuka pembicaraan mereka.
"Maaf Om, Riri nggak tahu. Om dan Tante mau datang aja Riri nggak tahu sama sekali. Mereka berdua nggak ada yang ngabarin Riri," ucap Mentari jujur membuat Nanda geleng-geleng kepala.
"Lain kali, kalau mau menemui seseorang, alangkah baiknya dihubungi dulu Jer, gimana kalau tadi Riri nya nggak ada? Repot kan."
"Iya ma, maaf," ucap Jervario.
"Ya udah, nak Riri ... Om ikut Jea sama Jerva aja ya, panggil Riri, boleh?"
"Boleh kok, Om." Mentari tersenyum mendapatkan perlakuan hangat dari Gathan.
"Nak, tujuan kami datang ke mari ingin melamarmu untuk Jerva. Kata Jerva kamu udah bersedia, benarkah?"
"I-iya, Om." Mentari menunduk malu. Ia tak menyangka, Jervario bisa bergerak secepat ini. Tiba-tiba ia mengingat perkataan Jeanara kemarin.
'Astaga, Riri, loe aneh banget sih! Kok bisa-bisanya loe ngira loe cuma halu," decak Jeanara masih dengan tawanya. "Asal loe tau Ri, Jerva itu benar-benar serius. Malah dia udah bilang sama keluarga besar gue tentang keinginannya nikahin loe. Jadi ... loe siap-siap aja ya!" imbuh Jeanara sedikit ambigu.
__ADS_1
'Apa ini yang dimaksud Jea agar aku bersiap-siap saja? Sebab Jerva bila sudah berkata, maka ia akan segera merealisasikannya. Padahal baru kemarin Jerva melamarku dan hari ini Jerva sudah membawa orang tuanya menemuiku.'
"Om, Tante, sebelumnya ada yang ingin aku sampaikan. Entah Jea dan Jerva sudah bilang atau belum, tapi sebelum melangkah lebih jauh, Riri ingin menyampaikan sesuatu tentang alasan perceraian Riri. Om dan Tante pasti sudah tahu kalau Riri ini seorang janda. Riri sudah menikah selama 5 tahun dan dicerai karena tak kunjung hamil. Mantan mertua Riri bilang Riri mandul. Hal itu terbukti sebab belum lama mantan suami Riri berhubungan dengan wanita lain dan wanita itu berhasil hamil. Oleh sebab itu, sebelum pernikahan ini terjadi, Riri ingin berkata jujur agar tidak terjadi sesuatu di masa depan. Riri serahkan keputusan pada Om dan Tante, bila Om dan Tante tidak bisa menerima kekurangan saya, saya akan segera mundur," ucap Mentari dengan kepala tertunduk dalam. Ia menghela nafas hingga beberapa kali. Jervario paham, berat rasa hati Mentari untuk berkata jujur. Ia justru salut, di sela kerapuhannya, Mentari tetap berusaha tegar. Jervario pun menggenggam tangan Mentari yang memang duduk di sebelahnya. Kemudian Nanda segera berdiri dan duduk di sisi Mentari yang kosong. Tanpa ragu, Nanda langsung menarik Mentari ke dalam pelukannya.
Merasakan pelukan seorang ibu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun membuat matahari tak dapat mengontrol emosinya. Tiba-tiba saja tangis Mentari pecah. Segala kepahitan masa lalu bagai kilas balik memenuhi benaknya.
"Sayang, kamu tak perlu khawatir. Mama dan Papa tidak sekejam itu untuk menolak kamu hanya karena tidak bisa memberikan keturunan. Keturunan itu merupakan hak Allah. Bila Allah belum memberi, bukan berarti kau mandul. Zaman sekarang semua serba canggih. Masih banyak jalan untuk memperoleh keturunan. Dan ... kalaupun masih tak bisa, bukankah kalian sudah memiliki Asha?" ujar Nanda membuat tangis Mentari makin pecah karena bahagia ada keluarga yang mampu menerima dirinya dengan tangan terbuka dan jati yang tulus.
"Apa yang dikatakan mama kamu benar, nak. Kami tidak mempermasalahkan itu. Bagi kami yang terpenting adalah kebahagiaan Jerva. Bila ia saja tidak masalah, kenapa kami mempersoalkan. Sebenarnya, Jerva sudah lebih dahulu menceritakan masa lalumu pada kami dan kami tak pernah mempermasalahkannya. Jadi bagaimana nak? Kau mau menerima anak papa yang bandel ini?"
"Pa," sergah Jervario tidak terima dikatakan bandel oleh sang ayah.
Diam-diam Mentari tersenyum, "baiklah, Om, Riri terima."
Semua pun tersenyum bahagia mendengar jawaban singkat tapi melegakan hati mereka semua.
"Papa, Ri, Papa dan mama, mulai sekarang kan kamu udah resmi jadi calon iparku jadi mulai sekarang panggil papa dan mama, iya kan ma?" tukas Jeanara.
"Iya nak. Mulai sekarang panggil kami papa dan mama ya!" timpal Nanda.
"I-iya, ma." Mentari gugup sendiri sekarang.
"Alhamdulillah, karena lamaran udah diterima. Papa putuskan 2 Minggu lagi kalian menikah."
"Apa? 2 Minggu lagi?" seru Mentari benar-benar terkejut. Berbeda dengan reaksi keluarga Jervario yang tampak santai.
Jervario yang melihat ekspresi terkejut Mentari lantas terkekeh membuat Mentari mendelik tajam yang dibalas dengan sebuah kerlingan nakal oleh duda satu anak tersebut.
...***...
Otw kawin gaes!
Eh, nikah maksudnya. 😂🤣
Biarkan para benalu bersantai-santai dulu ya! Mereka pasti akan dapat gilirannya. 😁
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1