
Atas saran dari sang ibu, sejak pagi-pagi sekali Shandi sudah bangun dan menyiapkan segala alat tempurnya untuk menarik perhatian Mentari. Sejak bangun, ia sudah menyiapkan pakaiannya kemudian ia menyetrikanya sendiri hingga benar-benar licin dan rapi. Setelah selesai, ia segera mandi dan bersiap. Tak lupa ia menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya dan menyisir rapi rambutnya. Setelah terlihat sempurna, ia berputar-putar di depan cermin sambil tersenyum lebar.
"Kau memang tampan, Shandi," gumamnya penuh percaya diri. "Tari, tunggu aku."
"Mas, kamu ngapain senyum-senyum sendiri kayak gitu? Terus ... "
Erna yang baru bangun dari tidurnya sungguh terkejut melihat penampilan suaminya yang telah rapi. Shandi bahkan sampai tersenyum-senyum sendiri di depan cermin membuat Erna memicing curiga.
Erna lantas turun dari atas ranjang kemudian mengitari Shandi sambil mengendus-endus aroma tubuhnya yang semerbak. Shandi yang diperhatikan seperti itu, jelas saja menjadi gugup. Ia tak mau Erna sampai curiga dengan rencana terselubung dirinya yang ingin kembali memikat Mentari.
"Tumben rapi banget. Mana wangi banget lagi. Kayak mau pdkt aja.nAtau jangan-jangan mas mau ... "
"Apa sih? Aku dulu juga gini, selalu rapi dan wangi.Tari selalu mengurus keperluanku dan melayaniku dengan baik. Cuma semenjak nikah sama kamu aja penampilanku jadi kacau, berantakan, tak terurus. Kayak duda ditinggal mantan istri nikah lagi aja. Apa kamu nggak malu? Aku kerja di perusahaan mantan istri aku lho, pasti dia ngetawain aku karena jadi kayak gembel setelah cerai dari dia. Yang bakal malu nanti, siapa coba? Pasti kami, dikira urus suami nggak becus. Syukur-syukur pagi ini aku bangun cepat jadi sempat menyetrika baju, kalau nggak ckckck ... ngegembel lagi," potong Shandi sambil mendelik tajam. Memangnya hanya Erna saja yang bisa mendelik dan mengomel, dia juga bisa.
Mata Erna sontak saja melotot mendapatkan kata-kata penuh sindiran nan pedas itu. Ia memang menyadari, penampilan Shandi sangat berbeda jauh dari sebelum menikah dengannya. Bukan jauh lebih baik, tapi sebaliknya, kacau, berantakan, dan tak terurus. Tapi ia tak mau diperbudak seperti Mentari yang bodoh, pikirnya.
"Mas bisa menyetrika sendiri kan?" tanya Erna sambil melipat tangan bersedekap di depan dada.
Shandi mengangguk dengan sorot mata memicing.
"Nah, karena mas bisa sendiri baguslah. Artinya aku nggak perlu nyetrikain baju kamu lagi kan. Aku bukan ibu rumah tangga yang kerjanya cuma urus rumah. Tapi aku wanita karir. Kerjaku di kantor. Syukur-syukur aku mau hamil anak kamu, mas, kalo nggak ... "
"Ck ... yayaya, selalu saja kehamilanmu yang kau jadikan alasan. Terserah kau saja, aku mau pergi sekarang," ketus Shandi yang mulai jengah dengan sifat dan sikap Erna. Dalam hati Shandi mencibir, ini nih menantu kebanggaan mamanya. Mentang bisa hamil dan punya pekerjaan segalanya jadi alasan. Lihat Mentari-nya ...
Mentari-nya? Ah, yang benar saja kau Shandi!
Lihat Mentari-nya, meskipun hanya berada di dalam rumah, tapi ia bisa membesarkan sebuah perusahaan yang kini produknya sudah di kenal seantero negeri. Bahkan sudah ada beberapa negara pengimpor produk-produknya, tapi pekerjaan rumah khususnya mengurus suami tetap lancar-lancar saja. Mentari-nya hanya memiliki satu kekurangan saja, belum kunjung hamil. Andaikan Mentari hamil, ah dunia pasti sudah ada dalam genggamannya. Kesempurnaan akan menjadi miliknya dan Shandi akan menjadi laki-laki paling beruntung memilikinya.
Tapi apakah hal itu masih berlaku?
Apakah Mentari masih mau sama kamu Shandi?
Lupa kau sudah talak tiga mantan istri terindahmu itu?
__ADS_1
Amnesia kau, Shandi?
Dasar, kutu kupret! Hahaha ...
...***...
Dengan senyum merekah bak bunga-bunga yang sedang bermekaran di taman, Shandi melangkahkan kakinya menuju lobby perusahaan. Ia duduk tak jauh dari kursi yang ada di lobby dengan posisi tepat menghadap ke arah pintu. Besar harapannya ia bisa menyambut kedatangan Mentari, membukakan pintu untuknya, lalu berjalan beriringan mengantar menuju ruangannya.
Namun, belum juga niatnya terealisasi, para pesaing ternyata telah tampil dengan gaya terbaik mereka. Mereka berjajar di balik pintu seakan ingin menyambut tamu kehormatan. Sambil merapikan penampilan yang aduhai membuat mata silau dan terpukau.
Shandi menunduk memperhatikan penampilan dirinya, rapi sih, tapi ... semua yang dipakainya tidak se'wow mereka. Shandi merutuki dalam hati, kalau begini, bagaimana ia bisa memenangkan hati Mentari, coba? Belum melangkahkan maju saja ia sudah dipukul mundur telak.
"Haish, sial! Ngapain juga tuh semua orang pada di sana? Sok kecakepan semua. Awas aja, kalau aku berhasil mendapatkan Tari lagi, aku pecat kalian semua. Biar pada tahu rasa. Tari itu cuma milik aku, tahu. Aku itu mantan terindahnya. Pasti Tari akan lebih memilih aku dibanding kalian. Dasar, menyebalkan," omel Shandi bersungut-sungut. Ia kesal bukan kepalang melihat orang-orang itu.
Tak lama kemudian, sorot mata kesal itu berubah berbinar cerah. Apalagi penyebabnya kalau tidak karena ia melihat Mentari-nya tiba.
Membuang rasa malu ia bergegas berlari menuju pintu lobi sampai mengagetkan Arga yang baru saja memegang handel pintu sebab Shandi yang langsung menyerobot.
Mentari yang baru saja berdiri di ambang pintu jelas saja terkejut dengan ulah para karyawannya tersebut.
"Kau itu ada sopan santun tidak sih?" hardik yang lainnya.
"Ah, maaf Bu Mentari atas ketidaksopanan staf ini," ujar Arga meminta maaf atas nama Shandi.
"Tari ah maksud saya Bu Mentari, bisa saja bicara sebentar?" tutur Shandi tak peduli pada tatapan nyalang semua orang. Yang jadi fokusnya saat ini adalah Mentari.
"Maaf, saya sibuk," jawab Mentari dingin dan datar membuat Shandi seketika seakan membeku.
'Sabar Shandi, mungkin Tari masih marah dan kecewa padamu. Pelan-pelan saja, dia pasti akan kembali padamu," batin Shandi bermonolog.
Sesaat setelah Mentari dan Belinda menjauh, para pesaing Shandi pun meringsek Shandi sambil menatap sinis.
"Kamu ... sepertinya familiar." Bukan familiar sebagai seorang karyawan, tapi hal lain."Oh ya, aku ingat, bukankah kau ... "
__ADS_1
"Yang di berita viral itu? Yang satu keluarga kena usir dari rumah mantan istri ... "
"Terus rumahnya dihancurkan mantan istri sampai hancur berkeping-keping?"
"Ya aku ingat. Jadi ... itu kamu?"
"Lalu sekarang kau mau unjuk gigi ingin mendapatkan Bu bos?"
"Sepertinya otak dia udah miring, pak Arga," celetuk salah seorang dari mereka.
"Hahahaha ..."
"Kau pikir Bu Mentari mau sama laki-laki kayak kamu? Mimpi aja kau saja."
"Hahahaha ..."
Dengan tangan yang mengepal dan gigi bergemeluk, Shandi pun segera berlalu dari sana.
"Tunggu saja kalian, saat Tari kembali jadi istriku, aku bukan hanya akan memecat kalian, tapi juga membuat kalian tak bisa diterima perusahaan manapun alias blacklist," gumam Shandi dengan amarah yang menggelegak.
Sementara itu, di ruangannya Mentari tersenyum sinis sambil melihat layar laptopnya atau lebih tepatnya CCTV lobby perusahaannya. Mentari geleng-geleng kepala, ada-ada saja tingkah mantan suaminya itu pikirnya.
Saat sedang asik menyaksikan layar laptopnya, tiba-tiba saja ponselnya berdering nyaring. Tangan Mentari pun terulur mengambil ponselnya yang terkapar di sebelah laptopnya. Kemudian tanpa memalingkan pandangannya sedikit pun, Mentari menggeser ikon telepon berwarna hijau di layar ponselnya itu hingga terdengarlah suara seseorang yang sukses membuatnya terperanjat kaget.
"Halo, Ri ... "
"Ha-halo juga ... "
...***...
Si Shandi udah ketularan sengak-nya Mak Rohalus, gaes. Halunya ketinggian. 😂🤣🤪
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1