
"Kak Shandi," panggil Septi saat melihat kakaknya keluar dari dalam kamar dengan penampilan yang sangat-sangat jauh berbeda dari saat Mentari masih menjadi istri kakaknya itu. Terkadang ia merasa iba sendiri dengan apa yang kakaknya alami. Lebih-lebih kini keluarganya benar-benar berantakan. Setelah peristiwa perselingkuhan Erna terkuak, Shandi memang langsung mengurus proses perceraiannya. Erna pun tak berani kembali lagi ke rumah itu setelah diusir tempo hari. Mamanya pun sudah tahu kalau sebenarnya anak laki-lakinya itulah yang mandul, bukan mantan menantunya. Hal tersebutlah yang membuat kadar penyesalan seorang Rohani kian menjadi-jadi sehingga kesehatannya pun tak ada peningkatan yang signifikan.
Bagaimana dengan Septi?
Dia masih kukuh dengan sikap angkuhnya. Apalagi karena merasa hidupnya kini lebih baik sebab pertama ia bisa hamil dan kedua karena ia memiliki calon suami yang kaya raya. Padahal Septi belum sekalipun diajak bertemu dengan orang tua Edward tapi ia seolah sudah sangat yakin akan diterima orang tua Edward dan mereka akan segera menikah dalam waktu dekat.
Septi memang iba dengan apa yang kakaknya alami, tapi hal tersebut tak serta merta menyadarkannya akan kesalahannya selama ini pada mantan kakak iparnya tersebut. Dalam kamusnya, tak ada kata penyesalan apalagi meminta maaf. Sungguh orang yang tinggi hati.
"Hmmm ... " Shandi hanya menyahut Septi dengan gumaman sambil berjalan menuju lemari es kemudian mengambil botol berisi air putih dan meminumnya. Tak ada kopi, teh, ataupun sarapan apapun sebab tak ada yang bisa mengurusi hal seperti itu lagi. Ibunya sakit, Septi? Mana peduli. Masih mau membantu mengurus ibunya saja Shandi sudah bersyukur. Shandi bersyukur, Septian kini sudah kembali lagi ke rumah itu. Jadi sebelum pergi sekolah, ia menyempatkan diri menyapu dan mencuci piring serta menanak nasi. Tapi untuk memasak, Septian menyerah. Apalagi ia diburu waktu karena harus segera bersekolah.
Shandi juga baru mengetahui kalau mantan istrinya ternyata masih membiayai sekolah adik bungsunya itu. Sungguh, hal tersebut membuat Shandi merasa amat sangat malu. Padahal ia dan keluarganya telah menyakiti Mentari, tapi ia masih mau membiayai sekolah adiknya itu. Mungkin hal tersebut karena selama ini Septian selalu bersikap baik pada Mentari. Meskipun mereka semua bersikap jahat pada Mentari, tapi berbeda dengan Septian yang begitu menghormati dan menyayangi mantan istrinya itu. Hal itu membuktikan kalau sebenarnya mantan istrinya itu memang sangatlah baik. Mereka saja yang bodoh karena menyia-nyiakan permata seperti Mentari.
"Kak, aku kan masih kuliah. Nggak bisa setiap hari jaga mama, gimana kalau kita sewa art? Biar ada yang bisa mengurus rumah dan juga mama selagi kita nggak ada di rumah," ujar Septi setelah meletakkan ponselnya di atas meja.
Mendengar hal tersebut, Shandi langsung memasukkan kembali botol yang airnya sudah bersisa setengahnya saja itu ke dalam kulkas.
"Kakak sih mau saja tapi keuangan kakak sekarang sedang nggak bagus. Untuk bayar cicilan rumah kita aja kakak masih bingung, Sep. Gimana mau gaji art, coba?" sahut Shandi gusar.
Sebenarnya ia pun membenarkan saran Septi. Tapi ia pun bingung bagaimana harus mengatur keuangan rumah itu, sedangkan penghasilannya saja jauh dari kata cukup. Bahkan mobil yang biasa ia gunakan saja kemarin sudah ditarik dealer karena gagal bayar. Untung saja motornya zaman bujang dulu masih ada. Mentari memang memintanya mempertahankan motor itu sebagai kenang-kenangan katanya. Padahal dulu Shandi pernah berniat menjualnya, tapi ternyata kini keberadaan motor itu sangat berguna.
Lagi-lagi Shandi teringat Mentari. Ia hanya bisa menghela nafas panjang, berharap ia bisa benar-benar ikhlas melepas mantan istrinya itu. Apalagi sepertinya mantan istrinya kini telah begitu bahagia. Ia bukan hanya memiliki suami yang tampak dan kaya raya, tapi juga sangat baik dan terlihat sekali begitu mencintainya.
"Kakak nggak perlu khawatir. Urusan gaji art biar jadi urusanku. Kakak tolong cariin aja orang yang bisa bantu-bantu kalau bisa yang bisa disuruh menginap," ujar Septi yang kemudian segera berdiri dan masuk ke dalam kamarnya.
Sebenarnya Shandi ingin sekali bertanya, sebenarnya apa pekerjaan sang adik, tapi Septi sudah lebih dahulu menghilang masuk ke dalam kamar. Apalagi Septi kerap tidak pulang ke rumah, membuat dirinya bertanya-tanya, sebenarnya pekerjaan apa yang dilakukan adik perempuannya itu.
Sebenarnya sejak menjalin hubungan dengan Edward, Septi sudah tidak bekerja lagi. Untuk apa bekerja pikirnya, sedangkan segala kebutuhannya saja bisa dipenuhi Edwar. Bahkan ia begitu dimanjakan tanpa perlu bersusah payah.
"Baiklah. Nanti aku coba cari," ujarnya lemah kemudian ia bergegas memanaskan motornya dan segera pergi dari sana setelah terlebih dahulu berpamitan dengan sang ibu.
Rohani yang melihat punggung Shandi menjauh keluar dari kamarnya hanya menatap nanar. Segumpal daging berwarna merah di dada kirinya terasa berdenyut nyeri diisi penyesalan yang tiada berarti sebab segalanya kini telah hancur dan semua karena ulahnya.
...***...
__ADS_1
Sesuai ucapannya kemarin, Milea dan Andrian telah berada di sekolah Asha setelah sebelumnya meminta izin pada Jervario ingin menjemput putrinya itu kemudian mengajaknya jalan-jalan. Sebenarnya Asha merasa enggan, meskipun Milea adakah ibu kandungnya, tapi Asha sedikit kurang respect dengan sang ibu. Tapi karena tadi saat di telepon Jervario telah mengizinkan ibunya mengajak dirinya jalan-jalan, Asha akhirnya hanya bisa mengangguk meskipun tak ikhlas.
Kini ketiga orang tersebut sudah berada di taman safari. Di sana Milea tampak bersemangat menunjukkan berbagai macam hewan. Meskipun Asha tertarik, tapi karena ia tidak begitu dekat dengan ibunya, Asha jadi lebih banyak diam. Bahkan ia cenderung tidak mempedulikan Milea dan Andrian yang mengajaknya bicara.
"Kok kamu diam aja, sayang? Kamu nggak suka mommy dan Daddy ajak ke mari?" tanya Milea. Saat ini mereka bertiga sedang berada di salah satu food court yang ada di sekitar taman safari.
Asha terdiam, tidak mungkin kan ia jujur kalau ia bilang ia tidak suka diajak pergi oleh kedua orang itu. Entah mengapa, Asha merasa asing dengan ibu kandungnya sendiri. Padahal dalam seminggu minimal ibunya akan menelpon sebanyak satu kali untuk melepaskan rindu, tapi kenapa saat bertemu ia merasa hambar. Asha benar-benar merasa asing dengan kedua orang itu.
"Atau Asha mau jalan-jalan ke suatu tempat?" tawar Milea.
Asha bungkam, lalu sedetik kemudian ia mengatakan ingin ke suatu tempat yang dibalas kedua orang itu dengan helaan nafas.
Dan di sinilah Asha kini berada. Ia sudah sangat merindukan ibu sambungnya jadi ia meminta Milea dan Andrian mengantarkannya ke perusahaan milik Mentari.
"Jadi istri mantan suamimu itu pemilik perusahaan ini?" tanya Andrian yang mulai bersuara.
"Menurut artikel sih iya," sahut Milea sambil menunjukkan artikel yang membahas tentang pernikahan Jervario dan Mentari yang merupakan owner MTR Furniture.
"Ternyata dia bukan perempuan biasa," gumamnya.
"Aku pun tak tahu, sayang. Bukankah kau ibunya, seharusnya kau lebih tahu bagaimana caranya. Masa' kau kalah dari ibu sambungnya," tukas Andrian seraya menjalankan mobilnya keluar dari pelataran parkir MTR Furniture.
"Aku pun bingung. Asha memang putriku. Putri kandungku, tapi ia seperti tak terjangkau olehku. Mungkin karena aku sudah meninggalkannya begitu saja dulu." Milea pun gusar memikirkan bagaimana cara untuk meluluhkan hati Ashadiva yang keras dan tidak mudah tersentuh olehnya.
"Berusahalah, sayang. Kita tidak punya banyak waktu lagi. Hanya ini satu-satunya harapan kita," ujar Andrian mencoba menenangkan.
"Kau benar, sayang. Kita harus terus berusaha karena hanya Asha yang kini menjadi harapan kita satu-satunya," pungkas Milea sambil menggenggam tangan Andrian yang tidak memegang kemudi.
...***...
"Mami," pekik Asha girang sambil berlarian masuk ke dalam ruang kerja Mentari.
Melihat Asha masuk diantarkan Belinda sontak saja mengubah raut wajah serius Mentari menjadi sumringah. Sungguh, ia begitu menyayangi putri sambungnya itu. Menikahi Jervario ibarat mendapat durian runtuh sebab ia merasa begitu beruntung, selain bisa mendapatkan suami yang baik, tampan, mapan, perhatian, dan hot juga tentunya, eh bonus dapat putri yang cantik dan menggemaskan juga. Beruntung sekali dirinya, bukan.
__ADS_1
"Asha mau minum?" tawar Mentari yang langsung menghampiri sang putri.
Asha menggeleng, ia justru mengulurkan tangannya ingin dipeluk membuat Mentari terkekeh.
"Ternyata putri mami kangen ya?" goda Mentari sambil menjawil ujung hidungnya gemas.
"Iya mami. Coba aja tadi mami ikut, pasti menyenangkan," adu Asha sambil bergelayut manja di pelukan Mentari.
"Lho, emang tadi Asha nggak seneng? Kan Asha jalan-jalan sama mommy?"
"Iya mami. Asha sukanya kalo jalan sama mami."
"Kok gitu?"
Asha menggeleng, ia pun tak tahu harus menjawab apa. Ia pun tak mengerti, ia justru lebih suka dekat dengan Mentari, tidak dengan yang lain meskipun itu ibunya sendiri.
"Asha ngantuk?"
"Iya mami, Asha mau tidur boleh?" tanya Asha dengan mata yang sudah sayu.
Mentari tersenyum kemudian mengecup dahi Asha dengan sayang, "sini, berbaring di sini!" Mentari membimbing kepala Asha agar berbaring di atas pahanya kemudian perlahan-lahan Asha mulai menutup matanya sempurna. Terdengar suara helaan nafas teratur dari Asha pertanda ia sudah lelap dalam tidurnya.
Kemudian Mentari mengambil ponsel yang sempat ia letakkan di atas meja dan menyalakan kameranya. Ia mengambil foto Asha yang sedang terlelap di pahanya dan mengirimkannya pada Jervario. Tak butuh waktu lama terdengar suara notifikasi pesan balasan dari sang suami. Mentari tersenyum saat melihat balasan dari sang suami.
[Kenapa tempatku kamu pinjamkan sama Asha?]
[Jangan terlalu lama pinjamkan pahamu sama Asha, entar dia keterusan. Itukan punyaku.]
[Dasar bapak nggak waras. Masa' mau rebutan paha sama anak sendiri.] balas Mentari dengan kekehannya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...