
Saat sedang asik memperhatikan layar laptopnya, tiba-tiba saja ponselnya berdering nyaring. Tangan Mentari pun terulur mengambil ponselnya yang terkapar di sebelah laptopnya. Kemudian tanpa memalingkan pandangannya sedikit pun, Mentari menggeser ikon telepon berwarna hijau di layar ponselnya itu hingga terdengarlah suara seseorang yang sukses membuatnya terperanjat kaget.
"Halo, Ri ... "
"Ha-halo juga ... "
Mentari terkejut mendengar suara seseorang yang menelponnya itu. Setelah beberapa hari mereka tak saling bersua maupun saling mengapa, atau lebih tepatnya setelah pulangnya Jervario dari apartemen Mentari, mereka tidak saling menghubungi sama sekali. Ya, yang menelponnya siang ini memang seperti dugaan para pembaca, si triplek dilaminating alias Jervario.
Mengenai ucapan Jervario tempo hari, Mentari tidak terlalu memikirkannya. Ia tak ingin terlalu cepat membuka diri bila ujung-ujungnya berakhir patah hati. Bukankah lebih baik menikmati kesendiriannya terlebih dahulu. Obat patah hati bukan melulu cari pengganti, tapi mendamaikan hati dan pikiran itu jauh lebih penting. Apalagi menyadari segala kekurangannya, membuatnya harus lebih sadar diri. Terkadang, satu kekurangan bisa menutupi sejuta kelebihan. Hal itulah yang Mentari takutkan.
Oleh sebab itu, terserah di luar sana katanya banyak yang mencoba mencari celah untuk mendekatinya sebab ia merasa belum siap pun belum mau untuk membuka hatinya.
"Kenapa gugup gitu?" cetus Jervario membuat Mentari lagi-lagi tersentak.
"Ck ... ngapain sih pagi-pagi telepon? Ganggu orang lagi kerja aja," ketus Mentari membuat Jervario menyunggingkan senyum, tapi tentu saja hal tersebut tidak diketahui Mentari. Yang Mentari tahu, Jervario itu pelit senyum. Mau liat senyumnya harus bayar. Walaupun kadangkala ia menangkap senyum terkulum Jervario, tapi itu masih samar.
"Mau ajak makan siang," ujar Jervario santai membuat Mentari menganga tak percaya.
"Hah! Makan siang?" beo Mentari seraya melihat jarum jam di pergelangan yang baru menunjukkan pukul 8 lewat. "Ini aja masih pagi, udah ngajakin makan siang? Dasar edan."
"Emang salah aku bilang mau ajakin kamu makan siang di pagi hari seperti ini? Nggak kan. Aku itu sengaja hubungi kamu sekarang takutnya kamu siang nanti sibuk atau udah nerima janji makan sama orang lain duluan," cetus Jervario membuat Mentari mengangguk membenarkan.
"Kalau aku menolak?"
"Nggak ada penolakan, Ri. Pokoknya aku mau kamu makan siang sama aku. Nanti aku jemput," tegas Jervario membuat mata Mentari melotot.
__ADS_1
"Heh, aku ... "
"Wassalamu'alaikum," ucap Jervario sebelum sempat Mentari menolaknya.
"Maunya apa sih orang ini? Dasar dugaman alias duda ganteng dan mapan, eh ... kok malah muji? Dubel aja deh alias duda nyebelin," gumamnya seraya terkekeh membuat Belinda yang baru saja masuk ke ruangannya lantas mengerutkan kening.
"Si Bu bos kenapa tuh ketawa sendiri? Nggak mungkin kan kejiwaannya terganggu gara-gara mantan keluarga benalunya?" gumam Belinda yang pasti hanya berani Belinda ucapkan dalam hati saja.
...***...
Tok tok tok ...
"Bu, ada yang mau bicara dengan ibu?" ucap Belinda dari ambang pintu membuat Mentari mendongak.
"Tari, izinkan aku bicara sebentar, saya mohon?" pekik Shandi dari depan pintu membuat Mentari mendengkus.
"Katakan padanya, saya sibuk. Saya tidak ada urusan dengannya jadi jangan pernah temui saya selain urusan pekerjaan," tegas Mentari yang diangguki oleh Belinda.
"Tari, jangan begitu, izinkan aku bicara sebentar saja!" mohon Shandi membuat Mentari menggebrak meja. Ia sedang sibuk, tapi Shandi justru terus-menerus mengganggu konsentrasinya.
"Kau mau segera pergi dari sana atau kau mau aku memecatmu sekarang juga!" bentak Mentari membuat wajah Shandi mendadak pucat pasi.
Ia pun segera membalikkan badannya dan pergi dari sana. Tentu ia tidak mau dipecat dari pekerjaannya. Tidaklah mudah untuk mencari pekerjaan saat ini, apalagi dengan gaji yang cukup lumayan di atas standar UMR.
Akibat ulah bodohnya, hari itu Shandi terus-terusan menjadi bulan-bulanan karyawan MTR Furniture. Orang-orang menganggap Shandi seperti pria kehilangan kewarasannya. Bagaimana mereka tidak berpikir seperti itu sebab sikap Shandi sungguh-sungguh aneh.
__ADS_1
...***...
Di pagi menjelang siang itu, Jervario habiskan dengan melakukan briefing dengan beberapa karyawan bagian pemasaran termasuk para SPG. Mereka tengah melakukan pembahasan mengenai strategi pemasaran jemput bola, yaitu mereka akan mencari tahu para pengusaha yang memang memiliki minat besar di bidang otomotif khususnya mobil mewah. Setelah itu, mereka akan memberikan penawaran spesial untuk meningkatan penjualan.
Sebenarnya mereka tidak perlu terlalu berusaha keras apalagi showroom milik Jervario memang telah cukup terkenal oleh orang-orang kalangan atas. Mereka memerlukan strategi ini sebab tidak semua pengusaha maupun para pejabat memiliki banyak waktu luang untuk melakukan survei ataupun melihat-lihat mobil yang menarik daya minat mereka. Untuk itulah, karyawannya dikerahkan untuk mempermudah menerangkan tentang mobil-mobil mewah yang tengah diminati baik di dalam maupun di mancanegara sana berikut segala spesifikasinya kepada para calon pembelinya.
Saat briefing, Erna tak henti-hentinya melemparkan tatapan menggoda dan senyum manisnya ke arah atasannya. Tapi dengan sifat Jervario yang masa bodoh dan kaku, ia benar-benar tak mempedulikan segala godaan yang dilancarkan Erna.
Suara pintu diketuk, kegiatan briefing pun dijeda sejenak sebab ada OB yang mengantarkan minuman ke dalam ruang meeting. Belum sempat sang OB masuk ke dalam ruangan, dengan sigap Erna bergerak dan mengambil alih pekerjaan sang OB. Ia pun membantu menghidangkan satu persatu cangkir berisi minuman itu ke setiap peserta briefing.
"Ini pak kopinya, silahkan diminum!" tutur Erna dengan senyum merekah berharap atasannya itu tergoda. Masa bodoh ia sedang hamil saat ini, bila ia bisa menggaet atasan dinginnya itu, bukankah hidupnya akan jadi lebih terjamin kelak. Tidak melarat seperti yang ia alami saat ini. Ia pikir, hidupnya akan lebih terjamin saat ia menikah dengan Shandi, tapi nyatanya yang terjadi sebaliknya. Masalah demi masalah seperti enggan berlari dari hidup keluarga itu. Apalagi ibu mertua dan adik iparnya itu sudah seperti benalu yang tak henti-hentinya menggerogoti dirinya. Sedikit-sedikit minta duit, emangnya cari duit gampang apa, pikirnya.
"Kamu mau tukar posisi jadi OB? Kalau iya, silahkan!" ucap Jervario datar sambil menatap tajam Erna membuat Erna yang baru saja meletakkan cangkir berisi kopi itu sampai gemetar. Bahkan karena terlalu gemetar, tubuhnya tiba-tiba limbung sehingga nampan yang masih berisi secangkir kopi lagi itu terlepas dari tangannya dan tumpah tepat di punggung telapak kakinya.
"Aaaw ... aduh ... Sshhhhttt ... " Erna mendesis merasakan sakit bercampur panas yang mulai menjalar di punggung telapak kakinya itu.
"Saya paling tidak suka ada membuat kekacauan saat saya sedang melakukan rapat, jadi silahkan keluar dari ruangan saya sekarang!" tegas Jervario membuat Erna tergagap.
"Tapi pak ... " Baru saja Erna hendak angkat suara, tapi Jervario sudah mengangkat sebelah telapak tangannya ke udara membuat Erna pun terpaksa keluar dari sana.
"Sial, susah banget sih narik perhatian pak bos! Mau berpenampilan kayak gimana dan melakukan apa aja, nggak ada yang mempan," gerutu Erna kesal sambil menyiram kakinya dengan air dingin.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1