
"Jangan coba meracuni pikiran calon istriku nenek tua!" hardik seseorang.
Suara bariton nan tegas itu terdengar jelas dan begitu familiar dari belakangnya. Mentari ingin menoleh, tapi ia takut salah duga karena berharap pada sesuatu yang tak mungkin. Mentari memejamkan matanya kembali dengan tangan yang makin mengepal erat, bahkan buku-bukunya tampak memutih.
"Siapa kau, hah, tiba-tiba saja datang dan menghinaku?" balas Rohani sengit.
"Perkenalkan, aku JERVARIO TJOCROAMINOTO, calon suami dari Mentari," ucap Jervario datar dan dingin. Dan jangan lupakan tatapannya yang setajam elang serta mengintimidasi membuat Rohani menegang kaku di tempatnya.
Mentari yang mendengar kata-kata tersebut pun mendongakkan kepalanya. Matanya seketika berkaca-kaca, "Jerva ... "
"Sayang," ucap Jervario yang langsung meraih pundak Mentari dan menariknya ke dekapannya.
Dipeluknya erat tubuh mungil Mentari sambil mengusap punggungnya yang bergetar. Untung saja ia datang di waktu yang tepat, tak tahu bagaimana dengan mental Mentari bila ia datang terlambat sedikit saja, mungkin mental Mentari akan benar-benar jatuh hingga menimbulkan trauma yang mendalam.
Mentari lantas membalas pelukan Jervario tak kalah erat. Jervario sampai-sampai menegang kaku, namun dengan cepat ia menormalkan eskpresinya. Ini merupakan kemajuan tentu takkan ia sia-siakan.
Merasakan kenyamanan yang begitu mendamaikan membuat perlahan pikiran Mentari mulai jernih. Apalagi setelah menghidu aroma parfum bercampur aroma khas tubuh Jervario membuatnya seketika rileks. Dihidunya dalam-dalam aroma itu, membuat syaraf-syaraf yang sempat menegang kembali rileks seolah tak pernah ada beban yang menggangu. Setelah merasa dirinya kembali tenang, Mentari pun mengangkat wajahnya kemudian menatap pria yang masih merengkuhnya itu. Tatapan mata Jervario memang tajam tapi meneduhkan.
Jervario yang merasa dipandangi Mentari dengan lekat seketika menelan ludahnya susah payah. Tiba-tiba saja ia mendekatkan bibir dan mengecup dahi Mentari. Mentari yang mendapatkan kecupan itu memejamkan matanya sejenak lalu dalam hitungan detik dibukanya kembali dengan senyum terulas indah di bibirnya.
Merasa mentalnya telah kembali pulih dari rongrongan kata-kata beracun mantan mertuanya, Mentari pun segera memutar tubuhnya menghadap Rohani. Jervario yang paham pun sedikit merenggangkan pelukannya.
Mata Mentari bersinar cerah membuat Rohani yang sempat tertegun dengan aksi tak terduga pasangan itu sontak mengerjapkan matanya. Apalagi saat ia melihat seringai yang begitu jelas di bibir mantan menantunya itu.
"Apa katamu tadi mantan ibu mertua, takkan ada yang mau denganku dan kalaupun mau pasti keluarganya akan menolak? Benar begitu?" sarkas Mentari dengan sorot mata memicing tajam. "Ah, sayang sekali, Anda salah nyonya. Sangat-sangat salah. Seperti yang Anda dengar tadi, dia ... " tunjuk Mentari pada Jervario sambil menatapnya mesra, "adalah calon suamiku. Apa Anda tahu siapa calon suamiku ini?" tanyanya sambil kembali mengalihkan pandangannya pada Rohani. "Ah, sekali lagi aku perkenalkan pada Anda siapa calon suamiku ini, dia adalah Jervario Tjokroaminoto, pewaris perusahaan property TJ Group dan sekaligus ... " Mentari mejeda kata-katanya agar terdengar dramatis. "pemilik dari JV Showroom tempat menantumu bekerja. Ah, tapi sekarang tidak lagi, iya kan! Dia udah dipecat. Salahnya sendiri sih, suka banget mengganggu calon istri dari pemilik showroom tempatnya bekerja. Kurang-kurang ngaku-ngaku sebagai manager di sana, nggak tahu malu banget. Oh ya satu lagi, asal Anda tahu, keluarganya telah menerima ku dengan tangan terbuka jadi Anda tak perlu mengkhawatirkan aku lagi," cibir Mentari sambil memutar bola mata jengah.
Rohani yang mendengar itu mendadak panas dingin. Ia tak menyangka, janda mandul seperti Mentari bisa memiliki calon suami sehebat itu. Bukan hanya tampan, tapi juga ... sangat-sangat kaya dan berkelas. Tapi apa mungkin? Bisa saja Mentari hanya berbohong, bukan! Bisa saja, laki-laki itu hanya pria sewaan yang sengaja didatangkan Mentari untuk memprovokasi dirinya.
__ADS_1
Rohani tertawa sumbang, "kau tak perlu membual, Tari. Aku yakin, dia hanya pria bayaranmu yang sengaja kau datangkan untuk memprovokasi aku kan! Aku tak sebodoh itu untuk kau tipu," ucap Rohani masih dengan gaya congkaknya.
"Astaghfirullahal 'adzim," ucap Mentari tak habis pikir dengan pikiran sang mantan mertuanya itu. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Jervario, "sayang, nenek peot itu nggak percaya sama kamu? Kira-kira kamu ada ide nggak buat tunjukkin ke dia kalau aku nggak membual?" tanya Mentari dengan memasang ekspresi menggemaskan membuat jantung Jervario rasanya jedag-jedug tak terkendali.
"Sebentar," ucap Jervario lalu ia mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.
"Sudahlah, tak perlu berakting di hadapanku, kau pikir kau siapa, hah? Kau ingin membuktikan jati dirimu dengan cara apa? Kau itu hanya ... "
"Tuan, ini majalah yang Anda minta," ucap seseorang yang baru saja menghampiri Jervario membuat Rohani berhenti berbicara. Seseorang itu adalah sopir pribadi Jervario.
Lalu Jervario menerima majalah bisnis tersebut kemudian melemparkannya tepat di hadapan Rohani. Beruntung tadi sebelum ke sana, ia baru saja menerima majalah bisnis yang memuat tentang dirinya dari sekretarisnya. Karena belum sempat membacanya, Jervario pun membawa majalah tersebut untuk membacanya nanti di saat dirinya tengah senggang. Ia tak menyangka, majalah tersebut dapat sangat berguna saat ini.
"Mata Anda belum katarak kan? Kalau belum, pasti Anda bisa melihat dengan jelas foto siapa yang terpampang di cover majalah tersebut dan membaca apa yang tertulis di atasnya," tukas Jervario.
Dengan memutar bola matanya, Rohani menggeser majalah tersebut. Matanya seketika terbelalak, dipandanginya dengan lekat wajah yang terpampang di majalah tersebut sambil sesekali memandangi wajah Jervario, seolah ingin menyamakan foto yang ada di gambar dengan visual yang ada di hadapannya saat ini.
Deg ...
Rohani sampai kesulitan menelan ludahnya. Tubuhnya mendadak dingin dengan jantung yang tiba-tiba memompa sangat kencang tak terkendali. Bulir-bulir peluh menetes di sekujur tubuhnya. Udara dingin di dalam cafe, ternyata tak mampu membuat bulir itu berhenti mengalir.
Tahu apa yang akan segera terjadi, Mentari pun segera menelpon Shandi. Awalnya Shandi tampak sumringah saat melihat nama penelpon di layar ponselnya. Ia kira, ibunya telah berhasil membujuk Mentari untuk kembali padanya. Tapi apa yang ia dengar di seberang telepon justru membuatnya dag dig dug tak menentu. Tanpa izin dengan atasannya ataupun rekan kerja lainnya, ia segera merogoh kunci mobil dan berlarian menuju tempat parkir.
"Lekas datang ke cafe seberang kantor, jemput ibumu sebelum dia jatuh pingsan!" ucap Mentari dingin kemudian langsung menutup panggilan itu.
Setibanya di sana, Shandi segera berlari masuk ke dalam cafe. Di sana ia melihat Mentari sedang berdiri dengan seorang lelaki yang tengah merangkul mesra dirinya membuat Shandi tiba-tiba mematung hingga pandangannya menangkap sosok sang ibu yang nafasnya sudah tersengal-sengal, barulah ia menghampiri sang ibu.
"Ma ... "
__ADS_1
Baru saja Shandi menghampiri sang ibu, tiba-tiba saja, Rohani jatuh lunglai dan hampir saja luruh ke lantai bila tidak segera ditangkap Shandi.
"Mama ... " pekik Shandi dengan nafas tercekat.
"Yuk sayang, kita segera pergi dari sini! Dramanya juga udah berakhir," sarkas Mentari yang langsung diangguki Jervario.
"Ayo!" sahutnya dengan senyum merekah sambil menatap wajah cantik Mentari di sisinya.
...***...
Gimana part malam ini?
Puas???
Othor ngetik di tengah-tengah migrain lho! Ampun deh, dari pagi udah habis 1 keping bodrek migra, masih aja belum reda ni nyut-nyutan. 😖
Tadinya nggak mau double up, tapi lihat banyak komen jadi semangat update meskipun harus berperang dengan migrain yang nyebelin pake banget.
Terima kasih atas segala dukungannya kak dan semoga suka. 😘🥰
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1