Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
SERATUS


__ADS_3

Malam ini Jervario secara khusus mentraktir pasangan pengantin baru Belinda dan Dario di sebuah restoran mewah. Tentu saja, Dario merasa sangat bahagia. Bila biasanya pengantin barulah yang mentraktir, tapi kini justru atasannya lah yang mentraktir. Tak tanggung-tanggung, Jervario mengajak mereka makan di sebuah restoran mewah yang mendapatkan penghargaan bintang michelin. Penghargaan bintang michelin sendiri merupakan penghargaan tertinggi dalam bidang kuliner. Untuk mendapatkan penghargaan ini, restoran atau tempat makan harus memiliki hidangan dengan cita rasa yang luar biasa dan tentu selalu terjaga kelezatannya.


Sudah jadi rahasia umum, harga menu-menu di restoran bintang michelin tidaklah murah. Harga permenu bisa mencapai jutaan bahkan ada yang puluhan juta. Sungguh kesempatan emas yang tak boleh terlewatkan. Kapan lagi bisa masuk dan menikmati makanan restoran berbintang dengan harga yang bisa menguras kantong coba? Kalau sengaja mengeluarkan dana sendiri, bisa-bisa yang gaji mereka berdua selama satu bulan hanya bisa digunakan sekali makan saja. Rugi dong!


"Terima kasih pak bos atas traktirannya," tukas Dario sumringah. Dario benar-benar memanfaatkan kesempatan ini dengan memesan berbagai menu dan menandaskannya dengan begitu lahap. Belinda sampai merasa malu sendiri dengan tingkah suaminya yang sedikit memalukan.


"Traktir? Ya, memang makan siang kali ini ditraktir. Tapi ... bukan aku yang bayar. Memangnya siapa yang nikah? Kalian kan? Jadi sebagai suami dan sahabat yang baik, bukankah seharusnya kamu mentraktir kami semua yang otomatis kamu lah yang membayar semua yang kita makan. Anggap saja ungkapan syukur akhirnya kamu bisa nikah juga," tukas Jervario sambil mengerutkan keningnya. Sontak saja apa yang Jervario katakan membuat Dario tersedak ludahnya sendiri.


"Kau ... jangan bercanda, Jer! Lihat ini, satu menu aja yang paling murah hampir 1 juta dan steak daging domba ini harganya hampir 2 juta, bisa-bisa tabunganku habis terkuras dong. Aku juga ingin menyiapkan resepsi pernikahanku. Nggak mungkin kan aku cuma nikah kayak gitu doang. Aku juga mau beliin Belinda rumah, kalau tabunganku habis, bagaimana aku bisa beli rumah?" cerocos Dario yang wajahnya sudah benar-benar keruh. Kebahagiaan yang sejak tadi terpampang jelas di wajahnya seketika kandas berganti kekesalan.


Jervario dan yang lainnya sekuat tenaga menahan tawa mereka yang nyaris meledak. Rasanya menyenangkan mengerjai asisten pribadinya itu.


"Aku hanya menyarankan makan di sini dan kau setuju." Belum puas mengerjai Dario, Jervario kembali menimpali ucapannya membuat Dario kian kesal.


"Jer, jangan bercanda!" sentak Dario kesal.


"Makasih lho, Yo atas traktirannya. Makan malam kali ini bukan hanya benar-benar menyenangkan, tapi juga nikmat. Thanks banget pokoknya, ya nggak mas?" tukas Jeanara sambil mengerling pada suaminya.


"Hmmm ... kita sudah lama tidak makan di restoran mewah seperti ini kan sayang, kebetulan sekali Dario mentraktir kita, aku sebagai suami Jeanara mengucapkan terima kasih. Kami benar-benar menikmati makan malam ini." Timpal Abdi yang membuat wajah Dario kian keruh.


"Ri, please, bantu gue bilangin sama si kunyuk itu, stop ngerjain gue! Masa' sih belum juga resepsi, duit udah habis lebih dahulu. Kasihanilah gue, Ri!" Dario mengalihkan pandangannya pada Mentari. Dengan wajah memelas ia meminta bantuan sang pawang atasannya.


Mentari menutup mulutnya sambil tertawa, "udah ah, bang, Riri nggak tega liat wajah nelangsa Dario. Entar dia jantungan kan gawat, belum juga ngerasain malam pertama," seloroh Mentari membuat Belinda yang duduk di samping Dario menunduk dengan wajah memerah.


"Hahaha ... " Jervario, Jeanara, dan Abdi benar-benar puas mengerjai Dario.


"Iya, iya, nggak usah nangis, malu tuh sama istri loe, Yo! Gitu aja nangis. Tenang aja, semua makan malam kita malam ini, gue yang tanggung," tukas Jervario seraya terkekeh.


"Oh ya, Yo, sesuai janji, honeymoon to Lombok, pagi entar penerbangan loe ke Lombok. Tenang aja, semuanya udah gue atur. Loe tinggal packing barang aja terus otw ke sana. Sesampainya loe di bandara internasional Lombok, akan ada yang jemput. So, malam ini tunda dulu skidipluplup kalian, siapin tenaga sekaligus barang-barang. Link tiketnya entar gue email ke loe," tukas Belinda santai membuat Belinda membelalakkan matanya, sedangkan Dario tersenyum sumringah.


"Jadi, yang loe omongin kemarin, bukan sekedar main-main?"


"Yaelah, ngapain juga main-main. Ya serius lah," cetus Jeanara sambil memutar bola matanya.

__ADS_1


Tring ...


Sebuah pesan masuk ke ponsel Dario. Belum sempat Dario membukanya, suara Jervario sudah terlebih dahulu menginterupsi.


"Tuh, pakai buat beli segala keperluan loe dan Belinda selama di sana dan buat kalian kalau mau shopping. Anggap aja itu hadiah dari gue dan Riri," tukas Jervario membuat Dario dan Belinda saling menoleh. Lantas Dario gegas membuka pesan masuk yang ternyata merupakan notifikasi m-banking miliknya.


"I-ni seriusan? 100 juta? Wow, thanks banget bro, Bu bos, bro bos, kalian emang sultan beneran. Yang, kita ngemall sekarang yuk mumpung belum malam-malam banget. Entar kita kan mesti temuin ibu lagi buat pamitan, terus lanjut packing juga." Ajak Dario penuh semangat. Baik Mentari, Jervario, Jeanara, dan Abdi hanya terkekeh melihat Dario yang begitu bersemangat.


"Tunggu, tunggu, mas. Kalau kita pergi, terus ibu gimana? Siapa yang jaga kalau malam?" tanya Belinda khawatir.


"Untuk itu kalian tenang aja, nanti aku akan menyewakan perawat khusus untuk menjaga ibu. Jadi kalian nikmati saja bulan madu kalian selama di Lombok," ujar Mentari membuat mata Belinda berkaca-kaca. Ia tak menyangka bisa memiliki atasan sebaik ini. Mentari benar-benar baik. Bahkan sangat-sangat baik. Mungkin dari 1.000 orang, belum tentu ada satu saja yang seperti atasannya ini. Baik Mentari maupun Jervario, keduanya benar-benar baik. Belinda jadi benar-benar terharu.


"Makasih ya, bu Mentari, Pak Jervario. Semoga rumah tangga kalian selalu bahagia dan selalu dalam lindungan Allah." Belinda berujar seraya mendoakan atasan dan suaminya. Benar kata ibunya, terkadang kita dipertemukan dengan orang yang salah dahulu baru kemudian dipertemukan dengan yang terbaik, seperti atasannya ini, sebelumnya ia dipertemukan dengan orang yang salah, tapi siapa sangka, di saat-saat terendahnya, ia justru dipertemukan sosok Jervario, mantan atasannya yang begitu mencintai dan menyayanginya.


...***...


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Belinda dan Dario telah bersiap-siap. Mereka akan berangkat dari rumah orang tua Dario. Sejak pagi, Belinda telah bangun dan membantu ibu Dario menyiapkan sarapan. Ia senang, ternyata baik orang tua Dario maupun ketiga saudara perempuannya, semuanya memperlakukannya dengan baik. Ia sudah dianggap seperti bagian dari keluarga mereka sendiri.


"Eh, neng, biar emak aja yang nyuci piring! Kamu siap-siap aja gih, entar telat ke bandaranya. Kalian kan mau hani apa itu? Emmm ... "


"Oh, iya, iya, hanmun. Hanimun itu teh apa sih? Emak agak kudet soalnya," cetus si Emak seraya terkekeh, memamerkan deretan giginya yang masih komplit, tapi warnanya merah semua sebab si emak suka mengunyah daun sirih dari muda.


"Ah, si emak, sok gaul banget sih pake kudet-kudetan segala. Honeymoon itu Mak, kegiatan cetak anak. Kan emak udah pengalaman, anak aja udah 4 gini," sahut Andita yang baru saja muncul setelah menyapu ruang tamu dan teras depan rumah mereka.


"Oalah, jadi itu toh! Emak doaken, semoga hanimunnya berhasil ya neng, biar bisa segera kasi emak cucu. Emak sih emang udah banyak cucu dari Adisti, Andita, sama Andira, tapi tetap emak mau dari mamasmu juga," ujar si Emak dengan senyum lebarnya.


Wajah Belinda merah padam. Ia yang pada dasarnya pendiam, bingung harus menimpali apa. Sedangkan ketiga adik Dario justru terkekeh.


"Aamiin, Mak. Semoga dia emak diijabah ya, Mak. Dario juga udah nggak sabar kasi emak cucu dari bibit premium Mamas. Lihat aja, calon anak Mamas nanti pasti paling cantik-cantik dan ganteng-ganteng, namanya juga perpaduan antara Mamas yang super ganteng dan adinda Mamas yang super cantik, pasti hasilnya pun kualitas terbaik," cerocos Dario jumawa membuat si emak tergelak, sedangkan ketiga adiknya mendelik tajam.


"Is, perasaan dari dulu Mamas nggak berubah-berubah, narsisnya minta ampun," cibir Andira.


"Iri bilang, bos," balas Dario. "Yuk adindaku sayang, kita siap-siap, baru setelahnya sarapan. Takutnya macet di jalan," ajak Dario yang sudah merengkuh pundak Belinda. Belinda menggigit bibirnya, merasa malu ditatap dengan tatapan menggoda oleh adik-adik Dario.

__ADS_1


"Cie, cie, adindaku sayang nih ye! Kirain Disti selama ini mamas belok lho, eh sekalinya punya pasangan, bucin akut," goda Adisti yang sudah tergelak, tapi Dario mengabaikannya saja. Fokusnya justru kini dengan sang istri yang wajahnya sudah memerah.


Setelah masuk kamar, Dario segera mengunci pintu. Baru saja Belinda hendak menuju kursi dimana ia meletakkan baju ganti yang akan ia pakai untuk pergi ke bandara, tapi Dario sudah menahan tangannya terlebih dahulu dan menariknya hingga punggungnya menabrak dada Dario. Lalu Dario memeluk Belinda dari belakang.


"Adindaku sayang, tahu nggak, udah lama mas mau peluk kamu kayak gini, tapi ... tapi mas nggak berani. Takut dibanting soalnya," seloroh Dario sambil terkekeh. "Preman yang badannya gede aja bisa kamu banting, apalagi mas yang nggak gede-gede amat kayak gini," imbuhnya.


Mendengar itu, sontak saja Belinda terkekeh, lalu ia membalikkan badannya hingga mereka kini saling berhadapan. Lalu Belinda pun tersenyum dengan sangat manis membuat jantung Dario jadi jedag-jedug, seakan sedang berdisko ria di dalam sana. Senyum yang mampu mengalihkan dunianya.


Tangan Dario sampai terulur, ibu jarinya mengusap lengkungan tipis merah muda itu dengan gerakan lembut. Belinda pun membiarkannya.


"Sumpah, sayang, senyummu manis banget. Kamu sembunyiin dimana sih senyum ini selama ini?"


"Dimana ya?" Belinda seolah-olah sedang berpikir, "di hati kamu mungkin," jawab Belinda membuat Dario lagi-lagi terperangah.


"Adindaku sayang, kamu nggak lagi kesambet kan?" cetus Dario dengan mata membulat membuat Belinda mengerutkan keningnya.


"Kesambet? Enggaklah. Emangnya aku ngapain sih sampai kamu kira kesambet?"


"Itu ... kamu bisa bercanda, gombal juga, terus senyum terus juga, bahkan bicara kamu nggak lagi ketus kayak biasa," ucapnya seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar saat ini.


"Ck ... aku ketus dan jutek, salah, aku lembut, juga salah. Jadi kamu maunya yang mana sih?" rajuk Belinda yang sudah melepaskan tangannya dari leher Dario.


"Maaf adindaku sayang, bukannya kenapa, mas cuma heran aja. Mas kan seringnya diketusin gitu, pas kamu ngomong lembut gini, mas jadi sedikit ..."


"Mas, dengar ya, aku bersikap kayak gitu hanya pada orang yang agak asing denganku, tapi kamu kan sekarang beda. Kamu suami aku, jadi sudah seharusnya aku bersikap lemah lembut sama kamu. Yah, walaupun jujur, aku nggak tahu, aku udah ada perasaan khusus atau nggak sama kamu, tapi ... aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mempercayakan hatiku sama kamu dan aku akan menjadi istri yang terbaik untukmu. Karena itu, aku mohon sama mas agar bisa menjaga perasaan dan kepercayaanku. Bila suatu hari nanti kamu udah nggak cinta lagi atau jatuh cinta pada perempuan lain, aku mohon berterus terang, jangan berdusta. Itu lebih baik daripada kamu mengkhianatiku. Karena mungkin, bila sekali lagi aku dikhianati, mungkin aku akan benar-benar hancur tak bersisa, mas bisa kan?"


Dario lantas tersenyum dan menarik pinggang Belinda hingga tubuh mereka menempel satu sama lain, lalu ia mendekatkan wajahnya pada wajah Belinda dan mengecup bibirnya sekilas.


"Insya Allah, mas bisa. Mas akan menjaga kepercayaanmu dengan segenap jiwa dan raga mas. Trust me!"


Setelah mengucapkan itu, Dario menyapukan bibirnya di atas bibir Belinda. Belinda pun reflek memejamkan matanya dan menyambut ciuman itu. Keduanya sebenarnya masih sangat kaku, tapi mereka terus belajar seraya menikmati kecupan demi kecupan itu. Perlahan, Dario belajar melu*mat bibir Belinda, bergantian atas dan bawah, Belinda pun membuka sedikit celah bibirnya, memberikan akses untuk Dario melakukan hal lebih.


...****...

__ADS_1


Pas nulis tentang si emaknya Dario, othor jadi ingat emaknya bang Robi. Sama-sama Aspri yang nyebelin. Duh, jadi kangen kan! 😄


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2