Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
LIMA PULUH EMPAT


__ADS_3

Setelah berada di luar, suasana canggung mulai menerpa Mentari dan Jervario. Mentari hendak melepaskan diri dari rengkuhan Jervario, tapi Jervario justru mengeratkan rengkuhannya. Mentari hanya bisa pasrah. Toh, Jervario telah membantunya lagi, lagi, dan lagi, bukan.


"Aku antar kamu pulang," ucap Jervario tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Apa?" beo Mentari. Ia tidak begitu mendengar kata-kata Jervario sebab pikirannya masih melanglang buana.


Jervario mendengkus lalu mencubit pipi Mentari gemas, "aku antar kamu pulang sekarang. Aku yakin, mau lanjut kerja pun otak kamu pasti sedang ngeblank, ya kan!"


"Kok tahu?"


"Namanya juga calon suami, pasti tahu lah apa yang ada di pikiran calon istrinya," ucap Jervario sambil mengulum senyum. Ia lantas membukakan pintu mobil untuk Mentari. Setelah Mentari masuk, ia segera masuk ke sisi di sebelahnya. Hari ini ia tidak menyetir sendiri, tapi diantar sopir.


"Eh, aku kan bawa mobil sendiri, Jer. Aku ... "


"Nggak usah. Biar Belinda aja yang bawa mobil kamu," tukasnya memotong kata-kata Mentari membuat perempuan itu mengerucutkan bibirnya. Jervario mengulum senyum sambil membuang wajahnya ke samping. Ia tengah diliputi kebahagiaan saat ini. Walaupun ia tahu, Mentari tidaklah serius dengan kata-katanya di cafe tadi, tapi bukan Jervario namanya bila tidak membuat kata-kata tidak serius itu menjadi kenyataan. Yang penting, Mentari mengatakan dirinya adalah calon suaminya, artinya mau tidak mau, suka tidak suka, Mentari harus menepati kata-katanya untuk menjadikan dirinya sebagai calon suaminya.


Lho kok maksa sih?


Terserah. Sisi egois Jervario kini tengah mendominasi.


Sepanjang perjalanan Mentari hanya terdiam. Sesekali ia menghembuskan nafasnya kasar. Sesungguhnya apa yang dikatakan Rohani tadi masih sedikit mengganggu pikirannya hingga tak terasa mobil yang dikendarai sopir Jervario itu telah tiba di pelataran lobby apartemen Mentari.


"Kamu ... kok ikut turun?" tanya Mentari gugup. Sungguh, Mentari kini sudah ketar-ketir, ia yakin, Jervario ingin membahas apa yang ia katakan di cafe tadi.


"Banyak hal yang harus kita bahas, bukan. Termasuk ... "


"Termasuk apa?" cetus Mentari dengan mata memicing.


Bukannya menjawab, Jervario justru merangkul pundak Mentari dan menggiringnya masuk ke dalam lobby kemudian masuk ke dalam kotak besi yang akan mengantarkan mereka ke lantai yang dituju.


Baru saja kedua orang tersebut masuk ke dalam apartemen, tiba-tiba saja Jervario menutup pintu rapat kemudian menyudutkan Mentari ke dinding di samping pintu.


"Ka-kamu mau apa?" cicit Mentari gelagapan.

__ADS_1


"Mau aku? Tentu saja memastikan calon istriku tidak menarik kembali kata-katanya di cafe tadi," lirih Jervario tepat di depan wajah Mentari. Mentari sampai menahan nafas sebab nafas Jervario yang berhembus tepat di depan wajahnya membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Bahkan darahnya sudah berdesir hebat saat jemari Jervario menyentuh pipinya.


"Tapi ... tapi aku tadi tidak ... "


"Aku tidak mau tahu. Apa yang sudah kamu katakan, tidak dapat kau tarik kembali. Pokoknya mulai hari ini kau adalah calon istriku dan secepatnya aku akan menikahimu," ucap Jervario begitu tegas membuat Mentari mengerucutkan bibirnya sebal sebab Jervario yang seenaknya mengambil keputusan hanya karena kata-katanya di cafe tadi.


"Kan itu tadi kamu duluan yang mulai."


"Lantas aku harus apa? Kau mau terus-terusan dicemooh perempuan tua itu? Atau kau memang masih ingin kembali pada mantan suamimu itu?" ketus Jervario dengan sorot mata memicing tajam.


"Mana ada," jawab Mentari cepat. "Siapa juga yang mau kembali pada sampah itu. Harus kau ingat, apa yang aku buang takkan aku pungut kembali. Meskipun aku belum melupakannya sepenuhnya, tapi itu takkan bisa jadi alasan untuk dirinya kembali kepadaku," tegas Mentari membuat Jervario menyunggingkan senyum tipis.


"Gadis pintar," puji Jervario.


"Kau mau mengejekku?" ketus Mentari tak suka kata-kata itu.


"Oh, ya udah, janda pintar," ujar Jervario membuat Mentari makin mengerucutkan bibirnya.


"Jerva ... "


"Ck ... siapa yang calon istri?"


"Tak ada penolakan, Riri. Kamu udah aku tandai, jadi kamu tidak bisa mengelak lagi."


"Lho, kok maksa sih?" Mentari mencoba mendorong dada Jervario, tapi laki-laki itu justru melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Mentari membuat jarak mereka kian menipis, bahkan tubuh mereka sudah saling menempel satu sama lain, sedangkan tangan lainnya menopang tubuhnya di dinding agar Mentari tidak bisa lari kemana pun.


"Kau tahu, apa yang sudah jadi milikku takkan pernah aku lepaskan."


"Tapi aku belum jadi milik- hmppphhhh ... "


Belum sempat Mentari menyelesaikan kata-katanya, Jervario justru telah lebih dahulu membungkam bibir Mentari dengan ciumannya. Jelas saja Mentari melotot dengan tubuh menegang, tapi Jervario ternyata terlalu handal untuk diremehkan. Dengan bibirnya, Jervario berhasil membuai Mentari hingga perlahan tatapan itu menjadi sayu dan lama kelamaan Mentari pun menutup matanya, menikmati rasa yang diberikan Jervario melalui pagutannya yang lembut nan membuai.


Mentari yang terlalu terlena, sampai tak sadar telah membuka bibirnya. Tak ingin menyiakan kesempatan, Jervario pun melesakkan lidahnya ke dalam rongga mulut Mentari. Mentari adalah wanita normal yang sangat menyukai aktivitas intim seperti ini. Sudah lama ia tidak merasakan dibuai mesra seperti ini. Tentu saja hal ini membuat kewarasannya menipis. Ia yang sudah terlalu terlena sampai lupa siapa yang tengah mencumbu mesranya itu. Bukan sekedar cumbuan, tapi Jervario juga melu*mat bibirnya dengan begitu nikmat. Lidah mereka saling membelit, menimbulkan suara decapan di ruangan apartemen itu.

__ADS_1


"Bagaimana? Kau masih ingin menolakku? Atau kau perlu aku benar-benar jadikan milikku saat ini juga baru kau tak bisa menolakku lagi? Kalau iya, dengan senang hati aku akan melakukannya," bisik Jervario saat pagutan mereka usai. Nafas keduanya masih tersengal, tapi Jervario masih saja berusaha menekannya hingga tak ada kata penolakan lagi.


"Ma-maksudnya?" cicit Mentari sambil menelan ludahnya.


"Making love, apa kita harus making love dulu baru kau mau ... "


"Heh, enak aja! Mana boleh itu. Kita kan belum menikah, mana boleh making love."


"Makanya Riri sayang, ayo kita menikah?" Setelah mengucapkan itu, Jervario menekuk lututnya seraya berjongkok di hadapan Mentari. Kemudian ia mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah dari dalam saku jasnya. "Mentari, aku tahu mungkin ini mendadak, aku pun paham kau belum siap menjalin hubungan pernikahan lagi, tapi aku tak bisa menunda ataupun menunggu lagi, aku benar-benar ingin menjadikanmu pendamping hidupku. Will you marry me?"


Sontak saja Mentari membelalakkan matanya melihat apa yang dilakukan Jervario. Mentari terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. Sepertinya ia tak memiliki alasan lagi untuk menolak. Lagipula ini merupakan kesempatan bagus bukan untuk membungkam mulut mantan mertuanya itu agar tak lagi mencemooh dirinya bahwa tak ada yang mau menerima dirinya dengan segala kekurangannya.


Mentari memejamkan matanya sesaat sambil menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Setelah merasa yakin, ia pun membuka mata dan menatap balik Jervario yang masih setia menunggu jawabannya.


"Adakah kesempatan ku untuk menolak?" tanya Mentari sambil mengangkat kedua alisnya ke atas.


"Tidak. Kau tidak bisa menolak sama sekali. Ciuman tadi sudah jadi penanda kalau kau adalah milikku," tegas Jervario dengan wajah seriusnya.


Mentari berdecak kemudian mengulurkan jemari tangan kirinya, "dasar pemaksa," cibir Mentari.


Melihat itu, Jervario tersenyum lebar lantas ia segera mengeluarkan cincin bermata biru safir dan memasangkannya di jari manis Mentari dan mengecupnya.


"Cantik," puji Jervario. "Secantik orang yang memakainya," lanjutnya membuat pipi Mentari bersemu merah.


Jervario pun segera berdiri dan menarik Mentari ke dalam pelukannya. Setelah itu, ia kembali memagut mesra bibir Mentari membuat Mentari melotot dan mencubit pinggangnya.


"Nyosor melulu, halalin dulu ya!" cetus Mentari membuat Jervario terkekeh.


"Tenang saja, sepulang dari sini aku akan langsung membicarakan perihal pernikahan kita. Aku tak ingin menunda-nunda lagi. Tapi sebelum itu ... satu kali lagi ya!"


"Kau-hmppphhh ... "


__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2