Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
DELAPAN PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Jervario sudah bersiap untuk pergi melakukan perjalanan bisnis atau business trip. Perjalanan kali ini tujuannya ke Dubai sebab ada investor yang hendak menanamkan modalnya di perusahaan-perusahaan besar di Indonesia.


Jervario kali ini tidak berangkat dengan Dario, tapi dengan ayahnya sendiri, Gathan Tjokroaminoto dan asisten pribadinya. Gathan belum melepas Jervario sendiri sebab Jervario belum memiliki pengalaman untuk menghadapi investor asing. Karena itu, ia mendampingi putranya tersebut sekaligus untuk memberikan pengalaman berharga. Apalagi investor kali ini merupakan investor besar. Siapa yang tak tahu dengan Dubai, negeri yang mendapat julukan Negeri empat dimensi yang masih bagian dari Uni Emirat Arab itu memang terkenal dengan kemegahan dan keindahan bangunan-bangunannya. Investor tersebut pula termasuk jajaran pengusaha terbesar di negeri kaya raya tersebut. Tentu Gathan tak ingin melewatkan kesempatan emas tersebut. Jervario pun dengan semangat ingin menunjukkan eksistensinya pada sang ayah dengan menyiapkan proposal sebaik dan semenarik mungkin.


"Sweetheart," panggil Jervario lirih seraya memeluk tubuh Mentari dari belakang. Mentari yang sedang menyisir rambutnya pun segera menoleh sehingga hidungnya mendarat tepat di pipi Jervario yang sedang bertopang dagu di pundaknya.


"Hmmm ... Abang butuh sesuatu? Atau ada yang perlu aku siapin lagi?" tanya Mentari sambil sedikit memiringkan kepalanya.


Jervario menggeleng, memang tak ada yang perlu istrinya siapkan lagi sebab segalanya telah tersedia tanpa kurang satu pun.


"Jadi ... Abang kenapa? Kok manyun gitu?" tanya Mentari keheranan.


"Sweetheart," panggilnya lagi, membuat Mentari merinding. Bukan apa, setiap suaminya memanggil dirinya dengan panggilan sweetheart, pasti ujung-ujungnya ... Para readers pasti sudah hafal keinginan mantan duda tersebut.


"Apa sih, bang? Ayo kita turun, sarapan. Ingat lho, pesawat Abang terbang jam 9, jadi perginya sekitar jam 8."


"Sweetheart, ini belum jam 7 lho, Abang mau main sama Sofia bentar, boleh? Kan Abang bakal di sana 5 hari ditambah lama perjalanan jadi kurang lebih seminggu golok naga Abang nggak bisa bertarung dengan Sofia. Jadi, mau ya main sebentar?" bujuk Jervario seraya memelas seolah akan puasa skidipluplup berbulan-bulan lamanya.


Mentari menganga tak percaya dengan sikap aneh suaminya, "Abang ... ih kok makin ke sini makin mesyum sih! Kan semalam udah, masa' pagi main lagi sih? Mana Riri kan udah mandi, masa' mesti mandi lagi. Malu ih sama mama papa entar. Kayak baru buka puasa nifas aja," delik Mentari sinis.


"Yang, pleaseee!" rengek Jervario manja dengan jari-jemari yang sudah mulai menelusuri perut Mentari kemudian menyusup ke dalam celana kulot miliknya untuk mencari Sofia. Tetapi sebelum Jervario benar-benar menyentuh Sofia, tangan Mentari sudah mencegah lebih dahulu.


"Bang." Mentari hendak mencegah tapi melihat kabut di mata suaminya akhirnya Mentari terpaksa mengalah.


"Quickie, hm!"


"Yes, thanks my sweetheart." Jervario berseru bahagia. Sungguh sifat yang bertolak belakang dari sifatnya di luaran sana. Akhirnya, satu sesi pun berlangsung. Meski diburu waktu dan harus cepat-cepat, mereka tak masalah. Yang penting bagi mereka adalah kepuasan, bukannya durasi.


...***...


"Hati-hati di sana ya, bang. Ingat, jaga mata, jaga hati, jaga diri, ingat anak istri yang selalu menanti di sini." Mentari berujar memperingatkan sambil menangkup pipi suaminya. Kini mereka semua sedang berada di bandara mengantarkan kepergian Jervario, Gathan, dan asisten pribadinya, beserta dua karyawan lainnya.


"Iya, iya, mami, sayang. Abang janji, akan selalu menjaga kepercayaan mami. Lagian, di sini ada papa, papa nggak akan mungkin biarin aku macam-macam. Cukup satu macam dan itu sama kamu," ujar Jervario dengan tersenyum manis membuat Mentari tersipu dengan buncahan bahagia yang begitu besarnya.


"Jerva persis banget sama mas, manis di dalam. Tapi sepet di luar," bisik Nanda seraya terkekeh.

__ADS_1


"Namanya juga anak papa. Papa senang, akhirnya dia menemukan kebahagiaannya," tukas Gathan seraya merangkul pinggang Nanda lalu ia melabuhkan kecupan di dahinya.


"Mas, ih, malu."


"Kenapa malu? Masa' kalah sama yang muda. Mas pasti akan sangat merindukan istri kesayangan mas ini."


Sontak saja, Nanda tersipu malu dengan pipi bersemu mendengar bisikan penuh kasih sayang itu. Perasaannya dari dulu hingga sekarang tetap sama.


"Jaga diri baik-baik ya, sayang. Kalau ada apa-apa, segera hubungi mas. Jangan pernah berpikir kamu ganggu kerjaan mas karena kamu adalah prioritas," tegas Gathan seraya menatap lekat netra sang istri.


"Hmmm ... mas juga hati-hati. Nanda juga pasti akan sangat merindukanmu," bisik Nanda yang kemudian ia mengecup pipi Gathan dengan mesra.


"Tuan, pesawat sudah siap. Silakan," ucap Tio, asisten pribadi Gathan.


Gathan pun mengangguk. Kemudian ia meminta Jervario bersiap. Mereka melambaikan tangan sebelum benar-benar menghilang, masuk ke dalam pesawat. Tak berapa lama kemudian, pesawat pesawat pun segera lepas landas.


...***...


"Bu bos mau dianterin kemana nih, pulang atau kantor?" tanya Dario yang sudah membukakan pintu untuk Mentari. Karena ia ingin mengantarkan kepergian suaminya, ia pun semobil dengan Jervario yang disopiri Dario.


"Sama-sama," balas Dario yang kemudian ia pun segera melanjukan mobilnya menuju MTR Furniture.


Siang harinya,


Tok tok tok ...


"Siang, Bu," ucap Dario pada seorang wanita paruh baya yang sedang terbaring di atas ranjang di rumah sakit.


"Selamat siang juga nak Dario,"jawab wanita itu seraya tersenyum tipis. Wajah pucatnya mengguratkan kesedihan membuat Dario merasa iba.


"Ibu sudah makan siang?"


"Sudah. Nak Dario sendiri?"


"Wah, sayangnya belum!" ujar Dario seraya terkekeh. Ya, saat ini Dario sedang membesuk ibu Belinda. Entah apa alasannya, ia pun bingung karena tiba-tiba saja ingin mengunjungi ibu Belinda di saat Belinda tak ada. Ibu Belinda sendiri telah mengenal Dario sebab Dario sudah beberapa kali mengunjungi dirinya, tapi biasanya Dario mengunjungi pada malam hari, saat Belinda ada di sana. Tapi kali ini berbeda, Dario justru mendatangi di siang hari.

__ADS_1


"Kenapa tidak makan siang dulu? Seharusnya kamu makan dulu. Jaga kesehatanmu. Menjaga kesehatan itu harus sejak dini untuk menghindari penyakit-penyakit yang mengerikan. Lihat ibu, karena tidak bisa menjaga diri, ibu jadi sakit-sakitan. Dan lebih parahnya, ibu sampai merepotkan anak ibu satu-satunya," ucap ibu Belinda lirih.. Matanya berkaca-kaca. Sebenarnya ia pun merasa sedih karena sudah membebani putrinya.


"Ibu jangan ngomong gitu. Aku yakin, Belinda tidak pernah merasa direpotkan oleh ibu. Belinda justru bahagia karena bisa memiliki kesempatan merawat ibu"


Ibu Belinda tersenyum lembut, "kamu ... menyukai anak ibu, hm?" tanya Ibu Belinda to the point. Sebenarnya hal tersebut tak perlu ia tanyakan lagi. Sebab Ibu Belinda bisa melihat binar cinta di mata Dario untuk putrinya.


"Aku ... aku ... eh ... "


Ibu Belinda terkekeh pelan, " pasti susah ya luluhin hati Putri ibu."


"Emmm ... jangankan berharap luluh, Bu, bisa buat dia bicara lebih santai saja susah banget, Bu." Tanpa sadar, Dario mengadu pada ibu Belinda membuat ibu satu anak itu tersenyum getir.


"Ibu harap, kalau kamu benar-benar mencintai Belinda, kamu bisa jadi obat hatinya. Belinda sebenarnya anak yang ceria, tapi itu dulu. Sebelum malapetaka menimpa rumah tangga ibu. Belinda kecewa, terluka, sakit hati, mungkin juga dendam." Mata ibu Belinda berkaca-kaca. Pikirannya menerawang pada kejadian 2 tahun yang lalu sebelum ia dirawat di rumah sakit.


Dario terdiam. Ia pun sebenarnya penasaran dengan apa yang Belinda alami sehingga ia menjadi perempuan yang super dingin seperti itu.


"Belinda ... dia patah hati pada cinta pertamanya sendiri."


Duar ...


Dario membelalakkan matanya saat mendengar itu. Artinya, dia pernah memiliki orang yang dicintai sebelumnya. Apakah laki-laki itu menolak Belinda sehingga ia sakit hati ataukah ia dikhianati? Pikir Dario yang teramat sangat penasaran.


"Ayahnya ... ternyata diam-diam menikah lagi dan ...


Lalu mengalirlah cerita mengenai masa lalu mereka yang membuat Belinda menutup rapat hatinya. Ia terkejut bukan main, ia pikir Belinda pernah mencintai seorang laki-laki yang kemudian menolak atau menyelingkuhinya. Tapi yang sebenarnya justru sesuatu yang lebih menyakitkan. "Jadi kalau nak Dario hanya ingin main-main atau menyakiti anak ibu, ibu mohon jangan. Tinggalkan Belinda. Sudah cukup luka yang ditorehkan ayah kandungnya padanya. Ibu ... nggak mau melihat Putri ibu hancur untuk kedua kalinya." Ujar Ibu Belinda sendu. Sejak awal bercerita, air mata tak henti-hentinya mengalir. Dario kini paham mengapa Belinda sampai menjadi dingin, datar, dan tak tersentuh seperti itu. Mungkin itu bentuk proteksi dirinya agar tidak kembali merasakan kehancuran dan kekecewaan akibat patah hati.


Dario lantas menggenggam tangan ibu Belinda yang sudah mulai tenang.


"Bu, untuk saat ini Dario memang belum tahu perasaan Dario itu sebenarnya kayak gimana ke putri ibu. Maklum, ganteng-ganteng gini, Dario belum pernah yang namanya pacaran. Kalau temen perempuan sih banyak," seloroh Dario membuat ibu Belinda terkekeh. "Karena itu, Dario nggak tahu apakah Dario punya perasaan lebih ke Belinda. Tapi satu yang pasti, Dario senang melihat putri ibu dan Dario sangat ingin mengembalikan keceriaan dan kebahagiaan Belinda." Ujar Dario panjang lebar. Ibu Belinda tersenyum lalu balas menggenggam tangan Dario.


"Semoga kamu bisa ya, nak. Ibu harap, sebelum ibu pergi, ibu bisa melihat anak ibu kembali tersenyum bahagia. Ibu ingin, melihat Belinda menemukan orang yang tulus mau menerima segala kekurangannya. Ibu juga berterima kasih karena nak Dario mau mencoba membahagiakan Belinda juga mengembalikan senyumnya. Ibu harap, kalian berjodoh. Ibu titip Belinda ya, nak!" tutur ibu Belinda membuat Dario menelan ludahnya was-was sebab kalimat yang dituturkan ibu Belinda seperti sebuah isyarat


...***...


....HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2