
"Mau apa lagi kau datang kemari, hah?" bentak Jervario dengan suara baritonnya. Tatapan matanya nyalang, seolah tengah bersiap ingin menerkam. Mentari yang melihat perubahan sang suami dalam waktu singkat sampai tertegun. Begitu pula sosok itu yang seketika saja bersimpuh. Namun tetap saja, ia tak mampu menarik simpati dari seorang Jervario Tjokroaminoto.
"Mas Jerva, aku mohon, cabut tuntutanmu, aku mohon, mas. Aku ... aku nggak mau dipenjara. Aku mohon, mas, tolong cabut tuntutan itu." Milea memohon, memelas, dan mengiba. Memohon kemurahan hati Jervario agar mencabut tuntutannya agar ia tidak dipenjara. Tak pernah Milea duga, Jervario bisa bersikap kejam kepadanya sebab selama mengenalnya, yang ia tahu meskipun Jervario itu datar, dingin, dan cuek, tapi ia orangnya tak tegaan. Hatinya lembut dan pengertian. Tidak pernah bersikap kasar apalagi kejam, kecuali orang itu ...
Milea menelan ludahnya kasar. Bukan maksudnya ingin mengusik, mengganggu, apalagi menyakiti orang terdekatnya. Tapi ia melakukan itu karena ingin menyelamatkan anaknya. Tidak salah bukan meminta bantuan putrinya. Toh putrinya memiliki 2 ginjal. Apalagi Asha dan Affan bersaudara. Mereka sama-sama berasal dari rahim yang sama. Hanya bibitnya saja yang berbeda. Inilah yang ada di pikiran Milea. Masih saja berpikir seenaknya. Mentang dia ibu kandung Asha jadi ia pikir ia bisa melakukan apapun pada putrinya itu.
Jervario tergelak kencang. Sudut-sudut matanya sampai basah karena merasa geli dengan permohonan Milea barusan.
"Bermimpilah sebelum mimpi itu dilarang," ujar Jervario sinis. Lalu ia melirik Mentari untuk segera naik ke atas. Pasti Asha sudah menunggunya pikirnya.
"Mas, masa' kau tetap padaku, mas! Bagaimana pun, aku ini ibu kandung Asha. Bagaimana kalau ada teman-temannya yang tahu kalau ibunya seorang narapidana, pasti ia akan merasa malu dan kecewa. Aku mohon, mas. Lagipula, aku sekarang sedang tak baik-baik saja. Aku baru saja melakukan operasi donor ginjal. Bagaimana kalau kesehatanku memburuk saat di sel nanti, aku mohon mas, tolong bebaskan aku dan Andrian. Apalagi Affan masih kecil. Dia baru saja selesai operasi. Dia butuh kami, mas. Tolonglah kami!" Milea berjalan mendekati Jervario untuk meraih tangannya, tapi secepat mungkin Jervario menghindar.
"Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu itu!" desis Jervario membuat Milea membelalakkan matanya. "Dan apa katamu tadi? Ah, banyak sekali yang kau katakan, sampai-sampai aku lupa. Tapi satu jawabanku, apa kau memikirkan nasib Asha ke depannya saat itu? Tidakkan. Kau bahkan tidak berpikir konsekuensinya. Jadi, tanggung sendiri konsekuensinya. Berani berbuat, berani tanggung jawab."
__ADS_1
"Mas, jangan egois! Apa susahnya mencabut tuntutanmu? Bukankah rencanaku sudah kau gagalkan? Apa kau tahu, kau sama saja ingin menghancurkan ku kalau kau meneruskan tuntutanmu itu. Andrian ... hiks ... Andrian akan menceraikan ku bila kami sampai masuk penjara. Aku mohon mas, cabut tuntutanmu. Berikut mama dan papa. Apa kau tak kasihan pada mereka. Mereka pun pernah menjadi mertuamu. Mereka masih kakek dan nenek Asha. Jangan jahat kau, mas! Jangan terlampau kejam pada mereka! Aku mohon, mas, tolong ... tolong aku dengan sangat untuk melepaskan kami! Aku mohon! Aku tak ingin dipenjara. Aku tak ingin dicerai. Aku mohon, mas. Tolong aku. Aku mohon."
Milea jatuh terkulai duduk di lantai. Ia meraung-raung meluapkan segala rasa kesedihan dan ketakutannya. Tapi yang ia takutkan hanyalah dipenjara dan diceraikan. Tak ada sedikitpun itikadnya untuk meminta maaf dan menyesali perbuatannya khususnya pada buah hatinya sendiri.
Jervario sebenarnya merasa iba sekaligus muak. Iba karena bagaimanapun Milea adalah ibu kandung putrinya. Orang tuanya pun kakek dan nenek Asha sendiri. Sedangkan dengan Andrian, ia pun iba sebab ia memiliki anak yang masih sangat kecil. Ia masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang orang tuanya.
Namun, ia pun merasa muak. Bagaimana tidak, bahkan hingga 2 Minggu berlalu, tak ada itikad baik dari mereka untuk mengakui kesalahan mereka dan meminta maaf pun menyesali kesalahan mereka. Hal inilah yang membuat Jervario kekeh untuk meneruskan tuntutannya.
Pengacara Andrian pun ternyata telah bergerak semenjak surat panggilan kepolisian dilayangkan pada mereka. Tapi sebisa mungkin mereka meminta penangguhan. Pengacaranya pun sempat datang ke kantor TJ Group untuk bertemu dengannya. Tapi karena dirinya yang masih berada di Singapura pada saat itu, maka Dario lah yang mewakili. Dan di kesempatan itu pengacaranya meminta maaf atas nama kliennya.
Jervario sama seperti ayahnya. Sikapnya dingin, kaku, dan tak banyak bicara. Tapi bila ada yang menyakiti, maka ia tak akan tinggal diam. Bahkan sang ayah pernah memenjarakan istri pertamanya karena telah mencelakai istri keduanya. (read : Ternyata Aku yang Kedua karya D'wie.) Dan kini sepertinya kisah masa lalu itu akan terulang kembali. Tapi bedanya kali ini ia akan memenjarakan mantan istri pertamanya dan masalahnya bukan karena telah mencelakai istri barunya, tapi hampir mencelakai putrinya. Meskipun ia berhasil menyelamatkan sang putri, tapi ia tak mau mencabut tuntutan itu. Mereka tetap harus dihukum sesuai hukuman yang berlaku. Dengan begitu, ia harap mereka sadar dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
"Pergilah!" tukasnya dingin. "Meskipun kau meraung siang dan malam hingga menangis darah, aku tetap pada pendirianku. Aku ... tidak semurah hati itu untuk melepaskan kalian begitu saja. Aku harap, dengan kejadian ini kau bisa menyadari kesalahanmu," imbuhnya datar dan dingin membuat Milea yang sesegukan tercekat. Nafasnya putus-putus. Ia tak menyangka, hati Jervario begitu keras. Tak tergoyahkan sama sekali.
__ADS_1
"Pak Karno!" pekik Jervario memanggil penjaga keamanan rumahnya.
"Iya, tuan." Pak Karno segera berlari mendekati tuannya yang masih berdiri di ambang pintu.
"Bila dalam 30 menit wanita itu tidak pergi juga dari rumah ini, usir atau kalau perlu, seret saja dia keluar," titahnya dingin, datar, dan tegas membuat mata Milea kian terbelalak.
"MAS, KAU TEGA DENGAN AKU, MAS! BAGAIMANA PUN AKU INI IBU ASHA. JANGAN SEMENA-MENA KAMU MAS. MAS ... MAS JERVA ... MAS JERVA ... SHI TTT! BRENGSEKKK KAU, MAS. DASAR SIALAN! AAAAARGHHHH ... " Milea tampaknya sudah kehilangan kesabarannya sampai berteriak seperti tarzanwati di rumah besar itu. Ia makin kesal karena tak ada yang mempedulikannya. Bahkan mantan mertuanya yang biasanya begitu lembut dan baik hati pun mengabaikannya sebab saat ini ia justru sedang menemani Asha dan Mentari di kamar cucu perempuannya itu.
Dengan wajah kesal bercampur marah, Milea meninggalkan rumah itu. Rumah yang penuh kenangan antara dirinya dan Jervario. Ia terpaksa pulang dengan tangan hampa. Harapannya kini tinggallah sang suami. Ia harap, ancaman perceraian bila masuk penjara itu hanyalah sebuah gertakan saja.
'Hah, kenapa jadi begini? Aku harus apa sekarang? Aku tak mau dipenjara. Ya Tuhan, kenapa mas Jerva bisa sekejam itu pada kami?' gumamnya tanpa berpikir kalau semua terjadi akibat perbuatan dan kebodohannya sendiri.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...