
Hari berganti begitu cepat, kini Rohani telah kembali sehat seperti sedia kala. Namun sikapnya pada Erna tak sebaik di awalnya, apalagi setelah Erna ketahuan membohonginya dan dipecat dari pekerjaannya, membuat sikap Rohani jadi dingin. Ia masih mempertahankan keberadaan Erna hanya semata karena ia mengandung cucunya, tak lebih.
Erna sebenarnya ingin kembali mencari kerja, tapi keadaannya yang sedang hamil besar tidak memungkinkan untuk dirinya melamar pekerjaan. Selain itu, mana ada perusahaan yang mau menerima perempuan hamil seperti dirinya sebab pekerjaan perempuan hamil pasti takkan bisa maksimal. Apalagi ia hanya memiliki kemampuan sebagai seorang SPG, usia dan kehamilan tentu jadi penghalang baginya untuk mendapatkan pekerjaan.
"Sial! Wanita tua itu sungguh kurang ajar, hanya karena aku bukanlah seorang manager dan sekarang telah dipecat, dia seenaknya memperbudakku. Emangnya aku pembantu," gerutu Erna sambil merenggangkan otot-otot lengan dan punggungnya.
Bagaimana tidak, sejak jam 5 subuh ia sudah dipaksa bangun untuk menyapu, mencuci piring, dan membuatkan sarapan untuk Shandi dan Rohani. Sedangkan Septi tak ada di rumah. Yang mereka tahu, Septi bekerja dengan temannya dan kerap melakukan perjalanan ke luar kota sehingga jarang berada di rumah. Kalaupun ada, Septi tak pernah mau membantunya melakukan pekerjaan rumah.
Padahal usai kandungannya sudah 7 bulan, semakin besar perut, semakin sulit untuk melakukan banyak kegiatan, namun tanpa belas kasihan, Rohani dan Shandi menyerahkan semua urusan rumah tangga dengan dirinya, sesuatu yang tak pernah ia lakukan selama ini.
"Berhenti mengoceh! Mana baju kerja ku?" tukas Shandi yang baru aja keluar dari kamar mandi.
Erna menggeram kesal, lalu ia mengambil setelan kerja yang tadi sempat ia setrika.
"Ini." Erna menghempaskan pakaian itu dengan kasar di atas ranjang. Shandi ingin menghardik Erna, tapi ia sedang malas berdebat pagi itu.
Selagi Shandi berpakaian, Erna masuk ke kamar mandi sambil membawa handuk dan tak lupa ponselnya. Setelah memastikan Shandi telah keluar dari dalam kamar, Erna menekan nama seseorang yang menjadi kekasihnya selama ini. Laki-laki paruh baya yang merupakan seorang pejabat daerah. Erna telah menjadi kekasihnya sejak ia baru saja lulus kuliah. Mereka berkenalan saat laki-laki bernama Purnomo itu hendak membeli mobil di showroom tempat ia bekerja sebelumnya. Diam-diam mereka bertukar nomor handphone dan sejak itulah mereka menjalin hubungan terlarang.
"Sial, Daddy kemana sih? Kok dari semalam nomornya nggak aktif," rutuk Erna sambil mencengkram erat ponselnya kesal.
Sementara itu, di meja makan Rohani sibuk bertanya-tanya tentang progres sang anak untuk mendekati mantan menantunya yang ternyata kaya raya itu. Rohani sangat menyesali, mengapa menuntut Shandi segera menceraikan Mentari. Bila saja ia tetap mempertahankan Mentari, maka sudah pasti ia akan jadi kaya raya. Meskipun Mentari masih menyembunyikan jati dirinya, tapi setidaknya segala kebutuhannya akan tercukupi dengan baik, tidak seperti saat ini yang serba kekurangan. Belum lagi Shandi harus membantu membayar cicilan rumah, tagihan listrik dan air, biaya kebutuhan sehari-hari pun tak lepas dari tanggung jawab Shandi. Ia juga harus menyiapkan biaya persalinan. Sesuatu yang tak pernah Shandi pikirkan selama ini, kini justru harus benar-benar ia pikirkan. Beruntung Septi telah memiliki pekerjaan, meskipun ia belum lulus kuliah, tapi setidaknya Septi mampu meringankan pengeluaran keluarga mereka.
"Jadi bagaimana Shan, ada kemajuan? Pasti kamu sudah mulai bisa mendekati Tari kan? Apalagi selama ini dia sangat mencintaimu, pasti ia akan mudah jatuh ke pelukanmu lagi," ucap Rohani sambil mengunyah nasi goreng keasinan buatan Erna dengan raut terpaksa.
__ADS_1
"Belum ma, Tari benar-benar sulit didekati. Bahkan makanan yang pernah Shandi berikan padanya, langsung diberikannya pada orang lain. Sepertinya dia benar-benar tak sudi, menerima apapun apalagi bertemu dengan Shandi, ma," tutur Shandi lesu. Sudah beberapa kali Shandi mencoba, bahkan ia pernah sengaja menemuinya saat hendak masuk ke dalam mobil, tapi Mentari bersikap sangat dingin. Menatapnya pun enggan, apalagi berbicara dengannya. Ia sudah seperti najis yang tampak begitu menjijikkan di mata Mentari.
Shandi yang baru saja hendak makan, tiba-tiba kehilangan selera makannya. Padahal perutnya sungguh lapar. Apalagi menu yang terhidang di meja benar-benar tidak menggugah seleranya. Tidak seperti masakan Mentari, yang meskipun kadang terkesan sederhana, tapi sanggup membuatnya nambah hingga berkali-kali hingga kekenyangan.
"Ck ... sok jual mahal sekali wanita itu. Ya sudah, nanti kapan-kapan mama juga akan langsung turun tangan. Mama akan membuat Tari mau menjadi istrimu lagi," ucap Rohani penuh keyakinan seolah Mentari akan mudah tunduk dengan perintah maupun permintaannya membuat Shandi tersenyum sumringah.
...***...
"Hai Bu bos," sapa seorang perempuan membuat Mentari mendongakkan kepalanya. Mentari lantas tersenyum saat melihat kedatangan sang sahabat sambil mendorong stroller dimana baby Andara sedang tertidur lelap.
"Ck ... Bu bos apaan. Kok kemari nggak kasi kabar lagi sih, Je?" tanya Mentari yang langsung beranjak memeluk sahabatnya sambil bercipika cipiki seperti kebiasaan mereka.
"Namanya juga surprise, Ri. Pingin liat aja, gimana wajah loe pas lagi serius liatin tumpukan berkas."
"Kan ada mas Abdi dan Om Januar, gampang itu."
"Enak bener jadi bos KSM Group, jam kerja bisa jalan-jalan mentang asprinya suami sendiri, terus COO nya Om sendiri, jadi bisa suka-suka," seloroh Mentari membuat Jeanara terkekeh. Ya, Jeanara diberi kepercayaan untuk memegang KSM Group milik Doni, sang Opa. Sedangkan Jervario nanti akan menjadi CEO TJ Group, milik sang ayah, Gathan. Tapi sementara ini ia masih menjabat sebagai COO perusahaan itu.
Jeanara terkekeh, "aku kan belum lama lahiran, Ri. Aku udah minta cuti selama 6 bukan sampai baby Andara lulus asi eksklusif, baru deh aku mulai terjun lagi mimpin perusahaan," tukas Jeanara sambil meraih baby Andara ke dalam dekapannya. "Eh, baby Andara udah haus ya? Cup cup cup, yuk mik cucu dulu sama mommy," ucap Jeanara pada bayi mungilnya.
Mentari memperhatikan bagaimana bayi mungil itu menghisap asi dari sumbernya dengan begitu lahap dan lucu. Mentari tersenyum sambil menyentuhkan ujung jari telunjuknya di pipi chubby Baby Andara. Ada rasa hangat yang menyeruak. Betapa ia ingin menjadi seorang ibu seperti Jeanara. Mata Mentari sampai berkaca-kaca, kapankah ia bisa merasakan menjadi seorang ibu yang sesungguhnya seperti sahabatnya ini.
"Ri," panggil Jeanara membuat Mentari mengangkat wajahnya. Setitik air mata jatuh ke pipinya, dengan sigap Mentari menyekanya agar Jeanara tidak melihat, tapi sahabatnya itu justru telah melihat lebih dahulu. Jeanara dapat merasakan kesedihan yang dirasakan Mentari. Dalam hati, ia pun berdoa, semoga kelak Mentari dapat mendapatkan kebahagiaannya dan bisa segera memiliki buah hati seperti impiannya.
__ADS_1
"Hmmm ... " Mentari bergumam menjawab panggilan Jeanara.
"Terimalah lamaran Jerva, Ri. Dia serius kok. Siapa tahu, kamu bisa mendapatkan bayi lucu dari sodara kembar aku itu. Kan bibitnya udah terbukti unggul. Buktinya ada Asha, siapa tahu, kamu bisa melahirkan adiknya Asha setelah menikah dengan Jerva." Jeanara mencoba membujuk Mentari agar mau menerima saudara kembar menjadi suaminya.
"Kalau nggak ... "
"Kan kalian udah ada Asha, Jerva udah bilang kan, dia nggak mempermasalahkan itu. Jadi, aku harap kamu mau membuka hatimu untuk Jerva, Ri. Karena ia tulus menyayangimu dan ingin membahagiakanmu," tutur Jeanara membuat Mentari terdiam sambil menatap lekat wajah mungil baby Andara.
Saat keduanya tengah terdiam, terdengar suara pintu yang diketuk. Ternyata itu adalah Belinda.
"Ada apa Bel?" tanya Mentari.
"Itu Bu, ada ... ada mantan ibu mertua Anda. Dia bilang, dia ingin bicara pada Anda. Bagaimana Bu? Dipersilahkan masuk atau saya usir saja?"
Mentari dan Jeanara saling pandang untuk sesaat. Mentari menghela nafasnya, untuk apalagi coba mantan mertuanya itu menemuinya, pikirnya.
"Bagaimana Bu?" tanya Belinda lagi.
" ... "
...***...
...Temuin nggak ya itu bu Rohalus? 😁😁😁...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...