
Aku bangun saat jam menunjukkan pukul delapan pagi. Akibat suara panggilan masuk dari Mas Dani yang tiada henti berbunyi, membuat otak dan mata sulit diajak kompromi.
Kunyalakan ponsel yang sempat mati karena kehabisan batrei. Ada satu pesan masuk yang juga berasal dari Mas Dani, suamiku.
"Sayang, kamu dimana? Tolong maafkan mas yang sudah menoreh luka pada hatimu. Setelah kepergianmu, baru mas sadar akan pentingnya keberadaanmu dalam hidup mas. Mas mohon, pulanglah. Biar kita perbaiki apa yang semestinya tidak terjadi. "
Aku tersenyum sinis membaca pesan yang mengandung kata permohonan. Kuhirup napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Irama jantung yang berbunyi tak beraturan, mampu membuatku sedikit merasa sesak.
Mata perlahan terpejam. Membiarkan setiap momen yang pernah terjadi berputar-putar dalam benak. Setelah melihat bagaimana kesengsaraan yang di tanggung wanita untuk mempertahankan rumah tangganya, membuat kata pernikahan jauh dari tujuan hidupku. Menambatkan hati pada seseorang laki-laki, menaruh kepercayaan akan masa depan yang lebih baik lagi ... Sungguh memiliki resiko sangat besar terhadap kesetiaan hati. Hingga aku bertemu dengan Mas Dani, kegelisaanku pun memudar seiring berjalannya waktu.
Menikah, menikmati momen momen yang tak pernah kurasakan sebelumnya, hal itu begitu kuat mematahkan keraguanku.
Masih teringat jelas dalam ingatan ini saat pagi menyapa, wajah yang penuh damai itulah yang pertamakalinya kudapati. Menyentuh tiap inci dari wajahnya, sungguh menghangatkan hati ini. Bahunya adalah tempat aku mengadu, menangis dan melampiaskan segala kekecewaan. Tubuhnya adalah peredah kepiluan saat dia membawaku dalam pelukan hangatnya.
Dirinya adalah kekuatanku. Oh, suamiku... Apa yang terjadi denganmu? Semudah inikah kau rela membuat hati istrimu hancur? Atau aku yang terlalu berlebihan dalam menginginkan diri dan hatimu seutuhnya menjadi milikku?
Bibir manismu yang dulu selalu menjadi penyejuk jiwa, kini telah berubah menjadi racun yang perlahan membunuhku. Tiap-tiap kata yang dulu mengandung kebahagiaan, kini berubah dengan mengundang kehancuran.
***
Apartemen ini sepi, hanya ada aku seorang diri yang sibuk dengan pikiran yang berkecamuk. Evha tadi malam memang langsung pulang ketempat orang tuanya. Begitu beruntungnya dia yang masih dapat merasakan kasih sayang orang tua. Namun, tiada hak bagiku untuk iri atau pun merasa cemburu akan jalan kehidupan orang lain. Tuhan menciptakan manusia dengan rasa yang selalu berdampingan. Hanya saja jalan hidup kita yang berbeda, dengan masa lalu yang tingkatmudahimbangangan ujiannya juga berbeda.
Saat sedang sibuk dengan pikiran yang semakin mengembara, suara notifikasi dari wa kembali berbunyi. Dengan kondisi fisik yang sedang down, malas rasanya untuk melakukan sesuatu, walau pun itu hanya sekedar meraih ponsel. Namun, rasa penasaran yang semakin dalam akhirnya membuatku meraih benda pipih itu.
Satu pesan dari Desi. Apa maunya wanita sialan ini?
"Hanya dengan masalah sepele seperti ini saja, kamu udah minggat dari rumah yang adalah rumahmu sendiri. Lalu bagaimana jika Mas Dani benar-benar menjadi milikku seutuhnya? Mungkin kamu akan mati setelahnya. Jadi wanita jangan terlalu lemah, mbak. "
Kali ini amarahku benar-benar mendidih. Tanganku terkepal hingga membuat buku-buku jari ikut memutih. Dasar benalu. Sudah menumpang dalam kehidupan orang lain, kini malah berpikir untuk memiliki semuanya.
Mungkin mereka berpikir kalau aku adalah wanita terbodoh di muka bumi ini. Membiarkan wanita sialan itu tinggal dalam rumah sendiri, dan bahkan kini malah pemiliknya yang melangkah keluar.
Posisiku saat ini bukanlah mudah. Aku juga ingin menendang benalu itu keluar dari rumahku. Tidak sudi rasanya melihat wajah yang penuh dempulan make up itu berada satu atap denganku. Namun, apa yang dapat kulakukan? Aku harus rela berkorban agar Mas Dani tetap berada di sisihku. Desi memiliki kuasa yang besar terhadap Mas Dani. Jika dia kuusir, maka itu artinya mas Dani juga ikut serta dengannya.
Tidak! Aku tidak akan membiarkan rencana wanita murahan itu terjadi. Kuatlah, jangan lemah hai jiwaku.
Aku kembali membereskan koper dan menyeretnya keluar setelah memberitahu kepada Evha jika aku akan pulang hari ini. Dia sedikit tidak setuju, tapi karena kegigihanku dalam meyakinkannya, akhirnya dia luluh juga. Hati ini sangat berterimakasih kepada Tuhan, yang telah mempertemukanku dengan wanita sebaik dia. Suatu saat nanti, aku akan membalas segala kebaikannya.
__ADS_1
***
Taksi yang kutumpangi akhirnya sampai juga. Kutatap bangunan yang menjulang tinggi keatas dengan perasaan yang bergemuruh.
"Pak, tunggu sebentar disini yah. "
Aku melangkah pergi setelah menyerahkan selembar uang berwarna merah kepada bapak itu. Aku tahu, dimasa masa seperti ini tidak seberapa yang di dapat dari hasil membawa taksi.
Setelah mendapat informasi di ruangan mana pemilik perusahaan ini berada, aku langsung berjalan cepat karna tidak ingin terlambat. 5 menit lagi dia akan keluar katanya.
***
Tanpa menunggu aku langsung mengetuk pintu yang berdiri kokoh di depanku. Entah apa yang akan terjadi nanti, biar itu menjadi urusan nanti. Terdengar sahutan dari dalam yang mengatakan supaya aku masuk, tanpa berpikir panjang pintu itu langsung kubuka dengan kasar.
"Nona Sarah... "
Pak Anto tampak terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Lalu sedetik kemudian dia sudah menguasai diri.
"Silahkan duduk. " ucapnya setelah aku berdiri tepat di hadapannya.
"Terimakasih. "
Sekilas kuperhatikan wajah pria paru baya yang duduk dengan santainya di hadapanku. Senyum itu tidak juga memudar darinya. Kesan pertama yang kudapat saat pertama kali bertemu dengannya adalah, Ramah. Yah, entah itu hanya penilaianku semata atau bagaimana. Namun, tujuanku datang kemari bagai sebuah tamparan keras yang mengembalikan kesadaranku.
"Saya mau berbicara soal anak anda. "
"Desi, maksudmu? "
Aku mengangguk tegas.
"Tidak perlu menatap saya sampai sebegitunya. Kamu tahu, nak. Tatapanku seakan ingin menerkam sang mangsa. "
"Jangan berlelucon. Anda pasti tahu tujuan saya datang kemari bukanlah untuk soal hal yang sepele. "
Senyum itu masih ada walau wajah itu sudah berubah tegas. Bapak ini sangat berwibawah sekali. Namun sayang, anaknya berbanding terbalik dengannya.
Terdengar helaan napas beratnya.
__ADS_1
"Saya tahu jika hal ini akan menjadi sulit bagimu. Menerimah orang asing dalam rumah tangga kalian bukanlah perkara yang ringan. "
"Jika anda tahu, lalu bagaimana mungkin anda dapat melakukan hal ini kepada saya? "
Biar dikatakan aku tidak memiliki sopan santun, aku tidak peduli. Setiap kata kuucapkan dengan lantang dan penuh penekanan. Hati ini sudah terlanjur sakit. Napasku memburuh, dengan luapan emosi yang meletup letup.
"Tenangkan dirimu, nak. Mari kita bicarakan hal ini dengan kepala dingin. "
Kutatap lamat lamat orang yang berada di hadapanku ini. Bagaimana mungkin dia bisa mendidik anaknya hingga berlaku kurang ajar seperti ini. Pasti dia tidak jauh beda dari anaknya. Sama sama benalu.
"Ada banyak kisah di balik setiap orang. Jika pikiran buruk sudah membuat kita menjauh dari seseorang tanpa lebih dulu mau mengenal, mungkin saja kita kehilangan satu keberuntungan. "
Aku terkejut dengan ucapannya barusan. Seolah dia sedang membaca pikiranku, kata katanya begitu mengena kedalam hati. Apa semudah ini orang lain dapat membaca apa yang sedang menari nari dalam kepala ini?
"Tolonglah beri sedikit kebahagiaan dalam hidupku ini. Aku akui aku datang dalam keadaan hancur. "
"Bukannya kalian juga saling memanfaatkan? "
Lidahku keluh. Jawabannya begitu menohok hati. Benar apa yang dia katakan.
" Aku salah dalam mengambil keputusan. Memberikan suami untuk berbagi dengan orang lain sama saja dengan membunuhku. Sakitnya sungguh tak tertahankan. "
"Itulah peran pentingnya berpikir dahulu sebelum bertindak. "
Apa maksudnya? Apa dia juga berpikir jika aku sebodoh itu?
"Apa maksud anda? Apa anda berpikir jika saya gegabah dalam mengambil keputusan? "
Aku menahan napas yang terus memburu akibat terbakar amarah.
"Saya tidak mungkin datang kemari jika perlakuan putri anda sesuai dengan isi kontrak. Putri anda adalah benalu yang perlahan lahan merampas kebagiaan orang lain. Apa mungkin itu adalah hasil didikan anda atau bukan, saya tidak tahu. "
"Jaga bicaramu, nak. "
Tiba tiba pintu yang berada dalam ruangan ini terbuka. Entah ruangan apa di dalam sana aku tidak tahu. Seorang wanita paru bayah keluar dengan wajah kusut seperti sehabis bangun tidur. Mungkin dia istrinya.
"Tidak ada orang tua yang mendidik anaknya dalam kesalahan. "
__ADS_1
Aku pun menyesali perkataanku barusan