
Brakkk ...
Prang ...
Bruakkk ...
Shandi mengamuk, melampiaskan kekesalan, kemarahan, kekecewaan, sakit hati, dan juga penyesalannya yang begitu besar dengan membanting semua barang yang ada di dekatnya.
"Aaaaarghhhh ... "
Shandi berteriak frustasi memikirkan segala yang menimpanya saat ini. Ia menjambak rambutnya sendiri. Tangannya terkepal lalu seperti tidak merasa sakit, ia meninju dinding hingga berkali-kali, membuat buku-bukunya berdarah di sana-sini.
"Sialan. Brengsekkk. Kurang ajar."
Shandi tak henti-hentinya berteriak, meraung, menjerit, hingga akhirnya tubuhnya luruh ke lantai. Tersungkur. Ia tergugu dalam lautan penyesalan.
"SEKARANG KALIAN PUAS, HAH!!! PUAS KALIAN!!! KALIAN TELAH MENGHANCURKAN HIDUPKU. KEBAHAGIAANKU. MASA DEPANKU. SEMUA HANCUR. HANCUR. SEMUA HANCUR HANYA KARENA KEEGOISAN KALIAN. APA KALIAN PUAS!!!" Shandi berteriak keras dengan sorot mata nyalang.
Rohani hanya bisa tergugu tanpa mengucapkan sepatah katapun sebab tanpa yang lainnya sadari, bibirnya tiba-tiba menjadi kelu. Begitu pula Septi, ia tak kuasa menahan air matanya yang telah berjatuhan. Melihat sang kakak yang tampak begitu terpukul dan terluka sungguh membuatnya merasa ikut hancur.
Penyesalan itu ada. Tapi sayang, segalanya telah terlambat. Hanya derai air mata penyesalan yang kian menganak sungai.
__ADS_1
'Maafkan mama, Shandi. Maafkan mama. Semua salah mama. Semua karena keegoisan mama. Semua karena keserakahan mama. Semua karena obsesi mama. Karena mama, hidupmu hancur berantakan. Karena mama, rumah tanggamu hancur berkeping-keping. Karena mama, kebahagiaanmu sirna. Padahal mama sangat tahu betapa besar rasa cintamu pada Tari. Tapi mama justru menjerumuskanmu pada jurang kehancuran seperti ini. Padahal mama tahu Tari adalah separuh hidupmu, tapi mama justru memisahkanmu dan melemparkanmu pada jurang kepahitan, jurang kesengsaraan, jurang kesedihan, dan jurang penyesalan. Seandainya mama tahu, begini akhirnya, mama takkan mungkin memisahkanmu dengan Tari. Seandainya mama tahu, begini akhirnya, takkan mungkin mama menikahkanmu dengan perempuan seperti Erna. Maafkan mama, nak. maafkan mama."
Rohani hanya bisa terisak dengan mulut terkatup rapat. Dadanya kian sesak. Rasa mencengkram membuatnya kesulitan untuk menarik nafas. Melihat putranya yang begitu kesakitan karena ulahnya membuat Rohani benar-benar dicengkeram penyesalan.
Rohani merasa sangat bodoh, bagaimana ia bisa menjodohkan putranya dengan jalaang seperti Erna. Hamil anak orang lain. Buah perselingkuhannya dengan suami orang. Astaga, bagaimana ia bisa begitu bodoh membuat putranya bertanggung jawab atas anak orang lain. Seandainya dirinya sehat dan bisa berdiri sendiri, ingin rasanya ia menjambak dan menampar Erna untuk melampiaskan kekesalan dan kekecewaannya, tapi itu tidak mungkin, jangankan untuk bergerak, untuk bicara saja tiba-tiba bibirnya kelu.
Dada Rohani sudah naik-turun. Apalagi saat ia melihat Shandi pergi begitu saja memacu mobilnya tanpa menolehnya sedikit pun. Rohani yakin, putranya itu sedang merasa begitu kecewa padanya. Sebab semua permasalahan ini terjadi karena dirinya. Dirinyalah yang membawa Erna ke rumah itu. Dialah yang menyodorkan Erna tak henti-henti. Hanya karena Erna memiliki keluarga yang cukup harmonis, berpendidikan, memiliki pekerjaan bagus, dan dinyatakan subur, membuatnya terus-terusan mendesak Shandi agar menikahi Erna dan puncaknya adalah dirinya dan Septi yang bekerja sama menjebak Shandi agar mau meniduri Erna sehingga hanya dalam waktu satu bulan, Erna mengabarkan kehamilan dirinya yang baru mereka ketahui kalau itu bukanlah anak Putranya, tapi anak hasil hubungan gelap Erna dengan suami orang.
"She-mu-wa sya-lah mwa-mwa. Mwa-mwa jua-hat. Mwa-mwa be-nal-be-nal i-bwu ya-ng jwa-hat," sesal Rohani sambil tergugu.
Mendengar kata-kata ibunya yang tidak jelas sontak saja membuat Septi panik. Bukankah seharusnya kondisi ibunya membaik, tapi kenapa makin parah, benaknya benar-benar khawatir.
Sementara itu, sekeluarnya Erna dari kediaman Rohani, ia memacu mobilnya secepat mungkin menuju apartemen pemberian kekasihnya yang merupakan seorang pejabat sekaligus suami artis sinetron kenamaan.
Tapi baru saja ia hendak masuk ke lobby, beberapa tim keamanan menghentikan langkahnya, bahkan mengusirnya. Tatapan jijik ia dapatkan dari orang-orang di sekelilingnya. Jantung Erna bagai diremas. Harus pergi kemana dia kalau ia tiba-tiba saja diusir?
"Kenapa saya tidak boleh masuk, pak? Saya memiliki unit di sini jadi saya mohon anda segera menyingkir dari hadapan saya!" titah Erna dengan memasang wajah angkuh. Ia tak mau diremehkan jadi ia harus bersikap layaknya bos seperti biasa.
"Maaf Bu, kami hanya menjalankan perintah. Menurut pemilik apartemen yang anda tempati sebelumnya, Anda sudah tidak boleh menempati unit itu. Jadi silahkan Anda pergi dari sini sebelum kami menyeret Anda!" tukas salah seorang keamanan.
"Apa? Nggak, itu nggak mungkin. Kalian pasti salah paham." Jantung Erna sudah kebat-kebit karena panik sekaligus khawatir. Apalagi sejak tadi perutnya terasa begitu sakit mencengkram. Peluh pun mengalir deras membasahi pelipis dan telapak tangannya.
__ADS_1
Erna pun segera menghubungi kekasihnya. Berkali-kali Erna mencoba menghubunginya, tapi tak kunjung diangkat. Hanya terdengar suara operator di ujung sana.
Perutnya makin perih mencengkram. Erna ingin melawan, tapi keadaan tak memungkinkan. Hingga entah dering ke berapa barulah terdengar suara seorang lelaki yang selama ini selalu menemani dan memberikan segala hal yang ia pinta. Namun kata-katanya sungguh tak terduga, laki-laki itu membuangnya begitu saja setelah semua yang ia berikan.
"Sayang, kamu kemana aja? Kenapa baru angkat telepon aku?;Dan kenapa aku nggak diizinkan masuk ke apartemen kita?" cecar Erna dengan dahi berkerut menahan sakit yang kia menjadi.
"Tak perlu hubungi aku lagi. Mulai hari ini hubungan Jia berakhir, mengerti!"
Deg ...
"Tapi sayang, kenapa kau tiba-tiba melakukan itu? Lalu bagaimana dengan aku dan anak kita?" tanya Erna yang kini sudah benar-benar kalut.
"Itu urusanmu sendiri. Aku tak mau berhubungan denganmu lagi jadi tak perlu muncul lagi di hadapanku."
Tut ... Tut ... Tut ...
Belum sempat Erna membuka suara, laki-laki itu justru segera menutup panggilan itu. Erna yang kesal, mencoba menghubunginya kembali, tapi yang mengejutkan ternyata laki-laki itu telah memblokir nomornya.
Erna kian lemas. Cairan hangat mengalir dari sela-sela kakinya. Ia harus bergegas ke rumah sakit sebelum semua jadi kacau balau. Dengan tertatih, Erna berusaha masuk ke dalam mobilnya. Semua orang yang berpapasan dengannya seolah menatapnya jijik membuatnya tak berani meminta tolong. Tak ada yang bisa ia mintai tolong saat ini. Dengan sisa-sisa kesadarannya, Erna memacu mobilnya secepat mungkin sebab rasa sakit itu kini kian menyiksa. Namun karena ia sudah tak kuat lagi, matanya perlahan menutup, kesadarannya kian menipis, dan brakkkk ....
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1