Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Sakit


__ADS_3

"Mas, kamu ngak pernah lagi ada waktu untukku. "


Pagi ini Mas Dani datang kedapur dan langsung meneguk segelas air putih. Entah apa yang sedang dia lakukan dengan wanita itu hingga segelas air itu tandas dalam tiga tegukan. Tiba tiba ada yang memanas dalam hati ini ini. Rasa iri dan cemburu yang membara membuatku tak sadar akan air mata yang datang. Tak ingin di anggap cengeng, langsung kuseka air mata ini dengan cepat.


"Kenapa kamu mikirnya gitu? "


Kini dia sudah berada tepat di hadapanku, tangan kokohnya mengelus pipi ini lembut. Sebagai seorang wanita perlakuan sekecil ini pun sangat ampuh membangkitkan air mata yang sempat terbendung. Namun, sekuat tenaga aku menahan agar pertahananku tidak jebol.


"Mulai dari pagi hingga paginya lagi, kamu selalu bersama dengan benalu itu, mas. "


Kuhempaskan tangannya kasar, berjalan sedikit menjauh darinya agar getaran suara tak begitu jelas di dengarnya.


"Kamu bicara apa sih, sayang?  Disini kitalah yang menumpang hidup padanya."


Aku terhenyak mendengar penuturannya yang seakan membela wanita itu.

__ADS_1


"Jadi, karna gara gara dia yang udah bantuin kita, dia bisa sesuka hati dan seberkuasah itu di dalam rumah tangga kita?  Ini keluarga kita, mas. Rumah tangga yang udah kita bangun 5 tahun lamanya. Sebelum Desi hadir dalam hidup kita, akulah yang menjadi ratu dalam istana kita ini. Lalu sekarang, kamu begitu terang terangannya membela dia? "


Aku memang cengang. Menahan air mata adalah sesuatu yang paling sulit untuk di tahlukkan. Walau suaraku pelan, tapi begitu penuh tekanan. Dia membawaku dalam pelukannya, mengelus rambut ini pelan. Jika dulu dia melakukannya saat aku bahagia, sekarang dia memelukku dalam terluka. Semakin lama kamu semakin berduri mas. Sudah seminggu ini kamu berubah.


"Maaf. "


Hanya itu kata kata yang keluar dari mulutnya, membuat hati ini semakin tersakiti.


"Aku ngak apa apa kalau kita hidup dalam kekurangan, asalkan kembalilah kepadaku lagi. "


Dia menjeda ucapannya.


"Lagi pula dia wanita yang baik. Ngak minta yang macam-macam sama mas. Semoga kamu kerasan yah saya.. - "


Kudorong tubuhnya kuat. Tidakkah dia sadar bahwa apa yang dia katakan begitu menyakiti hatiku?  Dimana kamu yang dulu mas? 

__ADS_1


"Aku ini  istrimu, Mas. Apa aku ada hak atas dirimu? "


Suara deheman terdengar dari pintu dapur. Desi berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada pintu.


"Mbak, apa ngak kasihan sama mas Dani?  Pagi sampai malam dia memang ngak ada buat mbak, tapi seharusnya mbak sadar diri dong. Mas Dani kerja buat mbak juga kan? "


Muak sekali mendengar omong kosong wanita licik itu. Tanpa menoleh ke arah mas Dani aku langsung berjalan menjauh ke kamar. Jika bukan karna bayi yang berada dalam kandunganku, sudah kutinggalkan rumah ini.


Kuelus perutku pelan, merasakan kehadirannya dalam diri ini sungguh membangkitkan kekuatan baru. Dialah alasanku harus kuat saat ini.


***


Aku sudah siap dengan pakaian rapih. Baju gaun longgar semata kaki sudah melekat indah pada tubuh ini. Kupandangi diriku lewat pantulan cermin, lalu tersenyum saat tatapan mata jatuh pada perut yang sedikit membuncit. Ini adalah jadwalku periksa.


Taksi online yang kupesan sudah sampai. Aku berjalan dengan perasaan senang, tak terpengaruh akan perdebatan pagi tadi.

__ADS_1


Saat berada dalam halaman, kulihat kedua sejoli itu sedang bermesraan. Desi dengan gaya centilnya, memperbaiki kerah baju suamiku. Tak ingin semakin mengubah mood, kulewati mereka dengan begitu saja dan masuk kedalam taksi yang sudah menunggu sejak tadi. Terdengar suara Mas Dani yang memanggil, tak kuhiraukan. Hati ini sudah terlanjur kecewa.


__ADS_2