Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
DELAPAN PULUH TUJUH


__ADS_3

Anak-anak PAUD Hasanah tampak begitu ceria mengikuti gerakan demi gerakan senam yang diperagakan beberapa guru dan instruktur di depan sana. Gerakan yang dilakukan merupakan gerakkan kombinasi yang tidak rumit namun mampu membuat girang anak-anak. Apalagi mereka bersenam bersama orang tua mereka juga. Tentu saja, mereka merasa sangat-sangat bahagia.


Setelah kegiatan senam ceria usai, Asha meminta kedua orang tuanya mengajaknya ke kedai es krim. Tak ada alasan untuk menolak putri kesayangan mereka, bukan. Meskipun setelah ini, mereka harus kembali ke aktivitas harian mereka, apalagi kalau bukan bergulat dengan tumpukan berkas dan bertemu dengan orang-orang, baik yang merupakan rekan kerja maupun rekan bisnis.


"Asha mau es krim rasa apa?" tanya Jervario setelah mempersilahkan kedua bidadarinya itu duduk di kursi masing-masing.


"Asha mau rasa durian dan stroberi, Pi." Asha menjawab dengan penuh semangat.


"Kalau mami?"


"Hmmm ... alpukat dan coklat."


"Oke, duo bidadariku!" seru Jervario dengan senyuman lebarnya.


Jervario pun gegas menuju ke counter pemesanan dan memesan es krim sesuai pesanan Mentari dan Asha. Sementara menunggu, Jervario pun hendak kembali ke kursinya. Namun, dahi Jervario berkerut saat melihat seorang laki-laki sudah duduk di kursi tepat di samping Mentari membuat dada Jervario terasa panas.


"Sayang," panggil Jervario lembut kemudian mengambil tempat di sisi kiri Mentari. Untung saja Asha duduk di kursi yang berseberangan dengan Mentari jadi ada sisi kosong lagi di sisi kirinya.


"Eh, bang. Udah dipesan?" tanya Mentari dengan wajah cerianya.


"Hmmm ... " Jervario hanya menjawab dengan dehaman. Lalu Jervario menatap sosok di sisi kanan Mentari itu dengan tatapan datar namun menusuk.


"Oh iya bang, kenalin, dia ini Mohan. Dia dulu sefakultas sama aku pas kuliah di Malaysia," ujar Mentari menjelaskan pada Jervario. "Han, kenalin, ini Bang Jerva, suami aku," tukas Mentari dengan senyum yang tak luput dari bibir indahnya.


"Mohan," ujar Mohan seraya mengulurkan tangannya.


Jervario pun menyambut tangan itu dengan wajah datarnya, kemudian segera menarik kembali tangannya setelah bersalaman singkat, "Jervario."

__ADS_1


Tak lama kemudian, pramusaji datang untuk mengantarkan pesanan mereka. Melihat tatapan sinis Jervario membuat Mohan tak enak hati. Ia pun segera undur diri setelah sebelumnya meminta nomor ponsel Mentari terlebih dahulu.


"Kayaknya akrab banget ya sama dia. Beneran temen doang atau ... "


"Atau apa?" potong Mentari dengan mata memicing. "Abang cemburu, hm?" goda Mentari sambil mengecup ujung sendok es krim dengan sensual. Untung saja Asha kini terlalu sibuk dengan es krimnya, bila tidak, ia bisa malu sendiri karena bertingkah aneh.


Jervario mendelik tajam, apa yang Mentari lakukan sukses membuat sesuatu di bawah sana tidak nyaman.


'Jangan menggodaku, sayang, atau meja kerjamu yang akan jadi sasaran selanjutnya! Kau tahu, golok nagaku sudah cenat-cenut kangen sama Sofia,' bisik Jervario lirih membuat alis Mentari mengkerut saat mendengar kata Sofia.


Mata Mentari memicing tajam, 'siapa Sofia, hm? Jangan macam-macam ya, bang! Atau golokmu akan aku cincang-cincang!' Ancam Mentari.


Jervario justru bersikap acuh tak acuh. Ia justru sibuk mencicipi es krim Asha sambil sesekali melirik Mentari yang terus menatapnya tajam. Jervario terkekeh dalam hati, senang sekali rasanya mengerjai istrinya itu.


'Astaga, bini gue lagi marah aja gemesin apalagi kalo lagi teriak-teriak keenakan, makin ewww ... '


Yang udah bucin akut mah parah! 🤪


...***...


"Ngapain loe muka udah pas-pasan malah ditekuk gitu? Bisa-bisa jodoh loe makin jauh," ejek Jervario yang baru saja tiba di kantornya. Ia tiba di kantor setelah makan siang. Padahal rencananya ia akan langsung ke kantor setelah mengantarkan Asha pulang dan Mentari ke kantornya. Tapi ternyata apa yang ia ancamkan pada Mentari tadi benar-benar terjadi.


Gara-gara Sofia, Mentari ngambek bahkan sampai ia tiba di lobi kantornya. Alhasil, ia mengantarkan Mentari sampai ke ruang kerjanya. Kemudian mengunci pintu rapat dan menjelaskan siapa itu Sofia.


Awalnya Mentari ingin marah. Ia kira Sofia adalah nama perempuan atau gebetan sang suami.


Tapi saat Jervario menyentuh titik sensitifnya dengan sensual kemudian membisikkan siapa itu Sofia, wajah Mentari seketika bersemu merah. Apalagi saat jari-jari kokoh itu bermain dengan Sofianya, sungguh sensasional.

__ADS_1


Meja kerja yang sejatinya untuk dirinya bekerja, kini beralih fungsi menjadi tempat dirinya dikerjai suaminya. Untung saja ruangan kerja Mentari kedap suara, kalau tidak, bisa malu dia. Meskipun lantai tempat ruangannya berada hanya ada ruangan dirinya saja, tapi tak jauh dari sana ada meja kerja Belinda. Mau ditaruh dimana mukanya, bila sampai suara-suara lucknut itu sampai terdengar asisten merangkap sekretarisnya itu.


"Sialan loe, muka ganteng gini dibilang pas-pasan," sergah Dario yang geram karena ejekan Jervario.


"Kalau loe ganteng, kenapa sampai sekarang nggak laku." Seperti belum puas mengejek, Jervario pun terus melancarkan aksi cibirannya.


"Bukan nggak laku, tapi belum ketemu yang tepat," ketus Dario dengan wajah masam.


"Makanya jangan sok pilih-pilih."


"Siapa yang pilih-pilih. Tapi pilih pun perlu ya, kalo nggak klik di hati, untuk apa coba. Mau cantik, seksi, body bahenol, kalo hati nggak klik, percuma. Mending sabar. Alon-alon asal kelakon istilahnya." Jawab Dario sok bijak membuat Jervario terkekeh.


"Kenapa nggak pepet aja tuh Belinda. Gue lihat, kayaknya loe cocok sama dia."


"Aih, justru dialah sumber kekesalanku siang ini."


Sontak saja Jervario mengernyitkan dahinya, "memangnya apa hubungannya dengan asisten istriku itu?"


"Gimana nggak kesal, di chat beberapa kata tapi selalu dijawab dengan satu kata. Singkat, padat, dan jelas. Hai, kamu lagi ngapain? Kerja. Hai Bel, udah makan siang? Sudah. Grrrr ... gemesin banget. Nggak bisa apa basa-basi sedikit," omel Dario membuat Jervario melongo mendengar curahan kekesalan asisten pribadi merangkap sahabatnya tersebut. Kemudian dalam hitungan detik, Jervario pun menyemburkan tawanya dengan begitu puasnya.


"Puas loe ngetawain gue? Dasar, sahabat nggak ada akhlak. Bukannya bantuin temen pdkt, majah ngetawain. Nyebelin banget jadi bos," omel Dario yang langsung berdiri, hendak beranjak dari ruangan itu.


"Ck ... gitu aja ngambek. Loe pikir gue deketin Mentari langsung dapet gitu? Sama aja. Itu namanya mode pertahanan cewek. Mereka membentengi diri agar nggak mudah baper dengan perhatian lawan jenis. Kalau mereka baperan, bisa kacau. Setiap ada yang deketin mulai deh salting. Justru cewek-cewek yang kayak gini yang mesti diperjuangin sebab mereka pasti setia dan akan menjaga komitmen mereka sepenuh hati," pungkas Jervario memberikan arahan sekaligus membuka pikiran sahabat kentalnya itu.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2