
Hari ini adalah hari kepulangan Jervario dan Gathan. Karena pesawat yang membawa ayah dan anak itu akan mendarat dua jam lagi, alhasil Mentari mengisi waktu senggangnya dengan nongkrong di cafe. Tak lama kemudian Jeanara menyusul tanpa membawa baby Andara. Baby Andara dia titipkan dengan sang ibu, Nanda, sebab ia akan menemani Mentari menjemput ayah dan saudara kembarnya.
Mentari datang ke cafe itu diantar Belinda, sedangkan Jeanara diantar oleh Dario yang memang diminta menjemput Jervario
"Jea," panggil Mentari saat melihat sahabat sekaligus iparnya itu masuk ke dalam cafe disusul oleh Dario di belakangnya.
"Riri," seru Jeanara sumringah. Lalu ia menoleh ke arah Dario untuk membebaskannya duduk dimana.
"Saya duduk sama Belinda saja nona," ujar Dario seraya tersenyum lebar saat melihat keberadaan si gadis dinding beton sedang melamun ke arah luar jendela kaca.
"Oh, ya, silahkan. Kalau perlu, sekalian pdkt
Tenang aja, kalau kalian nikah, pasti aku kasih hadiah istimewa," ujar Jeanara sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Oh ya? Hadiah apa? Bisa spill sedikit biar makin semangat gitu?" seloroh Dario membuat Jeanara terkekeh. Jeanara pun sudah lama mengenal Dario karena itu ia tidak merasa kaku apalagi canggung dengan Dario.
"Tiket honeymoon ke Lombok, gimana?"
"Berapa hari?"
"Astaga ... ini nih definisi dikasi hati minta jantung." Jeanara mendelik sebal tapi tak urung membuat keduanya tergelak.
"Satu Minggu aja. Kalo satu bulan kelamaan, kasihan Jerva kerja sendirian. Entar dia kena PHK jadi suami karena terlalu sibuk di kantor dibandingkan sama anak bini," tukas Jeanara.
Dario tampak berpikir, kemudian mengulurkan tangannya, "deal?"
"Cih, kayak yakin aja bisa naklukin Belinda," cibir Jeanara.
"Aku yakin bisa. Nih juga lagi gencarin pdkt." Ucap Dario jumawa.
"Tapi bukan buat main-main kan? Awas kalo cuma buat main-main, bisa habis loe sama gue! Gue kirim loe ke Ethiopia, biar tahu rasa."
"Eits, nggak lah, aku serius kok. Doain aja biar usaha gue berjalan lancar. Biar bisa segera honeymoon ke Lombok. Lombok, i'm coming." Jeanara menutup wajahnya karena seruan Dario yang tak tahu malu. Jeanara pun segera beranjak menuju kursi dimana Mentari berada.
__ADS_1
"Kalian ngomongin apa sih kayak serius banget? Lombok? Kalian berdua mau ke Lombok?" Mata Mentari melotot membuat Jeanara meringis.
"Iya, tapi bukan kami, Ri. Tapi Dario sama Belinda. Gue janjiin dia tiket honeymoon ke Lombok kalo berhasil naklukin Belinda." Jeanara berbisik seraya terkekeh. Sontak saja Mentari membulatkan matanya kemudian tersenyum lebar.
"Wah, ide bagus tuh! Kira-kira gue kasih hadiah apa ya kalau mereka berhasil?" Mentari tampak berpikir.
"Udah, itu urusan nanti. Kita aja nggak tahu, berhasil nggak dia. Tahu sendiri gimana Belinda. tuh lihat, si bawel sibuk ngomel, si datar, acuh tak acuh. Kasihan banget kamu Dario, dianggap boneka kucing yang tangan kirinya naik turun," kekeh Jeanara membuat Mentari terkekeh geli.
*
*
*
"Hai," sapa Dario pada Belinda yang sedang menatap ke luar jendela. Dari sana, mereka dapat melihat hamparan bunga yang sepertinya ditanam khusus pemilik cafe.
Bukannya menanggapi, Belinda hanya melirik tanpa menjawab apalagi merespon Dario sama sekali. Duh, kasihan banget deh sama Abang Dario, dikacangin Belinda mulu. 😄
Kesal Belinda tidak meresponnya sama sekali, Dario lantas mengambil matcha latte milik Belinda dan meminumnya dengan santai.
"Salah sendiri, orang nyapa, dijawab kek, disapa balik kek, eh malah dikacangin," omel Dario yang sudah bersungut-sungut.
"Kamu itu kenapa sih? Temen bukan, sahabat bukan, rekan kerja bukan, pacar apalagi, tapi sok kenal sok dekat banget," ketus Belinda dengan tatapan memicing tajam.
"Astaga, jadi aku selama ini nggak kamu anggap sama sekali? Kamu itu sebenarnya nggak peka atau ... "
"Bodoh? Begitu maksud kamu?" potong Belinda cepat.
"Ya ... bukan. Bukan gitu maksud aku," kelit Dario.
Belinda menghela nafasnya panjang kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Sebenarnya aku paham tujuanmu. Aku memang kaku, tapi aku tidaklah bodoh. Biarpun aku tak pernah menjalin hubungan dengan orang lain sebelumnya, tapi aku tidak sebodoh itu untuk mengartikan perhatianmu itu. Tapi ... aku bukanlah wanita yang tepat untukmu. Sebaiknya kau berhenti mulai sekarang. Sekuat apapun kau mencoba, aku takkan pernah membuka hatiku, baik untukmu maupun siapapun. Tidak akan pernah." Ucap Belinda lirih. Tapi Dario dapat mendengar kepedihan dan kegetiran di dalamnya.
__ADS_1
"Mengapa? Memangnya apa alasannya?" tanya Dario seolah-olah belum mengetahui perihal masa lalu Belinda dan ibunya.
"Apa tujuanmu mendekatiku? Karena suka? Kalau aku balas perasaanmu, lalu apalagi yang akan kau lakukan? Menyeretku ke jenjang yang lebih tinggi, bukan? Pernikahan? Asal kau tahu, aku benci pernikahan. Bagiku, menikah adalah sumber malapetaka. Menikah hanya akan membawa pada kesedihan, kesengsaraan, dan penderitaan. Sudah cukup hidupku penuh dengan drama kesedihan dan aku tak ingin merasakan penderitaan lagi." Belinda mengungkapkan isi hatinya berharap Dario berhenti. "Jadi, berhentilah mulai sekarang. Aku tidak mau membuatmu merasa kecewa karena perjuanganmu yang sia-sia," imbuh Belinda lagi. Kini Belinda sudah mengalihkan pandangannya ke arah Dario. Sorot matanya sendu, tergurat luka yang menghujam jiwa di netra kecoklatan itu.
"Apakah ini karena masa lalu ibumu?" cetus Dario sambil menatap lekat netra kecoklatan Belinda.
Belinda membeliak, ia terkejut Dario mengetahui masa lalu ibunya.
"Bagaimana kau tahu?" tanyanya dengan mata melotot. Bagaimana tidak Belinda bingung sebab kisah masa lalu orang tuanya hanya dirinya dan keluarga besar mereka saja yang tahu. Tidak mungkin kan Dario mengenal keluarganya. Apa mungkin ... ?
"Tentu saja ibu calon mertua yang cerita," jawab Dario santai sambil tersenyum menggoda. "Ibu sudah menceritakan semuanya. Nda, tidak semua laki-laki seperti ayahmu jadi jangan kau pikul sama rata semua laki-laki. Kau lihat, bos kita, mereka pasangan bahagia dan saling mencintai 6. Yah, meskipun awalnya mereka harus dipertemukan dengan orang yang salah terlebih dahulu, tapi mereka tak berputus asa. Mereka menyerahkan jodoh mereka ke tangan Tuhan dan buktinya mereka dipertemukan satu sama lain untuk saling melengkapi, menyempurnakan, dan saling mencintai. Apa kau tidak ingin memiliki keluarga seperti itu?" tutur Dario dengan sorot mata teduh. Belinda lantas mengalihkan pandangannya pada Mentari dan Jeanara yang sedang asik berbincang.
"Tidak semua orang bisa menemukan pasangan yang tepat. Bagaimana kalau aku dipertemukan dengan orang yang salah? Aku ... aku mungkin nggak akan setegar Bu Mentari."
"Kata siapa? Belinda yang aku kenal itu bukanlah perempuan biasa. Dia bukan hanya cantik fisik, tapi hati. Dia wanita yang tangguh, tegar, mandiri, berani, nyaris sempurna. Dan aku jamin, kamu pasti akan dipertemukan dengan lelaki yang mau menerimamu apa adanya dan menyempurnakan hidupmu menjadi penuh kebahagiaan."
"Oh ya? Adakah laki-laki yang seperti itu? Apa katamu tadi, nyaris sempurna? Hahaha ... kalau mau berbohong itu kira-kira aja."
"Aku serius, Nda. Buktinya sudah ada di depan mata kamu. Cobalah buka hatimu, Nda. Aku memang tidak bisa berjanji, tapi aku berani menjamin kalau aku takkan pernah membuat kesalahan yang sama seperti yang mendiang ayahmu lakukan."
Bukannya terharu, Belinda justru berdecak apalagi saat mendengar Dario memanggilnya Nda.
"Nda, Nda, Ndasmu, iya?" Belinda memutar bola matanya jengah membuat Dario gemas dan mengacak rambut Belinda yang terikat rapi menjadi satu. Belinda mencebikkan bibirnya karena rambutnya jadi sedikit berantakan, yang justru membuat Dario makin gemas melihatnya.
"Itu panggilan sayangku buatmu lho, Nda."
"Panggilan kesayangan? Idih, ogah. Siapa juga yang mau sama kamu."
"Nggak boleh jumawa, sayang, ketulah bucin akut baru tau rasa. Kayak aku nih, jadi ketulah omongan bosmu, Aku waktu itu pernah ngejekin kamu soalnya kamu itu datar banget, nggak pernah senyum, dingin, kaku, terus bos kamu bilang, awas ketulah terus jatuh cinta, baru tahu rasa. Eh, ternyata apa yang bos kamu ucapin beneran terjadi. Aku harap, kamu juga gitu, ketulah sama ucapan kamu," ujar Dario dengan smirk di bibirnya membuat Belinda melotot tak percaya dengan apa yang baru saja Dario ungkapkan.
"Ap-apa kata kamu tadi? Jatuh cinta sama aku? Hahaha ... Dasar gila. Tukang ngibul," cibir Belinda.
"Kamu kalau ketawa makin cantik aja ya. Jadi pingin kawinin," seloroh Dario membuat Belinda membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Dasar gila!" umpat Belinda. "Mana boleh kawin sembarangan, nikah dulu baru kawin."
"Beneran nih? Ya udah, ke KUA sekarang yuk!" ajak Dario dengan bola mata berbinar cerah membuat Belinda salah tingkah karena ucapannya seolah-olah merupakan ajakan untuk menikah. Merasa malu, Belinda memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca kembali membuat Dario kian gencar menggodanya.