
Ken menepati janjinya pada Celine untuk mengajaknya jalan-jalan menikmati keindahan Pulau Jeju. Gadis itu tampak begitu antusias dan dia terlihat sangat bahagia.
"Wahhh... Ge..! Lihat! Pemandangannya indah sekali!" kini sepasang kekasih itu tengah berada di Bungee Artpia.
Seperti yang dijanjikan oleh Ken kemarin, Ia benar-benar membawa Celine datang ke taman yang dipenuhi bunga canola dihari kedua mereka di Jeju. Taman Bungee Artpia merupakan taman yang sangat terkenal dan menjadi destinasi utama wisatawan yang bertandang ke Pulau Jeju.
Hamparan bunga canola berwarna kuning sangatlah menakjubkan. Dan hal itulah yang menjadi minat utama Celine ingin datang ke taman Bunga Artpia.
"Celine, jangan berlarian. Itu terlalu berbahaya, kau bisa terjatuh." Seru Ken memperingatkan. Namun tak dihiraukan olehnya.
"Tiba-tiba Celine berhenti dan menghampiri Ken."Ge, fotokan aku." pinta Celine.
Dia meninggalkan Ken dan berlari ke tengah-tengah hamparan bunga Canola. Gadis itu memetik beberapa tangkai Canola. Celine berpose dengan cantik, bak foto model yang wajahnya sering kali menghiasi sampul majalah.
Ken hanya mendengus dan menggelengkan kepala melihat pose yang Celine ambil, namun tak menutupi rasa kagumnya juga. Ternyata Celine memiliki bakat untuk menjadi seorang model, pikirnya.
"Ge, sudah ya?"
Setelah memastikan Ken sudah menggambil gambarnya dengan bagus, Celine kembali berlarian kesana kemari menyusuri taman bungee artpia, membuat pria itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tingkahnya tidak berubah sedikitpun, Celine seperti bocah.
"Jangan berlarian lagi. Kemari, duduk sini." Seru Ken.Dia menepuk-nepuk tempat kosong disamping kirinya di kursi yang disediakan di taman tersebut.
Celine mengangguk. Dia menghampiri Ken lalu duduk di sampingnya dan mengaitkan tangannya erat di lengan sang pria. Mereka berdua pun pun kembali menikmati semilir angin dan pemandangan disekitar dengan tenang tanpa suara.
.
.
Setelah menghabiskan hari mereka di beberapa spot wisata di Pulau Jeju, Celine dan Ken pun memutuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat. Ken tengah berdiri di balkon kamar hotel mereka yang menghadap langsung ke kolam renang.
__ADS_1
Dia hanya memakai kaos hitam tipis lengan panjang dan dengan rambut basah yang menandakan Ia baru selesai mandi. Tangannya menggenggam sebuah ponsel tipe android. Ada beberapa email yang masuk dan belum dia periksa, dan email-email itu tidak jauh-jauh dari pekerjaannya.
"Ge, aku lapar." suara cempreng dari arah belakang mengalihkan perhatiannya. Ken menoleh dan mendapati Celine berjalan menghampirinya.
"Sabarlah sebentar, setelah ini makanan yang ku pesan tiba. Setelah makan segera siap-siap , hari ini juga kita kembali ke Seoul." Ucap Ken dan dibalas anggukan oleh Celine. Dia tahu betul dengan kesibukan sang kakak, sehingga dia tidak akan mempersulitnya dengan menolak untuk diajak pulang olehnya.
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu aku mandi dulu." Celine beranjak dari hadapan Ken dan pergi begitu saja.
Selepas kepergian Celine. Fokusnya kembali pada ponsel di genggamannya. Hanya menatap layarnya sekilas kemudian memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya.
xxx
Puluhan burung gereja yang hinggap di dahan pohon berkicau riang menyambut datangnya pagi yang cerah ini. Mencoba membangunkan setiap Insan yang masih terlelap dalam mimpinya, agar tidak melewatkan moment terindah di awal harinya.
Mungkin persepsi itu sungguh sangat berbeda dengan gadis yang satu ini. Di saat sebagian orang telah memulai aktifitasnya, gadis ini justru masih asik berkutat dengan selimut tebal di atas kasur super nyaman miliknya.
"Nona, Tuan Besar meminta Anda untuk segera bangun!" seru seorang wanita berseragam pelayan sambil mengetuk pintu kamar itu berulang-ulang.
"...." legang, tidak ada sahutan.
"Nona, Ini sudah ruang, semua orang sudah menunggu Anda untuk sarapan." Sekali lagi pintu itu di ketuk dengan keras, namun lagi-lagi tidak ada sahutan.
Wanita itu bingung harus melakukan apa, karena tidak mungkin Ia masuk kedalam kamar itu tanpa ijin dari sang empunya karena itu sangat tidak sopan.
"Nona, Anda harus bangun sekarang. Tuan besar dan yang lainnya sudah menunggu Anda di meja makan!" sekali lagi dia mencoba untuk membangunkan Nona-nya dan dia berdoa supaya percobaan kali ini berhasil.
"Apa Celine masih belum bangun juga?"
Sontak wanita itu menoleh dan mendapati Sang Nyonya berdiri tegap di belakangnya. Wanita itu segera menepi sambil menundukkan wajahnya
__ADS_1
"Maaf Nyonya, Nona Celine sangat sulit di bangunkan." ujar wanita itu tanpa menatap wajah tuannya.
Wanita itu yang pastinya adalah Aster mengangguk."Aku mengerti, kau kembalilah bekerja. Biar aku sendiri yang membangunkan gadis pemalas itu," Ucap Aster.
Pelayan itu mengangguk sopan "Baik, Nyonya," setelah membungkuk hormat, pelayan itu pun melenggang pergi.
Decitan pintu terbuka menggema di dalam kamar bernuansa putih dengan berbagai pernak pernik khas wanita, Aster mendengus geli melihat tubuh Celine yang terbungkus selimut tebal miliknya, membuat dia malah terlihat seperti ulat raksasa.
Ibu dua anak itu segera menarik selimut yang membungkus tubuh Celine. "Pemalas, ayo cepat bangun!" Aster mengguncang pelan tubuh gadis itu.
"...." hampa, tidak ada sahutan. Celine mengindahkan panggilan sang ibu dan tetap asik berkutat dengan mimpinya.
Aster tidak tau hal apa yang sedang di mimpikan oleh gadis itu hingga dia terus tersenyum di dalam tidurnya. Tak kehabisan akal, Aster segara mengambil gelas bening berisi air putih yang tergeletak di atas nakas kecil samping tempat tidur Celinelalu mencipratkan beberapa tetes air ke wajah putri kesayangannya itu sambil berseru lantang
"Banjirr..! Banjirrr..! Banjirr..!" seketika mata itu terbuka sepenuhnya, bangkit dan melompat dari tempat tidurnya.
"Banjir?? Ma, di mana banjirnya?" panik Celine.
"Tidak ada," jawab Aster sambil tertawa lebar. Dia sangat puas karena berhasil membangunkan putrinya yang pemalas itu.
Sadar baru saja dikerjai oleh sang Ibu, Celine pun mencerutkan bibirnya lucu. "Ma, jadi kau hanya mengerjai ku saja?" pekik Celine sambil menatap Sang ibu itu dengan sebal. Aster tidak menjawab dan hanya mengangkat bahunya acuh. "Mama," geram Celine kesal.
"Sudah jangan banyak protes, cepat mandi kemudian kita sarapan bersama. Papamu dan Ken sudah menunggumu di meja makan. Setelah sarapan, Mama ingin membawamu jalan-jalan!" ujar Aster memaparkan.
Celine mengacungkan jempolnya dan melesat masuk kedalam kamar mandi. Aster hanya bisa mendengus geli sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah putri kesayangannya itu. Wajar jika Celine sangat susah dibangunkan pagi ini. Karena dia tiba dari Jeju semalam hampir tengah malam. Aster melangkah pergi meninggalkan kamar Celine.
xxx
Bersambung
__ADS_1