Benih Titipan Tuan Muda

Benih Titipan Tuan Muda
Dia Sangat Menyebalkan


__ADS_3

Keanu membuka pintu kamarnya dan mendapati Aster yang sedang meringkuk diatas tempat tidurnya sambil menangis. Keanu menghela nafas kemudian menghampiri wanita itu.


Tanpa mengatakan apapun, Keanu duduk di depan Aster lalu meraih kaki kanannya yang berlumur darah dan meletakkan kaki itu di atas pangkuannya. "Bagaimana bisa kau sampai terluka seperti ini?" Keanu wajahnya dan menatap langsung ke dalam manik Hazel milik Aster.


Tapi tidak ada jawaban dari wanita itu, keanu menghela nafas. Lalu memperhatikan wajah Aster yang terlihat kesal, dan dia berani bersumpah jika air mata yang menetes dari pelupuk matanya bukan karena rasa sakit pada telapak kakinya, melainkan karena rasa kesal yang Aster rasakan.


"B*jingan itu telah mengacaukan semuanya. Semua yang telah aku siapkan dengan susah payah hancur dalam hitungan detik saja, dia benar-benar sangat keterlaluan, rasanya aku ingin sekali membunuhnya," tutur Aster dengan mata berkilat marah.


Keanu tak mengatakan apapun, bahkan satu kata pun tak terucap dari bibirnya. Dia benar-benar diam seribu bahasa, dan Keanu hanya terus menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Awalnya aku ingin membuat perayaan kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahunmu. Dengan dibantu Bibi Lee dan beberapa pelayan aku memasak berbagai hidangan mewah, dan hampir semua yang kami masak makanan kesukaanmu. Aku sudah menyusunnya dengan rapi, menyiapkan banyak lilin, bahkan aku sengaja memesan wine dari luar negeri sebagai kado ulang tahunmu, tapi semua hancur karena bajjingan itu. Semua usaha dan kerja kerasku, sia-sia karenanya," ujar Aster panjang lebar.


Lagi-lagi Keanu terdiam. Baru kali ini ada orang yang ingin merayakan ulang tahunnya, karena sebelumnya tidak pernah ada yang peduli pada hari kelahirannya. Adalah orang pertama juga satu-satunya yang ingin merayakan ulang tahunnya.


Aster menyembunyikan wajahnya yang penuh linangan air mata dibalik telapak tangannya. Isakan mulai terdengar dari sela-sela bibirnya , kedua bahunya naik turun seiring isakannya semakin keras. Ya, Aster menangis bukan karena luka ditelapak kakinya melainkan karena rasa kesal yang dia rasakan akibat ulah Dante.


"Sudah, tidak perlu dipikirkan lagi. Semua sudah terjadi, mau disesali juga percuma. Sebaiknya sekarang kita obati saja dulu lukamu, karena jika dibiarkan terlalu lama luka itu bisa semakin parah dan menyebabkan infeksi." Ujar keanu tanpa melepaskan kontak mata diantara mereka berdua.


"Ahhh... Keanu, pelan-pelan!! Sakit tau," ujar Aster setengah menggerutu.


"Jangan cerewet diam saja, aku melakukannya juga sudah pelan-pelan."Jawabnya.


Untuk sesaat keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua, tak ada perbincangan di antara Aster dan Keanu. Saat ini Keanu tengah mengobati luka pada telapak kaki Aster akibat tertusuk pecahan beling yang tajam.


Terlihat jelas dari raut wajahnya jika Aster sedang menahan sakit dan ketika Keanu membersihkan darah di sekitar lukanya dan mengoleskan obat pada luka itu sebelum membabatnya dengan perban.


Sesekali Aster memperhatikan wajah serius Keanu yang sedang mengobati luka di telapak kakinya. Tak bisa dia pungkiri jika Keanu memang sangatlah tampan bahkan jika dilihat dari sisi manapun, apalagi ketika dia sedang serius seperti sekarang ini.


"Sepertinya lukamu akan lama sembuhnya, jika kita tidak ke rumah sakit. Sebaiknya kita ke rumah sakit saja, supaya lukanya ditangani dengan baik?" kemudian Keanu mengangkat kepalanya membuat matanya dan Aster saling bersirobok.


Wanita itu menggelengkan kepala. "Aku tidak mau, aku takut pada jarum suntik," jawab Aster sambil mempoutkan bibirnya.


Keanu memicingkan matanya dan menatap Aster tak percaya. "Kau takut pada jarum suntik?" dan wanita itu menganggukkan kepala, membenarkan apa yang Keanu tanyakan.


"Ya, Aku sangat takut pada jarum suntik karena aku memiliki kenangan buruk pada benda panjang dan tajam tersebut." Jawabnya.


"Memangnya kenangan buruk seperti apa yang kau alami, sampai-sampai Kau sangat takut pada jarum suntik?" tanya Keanu penasaran.

__ADS_1


Aster menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya. sepertinya dia tidak ingin menceritakan apapun pada Keanu. "Pokoknya sangat buruk, dan aku tidak ingin membahasnya. Jadi apapun alasannya, jangan pernah tanyakan apapun lagi tentang jarum suntik padaku," pintanya


Dan karena Aster tidak ingin membahasnya, akhirnya Keanu memilih untuk diam dan tidak memaksa lagi wanita itu untuk pergi ke rumah sakit.


"Sudah selesai, aku mandi dulu. Setelah ini aku akan pergi ke apotek, karena bagaimanapun juga lukamu perlu diobati luar dalam." Ucap Keanu lalu beranjak dari hadapan Aster, pria itu berjalan lurus ke arah kamar mandi.


Dan sebelum pergi, tak lupa Keanu mengirim pesan singkat pada Rio supaya dia melakukan sesuatu untukmu. Keanu ingin memberikan sedikit pelajaran pada Dante karena sudah membuat Aster marah dan menangis.


.


.


Kelopak mata itu terbuka perlahan setelah seseorang mengguyurkan diatas kepalanya. Dante mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, namun tidak bisa. Tubuhnya terikat kuat pada sebuah kursi usang di dalam ruangan gelap dan minim cahaya.


"Dimana ini?" dia bergumam pelan.


"Tentu saja kau berada di ruang penghakiman!!" sahut seseorang yang tadi menyiram kepala Dante dengan air seraya melemparkan gelas ditangannya.


Dante mengangkat kepalanya dan mendapati seorang pria berdiri menjulang di depannya. Tetapi dia tidak bisa melihat dengan jelas Seperti apa muka orang itu, karena keadaan ruangan yang begitu gelap. Hanya terlihat postur tubuhnya, tapi tak terlihat seperti apa wajahnya.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku, yang jelas ini adalah ruang penghakiman!!" jawab orang tersebut, suaranya disamarkan sehingga Dante tidak tahu suara siapa itu.


Dante menggerakkan kursi yang ia duduki dengan keras, berusaha untuk membuat dirinya jatuh supaya bisa mencari cara untuk melepaskan ikatan pada tubuhnya. Tapi sayangnya kursi itu tidak bisa digerakkan sama sekali, bahkan ketika dia berusaha sekuat tenaga sekalipun.


"Lepaskan aku, bajingan!!" pintanya menuntut.


"Bukan aku yang memiliki hak untuk melepaskanmu, tetapi Tuanku. Dan jika dia tidak memberikan perintah untuk melepaskanmu, maka kau tidak akan pernah terlepas apalagi bebas dari tempat ini. Jadi berdoa saja, supaya Tuhan berubah pikiran lalu melepaskanmu, meskipun itu mustahil." Tutur pria itu.


Dante menatap sosok misterius itu dengan tajam dan marah. Kalian benar-benar pengecut!! Dan jika kalian benar-benar berani, maka jangan dengan cara seperti ini!!" teriak Dante dengan emosi.


"Aku tidak peduli," ucap pria itu dan pergi begitu saja.


.


.


Suara decitan pintu kamar mandi yang dibuka dari dalam sedikit menyita perhatian Aster, terlihat Keanu keluar dari sana hanya dengan berbalut handuk yang melingkari pinggulnya, sementara tubuh bagian atasnya polos tanpa sehelai benang pun.

__ADS_1


Mereka saling menatap selama beberapa detik, dengan tatapan yang dingin dan datar. Kemudian Keanu melewati Aster begitu saja menuju walk in closet, tempat dia menyimpan semua barang-barang pribadi miliknya.


Tak sampai lima belas menit, keanu keluar dari ruangan itu dengan pakaian lengkap. Sebuah kemeja hitam lengan terbuka yang memperlihatkan bentuk ototnya serta celana panjang berwarna hitam pula tampak membalut tubuhnya. Sepatu hitam juga terlihat di kedua kakinya, tak ketinggalan sebuah jam tangan mewah yang senantiasa menghiasi salah satu lengannya.


Keanu menghampiri Aster yang tampak terpaku ketika menatapnya, wanita itu tak berkedip sedikit pun. "Kau pasti lapar, aku akan membawamu untuk makan malam," ucap Keanu mengangkat tubuh Aster bridal style lalu membawanya keluar. Kedua tangan Aster memeluk leher pria itu.


"Memangnya kita mau makan malam dimana? Di rumah rasanya tidak mungkin, karena sudah tidak ada satu pun makanan yang bisa untuk dimakan," ujarnya.


"Kita makan malam di luar saja," jawabnya.


Saat ini mereka berdua menjadi pusat perhatian para pelayan, membuat Aster merasa malu dan tidak nyaman karena posisinya saat ini. Wanita itu menenggelamkan wajahnya di dalam pelukan Keanu untuk menghindari tatapan-tatapan itu. Iya benar-benar malu.


Kedatangan mereka di luar disambut oleh Rio yang langsung membuka pintu belakang. Setelah Keanu dan Aster masuk ke dalam, Rio menutup kembali pintu itu lalu dia berjalan memutar dan duduk di jok kemudi. Mobil itu pun perlahan melaju meninggalkan bangunan mewah tersebut menuju jalan raya yang ramai dan padat kendaraan.


Tanpa harus bertanya terlebih dulu. Rio sudah tau kemana Tuannya akan pergi. Karena Rio sudah melihat kejadian di ruang makan tadi.


Setelah hampir dua puluh menit berkendara. Mereka pun tiba di sebuah restoran mewah berbintang lima. Sebelum datang kemari, Rio sudah memesan ruang VIP untuk mereka berdua, sehingga mereka tak perlu mencari tempat lagi untuk menyantap makan malamnya.


Beberapa pelayan datang menghampiri meja yang diduduki oleh Aster dan Keanu. Dan semua menu yang mereka bawa adalah makanan-makanan kesukaan Keanu, persis seperti yang Aster masak tadi. Dan lagi-lagi Rio-lah yang menyiapkannya tentu atas permintaan Keanu.


"Apa tempat ini tidak terlalu berlebihan?" ucap Aster, dia merasa jika tempatnya hanya untuk sekedar makan malam.


Keanu menggelengkan kepala. "Sama sekali tidak, kita bisa merayakan ulang tahunku disini. Bukankah kau ingin membuat perayaan untukku?" Aster menganggukkan kepalanya. "Dan aku sudah mewujudkan keinginanmu itu, untuk menebus yang terjadi tadi."


Aster menunduk sedih. "Tapi tetap saja bukan aku yang menyiapkannya, dan tentu saja rasanya tidak sama," kemudian dia mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Keanu, tatapannya sedikit sendu.


Keanu meraih tangan Aster dan menggenggamnya."Tidak apa-apa, lain kali kau bisa melakukannya lagi. Sebaiknya sekarang kita makan, sebelum makanan-makanan ini menjadi dingin." Ucap Keanu dan kemudian dibalas anggukan oleh Aster.


"Baiklah,"


Selanjutnya makan malam mereka berdua lewati dengan tenang. Tak ada lagi obrolan diantara keduanya. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersentuhan. Sesekali Keanu menatap wanita yang duduk berhadapan dengannya. Tiba-tiba hatinya merasa hangat, dia tersentuh dan terharu oleh perhatian yang Aster berikan untuknya. Apalagi itu adalah hal yang tak pernah dia dapatkan dalam hidupnya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2