
"Tolong ... Tolong ... Tolong ... Seseorang bertengkar di toilet dan pintunya terkunci."
Teriakan itu membuat perhatian semua orang teralihkan termasuk Ken. Ken menoleh dan menatap wanita yang sedang berbincang dengan manager cafe tersebut. Tiba-tiba seorang wanita melewati Ken dan berlari kearah toilet. Dia mengenali siapa wanita itu, dia adalah teman Celine.
Ken bangkit dari kursinya dan bergegas menuju toilet untuk melihat apa yang terjadi di sana. Tiba-tiba pintu terbuka sebelum security cafe mendobraknya. Celine keluar dari dalam sana dalam keadaan yang cukup kacau, rambut dan pakaian berantakan dan ada luka seperti bekas cakaran pada dada dan lengannya.
Celine melewati Ken begitu saja tanpa melihat kearah Ken sama sekali. Dan keadaan Regita jauh lebih parah dari Celine. Ken tidak tahu apa yang telah dilakukan oleh Celine padanya, sampai-sampai keadaannya benar-benar parah. Namun satu hal yang pasti, Celine tidak akan melakukannya kecuali Regita sendiri yang mencari masalah dengannya.
"Ken, tolong aku. Bawa aku ke rumah sakit. Sekujur tubuhku terasa sakit semua, badanku rasanya remuk dan patah." seru Regita sambil mengulurkan tangannya pada Ken, memohon padanya supaya di larikan ke rumah sakit.
Bukannya menuruti. Ken malah melenggang pergi. Bahkan dia tidak menghiraukan teriakan Regita yang terus memanggil namanya. Ken berlari meninggalkan cafe dengan terburu-buru seperti mengejar sesuatu.
Setibanya di luar cafe dia berhenti sejenak dan menyapukan pandangannya, Ken menatap ke sana ke mari seperti mencari seseorang. Dia menghela napas ketika menemukan orang yang dia cari. Ken menghampirinya.
"Ayo ke mobil, kita obati luka-lukamu." Ucap Ken pada orang itu yang tak lain dan lakukan adalah Celine.
Mendengar ada yang bicara padanya, sontak Celine mengangkat kepalanya dan mendapati Ken berdiri menjulang di depannya. "Ge, apa kau menyusul ku kemari? Lalu bagaimana dengan wanita itu? Bahkan keadaannya jauh lebih parah dariku," ucap Celine.
"Jangan banyak bicara. Apa kau ingin di serbu banyak pertanyaan oleh Mama saat pulang dan melihatmu terluka begini?" ujar Ken sambil menatap Celine dengan pandangan dingin dan datar.
__ADS_1
Celine menggeleng. "Tentu saja tidak," dan menjawab singkat. Kemudian dia bangkit dari duduknya dan berjalan mengekor di belakang Ken. Mereka berjalan menuju parkiran, Ken akan mengobati luka-luka Celine di sana. Sedangkan Regita di bawa ke rumah sakit oleh orang lain.
.
.
Celine tak meluputkan sedikitpun pandangannya dari Ken. Dia menatap seriusan sang Kakak yang sedang mengobati luka-lukanya. Untungnya hanya luka ringan saja dan tidak perlu sampai pergi ke rumah sakit.
"Ge, kenapa kau harus peduli padaku? Bukankah seharusnya yang kau pedulikan itu adalah kekasihmu, bukan aku!!" sebuah pertanyaan keluar dari bibir Celine. Dia ingin tahu alasan Ken lebih memilih mengejarnya dari pada harus membawa Regita ke rumah sakit.
Alih-alih menjawab. Ken malah mengangkat wajahnya dan menatap Celine dengan pandangan dingin dan sinis. "Sebaiknya kau diam saja dan jangan banyak bertanya!!" pintanya dengan nada datar.
Namun tidak ada jawaban, Ken memilih diam dan tidak mengatakan apa-apa. Celine mempoutkan bibirnya karena lagi dan lagi Ken mengabaikan dirinya. Dia tidak tahu kapan Ken bisa bersikap baik dan hangat padanya.
Celine sambat berharap apa lagi sejak kecil dia sudah bermimpi memiliki seorang kakak laki-laki.Dan sekalinya terwujud malah mirip dengan kulkas 10 pintu dinginnya.
"Selesai," ucap Ken yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Luka-luka ringan di Tubun Viona sudah di obati, dan luka-luka itu akan membaik dalam dua hari. "Turunlah, aku harus ke kantor sekarang. Ada pertemuan penting dengan para Investor."
"Boleh aku ikut?" tanya Celine. Tiba-tiba dia ingin ikut ke kantor.
__ADS_1
"Untuk apa?" Ken menatap Celine penasaran.
"Untuk melihat-lihat saja. Siapa tahu ada pekerjaan yang cocok untukku, syukur-syukur kalau kau mau mengangkat diriku jadi sekretaris atau asisten pribadi." Jawab Celine.
Ken menatap Celine yang terus memohon padanya. Malas terus-terusan mendengar rengekannya. Akhirnya dia mengijinkan Celine untuk ikut ke kantor meskipun dengan berat hati, Ken takut wanita itu akan mengacau di perusahaannya. Lebih tepatnya membuat onar.
"Dalam mimpimu!!" jawab Ken menimpali.
Celine mempoutkan bibirnya dan menatap Ken dengan kesal. Dia tidak tahu kapan es dalam dirinya akan mencair. Dalam benaknya, Celine terus bertanya-tanya ketika hamil dulu ibunya ngidam apa sampai-sampai dia harus melahirkan seorang putra yang dingin mirip kutub Utara seperti Ken.
"Ge, berhentilah bersikap menyebalkan!! Begini-begini aku tetap adikmu!! Kau mau menerimanya atau tidak, itu tidak akan merubah fakta jika kita berdua bersaudara meskipun bukan saudara kandung!!" ucap Jesslyn menegaskan.
"Sebaiknya kau jangan banyak berharap padaku!!" Ken menghidupkan mesin mobilnya.
Dalam hitungan detik, mobil sport mewah keluaran terbaru itu melaju kencang meninggalkan cafe dan menuju jalanan yang padat kendaraan. ini masih jam kerja dan jam sekolah.
xxx
Bersambung
__ADS_1