Benih Titipan Tuan Muda

Benih Titipan Tuan Muda
Season 2: Bosan


__ADS_3

Hari masih pagi, dan mentari baru menampakkan wujudnya. Namun Ken sudah bangun dan berkutat di dapur. Dia sedang menyiapkan sarapan untuk Celine. Sejak Celine mengalami kecelakaan dan cidera, Ken benar-benar menjaganya. Dia menjadi kaki untuk gadis itu karena kaki Celine belum sembuh dari cideranya. Dan sosoknya yang dingin, tiba-tiba menjelma menjadi ibu peri yang baik hati.


"Tuan Muda, apa yang sedang anda lakukan?" kaget seorang pelayan saat melihat Tuan Mudanya berdiri di depan kompor yang menyala sambil memakai celemek.


"Mandi!! Kau buta ya, jelas-jelas aku sedang memasak, masih bertanya lagi!!" jawab Ken sinis.


Jelas-jelas pelayan itu juga tahu apa yang sedang dia lakukan, tapi malah bertanya. Dia sengaja atau memang buta? Ken benar-benar tidak habis pikir.


"Tapi, Tuan Muda. Ada yang salah pada Masakan Anda. Seharusnya yang anda masukan terlebih dulu bumbunya, baru sayurannya, bukan sayuran dulu baru bumbu. Bumbunya jadi tidak matang. Ada lagi, bukan gula yang harusnya Anda tambahkan ke dalam masakannya tapi merica. Dan ayamnya juga belum terlalu matang," ujar pelayan itu menuturkan.


Meskipun dia merasa tidak enak hati untuk menyampaikannya. Tapi tetap harus di sampaikan daripada menyebabkan diare dan muntah-muntah akibat salah kaprah.


"Iya iya aku tahu. Kenapa kau ini bawel sekali, sih!! Sudahlah, kau saja yang melanjutkannya," Ken melepaskan celemek nya dan pergi Begitu saja.


Pelayan itu menoleh dan menghela napas. Dia harus banyak-banyak sabar dalam menghadapi Ken yang temperamen nya sangat buruk. Menggelengkan kepala, pelayan itu kemudian mengambil alih pekerjaan yang di tinggalkan oleh Ken. Dan pertama-tama yang harus dia lakukan adalah membuang makanan yang Ken masak tadi. Karena akan sangat beresiko jika sampai di makan.


xxx


BRAKKK ..


Suara keras yang berasal dari kamar Celine membuat Ken terkejut. Pria itu menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamarnya. Dia buru-buru menghampiri Celine untuk memastikan dia baik-baik saja. "Celine, ada apa? Suara apa itu tadi?" tanya Ken setibanya dia di kamar Celine.


"Kursi, tadinya aku mau pindah tapi kursinya malah terbalik." Jawab Celine.


Jelas-jelas yang jatuh adalah dirinya, tapi Celine mengatakan pada Ken suara itu berasal dari kursi yang terbalik. Dia terjatuh saat hendak mengambil barangnya yang ada di atas lemari. Tapi sial, kursi yang dia naiki malah terbalik dan sekarang pantat Celine rasanya cenat-cenut.


Ken menghela napas. "Seharusnya kau bisa memanggilku, bukannya malah melakukannya sendiri. Apa kau masih ingin pindah ke kursi itu?" tanya Ken memastikan.

__ADS_1


Ken menggeleng. "Tidak, aku di sini saja. Duduk di kursi roda tidak buruk juga. Oya, Ge. Kakiku sudah lumayan dan tidak terlalu sakit lagi seperti sebelumnya." Ucap Celine sambil menunjukkan kakinya pada Ken. Dia mengatakan jika kakinya sudah membaik, padahal kakinya memang tidak apa-apa dan Cedera yang Celine alami hanya cidera ringan saja.


"Benarkah? Syukurlah kalau sudah membaik. Tapi kau juga harus memperhatikannya, jangan terlalu banyak bergerak dulu supaya kondisinya bisa cepat pulih." Tutur Ken menasehati.


Celine mengangguk sambil tersenyum lebar. "Aku mengerti." dia menjawab dengan senyum yang sama.


Melihat senyum lebar di bibir Celine, membuat Ken ikut tersenyum juga. Tiba-tiba hatinya menghangat melihat senyum di bibir gadis itu. Ken menepuk kepala Celine dengan lembut. Tanpa berkata apa-apa, dia beranjak dari hadapan Gadis itu dan pergi pergi itu saja. Mengisahkan Celine sendirian di kamarnya. Gadis itu mengusap dadanya dan menghela nafas lega. Hampir saja ketahuan karena kecerobohannya sendiri, beruntung saat Ken masuk ke dalam kamarnya, Celine sudah kembali ke kursi rodanya.


"Huft, untung saja. Bisa lain ceritanya jika dia sampai memergokiku terjatuh. Bisa-bisa dia akan curiga dan tahu jika aku hanya membohonginya." Ucap Celine sambil terus mengusap dadanya. Dia bisa melanjutkan kembali dramanya, tanpa harus takut Kevin akan segera mengetahuinya.


xxx


Pupil mata wanita itu membulat sempurna saat dia melihat dua laki-laki yang wajahnya tidak asing berjalan kearahnya. Wanita itu buru-buru lari dan bersembunyi untuk menghindari mereka berdua. Dia bisa dalam masalah besar jika mereka sampai berhasil menangkapnya.


"Tunggu, jangan lari kau!!" teriak salah satu dari kedua laki-laki itu. Namun tidak dihiraukan olehnya , wanita itu tetap lari menjauh dan menghindari mereka berdua.


Namun sayangnya dia berhasil di hentikan. Mereka berhasil menghentikannya sehingga wanita itu tidak memiliki kesempatan untuk lari lagi. Dengan kaku dia menoleh ke belakang dan menatap mereka berdua dengan kaku. "Ma..Mau apa kalian berdua?" tanya wanita itu terbata-bata.


"Kapan kau akan melunasi semua hutang-hutangmu??"


Wanita itu tidak bisa kabur lagi saat dua laki-laki menghentikannya. Wanita itu tampak panik dan ketakutan. Bagaimana tidak, mereka adalah dep kolektor yang hendak menagih semua hutang-hutangnya yang jumlahnya jelas tidak sedikit.


"Aku pasti akan membayarnya, tapi tidak sekarang. Beri aku waktu lagi, bilang pada bos kalian untuk memberiku sedikit waktu. Dalam waktu dekat aku akan membawa putriku yang cantik padanya, jika aku tidak bisa melunasi semua hutang-hutangku dia akan jadi jaminannya." Ujar wanita itu.


"Waktu waktu waktu dan waktu. Apa kau bercanda, berapa kali kau meminta waktu? Tidak ada toleransi lagi untuk orang sepertimu, jadi cepat bayar semua hutang-hutangmu!!" pinta laki-laki itu menuntut.


Wanita itu sedang berpikir keras, dia sedang mencari cara untuk melarikan diri dari mereka berdua. Matanya menelisik ke kanan dan kiri , senyum miring tersungging di sudut bibirnya. "Lihat, ada apa di sana?!" teriak wanita itu. Keduanya menoleh dan wanita itu pun segara melarikan diri dari mereka berdua.

__ADS_1


Tidak ada apa-apa. Keduanya menoleh berniat untuk membuat perhitungan dengan wanita itu. tapi sayangnya wanita itu sudah berhasil melarikan diri dari mereka berdua. "Sial!! Ternyata kita di tipu olehnya. Ayo, kita harus melaporkan hal ini pada, Bos." Ucap salah satu dari kedua laki-laki itu. Keduanya kemudian melenggang pergi, mereka berdua harus segera melaporkan yang baru terjadi pada bosnya.


xxx


Celine sedang duduk termenung di depan jendela kamarnya yang terbuka. Duduk terus-menerus di kursi roda ternyata capek juga, apalagi tidak ada aktivitas yang dia lakukan selama dua hari terakhir ini. Rasanya Celine ingin cepat-cepat mengakhiri kebohongannya. Tapi dia merasa masih belum waktunya, Celine ingin supaya dan memberikan perhatian padanya lebih dan lebih lagi.


"Bosan," Celine mengeluh. Dia menghela napas.


"Sedang apa kau?" dan teguran itu seketika mengalihkan perhatiannya. Celine menoleh ke belakang dan mendapati Ken berjalan menghampirinya.


"Ge, aku bosan." Keluh Celine sambil menghela napas. "Aku ingin pergi jalan-jalan," ucapnya setengah merengek.


Ken mendekati Celine kemudian duduk di ambang jendela dan berhadapan dengannya. "Memangnya kau ingin jalan-jalan ke mana?" tanya Ken. "Aku akan menemanimu." Imbuhnya.


Celine menggeleng. "Entah, aku sendiri tidak tahu. Ke taman sepertinya tidak terlalu buruk. Tapi tidak mau pergi denganmu, tapi dengan Mark. Aku ingin dia yang menemaniku jalan-jalan."


"Kenapa harus dia?! Aku sendiri juga bisa mengantarmu jalan-jalan." Ucap Ken.


"Tapi aku maunya pergi dengannya. Ge, jangan menyebalkan. Aku mau pergi dengan Mark, bulan denganmu!!" ucap Celine menegaskan.


"Kalau begitu tidak usah pergi sekalian!!" ucap Ken lalu beranjak dari hadapan Celine dan pergi begitu saja.


Ken langsung bad mood saat Celine mengatakan dia ingin pergi dengan Mark bukan dengannya. Ken terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan Celine dan teriakannya. Dia benar-benar kesal setengah mati padanya.


Bisa-bisanya Celine malah ingin pergi dengan orang lain dari pada dirinya. Padahal Ken juga bersedia untuk menemaninya, tapi dengan entengnya Celine malah mengatakan tidak ingin pergi dengannya. Dan kalimat itulah yang membuatnya dongkol setengah mati.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2