
"Ge,"
Ken bangkit seketika dari duduknya saat tirai ruang pas dibuka dan memperlihatkan Celine yang dalam balutan gaun pengantin mewah berwarna putih gading bertabur mutiara dan berlian. Ken sampai tidak berkedip sedikit pun, tubuh pria itu seolah membeku melihat bagaimana cantiknya Celine dalam balutan gaun pengantin tersebut.
Wajah gadis itu bersemu merah melihat bagaimana tatapan Ken padanya, gadis itu tersipu. Dengan bantuan penjaga toko yang memegangi bagian belakang gaunnya, Celine berjalan menghampiri Ken yang sudah menunggu sejak tadi.
"Bagaimana, Ge? Apa gaun pengantin ini cocok untukku?" tanya Celine memastikan. Gadis itu sedikit berputar di depan Ken.
Raut wajah Celine berubah masam karena Ken tidak memberikan respon apa-apa. "Ge," seru Celine sambil menepuk bahu pria itu sedikit keras sambil memanggilnya.
"Tanpa aku menjawabnya sekali pun, harusnya kau sudah tau jawabannya. Kau sangat cantik dalam balutan gaun ini," ujar Ken sambil mengurai senyum lembut di bibirnya, melihat senyum itu membuat Celine ikut tersenyum juga.
Segera gadis itu kembali keruang pas untuk mengganti gaunnya dengan dress yang ia pakai sebelumnya. "Aku akan berganti pakaian dulu," ucapnya yang segera di balas anggukan oleh Ken.
Tidak sampai 15 menit, Celine sudah kembali dengan dress yang ia pakaia sebelumnya. Gadis itu menghampiri Ken yang terlihat sedang berdebat dengan seorang wanita yang sangat ia kenal.
Celine mendengus, gadis itu semakin mempercepat langkahnya, Ia benar-benar tidak suka melihat keberadaan wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Regita, mantan kekasih Ken. "Mau apa lagi kau?" dengan kasar Celine menarik Regita menjauh dari Ken, gadis itu berdiri tepat di depan pria tersebut.
Melihat kedatangan Celine membuat kemarahan Regita semakin memuncak, dengan mata berkilat marah, dia mengangkat tangan kanannya yang kemudian ia arahkan pada wajah Celina yang dengan cepat pergelangan tangannya ditahan oleh Ken.
"Kali ini kesabaranku benar-benar habis untukmu. Aku tidak akan mempermasalahkannya jika yang kau sakiti adalah aku, tapi aku tidak terima jika yang kau sakiti adalah dia. Tindakanmu sudah sangat keterlaluan. Sebaiknya keluar kau dari sini!!" Ken meraih tangan Regita dan menyeretnya meninggalkan boutique.
Regita terus meronta meminta agar ia dilepaskan, namun Ken tidak menggubrisnya sama sekali, dia berniat untuk menjebloskan Regita ke penjara supaya dia tidak banyak berulah. Namun Regita tidak habis akal, wanita itu menyambar vas bunga yang terletak diatas meja dekat pintu masuk.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu memperlakukanku seperti ini, Ken. Jangan salahkan aku jika aku harus melukaimu." ujar Regita lalu menghantamkan vas itu pada kepala Ken.
Prakkk....!!!!
"GE..." Jerit Celine melihat Ken yang tampak kesakitan sambil memegangi dahinya yang berlumur darah. "Siapa pun tolong amankan gadis gila itu dan bawa dia kekantor polisi," mohon Celine pada beberapa pengunjung. Regita pun dapat ditangkap dengan mudah.
"Yakkk...!! Wanita sialan, awas kau. Aku pasti akan membunuhmu," teriak Regita sambil terus memberontak, dia berusaha untuk melepaskan diri namun tidak bisa.
"Nona, sebaiknya segara pergi ke rumah sakit. Akan sangat berbahaya jika darahnya tidak berhenti keluar." Nasehat seorang pengunjung paruh baya sambil memberikan beberapa lembar tisu pada Celine yang kemudian ia tekankan pada kening dan pelipis Ken yang terluka.
__ADS_1
"Terimakasih bibi, saya memang akan membawa dia ke rumah sakit."
Beberapa orang menghampiri Celine dan membantu memapah Ken sampai ke mobilnya, berkali-kali Celine membungkuk dan mengucapkan terimakasih pada mereka yang sudah membantunya. Celine menatap Ken dengan mata berkaca-kaca. Melihat banyaknya darah yang keluar dari luka itu membuatnya ketakutan setengah mati .
"Hei, jangan menangis. Aku baik-baik saja," Ucap Ken sambil menyeka air mata Celine. "Kita tidak perlu ke rumah sakit, aku sangat-sangat membenci tempat itu. Kau saja yang mengobati ku," ucapnya seraya menyandarkan kepalanya pada jok mobil.
Ken tidak pernah ingin lagi berurusan dengan yang namanya rumah sakit. Dia memiliki kenangan buruk dengan rumah sakit, dan Celine mengerti apa alasannya. Gadis itu mengangguk. "Baiklah,"
Tidak butuh waktu lama bagi Celine untuk menyelesaikan pekerjaannya, luka di pelipis dan kening Ken sudah terbalut perban. Noda darah menyembul di atas perban yang membalut kening sampai pelipis kanannya yang menandakan jika luka itu masih sangat baru.
"Sudah aku bilang, jangan menangis. Aku baik-baik saja, kenapa kau cengeng sekali?!" Ken mengangkat salah satu tangannya, jari-jarinya menghapus air mata di wajah cantik Celine.
"Ge, Kenapa kau suka sekali membuatku cemas? Apa kau tahu aku sangat-sangat ketakutan saat melihatmu berlumuran darah seperti itu." lirih Celine mengisak, bahkan matanya agak berkunang-kunang sekarang, tapi sebisa mungkin dia menahan dirinya agar tidak sampai pingsan.
Ken menghela nafas, dia meraih bahu Celine dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Dia berusaha untuk meyakinkan pada Celine jika dirinya baik-baik saja. "Sudah, jangan menangis lagi." Pintanya.
Saat dirasa mulai tenang, Ken melepaskan pelukannya dan menatap Celine dengan senyum lembut yang tersungging di bibirnya. "Sudah hampir malam, sebaiknya kita pulang." ucap Ken dan di balas anggukan oleh Celine.
Dia harus merawat Ken sendirian karena sekarang orang tua mereka sedang berada di luar negeri, dan mereka baru kembali beberapa hari lagi.
.
.
Diam-diam Ken mengurai senyum tipis, kemudian pria itu berjalan menuju lemari pakaian dan mengeluarkan sehelai singlet putih dan celana panjang berwarna hitam lalu memakainya, kemudian dia menghampiri Celine yang tampak sibuk itu.
"Serius sekali," tegur Ken yang tidak di hiraukan oleh Celine.
Lantas Gadis itu mengangkat kepalanya. "Ge, bagaimana menurutmu? Bagus tidak?" Celine menunjukkan bunga hasil rangkaiannya pada C
Ken dan meminta pria itu untuk menilainya.
Tanpa mengatakan apa pun, Ken mengambil bunga itu dari tangan Celine lalu mellumat singkat bibirnya dan membuat gadis itu terkejut bukan main. Dia tidak memperkirakan jika Ken akan menciumnya.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, Celine menutup matanya ketika merasakan sentuhan bibir Ken pada bibirnya yang semakin dalam dan menuntut. Dengan ragu, Celine mengangkat kedua tangannya lalu memeluk leher Ken.
Kepala mereka berputar searah, lidah Ken mulai mengobrak-abrik isi mulut Celine, mengabsen deretan gigi putihnya dan membawa liidah gadis itu menari bersama. Namun ciuman itu tidak berlangsung lama, karena Ken sudah mengakhirinya
"Ini sudah malam, kenapa belum tidur?" tanya Ken yang kemudian duduk disamping Celine."Kembalilah ke kamarmu dan cepat tidur."
Gadis itu mendongak,membuat mata hazel-nya bersirobok dengan mata hitam nan dingin milik Ken. Celine menggeleng. "Nanti dulu. Lagipula aku masih belum mengantuk." ucapnya menimpali, jari-jarinya mengusap perban yang membalut luka di pelipis dan kening Ken
"Ge, sebaiknya kau segera tidur. Kau dalam keadaan yang kurang baik," pinta Celine.
Ken menggeleng "Nanti saja. Kau sendiri belum ngantuk, kan? Mau menemaniku sebentar, langit malam ini lumayan cerah. Ayo keluar melihat bintang." Ken meraih tangan Celine dan mengajaknya ke balkon kamarnya. Dan dengan senang hati Celine menurutinya.
Hati Celine menghangat dengan perubahan signifikan pada sikap Ken padanya Dia menjadi begitu hangat pada dirinya.
Semilir angin malam langsung menyambut mereka di balkon, menyapa keduanya melalui sentuhan lembutnya. Dingin namun terasa sejuk.
Celine menoleh saat merasakan sentuhan sepasang tangan kekar yang memeluknya dari belakang, disusul seseorang menyandarkan dagunya diatas bahunya. Tanpa melihatnya pun, tentu Celine sudah tau siapa orang itu.
"Ge, lihatlah bintang-bintang itu. Bukankah sangat indah," ucap Celine sambil menunjuk kearah langit.
"Ya," Ken menjawab singkat sambil menganggukkan kepala. Sesekali Ken mencium leher jenjang Celine, membuat gadis itu memejamkan matanya, merasakan sentuhan Ken membuat tubuhnya panas dingin.
Celine melepaskan pelukan Ken lalu membalikkan tubuhnya dan posisi mereka kini saling berhadapan. Mata mereka saling mengunci satu sama lain. "Ge, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu. Tentang diary itu. Benarkah jika aku adalah cinta pertamamu? Tapi bagaimana mungkin, bukankah selama ini kau tidak menyukaiku?" setelah memendamnya, akhirnya sebuah pertanyaan keluar dari bibir Celine.
"Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau sudah melihat isi diary itu?" tanya Ken, Celine mengangguk."Karena kau sudah mengetahuinya, aku tidak memiliki alasan lagi untuk menyembunyikan perasaanku padamu. Ya, adalah cinta pertamaku dan aku sudah menyukaimu sejak lama. Alasan kenapa aku selalu bersikap dingin padamu, karena aku ingin menyembunyikan perasaan itu." Jelas Ken.
Dan jawaban Ken sampai-sampai membuat Celine tidak bisa berkata-kata lagi. Dia bungkam dan diam 1000 bahasa. Ken mengangkat tangannya dan membelai rambut panjang Celine dengan lembut.
Tubuh Celine menegang ketika pandangan Ken terkunci pada bibir ranumnya. Ken menarik Celine dan membunuh jarak diantara mereka, sebelah tangannya melingkari pinggang gadis itu, sedangkan tangan satu lagi menekan tengkuk Celine ketika bibirnya sudah terbenam di bibir sang dara.
Celine terpaku. Tangannya yang semula di sisi badannya terangkat dan memeluk leher Ken, gadis itu membiarkan pria itu menginvasi bibirnya. Ciuman kali ini lebih panjang dari ciuman sebelumnya, bahkan Ken tidak memberikan kesempatan pada Celine untuk bernafas meskipun hanya satu detik saja.
Ciuman yang mengungkapkan perasaan masing-masing. Yang ternyata Ken dan Celine ternyata memiliki perasaan yang sama.
__ADS_1
xxx
Bersamanya