Benih Titipan Tuan Muda

Benih Titipan Tuan Muda
Season 2: Jatuh Sakit


__ADS_3

Malam hari, adalah waktu di mana orang-orang mengistirahatkan badannya setelah lelah bekerja seharian. Ken salah satunya. Hari ini dia sengaja pulang lebih awal dari biasanya karena sedikit kurang enak badan.


Ketukan pada pintu sedikit menyita perhatiannya. Seseorang memasuki kamarnya sambil membawa beberapa butir obat dan segelas air putih yang kemudian di letakkan di nakas samping tempat tidur Ken.


"Tuan Muda, sebaiknya minum dulu obatnya." Pinta orang itu yang pastinya adalah Rio.


"Letakkan saja di situ, Paman. Aku akan meminumnya nanti." Ucap Ken menimpali. Rio mengangguk. Kemudian dia berpamit pergi dan membiarkan Tuan Muda nya beristirahat. Ken terlihat sedikit pucat.


Dobrakan keras pada pintu membuat Ken sedikit terkejut. Matanya kembali terbuka dan dia melihat Celine menghampirinya dengan terburu-buru. Rio yang memberitahunya jika Ken sedang kurang enak badan.


"Ge, kau kenapa? Apa kau sakit?" tanya Celine sambil menatap Ken dengan cemas. "Kau sedikit demam," imbuhnya setelah memeriksa suhu tubuh lelaki itu.


Ken menggenggam pergelangan tangan Celine dan menggeleng. "Aku tidak apa-apa, aku hanya sedikit pusing saja." ucap Ken meyakinkan.


"Tidak apa-apa bagaimana? Jelas-jelas kau tidak baik-baik saja, tubuhmu demam dan wajahmu pucat. Seperti ini masih dibilang tidak apa-apa?!" Celine mengomeli Ken habis-habisan. Sedangkan yang diomeli hanya memutar matanya dengan jengah.


"Diamlah, Celine!! Kau hanya membuat kepalaku semakin pusing," ucap Ken setengah berbisik.


Celine menghela nafas. "Sudah seperti ini masih bisa mengomeli ku? Bagus sekali kau, Ken Xiao. Sebaiknya kau menurut dan jangan banyak protes!!" Celine kembali mengomeli Ken , dia benar-benar tidak habis pikir dengan kakak angkatnya tersebut.


"Berhenti mengoceh dan keluarlah!!" pinta Ken sambil menatap Celine dengan pandangan dingin dan tajam. Kedatangan Celine hanya membuat kepalanya semakin pusing.


"Ge, kau jangan keterlaluan!! Kalau aku pergi lalu siapa yang akan merawat mu? Kau ini sedang sakit, jadi berhenti bersikap menyebalkan!! Mama, sedang tidak ada di rumah, jadi aku yang akan bertugas untuk merawat mu!!" Ujar Celine menegaskan. "Jadi kau harus nurut padaku, oke.",


Ken menghela napas. Sepertinya dia tidak mungkin menang berdebat dengan Celine apalagi dengan keadaannya yang seperti ini. Jangankan untuk berdebat, untuk bicara saja rasanya sangat berat. Kevin mengalah dan membiarkan Celine melakukan apapun yang dia inginkan.


Melihat tidak ada lagi pemberontakan dari Ken membuat senyum Celine mengembang lebar. "Ge, aku akan segera kembali." Celine melenggang pergi meninggalkan kamar Ken. Dia hendak mengambil air hangat untuk mengompres lelaki itu. Ken sedikit demam jadi Celine berniat untuk mengompresnya.


Tidak sampai lima menit Celine kembali sambil membawa baskom berisi air hangat dan juga sapu tangan untuk mengompres Ken. "Ge, sebaiknya minum obatmu dulu. Kau sudah makan malam, kan?" tanya Celine memastikan. Kevin menjawab pertanyaan wanita itu dengan anggukan kecil.


Setelah Ken meminum obatnya. Celine memintanya untuk berbaring kembali. Dia menyelimuti tubuh Ken sampai sebatas dada lalu mengompresnya.

__ADS_1


Celine benar-benar tidak tega melihat Ken yang sedang sakit. Apalagi dia terlihat lemas dan pucat. Membuatnya tidak tega untuk meninggalkannya sendirian.


.


.


Celine duduk di samping Ken yang sedang berbaring. Dia sudah tidur sejak satu jam yang lalu. Dan dengan setia Celine menemani Ken di sampingnya. Dia tidak tega untuk meninggalkannya sendirian.


Gadis itu terus memperhatikan wajah pucat Ken. Selama bertahun-tahun mereka berdua hidup dan tinggal di bawah satu atap yang sama. Tapi baru kali ini Celine melihat Ken yang begitu tidak berdaya. Membuatnya merasa tidak tega sekaligus kasihan.


Gadis itu memeriksa kain yang ada di kening Ken. Ternyata sapu tangannya sudah mengering, dengan sangat hati-hati Celine mengangkat kain kompres itu agar tidak membangunkan Ken yang sedang tidur, namun kelopak mata itu justru terbuka dengan perlahan-lahan.


"...Celine?"


Suara lirih itu terdengar jelas di telinga Celine. Ken memanggilnya dengan suara yang begitu lirih, hampir tidak terdengar. "Ge, kau bangun." Ucap Celine dengan lembut dan lirih. "Karena kau sudah bangun, bagaimana kalau kau makan dulu? Biar aku ambi-"


Perkataannya terpotong ketika Ken langsung menarik tubuhnya, karena terlalu tiba-tiba Celine kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas pelukan Ken. Tubuh Celine terpaku dengan kedua matanya yang membulat sempurna.


"Dingin..." gumam Ken, ia memeluk tubuh Celine dengan erat, "Dingin sekali... Aku benar-benar kedinginan."


Celine benar-benar tidak bisa bergerak, Ken memeluknya dengan sangat erat. Mungkin saja dia menganggapnya sebagai guling? Lelaki itu menutup rapat matanya, keringat mengucur di dahinya. Celine kembali membatu. Pikirannya berkecamuk hebat.


Rasanya sesuatu sekali di peluk seperti ini oleh Ken. Dia bahagia dan hatinya menghangat. Namun sebahagia apapun yang dia rasakan saat ini, Celine tetap punya harga diri, tidak ingin sembarangan dipeluk oleh lelaki apalagi di atas kasur.


Terjadi pergolakan di benaknya sendiri. Antara melepaskan pelukan itu atau mempertahankannya? Sementara Ken membutuhkan kehangatan yang lebih.


"Ge, apa kau sudah merasa lebih hangat?" tanya Celine berbisik. Namun tidak ada jawaban dari Ken, dia sedang tertidur pulas.


Celine menoleh. Dia merubah posisinya dengan perlahan dan sangat hati-hati supaya tidak membangunkan Ken lagi. Posisi Mereka sekarang saling berhadapan. Celine terus memperhatikan wajah Ken dengan seksama, dan baru kali ini dia bisa melihat wajah lelaki itu dalam jarak yang begitu dekat.


Semakin lama, Celine merasakan matanya semakin memberat. Dan dalam hitungan detik saja, gadis itu sudah menyelami alam mimpi menyusul Ken yang lebih dulu tertidur pulas. Terpaksa Celine tidur satu ranjang dengan Ken. Jika bukan karena dia sakit dan membutuhkannya, Celine pasti tidak akan Sudi.

__ADS_1


.


.


Sinar mentari pagi yang hangat menerangi di seluruh penjuru kamar, masuk melalui sela-sela kecil dan ventilasi udara. Membuat sepasang mata yang kelopaknya masih tertutup rapat itu sedikit terusik.


Perlahan tapi pasti, pemilik mata itu membuka matanya dengan perlahan. Dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah ayu seseorang yang terpampang jelas di depannya. Hampir saja dia berteriak jika tidak ingat apa yang terjadi semalam.


Dengan perlahan-lahan, laki-laki itu yang pastinya adalah Ken menarik lengannya yang menjadi bantalan kepala Celine. Ken melakukannya dengan sangat pelan dan penuh kehati-hatian supaya tidak mengusik tidur gadis itu.


"Uhhh," Ken mengeluh karena lengannya yang terasa kebas. Sepanjang malam Celine menggunakan lengannya sebagai bantalan kepalanya.


Dia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket semua. Sepanjang malam tubuhnya berkeringat dan itu membuatnya kurang nyaman. Mungkin mandi akan membuat badannya terasa lebih fresh.


Setelah mandi dan berpakaian lengkap. Ken Meninggalkan kamarnya untuk menikmati kopinya. Tubuhnya jauh lebih bugar dan pusingnya juga sudah hilang.


"Tuan Muda, bagaimana keadaan anda?" tanya Rio memastikan. Dia buru-buru menghampiri Ken saat melihatnya menuruni tangga.


"Seperti yang Paman lihat, aku sudah jauh lebih baik. Untung ada Celine yang merawat ku, jadi sekarang tubuhku terasa lebih segar." Jelas Ken.


Rio mengangguk. "Nona Celine, sangat panik saat mendengar anda jatuh sakit. Dia begitu sibuk melakukan ini dan itu. Nona Celine, sangat peduli pada Anda. Dia benar-benar menyayangi Anda, Tuan Muda." Ungkap Rio.


Jujur saja Rio sangat prihatin dengan sikap Ken pada Celine. Selama ini dia selalu bersikap dingin dan acuh padanya, padahal Celine sangat menyayanginya. Dan Rio berharap setelah kejadian semalam Ken Bisa lebih lunak padanya. Rio sangat-sangat berharap.


"Aku tahu, sebaiknya jangan ganggu dia dan biarkan Celine istirahat. Suruh pelayan menyiapkan makanan kesukaannya. Saat dia bangun nanti baru minta dia untuk sarapan," perintah Ken dan di balas anggukan oleh Rio.


"Baik , Tuan Muda." Dia beranjak dari hadapan Ken dan pergi begitu saja.


xxx


Bersambung

__ADS_1


xxx


Bersambung.


__ADS_2