
Jam dingin telah menunjuk angka 02.21 dini hari. Hampir semua penghuni kediaman Xiao sudah tertidur pulas sejak beberapa jam yang lalu. Tapi ada pula yang masih terjaga, dan mereka adalah orang-orang yang berjaga di luar sana.
Tiba-tiba Aster terbangun di tengah malam, wajahnya sembab dan matanya sedikit bengkak, dan itu diakibatkan terlalu lama menangis. Lalu pandangannya bergulir pada ruang kosong disamping kanannya, Aster menyentuhnya dan tempat itu terasa dingin. Menandakan jika belum ditempati sama sekali.
Aster menghela napas. Kemudian wanita itu beranjak dari berbaringnya dan berjalan keluar meninggalkan kamar. Dari lantai dua, Aster melihat Keanu yang sedang berbincang dengan Rio.
Wanita itu memicingkan matanya saat melihat sebuah benda putih yang menyatu dengan plester menempel pada tulang pipi kanan Keanu. Ada bercak merah segar diatas benda tersebut, jika luka itu masih baru.
Penasaran apa yang terjadi, Aster pun segera menghampiri Keanu yang sepertinya belum menyadari kedatangannya. Sampai dia mendengar suara yang begitu familiar masuk dan berkaur di telinganya.
"Apa yang terjadi pada wajahmu? Keanu, kau terluka?" Aster menatapnya dengan cemas.
Kemudian Keanu mengangkat wajahnya dan mata hitamnya langsung bersirobok dengan manik Hazel milik Aster. "Kenapa kau bangun?" alih-alih menjawab, malah balik bertanya.
"Aku haus, dan saat bangun kau tidak ada. Jadi aku pikir kau disini, makanya aku keluar untuk memastikannya." ujar Aster.
"Hm, bagaimana kondisimu sekarang? Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Keanu memastikan.
Wanita itu mengangguk dan menjawab singkat. "Ya," jawabnya.
Keanu mengulurkan tangannya pada Aster dan meminta wanita itu untuk mendekat. "Kemarilah dan temani aku disini sebentar," pinta Keanu seraya menuntun Aster untuk duduk disebelahnya. "Bagaimana dengan luka di kakimu? Apa masih terasa sakit?" keanu menatapnya dengan cemas.
"Ya, masih sedikit agak ngilu. Kau belum menjawab pertanyaanku, apa yang tajadi pada wajahmu? Kenapa sampai diperban seperti ini?" Aster kembali bertanya, manik Hazel-nya terkunci pada manik hitam milik Keanu.
"Hanya luka kecil, dalam beberapa hari juga akan membaik. Apa kau masih merasa sedih atas kepergian nenekmu?" Keanu bertanya dengan hati-hati karena takut melukai perasaan Aster.
Wanita itu menggeleng. "Aku sudah merelakannya, dan sekarang dia sudah tidak merasakan sakit lagi. Dan kasihan Nenek jika aku terus-menerus menangisinya, bukankah begitu?" Keanu mengangguk. "Tiba-tiba aku lapar, bisakah kau membuatkan sesuatu untukku? Aku ingin memakan makanan yang kau masak," Ucap Aster dan menatap Keanu dengan tatapan memohon.
Pria itu mengangguk. "Baiklah tunggu disini sebentar, aku akan memasak untukmu." ucapnya lalu beranjak dari hadapan Aster dan melenggang ke dapur. Masakan Keanu sangat lezat, itulah kenapa Aster meminta Keanu untuk memasak untuknya.
Aster tersenyum lebar. Dia tahu jika Keanu tidak mungkin mengecewakannya. Lagipula siapa yang bisa menolak masakan Keanu setelah dia merasakannya, karena rasa masakan Keanu memanglah seenak itu. Itulah yang membuat Aster di masakan lagi olehnya.
__ADS_1
.
.
Hansen benar-benar tidak bisa merasa tenang, karena hubungan Aster dan Keanu. Hansen sangat takut jika Keanu berbuat yang tidak-tidak padanya, sampai melakukan sesuatu yang membuatnya marah. Hansen tidak tahu bagaimana Aster bisa mengenal pria itu lalu memutuskan untuk menikah dengannya, tanpa dia cari tahu terlebih dahulu latar belakangnya.
Dan kegelisahan Hansen membuat sang Manager merasa bingung. Dia menghampiri artisnya tersebut dan memastikan dia baik-baik saja atau tidak. "Kau terlihat gelisah, memangnya ada apa?" tanya sang Manager pada Hansen.
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada," dia menjawab singkat. "Besok Kira-kira Aku memiliki waktu luang atau tidak, aku harus pergi untuk menemui seseorang,"
"Sepertinya tidak, memangnya kau mau pergi ke mana?" tanya sama Manager.
"Tidak semua masalahku perlu aku beritahukan padamu, jadi untuk hargai privasiku," ucap Hansen menyahuti. Karena tidak semua hal harus dia beritahukan pada sang Manager, hansen juga memiliki privasi yang harus dihargai.
"Bukan begitu, Hansen. Aku bertanya karena keselamatanmu adalah tanggung jawabku. Jika sesuatu yang buruk sampai terjadi padamu, tetap saja aku yang repot, untuk itu aku harus tahu kemana kau pergi dan dengan siapa kau bertemu. Jadi mengertilah, jika semua ini semata-mata karena aku memang peduli padamu!!" Tutur sang manager menjelaskan. Tidak ingin jika Hansen sampai salah paham dan menyalah artikan maksud baiknya.
Hansen mendesah berat. Tidak seharusnya dia berkata seperti itu pada pria di depannya ini. Dia hanya mencemaskan dirinya, dan semua yang dia lakukan semata-mata karena dia peduli padanya.
Hansen tidak bisa lagi berpikir dengan jernih karena hubungan Aster dengan pria bermarga Xiao tersebut. Jangankan untuk berpikir jernih, tidur dan makan pun sampai terganggu. Hansen benar-benar mencemaskan Aster, dia hanya takut Keanu akan menyakitinya suatu hari nanti.
.
.
"Makanlah,"
Keanu menghidangkan masakan yang baru selesai ia masak di atas meja di depan Aster duduk. Wanita itu tersenyum lebar, kemudian dia mencium aroma masakan Keanu yang begitu lezat, yang membuatnya tidak sabar untuk segera menghabiskannya.
"Kelihatannya sangat lezat, rumahnya juga sangat menggoda, aku jadi tidak sabar untuk memakannya," ucap Aster tanpa melunturkan sedikitpun senyum manis itu dari bibirnya.
Keanu menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Aster. "Kalau begitu cepat makan, sebelum makanan itu menjadi dingin."
__ADS_1
Aster mengangguk. "Tentu. Tapi apa Kau tidak ikut makan bersamaku juga? Bagaimana jika kita makan sama-sama?" ucap Aster memberi usul.
Keanu menggeleng. "Aku masih kenyang, kau makan sendiri saja, aku akan menemanimu disini." dan Aster hanya menganggukkan kepalanya, menyikapi ucapan Keanu. Kemudian dia menyantap makanan itu dengan tenang, tanpa ada obrolan di antara mereka berdua.
Ponsel memiliki Keanu tiba-tiba berdering. Beranjak sedikitpun dari duduknya, keanu menerima panggilan itu. "Ada apa kau menghubungiku malam-malam begini?" tanya Keanu tanpa basa-basi.
"Direktur, pabrikk kebakaran. Sebagian besar barang kita hangus terbakar,"
Keanu langsung diam setelah mendengar kabar tersebut. Pria itu menutup matanya dan menghela nafas. "Lalu bagaimana dengan karyawan, apa mereka semua selamat?" tanyanya memastikan.
"Tidak ada korban jiiwa, Direktur. Semua pegawai selamat,"
"Baguslah. Kau urus sisanya dan usut sampai tuntas masalah ini, aku yakin itu bukanlah sebuah kebetulan." Ucap Keanu lalu memutus sambungan telfonnya begitu saja.
Aster mengangkat wajahnya dan menatap Keanu penasaran. "Ada apa, apa terjadi sesuatu di perusahaan?" tanyanya memastikan. Keanu menggeleng. "Lalu, kenapa orang yang menghubungimu terdengar sangat panik? Memangnya apa yang terbakar?" Aster bertanya sekali lagi.
"Pabrik,"
Aster terkejut mendengar jawaban Keanu. "Apa?! Pabrikmu kebakkaran, lalu bagaimana dengan para pekerjanya? Apa mereka semua selamat?" tanya Aster memastikan. Dia sangat-sangat berharap, semoga tidak ada korban jiwa dalam insiden kebakaran tersebut.
Keanu mengganggu. "Semua pekerja selamat, dan tak ada yang terluka satupun. Mereka berhasil menyelamatkan diri di waktu yang tepat," jawabnya.
Aster menghela nafas lega. "Syukurlah kalau begitu. Tapi apa yang terjadi, kenapa pabrikmu bisa sampai terbakar? Karena tidak mungkin kebakaran itu terjadi tanpa ada sebabnya, mungkinkah ada orang lain yang memang sengaja melakukannya?" tanya Aster memastikan.
Lagi-lagi keanu menggelengkan kepalanya. "Aku sendiri tidak tahu, tapi sepertinya begitu. Aku sudah meminta anak buahku untuk mengusutnya sampai tuntas masalah ini, dan aku tidak akan melepaskan pelakunya apapun alasannya!!" Keanu mengepalkan tangannya, dan matanya berkilat tajam. Pria itu menghilang nafas. "Lanjutkan saja makanmu, setelah ini kita tidur," ucapnya dan dibalas anggukan oleh Aster.
"Baiklah,"
.
.
__ADS_1
Bersambung.