
Setiap calon orang tua, pasti tidak sabar menunggu kelahiran calon buah hatinya, menunggu untuk segera bertemu dengan malaikat kecil yang akan melengkapi hidup mereka begitu pula dengan Keanu.
Berbeda dengan kebanyakan calon orang tua yang menunggu kelahiran calon buah hatinya dengan gembira, Keanu justru menunggu dengan penuh kecemasan, setiap detik dan menit selalu dia lalui dengan sangat berat.
Rasa takut kehilangan selalu mengiringi langkah kaki Keanu setiap detik menitnya. Dia benar-benar takut Aster akan meninggalkannya, meskipun harapan hidup tetap ada, namun tetap saja rasa takut itu begitu mencekam.
"Apa yang sedang kau lamunkan?" tanya Aster seraya menepuk bahu Keanu. Pria itu menoleh dan mendapati Aster berdiri disampingnya.
Bukannya menjawab, Keanu malah menarik Aster ke pelukannya dan memeluknya dengan erat. "Berjanjilah padaku jika kau tidak akan pernah meninggalkanku apapun yang terjadi," pinta Keanu sambil mengusap kepala Aster dengan lembut.
Aster mengangguk. "Ya, aku berjanji," ucap Aster dengan suara serak seperti menahan tangis. Mati-matian Aster menahan air matanya supaya tidak menetes. Dia tidak ingin Keanu sedih jika melihatnya menangis.
"Jika kau berani meninggalkanku meskipun hanya satu detik saja, jangan harap aku akan memaafkanmu seumur hidup ini," Keanu memberikan peringatan.
"Aku berjanji, Keanu." ucapnya lirih. "Meskipun aku sendiri tidak yakin akan tetap hidup setelah anak ini lahir," lanjutnya membatin.
Aster dan Keanu sama-sama menutup matanya. Uangnya saling memeluk dengan erat selama beberapa saat. Kemudian Keanu melepaskan pelukan itu lalu menatap langsung ke dalam manik Hazel Aster dengan sendu. Belum pernah Keanu merasakan ketakutan seperti ini, ketakutan akan kehilangan seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya.
Perlahan Keanu mendekatkan wajahnya pada Aster lalu mengecup singkat bibir ranum tipisnya. Melumattnya dengan lembut dan perlahan-lahan. Sebelah tangan Keanu menekan tengkuk Aster, sedangkan tangan kanan Keanu memeluk pinggangnya dengan erat.
Mata Aster tertutup rapat, dia begitu menikmati setiap sentuhan bibir Keanu pada bibirnya, begitu lembut namun memabukkan. Dan Ciuman itu berakhir ketika Keanu mendengar suara rintihan yang keluar dari sela-sela bibir Aster.
"Aster, kenapa?" tanyanya dengan Panik. Keanu terlihat sangat panik melihat wajah kesakitan Aster terlebih-lebih ketika melihat peluh yang berjatuhan di pelipisnya.
__ADS_1
"Sa...Sakit," gumam wanita itu sambil mencengkram perutnya.
"A..Apa? Kau mau melahirkan? Bukankah usia kandunganmu baru 38 Minggu," Keanu menatap Aster dengan bingung.
Aster menggeleng. Dia mencengkram tangan Keanu dengan kencang, mencoba membagi rasa sakit yang dia rasakan saat ini. "Uhh, Keanu, sakit!!" jerit Aster semakin mencengkram tangan Keanu.
Tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Aster, buru-buru Keanu membawanya ke rumah sakit. Dalam hatinya dia tak henti-hentinya berdoa semoga hal buruk tidak terjadi pada Istri dan anaknya.
Keanu terus mondar-mandir di depan ruang persaliinan. Cemas terlihat jelas di raut mukanya yang selalu terlihat datar. Beberapa kali dia melihat kearah pintu yang masih tertutup rapat. Sudah hampir dua jam, tapi belum ada tanda-tanda dokter maupun suster akan keluar dari dalam sana.
Dalam hatinya Keanu tak henti-hentinya berdoa semoga Aster dan bayi mereka baik-baik saja, Keanu percaya jika miracle tuhan itu nyata. Dia benar-benar percaya jika Aster tak akan meninggalkan dirinya.
"Aster, aku mohon bertahanlah." Lirih Keanu membatin.
Sementara itu...
"Dokter, denyut jantung pasien semakin menurut, nadinya juga sangat lemah." Lapor salah seorang suster yang mendampingi dokter utama.
"Segera lakukan tindakan, kita tidak bisa mengambil resiko dengan mengorbankan salah satu diantara mereka. Ibu dan bayinya harus sama-sama selamat," ucap dokter itu menimpali.
"Baik dokter,"
Mereka tidak bisa mengambil resiko, tindakan harus segera dilakukan untuk menyelamat nyawa keduanya, terutama sang ibu yang benar-benar sedang kritiis. Bukan karena mereka ingin pujian, tetapi ini masalah kemanusiaan.
__ADS_1
"Oee ..Oee... Oee..."
Keanu berdiri dari duduknya setelah mendengar suara tangis bayi dari dalam sana. Suaranya begitu nyaring hingga keluar ruang persalinan. Keanu merasa lega namun juga khawatir, dia lega karena anaknya telah lahir, tapi khawatir dengan kondisi Aster.
Di dalam Dokter masih harus melakukan operasi pengangkatan rahiim karena ari-arinya yang tidak kau keluar. Tindakan secepatnya dilakukan sebelum terjadi hal-hal tak diinginkan. Aster dalam kondisi tidak sadar akibat obat bius.
Keringat tampak di kening dokter berkacamata itu. Dia harus melakukannya dengan hati-hati dan penuh keyakinan. Entah kenapa perasannya sedikit tidak enak, dan dia hanya bisa berdoa semoga semua berjalan dengan lancar dan pasiennya baik-baik saja.
Seorang perawat membawa bayi itu keluar dan menyerahkannya pada Keanu. Terpaksa bayi itu diberi susu formula karena kondisi sang ibu yang tidak memungkinkan untuk memberikan ASI-nya.
"Tuan, selamat bayi Anda laki-laki,"
"Lalu bagaimana dengan ibunya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Keanu memastikan. Alih-alih menjawab, suster itu malah menundukkan kepala, membuat perasaan Keanu menjadi semakin tidak enak. "Ada apa? Kenapa kau diam saja? Cepat katakan padaku bagaimana kondisinya?" Keanu bertanya sekali lagi.
"Istri Anda, dalam keadaan kritis.".
Mata kiri Keanu membelalak sempurna. "Apa? Kritis?!" dia mengulangi ucapan perawat tersebut.
"Benar, Tuan. Istri Anda dalam keadaan kritis, dan kami akan berusaha semaksimal mungkin. Kalau begitu saya permisi dulu," Kembali perawat itu membawa pergi bayi dalam dekapan Keanu.
Seketika Keanu menjatuhkan tubuhnya pada kursi panjang yang ada di belakangnya, rasa takut semakin menggerogoti perasaannya. Dia benar-benar takut Aster akan meninggalkannya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.