Benih Titipan Tuan Muda

Benih Titipan Tuan Muda
Season 2: Kau Cari Mati Ya?!


__ADS_3

"PERGI SANA, JANGAN MENGGANGGU KU!!"


Ken terlonjak dari posisi berbaringnya karena terkejut. Tiba-tiba Celine berteriak dengan sangat keras. Mata yang sebelumnya tertutup rapat itu sekarang terbuka lebar. Dengan tajam Ken menatap Celine yang kembali tertidur pulas.


Ken menghela napas. Mengabaikan Celine, Ken mencoba untuk tidur kembali. Namun baru saja dia menutup mata , tapi tiba-tiba...


"YAKK!! JANGAN AMBIL PAHA AYAMKU!!" lagi-lagi Celine berteriak dengan kencang. Dia mengigau, dan inilah salah satu kebiasaan buruk Celine yang paling Ken benci.


Sebenarnya ini bukan pertama kalinya mereka tidur satu kamar. Sebelumnya Ken dan Celine sudah pernah tidur bersama di kamar yang sama ketika mereka masih anak-anak.


Hampir semalaman Ken tidak bisa tidur karena ulah Celine. Di sepanjang malam , gadis itu terus berteriak di dalam tidurnya dan hal itu membuat Ken sangat-sangat frustasi. Dan malam ini kejadian itu terulang kembali. Sepertinya malam ini Ken harus begadang sepanjang malam karena ulah Celine.


"Paha ayamku jangan di ambil, kalian sangat menyebalkan!! Paha ayam, paha ayam lezat..."


Ken menghela napas. Dia bangkit dari posisinya lalu melenggang pergi. Dari pada tidak bisa tidur lebih baik tidur di kamar lain. Toh di mansion sebesar ini kamarnya tidak hanya ada satu atau dua saja. Jadi kenapa harus bingung?!


xxx


Malam yang dingin telah berakhir. Sang penguasa malam telah kembali ke singgasananya, dan posisinya digantikan oleh suami Surya yang mulai menapaki langit.


Jam dinding baru saja menunjuk angka 05.40. Namun orang-orang sudah memulai aktivitasnya. Ada yang bersih-bersih, ada yang menyiapkan sarapan ada pula yang mengurus taman, dan masih banyak lagi pekerjaan lainnya yang sedang orang-orang itu kerjakan.


Di sebuah kamar yang tidak bisa dikatakan biasa-biasa saja. Seorang gadis cantik terlihat menggeliat di dalam tidurnya. Meskipun matahari sudah tinggi, namun dia enggan beranjak dari posisi berbaringnya. Gadis itu malah menyelimuti sekujur tubuhnya dengan selimut tebal miliknya.


Cklekk...


Terdengar suara decitan pintu terbuka. Gadis itu membuka selimutnya sampai sebatas dada dan mendapati seorang lelaki tampan memasuki kamar. Gadis itu mengernyit bingung.


"Ge, kau dari mana? Jangan bilang jika semalam kau tidur di kamar lain?" tebak Gadis itu 100% benar.


Namun tidak ada jawaban dari lelaki tersebut. Dia hanya menatap datar si gadis lalu melewatinya begitu saja. Gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Celine hanya bisa menatap lelaki tersebut dengan bingung.


"Ada apa lagi dengannya?" gumam Celine setengah berbisik.


Gadis itu mengangkat bahunya acuh. Kembali dia menyelimuti sekujur tubuhnya dan meneruskan mimpinya yang sempat tertunda. Masa bodoh dengan matahari yang sudah semakin tinggi. Toh, dia juga tidak memiliki pekerjaan apalagi kesibukan. Jadi bebas untuk Celine mau bangun jam berapa pun.


Lima belas menit kemudian pintu kamar mandi terbuka. Ken keluar dari sana hanya dengan balutan celana panjang dan bertellanjang dada. Pandangannya bergulir pada tempat tidurnya, Ken menghela napas berat. Bukannya bangun Celine malah kembali tidur.

__ADS_1


Ken menghiraukannya. Setelah berpakaian lengkap. Ken pergi keluar untuk membaca koran dan menikmati kopinya yang sudah siapkan oleh pelayan. Ritual wajib yang kalian lakukan setiap pagi sebelum sarapan dan berangkat kerja.


"Regita, Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tegur Ken saat melihat keberadaan Regita di kediamannya .


Regita tersenyum lebar. Wanita itu menghampiri Ken yang sedang menuruni tangga. Dia terlihat baik-baik saja meskipun luka memar bekas pukulan Celine masih terlihat di wajahnya.


"Ken, aku dengar Bibi dan Paman sedang pergi ke luar negeri. Jadi aku datang untuk menemanimu. Kau pasti kesepian sendirian tanpa mereka, jadi aku datang untuk menemanimu." Jawab Regita.


"Memangnya siapa yang bilang jika dia kesepian? Masih ada aku di sini." Sahut seseorang dari belakang. Terlihat Celine yang sedang menuruni tangga dan menghampiri mereka berdua.


Kedatangan Celine membuat senyum di bibir Regita pudar seketika. Rasa benci terlihat jelas dari sepasang mata hitamnya. "Kau lagi kau lagi, kenapa aku harus bertemu denganmu sih? Sebaiknya pergi dan menyingkir dari hadapanku, aku benar-benar muak melihatmu kamu!!" ucap Regita.


"Ini adalah rumahku, jadi kenapa harus aku yang pergi? Jika kau tidak suka aku di sini, sebaiknya kau saja yang pergi. Lagi pula keberadaan mu di sini juga tidak diharapkan sama sekali," ujar Celine tak mau kalah.


Regita menunjuk Celine tepat di depan mukanya dengan kata tergantung. "Kau~" dan berseru tertahan.


"Apa?"


Lalu pandangan Regita bergulir pada Ken. "Ken, lihat kelakuan adikmu. Dia tidak bisa menghargai ku sama sekali sebagai calon kakak iparnya. Ken, kau harus bisa memberikan didikan yang keras padanya." ucap Regita. Dia mencoba mencari perlindungan dari Ken.


Regita sangat yakin Ken pasti lebih membelanya dibandingkan Celine, karena bagaimana pun juga dia adalah calon istrinya. Jadi sudah pasti Ken akan lebih membela dirinya, bukan Celine.


Celine menjulurkan lidahnya pada Regita dan meninggalkannya begitu saja. Ternyata Ken.lebih membela dirinya di bandingkan wanita itu. Tentu saja Celine sambat gembira. Lagipula mana bisa Ken mengabaikan dirinya, bisa-bisa dia terkena masalah oleh orang tua mereka.


"Dasar menyebalkan!! Bisa-bisanya Ken lebih membela perempuan licik itu dibandingkan aku, calon istrinya. Yakk!! Aku jangan di tinggalkan!!" teriak Regita dan bergegas menyusul mereka berdua.


Mana mungkin Regita mau kalah dari Celine. Wanita itu tidak boleh membiarkan Ken terlalu dekat dengan Celine. Meskipun mereka adalah kakak beradik, tetapi Regita tahu jika mereka bukan saudara kandung. Dan tutup kemungkinan mereka akan saling jatuh cinta jika terlalu sering bersama.


"Minggir!!" Celine tersungkur ke lantai setelah di senggol dengan sengaja oleh Regita. Dia mengambil tempat yang tadinya milik Celine. Regita ingin duduk di dekat Ken. "Ken, kau ingin sarapan dengan apa? Biar aku ambilkan untukmu."


Celine yang tidak terima di jatuhkan oleh Regita pun membalas dendam. Dia menarik pakaian Regita dan menjatuhkannya ke lantai. Celine berdiri dan buru-buru menarik Ken meninggalkan kediaman Xiao.


"Apa-apaan kau ini?" Ken menatap Celine dengan kesal.


Gadis itu menoleh pada sang kakak. "Ge, kau ingin terbebas dari benalu itu bukan? Aku tahu kau sangat tersisa berhubungan dengannya , jadi aku akan membantumu lepas dari dia." Jawab Celine.


Celine menganggukkan kepala ketika Ken menatapnya. Seolah-olah dia memahami betul apa yang di rasakan oleh Ken selama ini.

__ADS_1


"YAKK!! KENAPA AKU MALAH DI TINGGALKAN?!" teriak Regita dengan kesal.


Celine benar-benar mengacaukan semua rencananya. Jika bukan karena perempuan itu, pasti Ken tidak akan meninggalkannya begitu saja. Dan bodohnya kenapa Ken mau-mau saja diajak pergi olehnya. Sungguh sulit memiliki kekasih yang dingin dan tidak perhatian seperti dia.


Regita menghela nafas. Wanita itu bangkit dari posisinya lalu melenggang pergi meninggalkan kediaman Xiao. Bulan berarti Regita akan menyerah, dia pasti akan membuat Ken selalu menjadi miliknya, apapun caranya.


xxx


Keheningan menyelimuti kebersamaan Ken dan Celine. Tidak ada obrolan diantara mereka berdua. Mereka sibuk dengan kesibukan masing-masing. Ken yang sibuk mengemudi dan Celine yang sibuk melamun, entah apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu.


Sesekali Ken menoleh ke arah Celine. Aneh rasanya melihatnya yang tiba-tiba jadi pendiam karena biasanya dia sangat bawel dan banyak bicara. Dan Ken ingin tahu apa yang sedang dilamunkan olehnya. Tiba-tiba Celine merubah posisinya dan dia menatap Ken serius.


"Ge, aku memiliki satu masalah dan sulit untuk memecahkannya. Bisakah kau membantuku?" tanya Celine sambil menatap Ken penuh harap.


Ken memicingkan matanya, dan menatap Celine penasaran. "Memangnya permasalahan apa yang kau miliki?" tanya Ken.


Celine menggeleng. "Bukan apa-apa, lupa lupakan saja. Lain kali saja kita membahasnya. Karena sekarang ada hal yang jauh-jauh lebih penting. Ge, aku lapar. Bisakah kau berhenti? Ayo makan," rengek Celine sambil mengusap perutnya yang sedari tadi terus keroncongan.


Ken menghela napas. Rasanya dia ingin sekali menjitak Celine. Entah bagaimana dia harus bersikap, marah atau tidak padanya. Karena hari ini dia sudah sangat membantunya untuk terlepas dari Regita.


"Kau ingin sarapan di mana?" tanya Ken. Dia menatap sekilas kearah Celine.


Gadis itu menggeleng. "Entah , aku sendiri tidak tahu. Bagaimana kalau kau saja yang menentukannya. Oya, Ge. Ini tentang wanita itu. Sepertinya kau sangat tertekan berhubungan dengannya, jika memang tidak mencintainya kenapa tidak kau putuskan saja?" tiba-tiba Celine membahas tentang hubungannya dengan Regita. Membuat perhatian Ken teriakan padanya.


Ken menoleh. Membuat pandangan mereka saling bertemu dan bersirobok. "Jangan sok tahu," jawab Kevin.


"Bukannya sok tahu, tapi aku benar-benar tahu. Begini-begini aku bisa loh membaca ekspresi wajah seseorang. Jadi jangan coba-coba untuk menipuku. Jujur saja, aku tidak suka pada perempuan itu. Belum juga jadi istrimu tapi tingkahnya sudah sangat menyebalkan. Ge, kenapa tidak kau putuskan saja dia?"


Ken menghela napas. "Sudah sejak lama Aku memikirkan hal itu, tapi masalahnya aku terikat oleh sesuatu. Aku pernah kecelakaan dan terluka parah, dia dan ayahnya yang menolongku dan merawat ku selama satu bulan sampai aku benar-benar sembuh. Ayahnya meninggal dan menitipkan dia padaku. Meskipun aku tidak mencintainya, tapi aku tetap tidak bisa meninggalkannya." Ujar Ken panjang lebar.


"Tapi bagaimana jika hal itu adalah sebuah konspirasi yang dilakukan oleh ayah dan anak tersebut. Aku pernah dengar dia mendengar jika dia sangat tergila-gila padamu dan berusaha untuk mendapatkan cintamu. Bisa saja jika kecelakaan itu dia juga yang merancangnya supaya bisa mencapai tujuannya. Ge, sepertinya kau harus mencari tahu masalah ini. Jangan sampai kau yang cerdik dan jenius malah di bodohi oleh seorang wanita." Tutur Celine panjang lebar.


Ken terdiam setelah mendengar apa yang Celine katakan. Benar juga apa yang dia katakan, kenapa Ken tidak berpikir sampai sana? Dan bagaimana jika sebenarnya ayah Regita masih hidup dan kematiannya sengaja di palsukan olehnya? Sepertinya Ken benar-benar harus menyelidikinya.


"Baiklah, akan aku selidiki secepatnya."


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2