
Seorang wanita terlihat meliukkan kakinya memasuki sebuah panti asuhan tempat di mana dia dulu meninggalkan bayinya. Sudah puluhan tahun berlalu, dan dia berharap bayi itu masih ada di panti ini. Dan kedatangannya di sambut oleh seorang wanita setengah baya yang merupakan pemilik panti.
"Maaf, Nyonya. Anda mencari siapa?" tanya ibu panti pada wanita itu.
"Apakah Anda adalah pemilik panti asuhan ini? Kedatanganku kemari untuk mengambil putriku yang dulu aku tinggalkan di sini." Jawab wanita itu tanpa basa-basi.
Ibu panti memicingkan matanya. "Putri Anda? Memangnya kapan Anda meninggalkannya di sini?" tanya si ibu panti.
"Puluhan tahun yang lalu, aku pernah meninggalkan seorang bayi perempuan di panti ini. Saat itu sedang hujan lebat, dan di teras ini aku meninggalkan bayi itu. Dan sekarang aku datang untuk menjemputnya kembali," jawab wanita itu.
Ibu Panti menggeleng. "Tapi bayi itu sudah tidak ada lagi di sini. Saat dia berusia lima tahun, seseorang datang kemari dan mengadopsinya. Dan kami tidak tahu keberadaan bayi itu sekarang," jawab Ibu panti.
Wanita itu berseru dengan terkejut. "Apa kau bilang? Di adopsi? Memangnya siapa yang mengadopsi putriku?" tanya wanita itu penasaran. "Berikan data-datanya padaku, karena aku ingin mengambil putriku kembali."
"Maaf, Nyonya. Tapi kami tidak memiliki data-datanya, panti ini pernah terbakar dan semua data-data lama tentang anak-anak yang di adopsi ikut terbakar juga. Jadi kami tidak bisa membantu apa-apa, sekali lagi kami minta maaf." Ucap Ibu panti itu penuh sesal.
Wanita itu pun tampak marah setelah mendengar apa yang di sampaikan oleh Ibu panti. "Apa, bagaimana bisa? Jika begini, lalu bagaimana aku bisa menemukan putriku? Kenapa Panti Asuhan ini sangat tidak bertanggung jawab, aku tidak mau tahu, pokoknya kalian harus mendapatkan informasi tentang anak itu. Jika tidak, aku akan membawa masalah ini ke jalur hukum!!" wanita itu memberikan ancaman pada ibu panti. Dia mengancam akan membawa masalah ke jalur hukum jika pihak panti tidak bisa menemukan informasi tentang putrinya yang telah diadopsi oleh orang lain.
__ADS_1
Silakan saja Nyonya, apa Anda pikir kami takut? Bukan kami yang akan disalahkan, tetapi anda sendiri. Jika Anda memang orang tua yang bertanggung jawab, tidak mungkin menelantarkan putri Anda yang masih bayi dan meninggalkannya begitu saja di panti ini tanpa ada ucapan sama sekali. Apa Anda pikir tindakan Anda itu benar? Sebaiknya anda pergi dari sini, karena waktu yang saya miliki terlalu berharga untuk menanggapi ocehan Anda!!" ujar ibu panti dengan emosi. Kemudian dia beranjak dari hadapan wanita itu dan pergi begitu saja.
Wanita itu menggeram marah. Jika sudah begini, lalu ke mana dia akan mencarinya? Seoul sangat luas, dan tidak mudah untuk menemukan satu orang tanpa petunjuk dan informasi yang jelas.
"Sial!! Di mana sebenarnya anak itu sekarang? Tidak bisa, cepat atau lambat aku pasti akan menemukannya!!" ucap wanita itu dengan geram.
Kemudian wanita itu beranjak pergi. Dia akan menyerah begitu saja, cepat atau lambat dia pasti bisa menemukan putrinya yang hilang. Meskipun sekarang dia telah memiliki orang tua angkat, namun bagaimana pun juga, dia tetaplah orang tua kandungnya yang lebih berhak dan lebih pantas atas dirinya.
xxx
Celine menatap sekilas pada kakak angkatnya kemudian menggeleng. "Tidak ada, aku hanya sedikit merindukan Mama dan Papa. Ge, kira-kira kapan mereka berdua akan pulang
Ken menggeleng. "Aku sendiri juga tidak tahu, karena mereka berdua tidak mengatakan apapun padaku. Jika rindu, bukankah kau masih bisa menelpon mereka dan melakukan video call? Apa ponsel mereka berdua tidak bisa dihubungi?" tanya Ken dan di balas anggukan oleh Celine.
"Beberapa hari yang lalu, panggilanku tersambung tapi tidak ada jawaban dari mama maupun Papa. Aku pikir Mereka sibuk, jadi aku tidak menghubungi mereka lagi. Namun satu hari kemudian, Mama malah memosting jika dia dan Papa sedang berlibur. Dan ketika aku menghubungi ponsel mereka, malah tidak aktif. Dua hari kemudian Mama mengirim pesan dan cuma bilang Maafkan Mama, Sayang. Di sini kami sangat sibuk. Jaga diri baik-baik ya, kami menyayangimu' kira-kira begitulah isi pesan singkat yang di kirim oleh Mama." Tukas Celine panjang lebar.
Ken menghela napas panjang. Dia tidak tahu kesibukan apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya di luar negeri, sampai-sampai mereka tidak memiliki waktu untuk membalas ataupun mengangkat panggilan dari Celine. Atau mungkin mereka berdua memang tidak ingin di ganggu liburannya? Entahlah, Ken juga tidak tahu.
__ADS_1
"Sudah, tidak perlu dipikirkan. Sebaiknya kau fokus saja pada kesembuhan kakimu. Aku akan mengambil cuti selama beberapa hari untuk merawat mu. Anggap saja aku sedang membalas Budi padamu karena kau pernah merawat ku yang sedang sakit." Ujar Ken.
Celine mempoutkan bibir. "Memangnya harus ya sejujur itu? Ge, seharusnya kau tidak perlu terlalu jujur supaya tidak melukai perasaanku . Kau tahu sendiri kan jika hatiku ini sangat lembut dan mudah tersinggung, jadi kau harus hati-hati dalam berbicara supaya tidak melukai hati dan perasaanku." Ujar Celine.
Ken mendengus geli. Satu jitakan mendarat mulus pada kepala berhelaian coklat milik Celine. "Jangan banyak bicara lagi. Cepat habiskan makam siangmu kemudian minum obat. Kau juga harus latihan berjalan supaya kakimu cepat sembuh." Ujar Ken
Celine menggeleng dengan cepat. "Tidak tidak tidak. Aku akan latihan sendiri saja. Tapi tidak sekarang, cidera ku bisa makin parah jika aku memaksakan diri untuk jalan. Dokter mengatakan padaku supaya aku tidak banyak mengerakkan kakiku. Itu sangat berbahaya untuk tulang kakiku." Ujar Celine panjang lebar.
Dia tidak ingin kebohongannya terbongkar jika Ken memaksanya untuk jalan. Bisa-bisa dia akan tahu sebenarnya dia hanya berpura-pura dan kakinya baik-baik saja. Celine terpaksa berbohong untuk mendapatkan perhatian lebih dari kakak angkatnya. Bukan karena Celine sudah jatuh cinta padanya, melainkan hanya ingin di perhatikan layaknya seorang adik.
Ken mengangguk. "Ya, benar juga yang kau katakan. Sebaiknya cepat habiskan makan siangmu, lalu minum obatmu. Aku keluar dulu," Ken menepuk kepala Celine dan pergi begitu saja.
Di dalam kamar itu sekarang hanya menyisakan Celine sendirian, diam-diam Celine menarik sudut bibirnya dan tersenyum lebar. Andaikan saja sikap Ken padanya dari dulu seperti sekarang ini. Pasti hidup yang Celine rasakan akan sangat berwarna. Tapi belum ada yang terlambat untuk memperbaiki semuanya.
xxx
Bersambung
__ADS_1