Benih Titipan Tuan Muda

Benih Titipan Tuan Muda
Season 2: Sepertinya Patah Tulang


__ADS_3

Ken mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Setelah mendengar jika Celine mengalami kecelakaan, dia pun menjadi sangat panik. Ken meninggalkan semua pekerjaannya yang masih belum selesai dan melesat pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaannya. Sejak pagi perasaannya tidak enak, dan ternyata ini jawabannya.


Kurang dari 15 menit berkendara, Ken tiba rumah sakit tempat Celine dirawat. Setelah kebahagiaan informasi, dia pun bergegas pergi menuju ruang rawat inap gadis itu yang ternyata berada di lantai dua.


Brakkk...


Dobrakan keras pada pintu membuat Celine dan Mark hampir saja terkena serangan jantung dadakan. Mereka berdua terkejut bukan main. Beruntung mereka sama-sama tidak memiliki riwayat penyakit jantung sehingga tidak beresiko pada keselamatannya.


Ken memasuki ruangan dengan wajah panik. Dia menghampiri Celine untuk memastikan keadaannya. "Apa yang terjadi padamu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Ken memastikan. Mata hitamnya menyiratkan kecemasan yang luar biasa.


Celine menggeleng. Kedua matanya tiba-tiba berkaca-kaca. "Aku tidak baik-baik saja. Ge, kakiku sakit, amat-amat sakit. Ge, sepertinya aku tidak bisa berjalan lagi, saat digerakkan rasanya seperti mau patah. Ge, sakittt sekali rasanya." Ujar Celine sambil bercucuran air mata.


Celine berhambur ke dalam pelukan Ken sambil menangis sejadi-jadinya, membuat Mark melongo melihatnya. Jelas-jelas dia tadi baik-baik saja, kenapa sekarang tiba-tiba malah jadi parah? Mark terus bertanya-tanya.


Ken menghela napas. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukannya. "Tidak apa-apa, tidak perlu menangis, kakimu pasti baik-baik saja." Ucap Kevin menyakinkan. Dia mencoba untuk menangkan Celine supaya tidak menangis lagi.


Buru-buru Celine melototi Mark ketika melihat sahabatnya itu hendak buka suara. Bahkan Celine mengancamnya juga dengan menunjukkan kepalan tangannya , membuat Mark ketakutan dan tidak berani mengatakan apa-apa. Karena ancaman Celine lebih menakutkan dari seekor singa betina yang kelaparan.


Saat dirasa Celine mulai tenang, Ken melepaskan pelukannya dan menatap gadis itu. Tatapan dinginnya melunak, Ken menatapnya dengan penuh kelembutan. Tatapan yang belum pernah dia berikan pada Celine sebelumnya.


"Ge, bagaimana jika aku tidak bisa berjalan lagi? Sepertinya kakiku akan patah, karena rasanya begitu menyakitkan." Ucap Celine sambil sesegukan.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Semua akan baik-baik saja, percaya padaku." Ucapnya dan di balas anggukan oleh Celine.

__ADS_1


Sepertinya Celine memang sengaja melakukannya untuk mendapatkan perhatian dari Ken. Karena sebenarnya kakinya tidak apa-apa, apalagi sampai patah tulang. Karena dia hanya cidera ringan saja dan tidak separah yang Celine katakan.


"Ge, aku bosan di sini. Aku ingin pulang, dokter mengijinkannya dan memperbolehkan aku untuk pulang hari ini juga. Katanya aku tidak perlu menjalani rawat inap," ujar Celine.


"Kau yakin? Bukankah kau bilang kakimu parah, kenapa tidak menjalani rawat inap saja?" tanya Ken. Ken menyarankan supaya Celine menjalani rawat inap, tapi dia menolaknya.


Celine menggeleng. "Tidak apa-apa, kita pulang saja. Bukankah di keluarga kita juga memiliki dokter pribadi, biar dia saja yang merawat ku sampai sembuh. Lagipula terlalu lama di sini membuatku tidak nyaman. Selain itu bukankah masih ada Ken Ge yang bisa merawat ku jika kita pulang? Jadi kita pulang saja dan tidak perlu menjalani rawat inap di sini," ujar Celine panjang lebar. Dia benar-benar tidak mau menjalani rawat inap.


Ken menghela napas dan mengangguk. "Baiklah kalau begitu, terserah kau saja. Kalau begitu aku akan mengurus administrasinya dulu," ucap Ken dan dibalas anggukan oleh Celine.


Selepas kepergian Ken, di ruangan itu hanya menyisakan Celine dan Mark. Pandangan Celine bergulir pada Mark dan menatap laki-laki itu dengan tajam.


"Kau cari mati, ya?! Jangan coba-coba mengatakan padanya jika kakiku hanya mengalami cedera ringan saja, atau kau akan tahu sendiri akibatnya. Lagi pula kapan aku bisa memanfaatkannya jika bukan sekarang. Salah dia juga terlalu dingin dan kaku jadi orang. Tadinya aku hanya ingin mengetes saja, dan ternyata dia benar-benar memberikan perhatian padaku." Ujar Celine panjang lebar.


"Dan selamat kau berhasil. Tapi apa tidak berbahaya jika dia sampai tahu kau hanya membohonginya, bisa-bisa dia menggantungkan hidup-hidup." Ujar Mark.


"Dia tidak akan tahu jika kau tidak ember. Jadi untuk itu jangan coba-coba memberitahu dia yang sebenarnya, atau aku akan menggantung mu hidup-hidup." Ujar Celine. Dia memberikan ancamannya pada Mark supaya tidak berani macam-macam.


Mark mengangguk. "Baiklah aku berjanji, Aku tidak akan mengatakan apapun padanya." Mark memberikan sumpahnya. Dia benar-benar tidak ingin mencari gara-gara dengan gadis itu. Mark masih ingin hidup panjang, dan menjalani hidupnya ini dengan tenang.


.


.

__ADS_1


Ken melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah mengurus administrasi, Celine diijinkan untuk pulang, dan sekarang mereka sedang dalam perjalanan kembali ke kediaman Xiao. Sebenarnya Ken ingin supaya Celine menjalani rawat inap, namun karena dia menolak, Ken pun tidak bisa memaksanya.


Sepanjang perjalanan. Tidak ada obrolan di antara mereka berdua, Celine dan Ken sama-sama diam dalam kehidupan. Mereka terlalu fokus dengan kesibukan masing-masing. Seperti Ken yang sibuk mengemudi, dan Celine yang sibuk melihat pemandangan luar. Sedangkan Mark tidak satu mobil dengan mereka, dia mengemudikan mobilnya sendiri.


"Ge," panggil Celine dan memecah keheningan diantara mereka berdua.


Ken menoleh dan membalas tatapan Celine dengan pandangan datar. "Apa?" dan bertanya singkat.


"Lapar," rengek Celine sambil mengusap perutnya.


Ken mendengus. Bukannya dia baru saja makan, bagaimana bisa sudah lapar lagi? "Kau ingin makan di mana?" tanya Ken.


Celine menggeleng. "Tidak perlu makanan berat, cukup roti dan buah saja. Kita ke mini market saja." Jawabnya. Ken mengangguk tanpa menjawab.


Tanpa mengatakan apapun, Ken menghentikan mobilnya di sebuah mini market. Dia turun sendirian dan meninggalkan Celine di mobil. Tidak sampai lima belas menit, Ken kembali dengan beberapa potong roti dan juga beberapa butir apel yang kemudian dia berikan pada Celine.


Gadis itu tersenyum lebar. "Terimakasih, Ge. Maaf sudah merepotkan mu," ucap Celine dengan senyum yang sama. Dan melihat senyum Celine membuat Ken terpaku, baru kali ini dia memperhatikan senyum gadis itu. Dia benar-benar memiliki senyum yang sangat indah.


"Jangan mengoceh lagi, sebaiknya cepat makan," pinta Ken sambil menyalakan kembali mesin mobilnya.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2